Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Gang di belakang warnet berbau lembap, rokok basi, dan air got yang terlalu lama menggenang.
Brandon masuk sambil memasukkan ponsel ke saku jaket. Ia baru berjalan beberapa meter ketika suara game dari warnet di belakangnya menghilang, tertelan dinding ruko yang tinggi dan kusam.
"Bryan, cepet," serunya tanpa menoleh.
Tidak ada jawaban.
Yang menjawab justru bunyi sepatu berat dari ujung gang.
Brandon berhenti.
Dari bayangan dekat tumpukan kardus basah, seorang pria besar melangkah keluar. Tubuhnya tinggi dan lebar, kaus hitamnya ketat di bahu. Di wajahnya ada bekas luka panjang dari pelipis sampai rahang, merah tua seperti garis yang pernah dibelah paksa.
Brandon mundur setengah langkah.
"Lo siapa?"
Pria itu menyeringai. "Wild God, kan?"
Seluruh tubuh Brandon langsung waspada. "Salah orang."
"Nggak salah." Pria itu memutar leher sampai berbunyi. "Temen lo udah bayar DP."
Jantung Brandon jatuh.
Temen.
Bayar.
Dalam satu detik, suara Keira yang kemarin ia anggap fitnah kembali menampar telinganya.
Jauhi Bryan. Dia mau nyakitin lo.
Brandon menggertakkan gigi. "Bryan nggak mungkin..."
Ingatan tentang kemah SMP melintas kacau. Bryan menariknya keluar dari sungai kecil saat ia terpeleset. Bryan tertawa sambil menyodorkan handuk. Bryan berbagi mi instan tengah malam setelah latihan. Sepuluh tahun kenangan itu bertumpuk seperti tembok.
Tapi pria di depannya menyebut kata DP dengan terlalu santai.
Tembok itu mulai retak.
Pria itu tertawa. "Anak orang kaya emang lucu. Mau mati masih percaya sahabat."
Brandon berbalik hendak lari.
Tangan Si Panjang lebih cepat.
Ia menyambar kerah Brandon dan membanting punggungnya ke dinding. Napas Brandon terpotong. Sebelum ia sempat membalas, tangan besar itu sudah mencekik lehernya.
"Awalnya gue cuma disuruh patahin tangan kanan lo," kata Si Panjang sambil mengangkat tubuh Brandon beberapa senti dari tanah. "Tapi kalau cuma tangan, ribet. Polisi masih bisa nanya. Daripada nanggung, sekalian aja gue kirim ke akhirat."
Brandon menendang, lututnya menghantam paha Si Panjang, tapi tubuh pria itu seperti tembok.
Udara menghilang.
Lehernya panas.
Jari-jarinya mencakar tangan Si Panjang. Cincin hitam di jarinya berteriak sampai suaranya pecah.
"KAK! KAK! TOLONG! DIA BENERAN MAU MATI!"
Di luar gang, Keira hampir terpeleset di atas genangan got ketika suara itu menusuk telinganya.
Ia tidak masuk dari mulut gang.
Kalau ia masuk dari sana, Si Panjang akan melihatnya sebelum ia bisa melakukan apa pun. Ia bukan petarung. Berat badan dan tinggi badan Si Panjang cukup untuk membuatnya sadar satu hal: satu tendangan langsung mungkin membuatnya ikut masuk rumah sakit.
Ponselnya masih menyala dengan live location. Di layar, nama Ko Kevin berkedip dalam panggilan aktif yang ia biarkan tersambung tanpa bicara.
"Kei, posisi kamu bergerak cepat. Kamu di mana?" suara Kevin terdengar kecil dari speaker.
Keira tidak menjawab. Kalau ia bicara, Si Panjang bisa mendengar. Ia hanya mengetuk layar dua kali, mengirim titik lokasi terbaru, lalu memasukkan ponsel ke saku.
Ada tiga hal yang ia punya.
Suara benda.
Gang sempit.
Dan waktu kurang dari satu menit.
Jadi ia berlari ke sisi ruko.
"Jalan samping! Jalan samping!" teriak ember plastik biru dari dekat warung kecil. "Ada tembok rendah di belakang cucian piring!"
Keira menoleh. Di samping warung mi kecil, ada lorong sempit menuju area belakang. Dua peti plastik kosong tertumpuk dekat tembok. Sebuah ember besar penuh air cokelat kehijauan berada di samping got, baunya membuat mata Keira hampir berair.
Ember itu mengeluh, "Gue isinya sisa cucian wajan, air hujan, dan got. Jangan angkat gue kalau hidung lo lemah."
"Kamu berat?"
"Berat secara fisik dan emosional."
"Bagus."
Keira meraih gagang ember.
Tangannya langsung licin. Bau asam dan busuk naik ke wajahnya. Perutnya berputar, tapi dari dalam gang ia mendengar suara Brandon tersedak.
Tidak ada waktu jijik.
Ia menggeser ember ke dekat peti plastik, memanjat peti pertama, lalu kedua. Peti itu protes keras.
"Pelan, Kak! Tulang plastik gue udah tua!"
"Tahan lima detik."
"Lima detik dalam hidup plastik itu lama!"
Keira mengabaikannya. Ia mengangkat ember dengan dua tangan, mendorongnya ke atas tembok rendah. Lengannya gemetar. Air comberan bergoyang, sebagian tumpah ke piyama luar yang ia pakai sebagai jaket tipis di atas baju kampus.
Ia menahan napas.
Di dalam gang, Brandon mulai melihat bintik hitam.
Suara Si Panjang terdengar dekat sekali. "Tangan kanan nasional, ya? Sayang."
"Lepas..." Brandon memaksa keluar suara, tapi hanya serak.
Tiba-tiba ada suara dari atas.
"Ko Brandon."
Brandon mengangkat mata dengan susah payah.
Di atas tembok gang, Keira muncul dengan rambut sedikit berantakan, satu lutut menempel di beton, kedua tangan memegang ember besar yang tampak terlalu berat untuk tubuhnya.
Ia bahkan masih sempat berkata, "Sebentar nggak ketemu aja udah kayak gelandangan gini."
Kalau Brandon masih punya cukup udara, ia mungkin akan memaki.
Si Panjang mendongak. Matanya menyipit. "Siapa lagi ini?"
"Orang lewat," kata Keira.
"Turun sini kalau berani."
"Nggak. Gue nyaman di atas."
Si Panjang tertawa, kasar dan pendek. "Mau mati berdua? Boleh."
Brandon panik. Dengan sisa napas, ia berteriak sekuat mungkin, "LARI! JANGAN KE SINI!"
Keira menatapnya.
Untuk sepersekian detik, Brandon melihat sesuatu yang membuat tenggorokannya lebih sakit daripada cekikan Si Panjang.
Keira tidak takut padanya.
Keira tidak marah.
Keira hanya tampak sedang menghitung sudut, berat, jarak, dan waktu.
"Ko Brandon," katanya tenang, "kalau nanti jatuh, jangan sibuk pilih lantai bersih."
"Apa..."
Keira mengangkat ember.
Si Panjang baru sadar ketika bayangan besar bergerak di atas kepalanya.
"Eh, lo mau apa?"
Keira menuangkan seluruh isi ember.
Air comberan jatuh seperti hujan cokelat pekat.
Sisa cucian warung, air got, daun busuk, potongan mi, minyak bekas, dan sesuatu yang Keira tidak mau identifikasi menimpa kepala Si Panjang tanpa ampun.
Pria itu menjerit.
"BANGSAT!"
Air masuk ke mata, hidung, dan mulutnya. Ia tersedak hebat, tubuhnya otomatis mundur. Cekikannya terlepas.
Brandon jatuh ke tanah dengan suara berat.
Udara masuk ke paru-parunya seperti pisau.
Ia batuk, memegang leher, lalu menyadari seluruh tubuhnya basah oleh percikan air comberan yang ikut menyiramnya.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Keira, Brandon tidak punya tenaga untuk marah.
Ia hanya melihat gadis yang kemarin ia tuduh tukang fitnah berdiri di atas tembok dengan tangan gemetar, wajah pucat, dan bahu penuh cipratan kotor. Gadis itu bisa saja pergi. Bisa saja bilang polisi sedang di jalan. Bisa saja membiarkannya membayar harga dari kebodohannya sendiri.
Tapi Keira datang.
Dengan ember paling menjijikkan di Kota S.
Ada daun busuk menempel di dada jaketnya.
Dalam kondisi setengah mati, refleks pertamanya adalah memungut daun itu dengan dua jari.
Keira yang baru melompat turun dari peti di sisi luar tembok melihatnya dan hampir kehilangan akal.
"MASIH SEMPET BERESIN BAJU?! LARI, GOBLOK!"
Brandon tersentak.
Si Panjang sedang membungkuk sambil muntah, tapi tangannya sudah meraba-raba mencari mereka. Wajahnya penuh air kotor, bekas lukanya tampak lebih mengerikan.
"Gue bunuh kalian..." suaranya patah oleh batuk. "Gue bunuh kalian berdua!"
Keira berlari ke mulut gang dari sisi lain, melewati celah sempit yang baru saja ia gunakan. Brandon terhuyung bangun dan mengikuti. Lututnya lemas, lehernya nyeri, tapi ketakutan membuat kakinya bergerak.
"Sini!" teriak Keira.
"Lo tahu jalan?"
"Temboknya yang kasih tahu!"
"Apa?!"
"Nanti jelasin!"
Mereka berlari melewati tumpukan kardus basah. Di belakang, Si Panjang masih mengejar sambil batuk dan mengumpat. Setiap langkah pria itu berat, membuat genangan kecil bergetar.
Brandon hampir jatuh ketika kakinya tergelincir minyak.
Keira menangkap lengan bajunya. "Kanan!"
"Itu jalan buntu!"
"Kanan!"
Brandon tidak punya pilihan selain menurut.
Di kanan, ada celah kecil antara pagar seng dan dinding ruko. Dari luar, celah itu nyaris tidak terlihat. Keira menyelip lebih dulu, bahunya tergores ujung seng. Brandon memaksakan tubuhnya masuk, napasnya kasar.
Luka gores di bahu Keira langsung memerah. Brandon melihatnya sekilas, dan rasa panas merayap ke dadanya, lebih menyakitkan daripada bekas cekikan.
Ia pernah bilang Keira tidak pantas tinggal di rumah mereka.
Sekarang orang yang tidak pantas itu sedang menariknya keluar dari kematian.
Di belakang mereka, Si Panjang menabrak pagar seng dengan marah.
"Keluar!"
Pagar seng bergetar dan langsung mengeluh di telinga Keira, "Kak, cepetan, gue nggak digaji buat nahan kriminal!"
"Tahan sebentar!"
"Semua orang ngomong gitu sebelum gue penyok!"
Keira menarik Brandon keluar dari celah.
Cahaya siang menyambar mata mereka.
Mereka sudah berada dekat mulut gang, beberapa meter dari jalan di depan warnet. Keira mendengar bunyi kendaraan, klakson jauh, dan detak jantungnya sendiri.
Brandon berhenti sebentar, membungkuk sambil batuk. Di lehernya mulai muncul bekas merah.
"Lo..." suaranya serak. "Lo beneran..."
"Belum waktunya drama." Keira menarik lengannya lagi. "Dia masih ngejar."
Benar saja, Si Panjang muncul dari gang dengan wajah penuh amarah dan bau yang mendahului tubuhnya. Ia melihat mereka lalu menyerbu.
Keira dan Brandon berlari.
Mereka keluar ke jalan samping warnet dalam keadaan basah, bau, dan napas putus-putus.
Lalu mereka nyaris menabrak seseorang.
Bryan berdiri di sana sambil memegang kantong minimarket.
Wajahnya terkejut sempurna.
"Lho?" Ia melihat Keira, lalu Brandon, lalu air kotor yang menetes dari baju mereka. "Kenapa kalian basah kuyup?"
Di kejauhan, suara sirine polisi mulai terdengar.
semangat thor💪