NovelToon NovelToon
Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Sang Predator Cinta: Menjinakkan Suami yang Membenciku

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.

"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."

Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.

Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.

Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.

Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.

Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.

Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019

Hitung mundur krisis pertama dimulai dari layar laptop Meiran.

Di ruang diskusi lantai empat, waktu terasa berjalan lebih cepat daripada jam dinding. Setiap notifikasi baru bisa berarti satu vendor lagi panik, satu bank lagi menahan dana, atau satu portal lagi menyalin berita tanpa memeriksa sumber.

Meiran menulis tiga instruksi sekaligus.

Untuk Sari: kumpulkan dokumen asli proyek logistik.

Untuk tim legal: kirim surat keberatan ke portal pertama.

Untuk Papa: jangan muncul di lobi kantor sampai holding statement resmi siap.

Hafeng duduk di sampingnya, tidak banyak bicara. Ia membaca lampiran satu per satu, lalu menandai beberapa nama di spreadsheet dengan warna abu-abu.

"Firma audit teknis ini baru berdiri dua tahun," katanya.

Meiran menoleh. "Kamu cek dari mana?"

"Situs resmi mereka. Portofolionya terlalu rapi untuk perusahaan baru."

"Itu bisa saja normal."

"Bisa. Tapi logo proyek di halaman mereka memakai render gedung lama yang sudah pernah dipakai kompetitor kampusku tahun lalu."

Meiran berhenti mengetik.

Hafeng memutar laptop sedikit, menunjukkan gambar kecil di situs firma itu. "Lihat bayangan bangunannya. Ini bukan render proyek logistik. Ini aset lama yang diedit."

Untuk beberapa detik, Meiran hanya menatap layar.

Kekuatan Takdir menyerang dengan rumor.

Mereka akan memukul balik dengan bukti.

"Sari," kata Meiran begitu panggilan tersambung, "minta tim legal screenshot seluruh situs firma audit itu. Jangan beri peringatan dulu. Simpan timestamp. Setelah itu cek apakah mereka punya izin dan riwayat kerja dengan vendor kita."

Sari menjawab cepat, "Baik, Bu Lim."

"Kirim juga dokumen asli progres proyek ke media besar, tapi hanya bagian yang membuktikan tidak ada manipulasi jadwal. Jangan kirim angka sensitif."

"Siap."

Meiran menutup panggilan, lalu membuka dokumen holding statement.

Hafeng berdiri. "Aku keluar sebentar."

"Ke mana?"

"Cari sinyal lebih bagus."

Alasan itu buruk. Ruang diskusi punya sinyal stabil.

Meiran menatapnya, tetapi tidak menahan. "Jangan bicara ke media."

"Aku bukan kamu."

"Justru itu yang membuatku khawatir."

Hafeng mendengus, lalu keluar.

Pintu tertutup.

Meiran kembali bekerja.

Dalam tiga puluh menit berikutnya, Lim Group merilis pernyataan singkat: perusahaan sedang melakukan verifikasi internal, dokumen progres utama siap dibuka untuk mitra terkait, dan semua pihak diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terkonfirmasi. Tidak defensif. Tidak panik. Cukup dingin untuk membuat investor menunggu.

Sari mengirim pesan.

`Bu Lim, portal besar menunda tayang. Mereka minta dokumen pembanding dulu.`

Meiran mengetik balasan.

`Kirim paket A. Jangan paket B.`

Lalu pesan lain masuk.

`Ada email anonim masuk ke legal. Isinya timeline penyebaran rumor, termasuk bukti portal pertama upload artikel sebelum meminta konfirmasi. Ada juga data domain firma audit.`

Meiran menatap pesan itu.

Email anonim?

Lampiran masuk beberapa detik kemudian. Ia membuka file pertama. Timeline-nya rapi, terlalu rapi. Portal pertama mengunggah artikel pukul 10.17, tetapi permintaan konfirmasi baru dikirim pukul 10.41. Firma audit teknis yang menjadi sumber rumor memakai domain terdaftar atas nama perusahaan cangkang.

Di bagian bawah, ada catatan singkat.

`Cek juga aset render di halaman portofolio. Plagiarized asset.`

Meiran menatap kata berbahasa Inggris itu.

Ia tahu siapa yang menulisnya.

**【Sistem Predator】Bantuan tidak langsung dari target terdeteksi.**

Panel muncul.

Nilai Cinta: -32 → -12.

Meiran menarik napas pelan.

Belum selesai.

Di luar ruang diskusi, Hafeng berdiri di dekat jendela lorong, ponsel di tangan. Ia tidak tahu sistem sedang mengkhianati rahasianya. Ia hanya melihat hujan mulai turun lagi di luar gedung, lalu memasukkan ponsel ke saku seperti tidak terjadi apa-apa.

Ketika ia kembali ke ruangan, Meiran tidak menanyakan email anonim itu.

Ia hanya berkata, "Terima kasih."

Hafeng berhenti di pintu. "Untuk apa?"

"Ruangnya."

"Oh."

"Dan sinyal yang lebih bagus."

Hafeng menatapnya.

Meiran menatap balik.

Tidak ada yang menyebut email.

Tetapi ruangan terasa lebih hangat sedikit.

Menjelang sore, arah krisis mulai berubah. Portal pertama menambahkan catatan bahwa Lim Group telah menyiapkan dokumen klarifikasi. Portal besar membatalkan artikel agresifnya dan memilih menunggu. Dua vendor mengirim email bahwa percepatan pembayaran bisa ditunda sampai rapat verifikasi.

Belum menang sepenuhnya.

Tapi alur serangan berhenti membesar.

Sari menelepon dengan suara yang hampir menangis lega. "Bu Lim, Pak Lim bilang Anda diminta pulang kalau sudah aman. Wartawan di depan rumah besar Lim mulai bubar."

Meiran menutup mata sebentar. "Bagus. Jangan lengah. Besok pagi kita susun klarifikasi resmi."

"Baik, Bu Lim."

Panggilan selesai.

Belum satu menit, pesan dari Papa masuk.

`Kamu membuat tim legal bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya. Bagus. Tapi lain kali beri tahu Papa kalau kamu memakai bantuan orang luar.`

Meiran menatap kalimat itu, lalu melirik Hafeng.

Ia tidak tahu Papa menebak dari mana. Mungkin dari tambahan analisis yang terlalu rapi. Mungkin dari insting seorang pendiri konglomerat yang bisa mencium ada kepala lain di balik strategi.

Meiran membalas singkat.

`Bantuan sementara. Orangnya menyebalkan, tapi berguna.`

Balasan Papa datang hampir seketika.

`Kalau berguna, jangan sia-siakan.`

Meiran menutup layar ponsel.

Hafeng memperhatikan gerakannya. "Pak Lim?"

"Papa bilang kamu menyebalkan."

"Aku tidak percaya."

"Baik. Aku yang bilang."

"Itu lebih masuk akal."

Percakapan kecil itu seharusnya tidak penting. Namun setelah beberapa jam menghadapi rumor, vendor, dan media, kalimat pendek seperti itu terasa seperti udara masuk melalui jendela yang baru dibuka.

Meiran menyandarkan punggung ke kursi. Baru saat itu ia menyadari bahunya sakit karena tegang terlalu lama.

Hafeng meletakkan satu botol air mineral di samping laptopnya.

"Minum."

"Ini instruksi?"

"Saran agar kamu tidak pingsan di ruang arsitektur."

Meiran mengambil botol itu. "Perhatianmu makin sulit disamarkan."

"Aku menyesal memberimu ruang."

"Terlambat."

**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**

Nilai Cinta: 0.

Meiran hampir menjatuhkan botol.

Angka merah hilang.

Untuk pertama kalinya, panel itu tidak lagi tampak seperti luka terbuka. Nol. Bukan cinta. Belum. Tetapi bukan kebencian yang menggerogoti.

**【Sistem Predator】Selamat, Host. Target memasuki titik netral.**

Hafeng menatapnya. "Kenapa?"

Meiran menutup botol pelan. "Tidak apa-apa."

Kali ini, ketika ia bernapas, dadanya tidak lagi terasa seperti dikunci dari dalam.

Setidaknya untuk beberapa menit pendek.

**【Sistem Predator】Nilai Kehancuran turun menjadi 24. Krisis pertama belum selesai, tetapi jalur kehancuran utama berhasil dibelokkan.**

**【Sistem Predator】Peringatan lanjutan: Kekuatan Takdir tidak akan berhenti setelah serangan pertama gagal.**

Lampu ruang diskusi berkedip sekali.

Di luar, hujan menebal.

Meiran menatap angka nol di panel, lalu layar laptop yang masih penuh dokumen krisis.

Ia berhasil menarik Hafeng keluar dari kebencian.

Tetapi takdir baru saja memperlihatkan bahwa ia juga punya cara untuk menarik seluruh dunia jatuh bersamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!