NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duniaku lagi

Hal pertama yang kurasakan ketika membuka mata adalah cahaya matahari.

Hangat.

Lembut.

Dan terlalu terang.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya menyadari bahwa langit-langit putih di atas kepalaku bukanlah langit-langit ruang ganti gedung opera.

“Sudah kembali…”

Suaraku terdengar begitu pelan bahkan hampir seperti bisikan.

Untuk beberapa detik, aku hanya berbaring tanpa bergerak.

Aku memandang langit-langit sambil mencoba mengingat apa yang baru saja terjadi.

Aku masih dapat mengingat semuanya dengan jelas.

Aku memejamkan mata.

Entah bagaimana, aku merasa lelah hanya dengan mengingatnya.

Namun kali ini berbeda. Aku tidak lagi bisa menganggap semuanya sebagai mimpi biasa.

Bukan setelah semua kejadian itu berulang.

Bukan setelah aku menyadari bahwa setiap kali tertidur setelah membaca buku tua itu, aku selalu kembali ke tempat yang sama.

Gedung opera. Paris yang berbeda.

Orang-orang yang seharusnya hanya kukenal dari halaman-halaman sejarah.

Kemudian aku menghela napas.

“Jadi, kau yang melakukan semua ini?”

Tidak ada jawaban.

Tentu saja.

Itu hanya sebuah buku.

Setidaknya, itulah yang seharusnya terjadi.

Aku bangkit perlahan dari tempat tidur.

Tubuhku sudah jauh lebih baik dibandingkan beberapa hari sebelumnya. Demam yang membuatku menggigil sepanjang malam akhirnya mereda. Kepalaku memang masih terasa sedikit berat, tetapi tidak separah sebelumnya.

Aku menyentuh dahiku.

Tidak panas.

“Syukurlah.”

Aku berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.

Hari ini aku harus kembali bekerja.

Baru sehari aku tidak masuk kantor karena sakit. Aku tidak bisa terus berbaring di rumah hanya karena takut tertidur dan kembali ke dunia yang aneh itu.

Lagipula, kehidupanku yang sebenarnya berada di sini.

Seorang perempuan biasa yang bekerja di salah satu perusahaan di Paris.

Aku berhenti sejenak di depan cermin kamar mandi.

“Leo…” Aku tersenyum kecil.

Memikirkan namanya membuat dadaku terasa lebih ringan.

Aku segera mandi dan bersiap.

Setelah mengenakan pakaian kerja sederhana, aku merapikan rambut dan mengambil tas.

Aku memasukkan ponsel ke dalam tas.

...----------------...

Kantor terlihat sama seperti biasanya.

Gedung tinggi dengan dinding kaca, pintu otomatis, meja resepsionis, suara mesin kopi, dan orang-orang yang berjalan terburu-buru sambil membawa laptop atau dokumen.

“Mungkin memang seharusnya begini.”

Aku berjalan menuju meja kerjaku.

“SOFIA!”

Aku bahkan belum sempat duduk ketika sebuah suara terdengar dari belakang.

Aku menoleh.

Zea berjalan cepat ke arahku sambil membawa dua gelas kopi.

“Kau akhirnya masuk juga!”

Dia langsung meletakkan salah satu gelas di mejaku.

“Ini untukmu.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih.”

“Bagaimana keadaanmu?”

“Sudah lebih baik.”

Zea memperhatikanku dari atas hingga bawah.

“Kau yakin? Wajahmu masih sedikit pucat.”

“Aku sudah tidak demam.”

“Baguslah.”

Dia menarik kursi di sebelahku.

“Kau membuat kami khawatir. Kemarin aku bahkan berpikir harus mengirim makanan ke apartemenmu.”

Aku terkekeh.

“Aku tidak separah itu.”

“Menurut Leo, kau cukup sakit.”

Aku terdiam sebentar.

“Leo?”

“Dia menghubungi kantor untuk memberitahu kalau kau masih belum bisa masuk.”

Aku tersenyum kecil.

“Dia memang begitu.”

Zea memutar mata.

“Pacar teladan.”

Aku tertawa.

Tak lama kemudian, atasan kami meminta semua orang berkumpul untuk meeting pagi.

Aku membawa laptop dan buku catatan.

Ruang meeting sudah hampir penuh ketika aku masuk.

“Pagi semuanya.”

“Pagi.”

Aku duduk di tempat biasa.

Manajer kami berdiri di depan layar dan mulai membuka presentasi.

“Baik. Kita mulai dari perkembangan proyek minggu ini.”

Layar menampilkan beberapa grafik dan tabel.

Aku membuka laptop.

Pikiran yang beberapa menit lalu dipenuhi Phantom perlahan digantikan oleh angka, target, jadwal, dan pekerjaan.

“Tim marketing, bagaimana progres kampanye?”

Salah satu rekan menjelaskan.

Kemudian giliran tim kami.

Aku membuka dokumen.

“Untuk bagian yang menjadi tanggung jawab tim kami, sebagian besar sudah selesai. Ada beberapa revisi dari klien yang masih harus diselesaikan hari ini.”

“Berapa lama estimasinya?”

“Sekitar tiga sampai empat jam jika tidak ada revisi tambahan.”

Manajer mengangguk.

“Baik. Pastikan sebelum pukul lima.”

Aku mencatatnya.

“Baik.”

Meeting berlanjut hampir satu jam.

Saat meeting berakhir, aku kembali ke meja dan mulai menyelesaikan tugas.

Email masuk satu demi satu.

Pesan dari grup kerja.

Dokumen yang harus diperiksa.

Telepon singkat dengan klien.

Revisi.

Laporan.

Presentasi.

Semua terasa melelahkan.

Namun justru melelahkan dengan cara yang menyenangkan.

Ini adalah kehidupan yang kukenal.

Kehidupan nyata.

Sekitar pukul sebelas, Zea kembali menghampiriku.

“Kau kelihatannya lebih baik hari ini.”

Aku mengangkat kepala, “Benarkah?”

“Ya.”

Dia duduk di kursi sebelahku.

“Kemarin kau seperti orang yang baru saja kehilangan arah hidup.”

Aku tertawa.

“Lebih tepatnya aku memang sedang banyak pikiran.”

“Karena sakit?”

Aku diam sebentar, “Bukan hanya karena itu.”

Zea menatapku penuh rasa ingin tahu.

“Apa?”

Aku hampir menjawab.

Karena aku terus masuk ke dunia lain setiap kali membaca sebuah buku.

Namun tentu saja aku tidak mungkin mengatakan itu.

Aku hanya tersenyum, “Tidak apa-apa.”

Zea menyipitkan mata.

“Kau menyembunyikan sesuatu.”

“Tidak.”

“Bohong.”

Aku tertawa.

“Sudahlah. Nanti aku ceritakan.”

“Janji?”

“Janji.”

Dia akhirnya pergi.

Aku kembali menatap layar komputer.

...----------------...

Jam makan siang tiba.

Aku dan Zea pergi ke restoran kecil tidak jauh dari kantor.

Aku memesan makanan sederhana karena tubuhku masih belum sepenuhnya pulih.

Zea duduk di depanku sambil memainkan sedotannya.

“Jadi, setelah sembuh kau mau melakukan apa?”

“Bekerja.”

Dia menatapku datar.

“Maksudku setelah pulang kerja.”

Aku berpikir sebentar, “Mungkin bertemu Leo.”

“Bagus.”

Zea tersenyum.

“Kau memang harus bersantai.”

Aku mengangguk.

...----------------...

Hari kerja terasa panjang.

Namun ketika akhirnya jam menunjukkan pukul lima sore, aku menutup laptop dengan lega.

Aku memasukkan barang-barang ke dalam tas dan berdiri.

Di luar jendela, Paris mulai berubah warna. Langit sore perlahan menjadi jingga.

Orang-orang meninggalkan gedung kantor, sebagian berjalan menuju stasiun, sebagian menunggu taksi, dan sebagian lainnya menjemput pasangan mereka.

Aku berjalan keluar. Ponselku bergetar.

Leo: Aku sudah dekat.

Aku tersenyum.

Sofia: Aku baru keluar.

Tidak lama kemudian, aku melihat mobil Leo berhenti di depan gedung.

Aku masuk.

“Hai.”

Leo tersenyum.

“Hai.”

Tangannya segera menyentuh dahiku.

“Sudah tidak demam?”

Aku tertawa.

“Tidak.”

“Yakin?”

“Yakin.”

Dia terlihat lega.

“Bagaimana kerja hari ini?”

“Capek.”

“Wajar.” Aku bersandar di kursi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!