Chua Yulin mengira hidupnya sudah cukup buruk setelah menemukan kekasihnya berselingkuh. Lalu dia pindah ke apartemen baru dan mendapat teman sekamar seorang cowok misterius bernama Sim Zhenyu—yang pulang tengah malam berbau bensin, menerima transfer Rp 10 juta dari orang tak dikenal, dan memiliki wajah yang terlalu tampan untuk hidup biasa.
Kesimpulan Yu: dia pasti model.
Yang tidak Yu duga? Sentuhan Zhen adalah satu-satunya yang bisa meredakan kondisi langka yang dideritanya—haus sentuhan. Sementara Zhen, si clean freak yang tidak pernah membiarkan siapa pun menyentuhnya, mulai membuat pengecualian. Hanya untuknya.
Dari kesalahpahaman yang konyol hingga pengorbanan yang tak terduga, ini adalah kisah tentang dua orang yang ditakdirkan untuk saling melengkapi—karena kadang, yang kamu butuhkan bukan payung dari hujan, tapi hujan itu sendiri.
"Kamu memang ditakdirkan kekurangan hujan—kekurangan aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Log yang Terlalu Dekat
Klien gila itu masuk ke dashboard Zhen pukul 00.17.
Sebenarnya, Zhen tidak sedang membuka kerjaan. Ia hanya mengambil air, mengecek pesan admin Z Racing sebentar, lalu berniat tidur. Besok pagi ada kelas, siang ada meeting tim, malam mungkin latihan di Sentul. Jadwalnya sudah cukup penuh tanpa permintaan aneh dari akun kosong bernama MakiGwMasukBui.
Namun notifikasi dari admin membuatnya berhenti.
Admin Z Racing:
Kak Z, ada booking private coaching full payment Rp 50.000.000. Ada request khusus, tolong dicek sendiri.
Zhen menatap angka itu beberapa detik.
Lima puluh juta untuk private coaching.
Biasanya orang membayar sepuluh juta per sesi, maksimal dua sesi di muka. Kalau ada yang langsung membayar lima kali lipat, pilihannya hanya dua: orang itu terlalu kaya, atau terlalu bermasalah.
Zhen membuka dashboard.
Nama booking: MakiGwMasukBui.
Ia diam.
"Apa-apaan."
Di bagian request khusus, ada pesan yang sudah diteruskan admin.
Saya tidak sedang mencari layanan yang tidak pantas. Saya punya kondisi yang membuat tubuh saya sulit tenang setelah stres berat. Sentuhan orang tertentu bisa membantu. Saya ingin meminta private coaching dalam bentuk pendampingan singkat dan sentuhan tangan yang aman, dengan batas jelas. Kalau Anda tidak nyaman, abaikan pesan ini.
Saya akan membayar Rp 50.000.000 sebagai kompensasi waktu dan kerahasiaan.
Zhen membaca sampai akhir.
Lalu membaca lagi.
Keningnya perlahan berkerut.
Permintaan aneh, iya. Tapi tidak terdengar seperti komentar cabul yang biasa masuk ke akun publiknya. Tidak ada kata-kata murahan. Tidak ada rayuan. Tidak ada foto. Kalimatnya terlalu hati-hati, terlalu takut menyinggung, seolah pengirimnya sudah malu sebelum menekan tombol kirim.
Dan bagian kondisi itu.
Tubuh sulit tenang setelah stres berat.
Sentuhan orang tertentu bisa membantu.
Jari Zhen berhenti di atas trackpad.
Gambaran Yu di lobby Fasilkom muncul tanpa diundang. Wajah pucat. Tangan dingin. Pergelangan yang ia genggam di atas hoodie. Cara Yu menahan punggung tangannya agar tidak lepas selama dua detik yang terlalu lama.
Zhen menutup mata sebentar.
Tidak mungkin.
Kebetulan.
Ia membuka pesan admin.
Zhen: Refund.
Admin: Full refund, Kak?
Zhen: Tahan dulu. Jangan konfirmasi jadwal. Kirim data booking mentah.
Admin: Baik.
Beberapa menit kemudian, file kecil masuk. Form booking, waktu transaksi, email anonim, nomor WhatsApp bisnis baru, dan metadata standar untuk mencegah penipuan. Zhen membuka semuanya dengan wajah makin dingin.
Email dibuat hari itu.
Akun WhatsApp tidak punya foto.
Transaksi dari bank digital, nama pengirim disamarkan oleh sistem payment gateway karena memakai virtual account.
Jam transfer: 00.12.
Zhen mengingat suara langkahnya sendiri melewati lorong sekitar waktu itu. Pintu kamar Yu tertutup. Lampu dari celah bawah pintu masih menyala. Ia sempat berpikir Yu belum tidur, padahal sudah ia suruh tidur sebelum jam satu.
IP login form menunjukkan area Jakarta Selatan, provider rumah, radius lokasi tidak presisi.
Masih belum cukup.
Jakarta Selatan luas.
Zhen bukan orang yang menyimpulkan hanya karena ingin benar. Ia benci tebakan malas. Ia mengambil air, duduk di meja makan, lalu membuka ulang pesan itu.
Saya tidak sedang mencari layanan yang tidak pantas.
Kalimat itu terasa seperti seseorang yang terlalu sering takut disalahpahami.
Sentuhan tangan yang aman, dengan batas jelas.
Zhen teringat cara Yu mundur ketika Kevin hendak menyentuhnya di cerita yang tidak pernah ia dengar lengkap, tetapi bisa ia baca dari tubuh Yu. Cara ia menegang saat Yan mendekat. Cara ia memucat saat laki-laki teman Kevin mengikuti dari fakultas.
Kalau itu Yu, ia tidak sedang bermain-main.
Kalau itu bukan Yu, tetap saja Zhen tidak akan menerima permintaan seperti ini dari orang asing.
Ponselnya bergetar.
Yan.
Yan: Bro, admin Z Racing nanya gue, ada klien transfer 50 juta? Lu jual ginjal?
Zhen mengetik:
Tidur.
Yan: Ini baru jam setengah satu. Jawab dulu. Klien apa? Cewek?
Zhen: Bukan urusan lo.
Yan: Kalau bukan urusan gue, kenapa admin panik ke grup?
Zhen membuka grup kecil Z Racing. Benar saja, admin mengirim pesan minta arahan. Yan, yang membantu bagian sponsor acara kadang-kadang, sudah mencium drama.
Zhen: Jangan bahas di grup. Saya handle.
Yan langsung menelepon.
Zhen menolak.
Yan menelepon lagi.
Zhen menolak lagi.
Pesan masuk.
Yan: Kalau kliennya minta yang aneh-aneh, jangan sok pahlawan. Refund.
Zhen menatap pesan itu cukup lama.
Lalu membalas:
Gue tahu.
Untuk sekali ini, Yan tidak bercanda lagi.
Yan: Serius, Zhen. Banyak orang lihat lu kayak barang display. Jangan kasih akses kalau lu nggak nyaman.
Zhen mengetik:
Dia tidak terdengar seperti itu.
Ia berhenti sebelum mengirim, lalu menghapus.
Balasan akhirnya hanya:
Gue handle.
Ia meletakkan ponsel di meja.
Dari lorong, terdengar suara sangat pelan.
Ceklek.
Pintu kamar Yu terbuka sedikit.
Zhen tidak bergerak.
Ia mendengar langkah hati-hati menuju dapur. Yu muncul dengan rambut diikat asal, kaus longgar, dan wajah orang yang seharusnya tidur tapi jelas tidak tidur. Begitu melihat Zhen duduk di meja makan, ia berhenti seperti tertangkap mencuri.
"Kamu belum tidur?" tanya Zhen.
Yu memegang gelas kosong. "Haus."
"Air di kamar habis?"
"Iya."
Jawaban cepat.
Zhen menatapnya.
Yu berjalan ke dispenser, mengisi gelas. Tangannya sedikit gemetar. Bukan banyak, tapi cukup untuk membuat permukaan air bergoyang. Ia menaruh gelas terlalu dekat dengan pinggir meja.
Zhen menggeser coaster ke arahnya.
Yu melihat coaster itu, lalu memindahkan gelas. "Makasih."
"Kamu takut?"
Gelas di tangan Yu berhenti.
"Apa?"
"Sejak tadi wajahmu seperti habis melakukan kejahatan."
Yu tersedak air.
Zhen hampir berdiri, tapi Yu cepat-cepat mengangkat tangan. "Nggak apa-apa."
"Jawaban cepat keempat."
"Kamu menghitung?"
"Kebetulan ingat."
Yu menatapnya dengan mata sedikit panik. Di bawah lampu ruang makan, lingkaran lelah di matanya terlihat jelas. Zhen tiba-tiba merasa permintaan di dashboard itu tidak lucu sama sekali.
Kalau memang dia, maka gadis itu sudah sampai pada titik mentransfer lima puluh juta rupiah kepada akun yang ia kira asing, hanya untuk mendapat alasan menyentuh tangan.
Itu bukan kebodohan biasa.
Itu putus asa yang dibungkus malu.
"Tidur," kata Zhen akhirnya.
Yu mengangguk terlalu cepat. "Iya."
Ia kembali ke kamar dengan gelas air.
Zhen menunggu sampai pintu tertutup, lalu membuka dashboard lagi. Ada satu detail kecil yang tadi belum ia perhatikan. Catatan transfer di payment gateway:
Private coaching. Mohon rahasia.
Ia melihat pintu kamar Yu.
Lalu melihat jam.
00.31.
Yu baru saja keluar mengambil air setelah transfer diterima.
Masih belum bukti mutlak.
Tapi Zhen sudah cukup mengenal pola.
Ia membuka chat admin.
Zhen: Jangan hubungi klien dulu. Saya sendiri yang jawab dari akun Z besok.
Admin: Baik, Kak.
Yan mengirim pesan lagi.
Yan: Jadi siapa kliennya?
Zhen menatap pintu kamar Yu yang tertutup rapat.
Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibirnya bergerak sangat tipis.
Zhen: Seseorang yang sangat buruk dalam menyembunyikan jejak.