Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 3
Pagi berikutnya, hujan deras mengguyur Jakarta sejak subuh. Langit yang gelap membuat suasana jam tujuh pagi terasa seperti masih larut malam. Tsania sudah berdiri di area parkir basemen Pratama Tower, memegang kunci mobil SUV hitam milik kantor yang baru saja diserahkan oleh bagian operasional.
Napasnya mengembun tipis. Ia merapatkan mantel tipisnya, mencoba mengusir dingin yang menusuk hingga ke tulang. Tiba-tiba, langkah kaki yang mantap bergema di area parkir yang sepi.
Arsen berjalan mendekat. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku dan celana kain senada, tampak santai namun tetap memancarkan aura dominan yang mengintimidasi. Tas dokumen kulit menggantung di bahunya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Arsen melempar tasnya ke kursi belakang, lalu berjalan mengitari mobil dan masuk ke pintu penumpang di samping pengemudi.
Tsania menghela napas pelan, menyusul masuk ke dalam mobil. Aroma parfum woody campuran amber yang begitu peka di hidungnya seketika memenuhi kabin mobil yang tertutup rapat. Ruangan sempit ini mendadak terasa makin sesak.
"Kenapa diam saja? Jalan," tegur Arsen datar, matanya tertuju pada layar tablet di tangannya.
"Baik, Pak." Tsania menekan tombol engine start.
Memindahkan tuas transmisi, dan menginjak pedal gas. SUV itu meluncur membelah derasnya hujan menuju Tol Jagorawi arah Bogor. Keheningan di dalam mobil terasa begitu pekat dan menekan, hanya dihiasi bunyi riuh air hujan yang menghantam kaca depan dan deru mesin yang halus.
Di tengah kemacetan tol yang mengular, Arsen tiba-tiba menurunkan tabletnya. Matanya melirik jemari Tsania yang mengait erat pada roda kemudi.
"Kamu masih punya kebiasaan buruk itu," kata Arsen tiba-tiba.
Tsania tersentak pelan, tapi matanya tetap menatap lurus ke jalanan. "Maksud Bapak?"
"Meremas jarimu hingga buku-bukunya memutih kalau sedang gugup," jawab Arsen tenang, suaranya terdengar terlalu dekat.
"Kamu tidak pernah berubah, Tsania."
Dada Tsania berdegup kencang. Ia mencoba melemaskan cengkeramannya pada roda kemudi, berusaha bersikap acuh.
"Saya hanya fokus berkendara, Pak. Jalanan licin dan jarak pandang terbatas."
"Fokus berkendara atau fokus menghindari saya?" potong Arsen cepat, kini memiringkan badannya menatap profil wajah Tsania dari samping.
"Bapak pimpinan saya. Tidak ada alasan bagi saya untuk menghindari Bapak," sahut Tsania, mencoba menjaga nada suaranya setenang mungkin meskipun jantungnya berdegup serasa ingin melompat keluar.
Arsen tertawa pendek, senyuman sinis kembali menghiasi bibirnya. "Baguslah kalau sadar. Karena perjalanan ke Bogor butuh waktu dua jam, dan saya tidak suka diabaikan oleh orang yang bekerja untuk saya."
Arsen menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan. "Bicaralah."
"Bicara apa, Pak?"
"Apa saja. Ceritakan apa yang kamu lakukan selama dua tahun ini. Di mana kamu bersembunyi setelah membuat hidup saya kacau?"
Tsania menahan napas. Pertanyaan itu menghantamnya tepat di dada. Bagaimana mungkin ia bercerita bahwa selama dua tahun ini ia tinggal di kontrakan kecil di pinggiran Bandung, bekerja serabutan sambil menyembuhkan luka hati, dan berjuang membayar hutang pengobatan ibunya tanpa bantuan siapapun? Bagaimana mungkin ia mengaku bahwa keputusan pergi itu diambil karena ayah Arsen menuntutnya mundur demi menyelamatkan investasi perusahaan keluarga Pratama?
"Saya... saya hanya bekerja di perusahaan periklanan kecil di Bandung, Pak. Tidak ada yang spesial," jawab Tsania lirih.
"Bandung?" Arsen menoleh cepat, alisnya bertaut tajam. "Kamu di Bandung selama ini? Cuma dua jam dari Jakarta?"
"Ya."
"Dan kamu sama sekali tidak berniat menghubungi saya? Bahkan sekadar untuk menanyakan apakah saya masih hidup atau sudah mati setelah apa yang kamu lakukan?!" Suara Arsen meninggi, emosi yang tertahan sejak kemarin mendadak meledak di kabin mobil yang sempit itu.
"Arsen, tolong..." Tsania refleks menyebut nama kecilnya, suaranya bergetar.
"Kita sedang di jalan tol. Jangan memancing emosi."
"Jawab saya, Tsania!" gertak Arsen, matanya menyala merah oleh kilatan rasa sakit hati yang mendalam.
"Kenapa kamu pergi? Apa kurangnya saya saat itu? Saya memberikan seluruh hati saya untuk kamu!"
"Karena kita tidak bisa bersama!" Tsania akhirnya, tak sanggup lagi menahan tekanan. Air mata langsung menumpuk di pelupuk matanya.
"Ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan begitu saja, Sen! Kamu pikir aku bahagia?! Kamu pikir mudah buat aku meninggalkan kamu?!"
"Kalau memang berat, kenapa kamu lakukan?!" Arsen mencengkeram dasbor mobil, menatap Tsania dengan tatapan menuntut.
"Katakan alasannya sekarang! Katakan apa rahasia busuk yang kamu sembunyikan sampai kamu tega membuang cinta kita!"
"Aku tidak bisa!" teriak Tsania, tangannya gemetar di atas roda kemudi.
Mata Tsania mengabur oleh air mata yang tertahan. Menyadari emosinya dan pandangannya terganggu, Tsania secara perlahan mengarahkan mobil ke bahu jalan tol, lalu menginjak rem hingga mobil berhenti sempurna di bawah guyuran hujan yang makin lebat.
Arsen melepas sabuk pengamannya dan memiringkan tubuhnya sepenuhnya mengandalkan ketegangan yang kian memuncak.
"Kamu selalu seperti ini, Tsania. Melarikan diri setiap kali saya minta kejelasan!"
"Aku tidak melarikan diri!" Tsania berbalik menatap Arsen, air matanya akhirnya meluncur deras membasahi pipi.
"Kamu tidak tahu apa-apa, Arsen! Kamu tidak tahu seberapa hancurnya aku saat harus berjalan menjauh dari kamu! Jangan berakting seolah-olah cuma kamu satu-satunya korban di sini!"
Arsen terpaku. Histerisnya Tsania dan lelehan air mata itu menembus pertahanan dinginnya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia melihat Tsania yang rapuh, bukan wanita dingin yang kemarin berdiri di ruang kerjanya.
"Kalau begitu beri tahu saya..." suara Arsen melunak, berubah menjadi bisikan parau yang sarat akan rasa sakit. Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya terangkat hendak menyapu air mata di pipi Tsania, namun ia tertahan di udara, terjebak antara gengsi dendam dan kerinduan yang mendalam.
"Beri tahu saya agar saya tidak perlu membencimu lagi, Sya..."
Panggilan masa lalu itu, 'Sya' meluncur begitu saja dari bibir Arsen, membuat dada Tsania berdenyut nyeri.
Tsania menatap jemari Arsen yang mengambang di udara, lalu menatap manik mata pria itu yang dipenuhi luka mendalam. Rasa ingin mengaku meluap di dadanya, namun bayangan ancaman ayah Arsen kembali membayangi. Jika ia membuka suara, karier dan masa depan Arsen yang baru saja bangkit bisa hancur seketika.
Tsania menarik napas panjang, memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya sendiri secara kasar. Dinding bentengnya kembali dipasang rapat-rapat.
"Tidak ada yang perlu diberitahukan, Pak Arsen," sahut Tsania dingin, suaranya mendadak kembali formal dan berjarak.
"Masa lalu sudah lewat. Kita di sini untuk urusan pekerjaan."
Jari-jari Arsen membeku sebelum akhirnya ia menarik tangannya kembali dan mengepalkannya kuat-kuat. Rahangnya mengeras. Kilatan kepedulian di matanya mendadak padam, berganti kembali menjadi tatapan penuh dendam yang dingin.
"Baik," bisik Arsen dengan nada menusuk. Ia kembali memakai sabuk pengamannya dan menatap lurus ke depan.
"Jangan pernah menyesal karena tidak memanfaatkan kesempatan ini, Tsania. Jalankan mobilnya. Kita sudah terlambat untuk survei tempat."
Tsania mengatupkan bibirnya rapat-rapat, menelan bulat-bulat rasa sakit hati yang mencabik dadanya, lalu kembali menekan pedal gas membelah derasnya hujan Bogor.