Novel Korean ala Author ❤️❤️
Cheon-Ji-In: Terjebak di Dunia Murim
Aku Diah, tersedak air saat baca novel Cheon-ji-in hingga sadar di dunia Murim sebagai Han So-Bin, cannon fodder yang ditakdirkan mati di tangan pemeran utama pria, Kang Hyu-Jin.
Sadar bakal jadi tumbal, aku milih kabur sejauh mungkin. Tapi alih-alih dibunuh, si pendekar es itu malah ngejar aku separuh mati ke ujung dunia!
Sialnya lagi, bukannya ditebas, aku malah berakhir dicintai setengah mati sama si cowok dingin itu. Rencana awal mau bebas hidup damai gagal total, karena sekarang aku malah jadi pawang si tokoh utama!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertanyaan di Bawah Naungan Pohon Pinus
Desiran angin pegunungan utara berhembus semakin kencang, menggoyangkan rimbunnya dedaunan pohon pinus tua yang menaungi jalur pendakian kami. Setelah berjalan berjam-jam menembus terjalnya perbukitan berbatu menuju perbatasan wilayah Sekte Dewa Langit, matahari perlahan mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga kemerahan di antara kabut tipis yang turun menyelimuti lembah.
Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah dataran lapang kecil yang dikelilingi oleh bebatuan besar. Lee Do-Yun membantuku menurunkan barang-barang bawaan ringan, sementara aku memilih duduk di atas bongkahan batu datar sambil meregangkan kedua kaki yang terasa pegal luar biasa.
Di sisi lain, Kang Hyu-Jin dan Choi Min-Hyuk berdiri berjauhan di dua sudut yang berbeda, tetap mematuhi aturan ketat untuk menjaga jarak aman sepuluh langkah dariku. Namun, tatapan mata keduanya tetap mengarah ke arahku, seolah-olah mereka adalah pengawas setia yang siap menerjang bahaya apa pun demi melindungiku.
Melihat pemandangan absurd itu—tiga pendekar paling disegani dan ditakuti di dataran tengah kini mendadak berubah menjadi sekumpulan pengawal pribadi yang terobsesi—membuat benakku dipenuhi oleh tanda tanya besar yang sudah lama mengendap.
(Batin Diah / Han So-Bin): “Duh, kalau dipikir-pikir lagi, situasi ini benar-benar tidak masuk akal kalau merujuk pada plot asli novelnya. Dulu, di dalam cerita aslinya, Han So-Bin versi original adalah karakter figuran menyebalkan yang selalu di-cite-in, dicaci maki, dan dihindari sejauh mungkin oleh mereka bertiga. Hyu-Jin jijik melihat kebucinannya, Min-Hyuk muak dengan kecengengannya, dan Do-Yun terpaksa menerima pertunangan itu karena desakan tetua. Tapi sekarang? Kenapa mereka berdua malah mengejarku sampai jungkir balik begini?!”
Aku menghentikan gerakan tanganku, lalu menghela napas panjang. Rasa penasaran itu akhirnya mendesak keluar dari dadaku tanpa bisa ditahan lagi. Aku mendongakkan kepala, menatap tajam bergantian ke arah Kang Hyu-Jin dan Choi Min-Hyuk yang berdiri di kejauhan.
"Kalian berdua," panggilku dengan suara cukup lantang yang memecah keheningan sore di lereng bukit.
Hyu-Jin dan Min-Hyuk langsung menoleh secara bersamaan. Keduanya melangkah mendekat beberapa langkah, menghentikan jarak mereka tepat di batas sepuluh langkah yang kuizinkan, menunggu apa yang hendak kukatakan dengan sorot mata penuh perhatian.
Lee Do-Yun yang duduk di sebelahku ikut menoleh, menatapku dengan sebelah alis terangkat penasaran.
"Ada apa, So-Bin? Kenapa tiba-tiba memasang wajah serius begitu?" tanya Do-Yun lembut sambil merapikan helaian rambutku yang tertiup angin.
Aku tidak langsung menjawab Do-Yun. Aku kembali menatap lurus ke arah Hyu-Jin dan Min-Hyuk, melipat kedua tanganku di dada dengan ekspresi menyelidik.
"Aku mau tanya satu hal jujur pada kalian berdua," kataku tegas, menatap tajam mata mereka satu persatu. "Kalian bertiga—termasuk Do-Yun di masa lalu—kenapa sekarang bisa segigih ini menyukaiku? Bukankah dulu, sebelum insiden di Hutan Bambu dan Aula Utama, kalian adalah orang-orang yang paling benci berada di dekatku?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, telak dan tanpa basa-basi.
Seketika itu juga, suasana di dataran lapang kecil itu mendadak sunyi senyap. Angin pegunungan yang tadinya bergemerisik seolah ikut membeku mendengar pertanyaan blak-blakan yang langsung menusuk ke inti masa lalu hubungan kami.
Lee Do-Yun tertegun di sampingku. Pria berambut perak itu mengerjap beberapa kali, lalu mengalihkan pandangannya sejenak ke arah tanah, meresapi pertanyaan tersebut dengan senyuman pahit yang tipis.
Di seberang sana, Kang Hyu-Jin terdiam kaku. Manik mata kelamnya bergetar hebat. Wajah dingin yang selalu dipenuhi oleh aura es dan keangkuhan mendadak menunjukkan ekspresi telak—sebuah kebingungan bercampur penyesalan mendalam yang belum pernah diperlihatkannya kepada siapa pun.
Seumur hidupnya, Kang Hyu-Jin memang selalu menjaga jarak dari Han So-Bin versi lama. Bagi pendekar es itu, Han So-Bin yang dulu hanyalah seorang gadis manja berisik yang menggunakan trik murahan untuk menarik perhatiannya. Setiap kali gadis itu mendekat, Hyu-Jin selalu memasang dinding es paling tebal untuk menolaknya mentah-mentah.
Namun, sekarang... setelah gadis itu berubah total menjadi sosok yang berani, cerdas, ceplas-ceplos, dan memiliki kekuatan Lima Elemen Sempurna yang mempesona, dinding es di hatinya hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Hyu-Jin mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tubuhnya. Suaranya terdengar serak dan berat saat ia akhirnya membuka mulut untuk menjawab:
"Kau benar, So-Bin..." aku Hyu-Jin pelan, suaranya sarat akan beban masa lalu yang menghantam dadanya. "Dulu... aku adalah orang pertama yang paling ingin menjauh darimu. Aku muak melihat caramu mengejarku, mengabaikan latihan pedang, dan merendahkan harga dirimu sendiri hanya demi mendapatkan perhatianku."
Hyu-Jin melangkah maju satu langkah kecil, melanggar batasan jarak yang kubuat, namun manik matanya menatapku dengan ketulusan yang telak.
"Tapi perempuan yang berdiri di hadapanku sekarang... bukanlah Han So-Bin yang dulu," lanjut Hyu-Jin dengan nada suara yang bergetar emosi. "Hari di mana kau berdiri tegak menatapku di Hutan Bambu, menolak perlindunganku, dan membuktikan bahwa kau bisa hidup tanpa bergantung pada siapa pun... saat itulah seluruh pandanganku runtuh. Aku tidak menyukaimu karena masa lalumu, So-Bin. Aku jatuh cinta pada ketegaran, keberanian, dan cara pandangmu terhadap dunia yang membuatku sadar betapa piciknya diriku selama ini."
Mendengar pengakuan jujur dan terbuka dari sang pendekar es, aku tertegun. Jantungku berdegup kencang. Rasanya luar biasa aneh mendengar seorang tokoh utama pria yang terkenal arogan dan dingin di dalam novel kini merendahkan diri dan mengakui kesalahannya di hadapanku.
Belum sempat aku mencerna kata-kata Hyu-Jin sepenuhnya, Choi Min-Hyuk yang berdiri di sisi lainnya menghela napas panjang. Senior kaku berwibawa itu menundukkan pandangannya sejenak, lalu mendongak menatapku dengan sorot mata yang tak kalah serius.
"Hyu-Jin benar," timpal Min-Hyuk dengan suara baritonnya yang tegas. "Sebagai senior yang bertugas mengawasi kedisiplinan sekte, aku adalah orang yang paling sering mencatat pelanggaranmu, menegur sikapmu, dan menganggapmu sebagai beban terbesar di antara para murid."
Min-Hyuk tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh kepahitan yang jarang sekali terlihat di wajahnya.
"Dulu, melihatmu berjalan di koridor sekte saja sudah membuatku pusing karena aku tahu kau pasti sedang merencanakan keonaran baru untuk menarik perhatian Hyu-Jin," lanjut Min-Hyuk jujur. "Tapi hari di mana kau berdiri di Aula Utama, menampar logika para tetua kolot dengan kekuatan Lima Elemen, dan kemudian... dengan tanpa dosa menempelkan bunga liar di bahuku sambil memujiku 'tampan'..."
Min-Hyuk menunjuk sekilas ke arah jubahnya, lalu menatapku lekat-lekat.
"...saat itulah aku sadar, seluruh aturan sekte, disiplin baja, dan prinsip kaku yang kupatuhi selama puluhan tahun ternyata tidak ada artinya dibandingkan keberanianmu untuk membalikkan keadaan. Kau mengubah duniaku yang monoton menjadi penuh warna, So-Bin. Aku tidak peduli pada masa lalumu. Aku hanya ingin berada di dekatmu dan melindungimu dari dunia yang ingin menghancurkanmu."
(Batin Diah / Han So-Bin): “Ya ampun... Ini sesi konseling psikologis atau sidang terbuka pengakuan dosa massal sih?! Kenapa penjelasan mereka berdua malah bikin aku merasa jadi karakter paling keren sedataran tengah? Padahal aslinya aku ini cuma cewek transmigran yang mau numpang hidup damai tanpa drakor-drakoran!”
Suasana di dataran lapang itu kembali diselimuti keheningan yang sarat akan emosi mendalam.
Lee Do-Yun, yang sejak tadi terdiam di sampingku, menghela napas pelan lalu merangkul bahuku semakin erat. Pria berambut perak itu tersenyum hangat, menatap Hyu-Jin dan Min-Hyuk bergantian dengan sorot mata penuh kemenangan yang tenang.
"Kalian dengar sendiri kan pengakuan mereka?" bisik Do-Yun pelan di dekat telingaku. "Masa lalu memang milik Han So-Bin yang lama. Tapi masa depan—dan hatinya—sekarang sepenuhnya ada di sini, bersamaku."
Aku menoleh ke arah Do-Yun, lalu beralih menatap Hyu-Jin dan Min-Hyuk yang berdiri menunggu vonis jawabanku. Rasa jengkel dan kesal yang tadinya mendominasi hatiku kini perlahan-lahan mencair, digantikan oleh kelegaan yang luar biasa.
Di dunia novel ini, mereka bertiga bukanlah sekadar figuran atau karakter fiksi di atas kertas lagi. Mereka adalah manusia hidup yang memiliki penyesalan, ketulusan, dan perasaan yang nyata.
Aku berdiri dari bongkahan batu, merapikan jubahku sejenak, lalu memasang senyuman tipis yang tulus ke arah mereka berdua.
"Baiklah..." kataku dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. "Alasan kalian diterima. Tapi ingat, kalau sampai di tengah jalan nanti kalian berdua kembali berulah atau bikin pusing kepala, aku tidak akan segan-segan menghanguskan kalian berdua dengan elemen apiku!"
Mendengar jawabanku, ekspresi tegang di wajah Hyu-Jin dan Min-Hyuk seketika mencair. Sebuah kelegaan yang luar biasa terpancar jelas di manik mata mereka.
Matahari sore semakin turun, memancarkan kehangatan yang menyelimuti langkah kaki kami saat bersiap melanjutkan perjalanan menuju gerbang Sekte Dewa Langit di puncak utara yang sudah semakin dekat di depan mata.