Tiga tahun menjadi istri Rayhan Sutanto, Keira tidak pernah diperlakukan selayaknya. Dicaci mertua, dihina ipar, dan diabaikan suami yang hatinya sudah milik perempuan lain.
Malam itu, di atas ranjang pernikahan mereka, Rayhan memanggilnya dengan nama wanita lain. Cukup sudah.
"Rayhan, kita cerai."
Tapi ketika pintu Pengadilan Negeri tertutup di belakangnya, sebuah Rolls-Royce Phantom berhenti di hadapannya. Seorang pria tua membungkuk hormat dan menyerahkan kartu hitam bertuliskan 300 triliun rupiah.
Keira bukan yatim piatu dari panti asuhan. Dia adalah putri bungsu keluarga Liem — konglomerat nomor satu di negeri ini. Tiga kakak laki-lakinya menguasai dunia militer, medis, dan hiburan. Dan sekarang, dia kembali.
Sementara mantan suaminya berlutut memohon maaf, Keira duduk di kursi CEO perusahaannya. Sementara mantan mertua yang dulu menyuruhnya berlutut di hujan kini menjadi pembantunya. Dan sementara wanita yang dulu memanggilnya "pengganti" kini membusuk di balik jeruji.
Tapi di balik semua pembalasan dan kejayaan, ada satu rahasia yang belum terungkap — identitas asli Rayhan Sutanto, dan pengorbanan yang dia sembunyikan selama bertahun-tahun.
Cinta yang terlambat, apakah masih layak diperjuangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Jebakan di Meja Makan
Ketika gerbang Sutanto tertutup di belakangnya, ia melihat rumah itu dari kaca gelap dan berbisik, "Ini baru permulaan."
Beberapa hari setelah itu, kalimat tersebut mulai terasa di Angle Entertainment.
Keira datang pukul delapan pagi setiap hari, lebih awal daripada sebagian besar manajer senior. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya meminta semua kontrak artis lima tahun terakhir, laporan keuangan divisi manajemen, dan daftar trainee yang batal debut tanpa alasan jelas.
Pada hari pertama, beberapa orang mengira ia hanya pajangan keluarga Liem.
Pada hari kedua, mereka mulai gelisah.
Pada hari ketiga, ruang fotokopi penuh orang yang berbisik tentang kontrak aneh, komisi tidak wajar, dan beberapa nama artis yang sengaja ditahan agar bisa diperas oleh manajer lama.
Keira membaca semuanya.
Ia tidak langsung memecat. Tidak langsung berteriak. Ia hanya menempelkan catatan kecil di setiap berkas bermasalah, lalu meminta penjelasan tertulis sebelum Jumat.
Cara itu justru membuat orang lebih takut.
Sore itu, tiga direktur divisi datang ke ruangannya dengan senyum terlalu ramah. Tidak satu pun memakai nama depan dalam percakapan. Mereka hanya membawa jabatan, parfum mahal, dan niat yang disembunyikan di balik undangan makan malam.
"Bu Keira," kata direktur operasional, "kami ingin menyambut Ibu secara resmi. Sekalian bicara santai soal budaya kerja di Angle."
Keira menatap undangan restoran di meja.
Restoran fine dining di kawasan Citraland. Ruang privat. Menu wine pairing.
Terlalu cepat. Terlalu ramah.
"Budaya kerja atau budaya menutupi laporan?" tanya Keira.
Senyum mereka kaku.
"Tentu bukan begitu, Bu."
Keira mengambil undangan itu. "Baik. Jam tujuh."
Malamnya, ruang privat restoran terasa hangat, wangi daging panggang dan saus mentega memenuhi udara. Di meja panjang, sudah ada lima orang dari jajaran lama Angle. Mereka berdiri saat Keira masuk, tetapi mata mereka tidak benar-benar hormat.
Keira datang sendiri.
Tanpa Kevin.
Tanpa Pak Lim.
Itu membuat mereka sedikit lebih berani.
"Bu Keira masih muda sekali," ujar salah satu komisaris lama sambil menuangkan wine. "Tentu tekanan mengelola artis bisa berat. Kami yang senior siap membantu."
"Terima kasih," jawab Keira.
Gelas pertama datang.
Keira memutarnya perlahan, mencium aromanya, lalu menyesap sedikit.
Mereka tersenyum.
Gelas kedua datang bersama hidangan pembuka. Lalu gelas ketiga dengan steak. Gelas keempat dengan alasan toast untuk masa depan Angle.
Mereka tidak tahu satu hal.
Keira Liem lahir dengan toleransi alkohol yang membuat tiga kakaknya dulu menyerah saat pesta keluarga. Wine mahal di meja itu bagi tubuhnya tidak lebih dari sirup yang terlalu pahit.
Yang membuatnya tertarik justru gelas air mineral di sisi kanan.
Setiap kali pelayan masuk, direktur operasional melirik gelas itu. Terlalu sering.
Keira menunggu sampai semua orang mulai santai.
"Bu Keira," kata komisaris lama, wajahnya sudah merah. "Soal kontrak artis lama, mungkin tidak perlu digali terlalu dalam. Dunia hiburan itu... fleksibel."
"Fleksibel untuk siapa?"
"Untuk semua pihak."
"Artis yang dipaksa membayar penalti tidak masuk akal juga termasuk semua pihak?"
Meja mendadak lebih sunyi.
Direktur operasional cepat mengangkat gelas. "Kita minum dulu. Jangan tegang."
Keira tersenyum. Ia mengambil gelas air mineral, bukan wine.
Sebelum bibirnya menyentuh gelas, ia berhenti.
"Kenapa tanganmu gemetar?"
Pelayan muda yang memegang teko air langsung pucat.
Direktur operasional tertawa terlalu keras. "Mungkin takut karena Bu Keira terlalu cantik."
Keira meletakkan gelas. "Atau karena dia tahu ada sesuatu di air ini."
Senyum di meja hilang.
"Bu Keira, tuduhan seperti itu..."
Keira menggeser gelas air ke tengah meja. "Minum."
"Apa?"
"Kalau tidak ada apa-apa, minum."
Tidak ada yang bergerak.
Keira menatap pelayan muda itu. "Siapa yang menyuruhmu?"
Anak itu hampir menangis. "Saya cuma diminta menaruh bubuk, Bu. Saya tidak tahu isinya."
"Oleh siapa?"
Matanya bergerak ke direktur operasional.
Selesai.
Keira mengeluarkan ponsel dari tas. "Sejak masuk ruangan, aku sudah merekam."
Kursi bergeser kasar. Salah satu komisaris berdiri. "Kau menjebak kami?"
"Kalian mengundangku untuk diberi obat. Aku hanya datang membawa saksi."
Pintu ruang privat terbuka.
Kevin masuk dengan dua pengacara dan seorang staf keamanan restoran. Di belakangnya, seorang pemuda berjaket denim berdiri dengan wajah setengah geli, setengah marah.
Bima Putra.
Penyanyi muda yang sedang naik daun, wajahnya sering muncul di billboard Angle, tetapi rumor mengatakan ia sulit diatur.
Begitu melihat Keira, Bima tersenyum lebar. "Akhirnya ketemu juga, Kak Kei."
Keira menatapnya. "Kak?"
Bima menggaruk belakang kepala. "Dulu di rumah keluarga Liem, aku pernah jatuh dari pohon mangga. Kak Kei yang membawaku ke klinik. Aku masih ingat."
Kevin melirik Keira. "Ternyata penggemarmu lebih tua dari kelihatannya."
Bima cepat menambahkan, seolah takut Keira tidak percaya. "Waktu itu semua orang memarahiku karena masuk halaman belakang tanpa izin. Kak Kei malah memberiku es krim dan bilang anak kecil boleh salah asal berani tanggung jawab. Aku masih menyimpan saputangan yang Kak Kei pakai untuk membalut lututku."
Keira menatapnya lebih lama.
Ingatan itu samar, tetapi ada. Seorang anak laki-laki kecil yang menangis sambil memeluk mangga mentah, dan dirinya yang diam-diam menyelundupkan es krim dari dapur.
Keira hampir tersenyum, tetapi situasi belum selesai.
Ia menatap orang-orang di meja. "Kalian punya dua pilihan. Polisi datang malam ini, atau kalian membuat pengakuan terbuka di Instagram Angle bahwa kalian menyalahgunakan posisi, memanipulasi kontrak artis, dan mencoba memberi obat kepada direktur baru."
"Itu bunuh diri karier!" seru komisaris lama.
"Seharusnya kalian memikirkan itu sebelum memasukkan bubuk ke gelasku."
Satu per satu wajah mereka runtuh.
Malam itu juga, akun Instagram pribadi mereka mengunggah permintaan maaf. Tidak semua detail pidana ditulis, karena pengacara Kevin mengatur redaksinya agar kuat untuk pemecatan dan gugatan internal, tetapi cukup jelas untuk membuat industri hiburan Surabaya meledak.
Keira berdiri di depan restoran saat notifikasi komentar masuk tanpa henti.
Bima berdiri di sampingnya, membawa jaketnya sendiri dengan sikap seperti pengawal sukarela. "Mulai hari ini, siapa pun yang ganggu Kak Kei harus lewat aku."
"Kau artis, bukan bodyguard."
"Bisa dua-duanya kalau perlu."
Kevin tertawa. "Anak ini memang dari dulu banyak gaya."
Keira menatap Bima lebih lama. Loyalitas yang terlalu cepat biasanya mencurigakan. Namun mata pemuda itu jernih, seperti seseorang yang akhirnya menemukan orang yang ingin ia bela.
"Besok datang ke kantorku," kata Keira. "Kita bicara kontrakmu."
Bima langsung tegak. "Siap, Bu Direktur."
Ponsel Kevin bergetar. Ia membaca pesan, lalu ekspresinya berubah sedikit.
"Apa?" tanya Keira.
Kevin menyerahkan ponsel.
Di layar ada notifikasi dari notaris keluarga: sertifikat Villa Teluk di PIK baru saja berpindah kepemilikan ke nama Keira.
Pengirim instruksi transfer: Rayhan Sutanto.
Keira menatap layar itu lama.
Di tempat lain, Rayhan berdiri di ruang kerjanya, memandang dokumen transfer yang baru ditandatangani.
"Kalau dia tidak punya tempat pulang," gumamnya pelan, "setidaknya dia punya rumah yang aman."