Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018
Kolom Keluarga
"Boleh kita bawa dia pulang?"
Kalimat itu keluar begitu saja, tetapi setelah terdengar di ruangan kecil Unit K9, Kiara tidak ingin menariknya kembali.
Aldi yang berdiri di belakang mereka langsung menahan napas. Dokter Yoga menaikkan alis. Kopi, seolah mengerti namanya sedang dibicarakan, menggerakkan ekor pelan di atas alas.
Rayhan masih menatap Kiara.
"Kamu tahu apa artinya merawat K9 pensiun?"
"Aku tahu belum semuanya," jawab Kiara jujur. "Tapi aku mau belajar."
"Dia bukan anjing rumahan biasa."
"Kak Rayhan sudah bilang."
"Dia perlu kontrol rutin, latihan ringan, aturan jelas, dan orang yang tidak panik kalau dia menggonggong."
"Aku panik kalau manusia jahat. Kalau anjing baik, aku bisa belajar."
Aldi batuk seperti menahan tawa. Rayhan meliriknya, dan Aldi langsung menatap dinding.
Dokter Yoga menyelipkan map ke bawah lengan. "Secara prosedur, adopsi K9 pensiun bisa dilakukan. Biasanya prioritas pertama pawang atau anggota yang sudah dekat dengan anjing. Pak Rayhan termasuk yang sering menangani Kopi dalam operasi gabungan."
Kiara langsung melihat Rayhan. "Berarti bisa?"
"Bisa bukan berarti mudah," kata Rayhan.
"Aku tidak minta mudah."
Jawaban itu membuat ruangan kembali diam.
Rayhan menatap Kiara cukup lama sampai Kiara mulai merasa telapak tangannya berkeringat. Lalu ia melihat Kopi. Anjing itu memandangnya dengan mata cokelat tua yang masih setia, masih menunggu, padahal tubuhnya sudah diberi tanda untuk berhenti.
"Kalau dia pulang," kata Rayhan pelan, "rumah harus disiapkan. Tidak boleh naik tangga. Dia tidur di lantai bawah. Perban harus dicek. Jadwal obat tidak boleh terlambat."
"Aku bisa buat jadwal."
"Kamu kerja."
"Aku bisa atur. Pagi sebelum kantor, malam setelah pulang. Kalau siang perlu, kita minta bantuan petugas home care hewan atau aku izin dari kantor."
"Kamu serius sekali."
"Dia juga serius waktu mengejar pelaku meski ada kaca."
Rayhan tidak punya jawaban untuk itu.
Dokter Yoga tersenyum kecil. "Saya bisa bantu buat daftar kebutuhan. Kandang pemulihan, alas anti-slip, cone kalau dia menjilat luka, obat, dan makanan khusus. Tapi keputusan resmi tetap perlu form pengalihan perawatan dan persetujuan kepala Unit K9."
Aldi langsung berkata, "Saya bantu urus ke kepala unit, Pak."
Rayhan menatapnya.
"Maksud saya, kalau Pak Rayhan setuju."
Kiara menahan napas.
Rayhan akhirnya menghela napas pendek. "Ambil formulirnya."
Wajah Kiara langsung terang.
"Jangan senang dulu," kata Rayhan. "Kita belum bawa dia hari ini. Dia masih harus observasi minimal dua hari."
"Aku tahu."
"Dan kalau Dokter Yoga bilang belum boleh, kamu tidak protes."
"Aku protes sedikit dalam hati."
"Kiara."
"Iya, tidak protes."
Aldi keluar dengan semangat yang terlalu besar untuk seseorang yang semalam kurang tidur. Dokter Yoga mulai menjelaskan satu per satu kebutuhan Kopi. Kiara mencatat semuanya di notes kecilnya. Obat antibiotik. Obat nyeri. Jadwal kontrol. Cara membersihkan perban. Tanda infeksi. Cara membuat K9 pensiun tetap punya rutinitas.
Rayhan berdiri di sampingnya, diam.
Namun setiap kali Kiara melewatkan detail, ia menambahkan singkat. "Tulis juga lantai licin." Atau, "Jangan pakai pewangi tajam." Atau, "Dia tidak suka suara petasan."
Kiara menulis semuanya.
Di tengah penjelasan, Kopi mengeluarkan suara kecil. Bukan gonggongan. Lebih seperti keluhan pelan.
Kiara refleks mendekat. "Sakit?"
Rayhan menahan bahunya dengan ringan. "Pelan."
Kiara mengangguk, lalu berjongkok di samping alas. "Sebentar lagi kamu punya tempat tenang, ya. Tapi kamu harus sembuh dulu."
Kopi mengedip pelan.
"Dia tidak mengerti semua kalimatmu," kata Rayhan.
"Tapi dia mengerti nada."
Dokter Yoga tertawa kecil. "Itu benar."
Beberapa menit kemudian, Aldi kembali membawa formulir dalam map biru. "Kepala unit bilang bisa diproses karena Pak Rayhan yang mengajukan. Tapi tetap ada masa evaluasi rumah."
"Evaluasi rumah?" tanya Kiara.
"Cek keamanan, ruang gerak, kesiapan keluarga," jelas Dokter Yoga.
Kata keluarga jatuh di ruangan itu dengan berat yang aneh.
Kiara langsung membuka notes lagi. "Rumah kami dua lantai. Tapi lantai bawah cukup luas. Ruang keluarga bisa dipakai. Pintu ke taman ada, tapi harus lewat dua anak tangga kecil. Itu masalah?"
Dokter Yoga mengangguk. "Untuk awal, sebaiknya diberi ramp sementara. Lantai marmer juga licin. Perlu karpet anti-slip di jalur yang sering dia lewati."
"Aku bisa beli hari ini."
"Jangan beli yang bulunya panjang. Susah dibersihkan dan bisa nyangkut di perban."
Kiara menulis cepat.
Rayhan menambahkan, "Taman belakang berpagar. Tapi ada kolam kecil."
"Tutup akses dulu," kata Dokter Yoga. "Anjing pemulihan kadang tetap ingin bergerak seperti biasa. Dia belum tahu tubuhnya harus istirahat."
Kiara melihat Kopi. "Berarti kita yang harus tahu untuk dia."
Aldi yang tadi menahan diri akhirnya bergumam, "Kopi belum pulang saja sudah punya manajer."
Rayhan menoleh.
Aldi langsung batuk. "Maksud saya, koordinasi perawatan bagus, Pak."
Kiara menatap formulir di tangan Aldi. Di bagian atas tertulis:
Formulir Pengalihan Perawatan K9 Pensiun.
Nama K9: Kopi.
Unit asal: Unit K9 Polda Kota Barat.
Lalu ada bagian penanggung jawab utama. Rayhan mengambil pulpen dan mengisi namanya dengan tulisan tegas. Pangkat. NRP. Nomor kontak. Alamat Perumahan Graha Perwira.
Kiara melihat NRP itu lagi, angka yang beberapa hari lalu dijelaskan Sari sebagai identitas seumur karier. Kali ini angka itu berada di atas kertas yang bukan laporan kasus, melainkan janji merawat makhluk yang terluka.
Rayhan berhenti di kolom berikutnya.
Anggota keluarga serumah.
Ia tidak langsung menulis.
Aldi tiba-tiba sangat tertarik pada langit-langit. Dokter Yoga pura-pura merapikan obat.
Kiara merasakan panas naik ke wajahnya.
"Ini harus diisi?" tanyanya pelan.
"Kalau ada anggota rumah yang ikut bertanggung jawab, iya," jawab Dokter Yoga, dengan nada yang terlalu netral untuk tidak sengaja.
Rayhan menyerahkan pulpen pada Kiara.
"Kamu yang memintanya pulang."
Kiara menerima pulpen itu. Ujung jarinya hampir menyentuh jari Rayhan, dan entah kenapa momen itu terasa lebih serius daripada menandatangani puluhan dokumen kantor.
Di kolom anggota keluarga serumah, ia menulis:
Kiara Song.
Hubungan dengan penanggung jawab: keluarga.
Tangannya berhenti sebentar di kata keluarga. Lalu ia melanjutkan tanda tangan.
Saat Kiara mengangkat wajah, Rayhan sedang menatap tulisannya.
Untuk pertama kalinya sejak malam penuh darah dan hujan itu, sudut bibirnya benar-benar melengkung.
Ia tersenyum.
Aldi menunduk terlalu cepat, tetapi senyumnya keburu terlihat. Dokter Yoga mengambil formulir itu dengan hati-hati, seperti menyimpan sesuatu yang lebih penting daripada kertas administrasi.
"Saya ajukan hari ini," katanya. "Kalau evaluasi rumah lolos dan kondisi Kopi stabil, dua hari lagi dia bisa pulang."
Kiara melihat Kopi. "Dengar? Dua hari lagi."
Ekor Kopi mengetuk alas sekali.
Seperti ia juga memilih untuk percaya pada mereka.