Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.
Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:
[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]
Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.
Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.
Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.
Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?
Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Masak Untukmu
Harapan ternyata tidak membuat Keira langsung berani.
Ia kira setelah dokter mengatakan indikatornya membaik, semua hal akan terasa lebih mudah. Ia kira ia bisa pulang, mengetuk pintu Xavier, lalu mengatakan jawaban yang selama ini tersangkut di tenggorokan.
Nyatanya, begitu berdiri di depan pintu apartemen sendiri, ia hanya menatap pintu seberang selama hampir satu menit.
Pintu Xavier tertutup.
Keira memegang hasil lab di tangan, lalu menghela napas pelan.
"Besok," bisiknya pada diri sendiri.
Besok berubah menjadi lusa.
Lusa berubah menjadi tiga hari.
Xavier tidak menagih. Ia tetap mengirim sarapan. Tetap bertanya apakah Keira sudah makan. Tetap muncul di kampus saat hujan turun. Sikapnya tidak berubah menjadi dingin, tetapi justru karena itu Keira makin merasa hatinya ditarik pelan-pelan ke tempat yang terlalu hangat untuk ditinggalkan.
Pada hari Jumat sore, Angela mengirim pesan.
`Mama ke Jakarta dua hari untuk urusan kantor. Obat sudah Mama susun di kotak mingguan. Kalau mual atau nyeri, langsung telepon Mama. Jangan tahan sendiri.`
Keira duduk di meja gambar, membaca pesan itu sambil menggigit ujung stylus.
Hubungannya dengan Angela belum tiba-tiba berubah menjadi dekat seperti ibu-anak di iklan keluarga. Masih ada jeda. Masih ada canggung. Tetapi pesan-pesan seperti itu semakin sering datang, dan Keira tidak lagi merasa ingin mengabaikannya.
Ia membalas, `Iya, Ma. Hati-hati.`
Tiga titik muncul cukup lama.
`Mama serius, Keira. Kalau butuh apa-apa, telepon.`
Keira menatap layar.
`Iya. Aku janji.`
Setelah itu, apartemen menjadi sunyi.
Keira mencoba menggambar panel webtoon, tetapi garis-garis yang muncul di layar tablet tidak ada yang benar. Karakter kucing hitamnya terlihat terlalu sedih. Anak perempuan kecil di sketsa itu menatap pintu kosong, seolah menunggu seseorang pulang.
Ia menghapusnya.
Perutnya mulai terasa kosong sekitar pukul tujuh malam. Biasanya Xavier akan mengirim pesan. Namun hari itu, mungkin karena ia punya kelas pengganti atau urusan lain, ponsel Keira tetap sepi.
Keira membuka aplikasi pesan antar makanan.
Ia memilih bubur dulu, lalu membatalkan karena bosan. Memilih sup, lalu merasa itu terlalu mahal. Memilih nasi ayam, lalu tanpa sadar menekan menu sambal matah.
Setelah pesanan masuk, ia baru sadar.
"Aduh."
Ia menatap layar dengan rasa bersalah seperti tertangkap mencuri.
Belum sempat ia membatalkan, chat dari Xavier muncul.
`Makan apa?`
Keira menatap pesan itu.
Kadang ia curiga Xavier punya radar lambung khusus yang dipasang diam-diam di apartemennya.
`Sudah pesan.`
Balasan datang cepat.
`Apa?`
Keira mengetik, menghapus, mengetik lagi.
`Ayam.`
`Ayam apa?`
"Kenapa detail sekali," keluhnya pada layar.
Ia belum menjawab ketika pintu apartemennya berbunyi.
Tok. Tok.
Keira membeku.
Ia membuka pintu sedikit. Xavier berdiri di luar dengan tote bag belanja di satu tangan. Ia memakai kaus abu-abu polos dan celana hitam, wajahnya datar, tetapi matanya langsung turun ke ponsel di tangan Keira.
"Ayam apa?"
Keira berusaha menutup pintu lebih rapat. "Ayam normal."
"Keira."
"Ayam dengan sedikit sambal."
"Sedikit versi kamu atau versi manusia?"
Keira tersenyum bersalah.
Xavier menghela napas. "Cancel."
"Sudah terlanjur."
"Aku bayar biaya batal."
"Tidak perlu. Aku bisa makan bagian yang tidak kena sambal."
"Kamu selalu bilang begitu, lalu dua jam kemudian minum obat sambil menyalahkan hidup."
Keira ingin tersinggung, tetapi kalimat itu terlalu akurat.
Xavier mengangkat tote bag. "Aku masak."
"Di sini?"
"Boleh. Tapi pisau kamu tumpul dan panci kamu kecil."
"Kamu menghina peralatan dapur aku?"
"Aku menyelamatkan makan malam."
Akhirnya Keira mengikuti Xavier ke apartemennya, masih membawa kardigan dan ponsel. Begitu pintu terbuka, Mochi langsung berlari dari ruang tengah, mengeong keras seperti penjaga yang menuntut laporan.
"Hai, Mochi," Keira berjongkok otomatis.
Kucing hitam itu menggesekkan kepala ke lututnya, lalu menatap Xavier seolah bertanya kenapa manusia kesayangannya baru dibawa masuk sekarang.
"Jangan tatap aku begitu," kata Xavier pada Mochi. "Aku sudah bawa dia."
Keira tertawa.
Di dapur, Xavier bergerak dengan efisien. Ia mencuci beras, memotong ayam kecil-kecil, merebus kaldu, lalu mengeluarkan wortel dan jahe. Keira duduk di kursi tinggi dekat meja dapur, menyandarkan dagu di tangan.
"Kamu masak bubur?"
"Lebih aman."
"Aku bukan bayi."
"Bayi lebih patuh."
Keira melemparkan lap kecil ke arahnya. Xavier menangkapnya tanpa menoleh, membuat Keira kesal karena bahkan refleksnya pun menyebalkan.
"Aku bisa bantu."
"Duduk."
"Aku merasa tidak berguna."
"Kamu bisa jadi pengawas."
"Pengawas yang kerjanya apa?"
"Memastikan aku tidak memasukkan racun."
Keira menyipit. "Kalau kamu mau meracuniku, kamu tidak akan repot membuat bubur."
Xavier berhenti mengaduk sebentar, lalu menoleh.
"Aku tidak akan membiarkan apa pun menyakiti kamu kalau aku bisa mencegahnya."
Kalimat itu keluar begitu tenang sampai Keira terlambat melindungi hatinya.
Ia menunduk, memainkan ujung kardigan. "Kamu selalu ngomong hal berbahaya dengan wajah biasa."
"Berbahaya?"
"Buat jantung."
Xavier diam.
Keira baru sadar apa yang ia katakan.
Panas naik ke wajahnya.
Untungnya, Mochi memilih saat itu untuk melompat ke kursi sebelah dan mengeong keras. Keira langsung pura-pura sibuk mengelus kepala kucing itu, sementara Xavier kembali mengaduk bubur dengan sudut bibir yang jelas-jelas menahan senyum.
Makan malam itu sederhana.
Bubur ayam jahe, telur rebus setengah matang, sedikit kecap asin, dan teh hangat. Tidak ada lilin. Tidak ada musik romantis. Tidak ada bunga.
Namun Keira duduk di meja makan Xavier, memakai kardigan rumahan, dengan Mochi tidur di bawah kursinya dan Xavier menuangkan teh ke cangkirnya, lalu tiba-tiba ia berpikir, inilah hal yang selama ini diam-diam ia inginkan.
Bukan adegan besar.
Bukan pengakuan di depan banyak orang.
Hanya seseorang yang tahu ia tidak boleh makan pedas dan tetap memasak untuknya tanpa membuatnya merasa merepotkan.
Setelah makan, Keira membawa piring ke wastafel.
"Biar aku cuci."
"Tidak perlu."
"Aku makan gratis. Minimal biarkan aku mencuci."
Xavier berdiri di sebelahnya. "Aku bilas, kamu sabun."
"Kompromi?"
"Kompromi."
Mereka mencuci piring berdampingan. Lengan mereka beberapa kali bersentuhan karena dapur Xavier tidak terlalu besar. Setiap kali itu terjadi, Keira pura-pura fokus pada busa. Setiap kali pula, Xavier tidak menjauh.
Setelah selesai, hujan turun lagi.
"Tunggu reda," kata Xavier.
Keira menunjuk jendela. "Apartemen aku cuma seberang koridor, bukan beda kecamatan."
"Tetap tunggu."
Entah kenapa, Keira menurut.
Mereka duduk di sofa ruang tengah. Xavier menyalakan film lama di TV, sesuatu tentang detektif dan kasus pembunuhan yang seharusnya menegangkan. Keira berusaha mengikuti alurnya. Lima belas menit pertama ia masih bertanya siapa tersangkanya. Dua puluh menit berikutnya, kepalanya mulai berat.
Mungkin karena bubur hangat.
Mungkin karena hujan.
Mungkin karena sofa Xavier terlalu nyaman dan aroma sabun cuci bajunya terlalu bersih.
Atau mungkin karena untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, tubuhnya merasa cukup aman untuk lelah.
Kelopak matanya turun.
Di sampingnya, Xavier menoleh. "Ngantuk?"
"Tidak," gumam Keira.
Satu menit kemudian, kepalanya miring ke sandaran sofa.
Xavier mematikan volume TV pelan-pelan.
Ia mengambil selimut tipis dari belakang sofa, lalu menyelimutkannya ke tubuh Keira sampai bahunya tertutup. Jari-jarinya berhenti sejenak di dekat wajah Keira. Rambut halus di dekat pipinya jatuh, mengganggu napasnya.
Xavier mengangkat tangan.
Lalu berhenti.
Ia tidak menyentuh.
Hanya duduk kembali di sisi lain sofa, menjaga jarak yang cukup sopan, tetapi cukup dekat untuk memastikan selimut itu tidak jatuh. Ia mengambil buku dari meja, membuka halaman yang sejak tadi belum ia baca, dan sesekali menoleh untuk memastikan napas Keira tetap tenang.
Dini hari, Keira terbangun karena cahaya lampu meja.
Langit di luar jendela masih gelap kebiruan. TV sudah mati. Mochi tidur melingkar di karpet. Selimut menutupi tubuhnya sampai dada.
Dan Xavier duduk di kursi dekat sofa, membaca buku dengan satu kaki terlipat, wajahnya diterangi lampu hangat.
Keira berkedip beberapa kali.
Rasa malu datang terlambat, tetapi sebelum itu ada rasa lain yang lebih besar.
Rasa ingin tetap di sini.
"Xav?" suaranya serak.
Xavier langsung mengangkat kepala. Matanya yang tadi fokus pada buku melembut begitu melihatnya bangun.
"Hmm?"
Keira menarik selimut sedikit lebih erat. Jantungnya berdetak pelan, tidak kacau seperti biasanya, tetapi mantap. Seperti ia akhirnya menemukan bentuk dari jawaban yang selama ini ia hindari.
"Aku..." Ia berhenti, lalu menguatkan diri. "Aku sedang memikirkan jawabanku."