"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Perpisahan Sementara
"Jadi begitu," bisiknya. "Dia punya titik lemah."
Keesokan paginya, Bali tetap cerah seolah tidak ada yang diam-diam berubah.
Kru mulai menurunkan beberapa lampu dari halaman vila. Kabel digulung, kursi-kursi dipindahkan, dan papan `Skandal Cinta Musim 3` yang selama beberapa hari terakhir menjadi latar semua tawa dan ketegangan kini berdiri lebih sepi. Episode pertama selesai direkam. Untuk beberapa hari ke depan, semua peserta akan kembali ke Jakarta, menunggu panggilan lokasi berikutnya.
Wenny berdiri di balkon kamar, menatap halaman yang sudah setengah kosong.
Seharusnya ia lega.
Ia bisa kembali ke apartemennya, tidur tanpa kamera, makan makanan yang sudah diperiksa Lilian, dan berpura-pura hidupnya belum berubah hanya karena satu reality show kencan.
Namun saat melihat kursi tempat ia dan REYN duduk berhadapan dalam tantangan tatapan, dadanya terasa sedikit berat.
"Aneh," gumamnya.
Ia baru mengenal pria itu beberapa hari sebagai peserta acara. Setidaknya begitu seharusnya. Tetapi tubuhnya sudah mengenali banyak hal: suara langkah REYN di koridor, cara pria itu menurunkan suara saat bicara dengannya, jarak aman yang selalu ia jaga sambil tetap siap menangkapnya.
Di halaman, Kevin menyeret koper sambil mengeluh karena barangnya bertambah dua tas oleh-oleh.
"Aku datang sebagai laki-laki bebas, pulang sebagai kurir keluarga," keluhnya.
Natasha tertawa. "Setidaknya kamu punya fungsi."
"Terima kasih, itu sangat menyentuh."
Stella berjalan turun dengan koper kecil, Felix di belakangnya membawa koper yang jelas bukan miliknya. Kevin langsung menunjuk.
"Nah, lihat. Felix juga bawa koper."
Stella menoleh tanpa ekspresi. "Dia tidak mengeluh."
Felix hanya tersenyum. "Saya memang tidak keberatan."
Kevin memegang dadanya lagi. "Aku kalah di semua lini."
Wenny ikut tersenyum. Suasana ringan itu membantu menutup rasa aneh di dadanya, meski tidak sepenuhnya.
Rosa keluar terakhir dari sisi lorong. Gaunnya sederhana, wajahnya segar, senyumnya rapi. Ketika mata mereka bertemu, Rosa mengangkat tangan kecil.
"Sampai ketemu di episode berikutnya, Wen."
"Sampai ketemu," jawab Wenny.
Tidak ada kata lain.
Namun Wenny merasa ada sesuatu di balik senyum Rosa pagi itu, sesuatu yang lebih dingin daripada biasanya. Ia belum sempat memikirkan lebih jauh karena Koko sudah memanggil semua peserta berkumpul untuk salam penutup.
"Terima kasih untuk kerja keras kalian di Bali," kata Koko. "Kalian boleh istirahat beberapa hari. Jangan terlalu rindu kamera, tapi kalau rindu sesama peserta, itu bagus untuk rating."
Kevin mengangkat tangan. "Apakah rindu makan gratis juga bagus untuk rating?"
"Tidak, tapi itu jujur."
Tawa terakhir di vila terasa lebih lembut.
Satu per satu peserta saling berpamitan. Natasha memeluk Wenny singkat. Stella memberi anggukan elegan, lalu berkata, "Jangan biarkan orang terlalu mudah membaca wajahmu."
Wenny terkejut. "Wajahku sejelas itu?"
"Saat REYN dekat, iya."
Stella pergi sebelum Wenny sempat membalas.
Pipi Wenny memanas.
Ia mencari alasan untuk masuk ke mobil lebih cepat, tetapi sebuah suara menahannya.
"Wenny."
REYN berdiri tidak jauh dari tangga halaman.
Hari itu ia memakai jaket denim gelap dan kaos putih. Tidak ada sorotan panggung, tidak ada helikopter, tidak ada tantangan tatapan. Hanya REYN dengan satu tangan memegang sesuatu di belakang punggungnya.
Wenny berjalan mendekat. "Kamu belum berangkat?"
"Menunggu."
"Apa?"
REYN mengeluarkan benda di tangannya.
Sebuket bunga liar kecil. Kamboja putih, beberapa bunga ungu muda, dan daun hijau yang diikat sederhana dengan pita tipis. Tidak semewah buket dari brand. Tidak tampak seperti properti acara. Justru karena itu, Wenny tidak langsung tahu harus bereaksi bagaimana.
"Ini..." Ia menerima buket itu perlahan. "Untukku?"
"Aku lihat kamu menyukai kamboja putih."
"Dari tes kecocokan?"
"Dari sebelum itu."
Wenny mengangkat mata.
REYN tidak menghindar, tetapi ia juga tidak menjelaskan.
"Bali akan berisik setelah episode tayang," katanya. "Kalau kamu merasa lelah, ingat bagian yang tenang saja."
Wenny melihat bunga di tangannya. Aroma kamboja samar bercampur angin laut.
"Bagian yang tenang itu apa?"
REYN menatapnya. "Yang tidak perlu kamera."
Jantung Wenny bergerak pelan, berat, lalu cepat.
Koko memanggil dari arah mobil. "Wenny, rombongan ke dermaga siap!"
Wenny menoleh, lalu kembali pada REYN. "Kamu naik mobil berbeda?"
"Aku ada briefing dengan tim sebentar."
"Oh."
Kata itu keluar lebih kecil dari yang ia inginkan.
REYN mendengarnya. Tentu saja ia mendengarnya. Pria itu selalu menangkap hal-hal kecil.
"Kita akan bertemu lagi," katanya.
"Itu kamu tahu dari jadwal atau dari kebiasaanmu tahu terlalu banyak?"
Senyum REYN muncul, tipis dan hangat. "Dua-duanya."
Wenny ingin tertawa, tetapi tenggorokannya terasa penuh.
Di mobil menuju dermaga, ia duduk dekat jendela dengan buket bunga di pangkuan. Lilian yang menjemputnya melirik bunga itu, lalu melirik wajah Wenny.
"Aku tidak bertanya dulu," kata Lilian.
"Bagus."
"Tapi wajahmu menjawab."
Wenny menoleh keluar jendela.
Kapal kecil yang membawa beberapa peserta menjauh dari dermaga membuat garis putih di permukaan air. Dari kejauhan, vila itu semakin kecil. Bali yang beberapa hari lalu terasa seperti jebakan kini mulai terasa seperti tempat yang menyimpan sesuatu.
Wenny menggenggam buket bunga itu lebih erat.
Kelopak kamboja mulai layu di ujungnya, tetapi aromanya masih ada.
Di sela aroma itu, ia masih bisa mengingat suara REYN saat berkata bahwa mereka akan bertemu lagi. Aneh, satu kalimat sederhana bisa membuat perpisahan terasa tidak sepenuhnya selesai.
Ia menatap pulau yang perlahan menjauh.
Aku akan bertemu dia lagi, kan?