NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Kirim ke Aku

Keesokan harinya, Naomi datang ke rumah Menteng sepuluh menit lebih awal.

Ia tidak ingin mendengar kalimat resign sendiri lagi. Ia juga tidak ingin Felix menunggu di depan pintu kaca dengan wajah kecewa, meski anjing itu mungkin tidak benar-benar bisa kecewa seperti manusia. Tetap saja, ketika Felix berlari menyambutnya, Naomi langsung berjongkok dan mengusap kepalanya.

"Hari ini aku tidak telat," bisiknya.

Felix menjilat punggung tangannya, seolah memberi tanda lulus.

Naomi bekerja lebih hati-hati dari biasanya. Ia mengecek air minum Felix dua kali, membersihkan mangkuk sampai tidak ada sisa sabun, lalu membawa Felix berjalan mengitari taman sesuai rute yang ditulis trainer lama di buku kecil. Sesekali tumitnya masih perih, tapi ia menahan langkah agar tidak pincang.

Ia kira tidak ada yang memperhatikan.

Tentu saja ia salah.

Kelvin berdiri di dekat pintu kaca ruang tengah, memegang kaleng es kola yang belum dibuka. Matanya tidak lama menatap kaki Naomi, tapi cukup untuk membuat gadis itu tiba-tiba sadar bahwa ia berjalan terlalu pelan.

"Kakimu sakit?"

Naomi hampir menjatuhkan kantong snack Felix.

"Tidak."

Kelvin menatapnya.

Naomi menunduk dan memperbaiki posisi leash. "Sedikit lecet. Sudah saya kasih tisu."

"Tisu bukan obat."

"Tapi bisa membantu sampai pulang."

"Standar hidupmu rendah sekali."

Kalimat itu menusuk, tapi nada Kelvin tidak mengejek. Justru terdengar seperti orang yang kesal karena melihat sesuatu yang tidak ia sukai.

Naomi tidak tahu harus membela diri atau diam. Akhirnya ia hanya menjawab, "Yang penting bisa jalan."

Felix menarik leash pelan, minta lanjut.

Kelvin tidak mengatakan apa-apa lagi.

Namun saat Naomi selesai mengajak Felix berjalan dan kembali ke ruang grooming, ada plester luka dan salep kecil di atas meja.

Tidak ada nama.

Tidak ada pesan.

Staf rumah tangga yang lewat hanya berkata, "Tadi Tuan Muda suruh taruh di situ."

Naomi menatap benda-benda itu beberapa detik.

Tuan Muda.

Ia tidak perlu bertanya siapa.

Naomi mengambil salep itu, lalu duduk di kursi kecil untuk membersihkan tumitnya. Felix duduk di depan, kepalanya dimiringkan, seperti sedang mengawasi pasien yang sulit diatur.

"Jangan lihat begitu," gumam Naomi. "Aku cuma hemat."

Felix mendengus.

Setelah selesai, Naomi mencuci tangan, lalu kembali menyisir bulu Felix. Karena Vivian sedang pergi arisan keluarga dan rumah terasa lebih sepi, Naomi bekerja sambil berbicara pelan pada Felix.

"Kamu enak, ya. Kalau sakit langsung ada dokter hewan. Kalau makan telat, semua orang panik."

Felix menatapnya dengan mata hitam mengilap.

Naomi tersenyum. "Bukan iri. Aku cuma bilang kamu beruntung."

"Dia memang beruntung."

Naomi menoleh cepat.

Kelvin sudah berdiri di ambang pintu ruang grooming. Ia tidak masuk, hanya bersandar pada kusen dengan ekspresi malas.

"Punya kamu yang mengurus."

Naomi tidak yakin harus memahami kalimat itu seperti apa. Panas pelan naik ke pipinya.

"Saya bekerja karena dibayar," jawabnya, berusaha terdengar biasa.

"Aku tidak tanya alasan."

Felix tiba-tiba bangkit, mengambil bola karet dari sudut ruangan, lalu menjatuhkannya di depan Naomi.

Naomi tertolong oleh anjing itu. "Mau main?"

Felix menggonggong sekali.

Mereka pindah ke taman. Naomi melempar bola pelan, Felix mengejar, lalu kembali dengan bangga. Pada lemparan ketiga, bola jatuh terlalu jauh dan Felix justru berputar-putar di dekat pot besar. Naomi tertawa, lalu mengangkat ponselnya untuk mengambil foto.

Felix menoleh tepat saat kamera terbuka.

Hasilnya lucu. Doberman besar dengan wajah seolah tidak mengerti kenapa dunia bergerak terlalu cepat.

Naomi menahan tawa.

"Kirim ke aku."

Suara Kelvin datang dari belakang.

Naomi hampir menekan tombol hapus.

"Apa?"

"Foto Felix. Kirim ke aku."

Naomi menatap ponselnya, lalu Kelvin. "Saya tidak punya nomor kamu."

Kalimat itu terasa aneh setelah keluar. Terlalu pribadi. Terlalu mengingatkan bahwa mereka sudah beberapa kali bertemu, pernah duduk dalam satu mobil, pernah saling membuat gugup di kelas, tapi tetap tidak memiliki jalur apa pun untuk saling menghubungi.

Kelvin mengulurkan tangan.

Naomi ragu sebentar sebelum menyerahkan ponselnya.

Jari Kelvin bergerak cepat di layar. Ia memasukkan nomor, menekan panggilan singkat ke ponselnya sendiri, lalu mengembalikan ponsel itu.

"Sekarang punya."

Naomi menerima ponsel dengan kedua tangan. Di layar, kontak baru muncul tanpa nama.

"Simpan," kata Kelvin.

"Dengan nama apa?"

Kelvin menatapnya seolah pertanyaan itu tidak penting. "Terserah."

Naomi menahan dorongan untuk tertawa kecil. Orang seperti Kelvin rupanya juga bisa memakai kata yang sering membuat orang lain pusing.

Ia menyimpan nomor itu sebagai Kelvin.

Bukan Kelvin Hartono.

Nama tanpa marga terasa kurang jauh, dan justru karena itu ia menatap layar sedikit lebih lama.

"Kirim fotonya," kata Kelvin.

Naomi cepat membuka WhatsApp, memilih foto Felix, lalu mengirimkannya. Satu centang. Dua centang. Lalu biru, hampir seketika.

Di ponsel Kelvin, foto itu muncul.

Ia melihatnya sebentar. Sudut bibirnya bergerak kecil.

Naomi pura-pura sibuk memanggil Felix, tapi ia melihat.

Setelah jam kerjanya selesai, Naomi pulang dengan perasaan yang aneh. Bukan bahagia besar. Hanya seperti ada benda kecil yang hangat disimpan di saku.

Di bus, ia membuka WhatsApp lagi.

Kontak Kelvin berada di bagian atas.

Tidak ada foto profil. Hanya nama yang ia tulis sendiri dan satu pesan terkirim berisi foto Felix. Naomi mengetuk nama itu, melihat layar chat kosong, lalu menutupnya. Lima menit kemudian, ia membukanya lagi.

Tidak ada pesan baru.

Tentu saja tidak ada.

Untuk apa Kelvin Hartono mengirim pesan pada dirinya?

Naomi menyandarkan kepala ke kaca bus, merasa malu pada dirinya sendiri.

***

Di Supercar Club Jakarta malam itu, Danny merebut ponsel Kelvin dari meja saat Kelvin pergi mengambil minuman.

"Kel, gue pinjam lihat foto mobil kemarin."

"Jangan buka yang lain," kata Kelvin tanpa menoleh.

Kalimat itu justru membuat Danny membuka yang lain.

Ia melihat daftar WhatsApp, lalu berhenti.

Di urutan atas ada chat baru.

Naomi.

Danny tersenyum seperti menemukan bahan hidup baru. "Wih. Naomi minimarket masuk daftar prioritas?"

Kelvin kembali, mengambil ponselnya dari tangan Danny tanpa ekspresi. "Kamu bosan hidup?"

"Gue cuma lihat nama. Belum baca. Sumpah." Danny tertawa. "Tapi serius, sejak kapan lo simpan nomor cewek buat foto anjing?"

"Sejak anjingku lebih punya selera daripada kamu."

Danny memegang dada. "Sakit, bro."

Kelvin mengabaikannya, tapi ponsel itu tidak ia letakkan lagi di meja. Ia masukkan ke saku.

Malam semakin larut.

Naomi sudah berada di kos, duduk di lantai dengan laptop terbuka, mencoba menerjemahkan satu paragraf yang sama selama sepuluh menit. Matanya berat, tapi pikirannya terus kembali ke nama di WhatsApp.

Ponselnya bergetar.

Naomi langsung menoleh.

Satu pesan masuk dari Kelvin.

Foto Felix.

Doberman itu berbaring di lantai kamar besar, dagunya menempel pada boneka kunyah, matanya terbuka lebar seolah sedang merajuk.

Di bawah foto itu ada pesan singkat.

"Dia tidak mau tidur. Katanya kangen Mommy."

Naomi menutup mulut dengan punggung tangan.

Kamar kos yang sempit, lampu berkedip, dan udara pengap mendadak terasa tidak sekeras biasanya.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!