NovelToon NovelToon
PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

PANGERAN YANG TERSEMBUNYI

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Transmigrasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: subspace_illusion

Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA YANG MATANG

Di Lembah Buta, keheningan malam menyelimuti sisa-sisa pasukan Bhayangkara Tumapel yang bergidik ngeri. Di tengah tenda utama, Ken Arok terbaring di atas dipan darurat dengan napas yang memburu dan keringat dingin bercucuran.

Luka dalam akibat hantaman impulsif energi Sena menggerogoti organ dalamnya tanpa ampun. Setiap kali ia mencoba mengerahkan tenaga dalam untuk memulihkan diri, aliran darahnya justru berbalik menghantam rongga dadanya sendiri. Namun, dengan wibawa seorang tiran yang mendirikan kerajaan dari pertumpahan darah, Arok tahu ia tidak boleh terlihat lemah.

“Jangan biarkan siapa pun tahu aku terluka parah,” bisik Arok dengan suara serak dan bergetar kepada panglima kepercayaannya, mengerahkan sisa-sisa otoritasnya.

Berita tentang kekalahan telak dari pasukan Kediri dan kondisi raja yang sebenarnya langsung ditutup rapat-rapat oleh para pengawal setia. Di luar tenda, para prajurit hanya mengira sang raja kelelahan pasca-amukan mautnya.

Sementara itu, dari padepokan Panawijen, seekor burung merpati pos melesat menembus gelapnya malam. Surat kiriman Mpu Parwa akhirnya tiba di tangan Ken Dedes di keputren Singhasari.

“Wahai anakku Dedes, janganlah kau ratapi hari-harimu lagi dalam tangis. Cucumu, Dewi Rimbu, telah kami temukan dan diselamatkan dengan selamat dari cengkeraman maut. Ia kini berada dalam perlindungan penuh di Panawijen. Tenangkan hatimu.”

Setelah membaca gulungan lontar itu, tangis Ken Dedes seketika berubah menjadi sujud syukur yang tak terhingga. Beban berat di dadanya terangkat. Namun, kelegaan itu tidak merata di seluruh istana.

Mendengar kabar bahwa Rimbu selamat di Panawijen, Anusapati, Ken Dedes, dan Mahisa Wonga Teleng segera bersiap. Tanpa membuang waktu, ketiganya memacu kuda menembus fajar menuju padepokan Mpu Parwa untuk melihat sendiri kondisi sang putri bungsu.

Setibanya di Panawijen, suasana penyambutan berlangsung singkat. Ken Dedes langsung menghambur memeluk Dewi Rimbu yang tampak sehat secara fisik meski batinnya sedang kasmaran setengah mati.

Di sisi lain, Anusapati menyelinap masuk secara diam-diam ke bilik pengobatan tempat Sena dirawat. Pangeran Singhasari itu tahu betul, luka parah yang diderita oleh pendekar misterius ini pasti berkaitan dengan misi semalam.

Begitu pintu bilik bergeser tertutup, Anusapati tertegun melihat kondisi Sena. Pemuda yang biasanya berdiri tegak penuh percaya diri itu kini terbaring di atas dipan dengan bahu kiri diperban tebal dan wajah pucat tersengat sisa energi panas.

"Kau... benar-benar nekat," gumam Anusapati pelan sambil berdiri didekat Sena.

Sena membuka matanya perlahan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang menyakitkan. Ia menoleh pelan ke arah Anusapati.

"Tugasku... selesai." suara Sena terdengar parau namun tegas. "Arok memang tidak mati malam tadi. Tapi aku berhasil menanamkan racun energi murni yang merusak seluruh jaringan organ dalamnya. Saat ini, dia sedang sekarat di balik topeng pura-pura tegarnya."

Anusapati menahan napasnya. Berita itu begitu mengejutkan sekaligus melegakan.

Sena menyuruh agar Anusapati mendekat. Sang pangeran mencondongkan tubuhnya. Dengan suara berbisik yang nyaris tak terdengar, Sena membisikkan sebuah taktik eksekusi yang sangat spesifik celah kelemahan mutlak pada sirkulasi tenaga dalam Arok yang baru saja ia jebol semalam.

Mendengar bisikan itu, Anusapati terdiam kaku. Otaknya berputar keras, mencerna betapa dingin, terukur, dan mematikannya strategi yang disiapkan Sena untuk menghabisi ayah tiri sekaligus pembunuh ayah kandungnya itu.

Belum sempat Anusapati merespons, Sena mengubah topik pembicaraan dengan suara yang sengaja dilemahkan.

"Oh ya... soal rencana jangka panjang kita nanti," bisik Sena datar, menatap lurus ke mata Anusapati. "Jangan lupakan tentang filosofi Garudeya."

Anusapati tersentak kecil. Ia langsung paham maksud di balik simbol pembebasan sang ibu dari cengkeraman naga tersebut. Garudeya bukan sekadar cerita lama, melainkan cetak biru moral dan politis legitimasi kekuasaannya kelak. Tanpa berkata-kata lagi, Anusapati mengangguk perlahan, lalu bangkit berdiri dan keluar dari kamar Sena, meninggalkan sang ksatria untuk kembali beristirahat.

Di ruang depan padepokan, perdebatan sengit justru sedang terjadi.

Ken Dedes dan Mahisa Wonga Teleng membujuk Dewi Rimbu untuk segera bersiap pulang ke istana Singhasari sekarang juga, mengingat situasi ibu kota sudah aman dan ayah mereka sedang menunggu.

Namun, di luar dugaan semua orang, Dewi Rimbu menggeleng keras. Ia melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah keras kepala.

"Aku tidak mau pulang." seru Rimbu tegas, membuat Ken Dedes tertegun.

"Rimbu, jangan membangkang." tegur Mahisa dengan nada kebingungan. "Ibunda sudah menangis berhari-hari mencari mu, dan sekarang Ayah sedang menunggu di istana. Kenapa kau keras kepala sekali ingin tetap di sini."

Dewi Rimbu menunduk, pipinya merona merah padam. Dalam hatinya ia menjerit "Bagaimana aku bisa pulang kalau tujuanku di sini belum tercapai."

"Pokoknya... alasanku diculik kemarin membuat mentalku terguncang. Aku perlu waktu untuk pemulihan." alibi Rimbu dengan jurus playing victim nya yang sudah teruji, membuat Mpu Parwa yang duduk di pojok ruangan hanya bisa diam.

Ken Dedes menghela napas pasrah, mengira putrinya itu hanya trauma psikologis pasca penyergapan. Tidak ada seorang pun di ruangan itu kecuali Mpu Parwa dan Sena di kamar sebelah yang tahu bahwa alasan sebenarnya Dewi Rimbu menolak pulang adalah karena ia bertekad bulat untuk tujuannya yang kemarin.

Setelah perdebatan alot dan akting trauma psikologis tingkat tinggi dari Dewi Rimbu, Dedes akhirnya mengalah. Sadar bahwa putrinya butuh waktu menenangkan diri pasca penculikan mengerikan kemarin, Dedes bersama Mahisa, Anusapati dan rombongan kecil pengawal memutuskan untuk kembali lebih dulu ke Singhasari. Mereka pulang dengan hati yang jauh lebih tenang, yakin bahwa cucu kesayangan Mpu Parwa itu berada di tempat yang paling aman.

---

Didalam kamarnya Anusapati duduk dengan tatapan kosong sementara pikirannya berputar kencang merajut skenario pembunuhan paling masif dalam sejarah tanah Jawa.

Bisikan Sena tadi malam masih berdengung jelas di kepalanya "celah luka dalam, titik saraf vital yang melemah, dan waktu eksekusi yang paling tepat." Secara teknis, jalan menuju singgasana kini sudah terbuka lebar karena Ken Arok sedang sekarat.

Namun, sebagai pangeran yang dibesarkan di tengah intrik istana yang kejam, Anusapati tahu persis satu hal "ia tidak boleh meninggalkan jejak sedikit pun"

Membunuh seorang raja terutama penguasa sekuat Ken Arok yang diselimuti mitos tidak bisa dilakukan secara terang-terangan tanpa memicu perang saudara atau perpecahan total di antara para panglima Tumapel. Ia butuh lebih dari sekadar keris maut. Ia butuh sebuah "kambing hitam yang sempurna".

"Siapa, Siapa orang bodoh atau pihak sialan yang paling pas disalahkan atas kematian Arok nanti" batin Anusapati, jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran kursi dengan ritme lambat, menyusun bidak-bidak catur politik di kepalanya.

1
blue.rose
Suka banget sama Sena, kelihatannya aja polos dan suka merendah, tapi aslinya diam-diam mematikan. liciknya itu elegan, nggak cuma modal otot tapi pake otak juga. dalang dari segala kejadian deh pokoknya, seru abis.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
Victoria
alur cerita punya pacing yang pas banget. elemen fiksi sejarahnya kuat, tapi dikemas modern dengan konflik emosional dan kejutan plot yang bikin penasaran di tiap bab. karakter utamanya tegas dan punya pendirian.
subspace_illusion: Terima kasih banyak atas dukungannya! Support dari kamu berarti banget buat cerita ini. Enjoy the next chapters!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!