Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.
Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.
Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.
Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...
...kecuali dia.
"Kau adalah hartaku yang paling berharga."
Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.
Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.
Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 035
Tamu dari Surabaya
Malam yang baru saja manis mendadak memiliki ujung tajam.
Ujung itu terasa lebih jelas keesokan malam ketika mobil Reynard berhenti dua blok dari rumah keluarga Lim. Seraphina sengaja tidak turun di depan gerbang. Ia tidak ingin kamera keamanan Lim menangkap Reynard mengantarnya, belum sekarang, belum ketika setiap tatapan Hendrawan bisa berubah menjadi alat hitung.
Reynard mematikan mesin. "Aku tunggu di sekitar sini."
"Tidak perlu."
"Aku tidak bertanya perlu atau tidak."
Seraphina menoleh.
Reynard menarik napas, lalu memperbaiki kalimatnya. "Aku ingin menunggu. Kalau kau tidak keberatan."
Itu lebih baik. Seraphina melunak sedikit. "Aku akan masuk, dengar apa yang Papa inginkan, lalu keluar. Kalau ada masalah, aku kirim pesan."
"Satu titik."
"Apa?"
"Kirim satu titik kalau tidak bisa mengetik. Aku masuk."
"Ini rumah Lim, bukan markas penculik."
"Aku tidak suka rumah itu."
Seraphina tidak bisa membantah. Ia juga tidak suka.
Di gerbang Lim, satpam mengenalinya dan langsung membuka tanpa banyak tanya. Rumah itu masih sama: lampu besar, halaman rapi, marmer dingin, dan udara yang selalu membuat Seraphina merasa harus berdiri lebih lurus agar tidak dianggap mengambil tempat orang lain.
Meilin muncul di ruang tengah lebih dulu. Wajahnya berubah ketika melihat Seraphina.
"Sera, kamu datang."
"Papa yang meminta."
Kalimat itu membuat senyum Meilin tertahan. Ia tampak ingin mendekat, tetapi Yolanda sudah muncul dari arah tangga dengan gaun rumah yang terlalu rapi untuk acara keluarga kecil.
"Kak Sera akhirnya pulang," kata Yolanda manis. "Papa menunggu di ruang tamu. Tamu dari Lianto sudah datang."
Seraphina melewati Yolanda tanpa memberi ruang untuk drama. Di ruang tamu, Hendrawan duduk di sofa utama bersama Vincent Lianto dan dua pria dari tim bisnis Lianto yang tidak dikenalkan lebih jauh. Darren berdiri di dekat rak buku, wajahnya tegang.
Vincent langsung berdiri ketika melihat Seraphina.
"Sera."
Senyumnya hangat, tetapi kali ini ia menahan diri. Tidak ada nada yang bisa disalahartikan, tidak ada gerakan yang terlalu akrab. Hanya penghormatan seorang tamu yang tahu ia sedang berada di rumah yang tidak sepenuhnya aman bagi perempuan di depannya.
"Ko Vincent," jawab Seraphina.
Hendrawan memperhatikan panggilan itu.
Sangat memperhatikan.
"Kalian rupanya sudah lama saling kenal," kata Hendrawan.
Vincent duduk setelah Seraphina duduk. "Saya sering berkunjung ke rumah Pak Budiman di Surabaya. Sera tumbuh di sana."
Kata tumbuh di sana terdengar seperti kalimat biasa, tetapi Seraphina menangkap lapisan di bawahnya. Vincent tidak berkata Sera sempat tinggal di sana, tidak berkata keluarga Tjiandra menampung. Ia berkata tumbuh, seolah menegaskan bahwa masa kecil dan martabat Seraphina bukan pemberian Lim.
Wajah Hendrawan tetap tersenyum. "Keluarga Tjiandra memang banyak membantu."
"Mereka bukan hanya membantu," kata Vincent tenang. "Mereka membesarkan Sera dengan sangat baik."
Ruang tamu menjadi lebih sunyi.
Jari Meilin yang memegang cangkir tampak bergetar. Darren menunduk. Yolanda yang baru duduk di sebelah Meilin kehilangan senyum setengah detik.
Hendrawan menatap Vincent, lalu tertawa pendek. "Tentu. Kami semua berterima kasih."
Seraphina memandang cangkir teh di depannya. Terima kasih. Kata itu terdengar murah jika keluar dari mulut orang yang menghabiskan bertahun-tahun membiarkannya disebut anak haram.
"Saya dengar Lianto mulai ekspansi ke Jakarta," kata Hendrawan, mengalihkan arah dengan cepat. "Kalau ada peluang sinergi, keluarga Lim tentu terbuka. Apalagi sekarang Sera juga punya Astoria. Hubungan keluarga bisa membuat kerja sama lebih lancar."
Itu dia.
Seraphina mengangkat mata. "Astoria tidak membuat keputusan berdasarkan hubungan keluarga."
Hendrawan tersenyum tipis. "Papa hanya bicara kemungkinan."
"Kemungkinan profesional bisa dikirim ke email kantor."
Yolanda menunduk sambil tersenyum kecil. "Kak Sera selalu kaku kalau soal keluarga. Padahal Papa cuma ingin membantu."
Vincent menoleh kepadanya. "Dalam bisnis teknologi, batas profesional itu penting. Justru itu yang membuat investor serius percaya."
Yolanda tersentak halus. "Aku tidak bermaksud begitu."
"Saya tahu." Vincent tersenyum sopan. "Saya hanya menjelaskan."
Darren batuk kecil untuk menutupi sesuatu yang hampir seperti tawa. Seraphina tidak menoleh, tetapi ia merasakan udara di dadanya sedikit lebih longgar.
Hendrawan masih tidak menyerah. "Vincent, kau sudah melihat proyek Astoria?"
"Sudah membaca ringkasannya."
"Menarik?"
"Sangat."
"Kalau begitu, mungkin kau dan Sera bisa bicara lebih banyak. Ia kadang terlalu mandiri sampai lupa bahwa keluarga bisa membuka pintu."
Seraphina meletakkan cangkir. "Aku tidak lupa. Aku hanya memilih pintu mana yang layak dibuka."
Meilin menarik napas kecil.
Vincent menatap Seraphina sesaat, ada kilatan bangga yang cepat ia sembunyikan. Lalu ia berkata pada Hendrawan, "Jika Lianto tertarik pada Astoria, kami akan menghubungi Bu Sera sebagai founder. Bukan melalui keluarga Lim."
Hendrawan diam satu detik lebih lama daripada biasa.
Di situlah Seraphina tahu kalimat itu mengenai sasaran.
Vincent tidak menyerang. Ia hanya memindahkan Seraphina dari posisi anak yang bisa diatur menjadi pendiri yang harus dihormati. Di depan orang-orang Lim, itu lebih tajam daripada pembelaan langsung.
"Tentu," kata Hendrawan akhirnya. "Saya hanya bangga pada putri saya."
Kata putri saya membuat perut Seraphina mengeras.
Vincent menatap Hendrawan dengan sopan. "Kalau begitu, Pak Hendrawan pasti juga bangga pada keluarga yang membesarkannya sampai ia menjadi seperti sekarang."
Kali ini Darren benar-benar mengangkat mata.
Meilin menunduk, bibirnya bergetar.
Yolanda memucat.
Hendrawan tertawa, tetapi suaranya tidak sehangat tadi. "Tentu. Budiman teman lama yang kami hormati."
Percakapan setelah itu berjalan lebih formal. Hendrawan berbicara tentang jaringan bisnis Surabaya, Lianto menjawab dengan aman, dan Seraphina hanya bicara ketika menyangkut Astoria. Ia tidak memberi angka, tidak memberi janji, tidak membiarkan namanya dipakai sebagai jembatan keluarga.
Saat tamu hendak pulang, Vincent berjalan sedikit lebih lambat di belakang rombongannya.
"Sera," katanya pelan.
"Terima kasih," jawab Seraphina sebelum ia sempat bicara lebih banyak.
Vincent tersenyum. "Aku belum melakukan apa-apa."
"Kau melakukan cukup."
"Adrian akan marah kalau tahu aku membiarkanmu sendirian di sini."
"Ko Adrian selalu marah."
"Benar." Vincent menatapnya lebih lembut. "Kalau keluarga ini membuatmu lelah, ingat bahwa Surabaya masih rumah."
Kalimat itu hampir membuat Seraphina kehilangan pertahanan. Ia hanya mengangguk.
Dari sofa utama, Hendrawan melihat semuanya.
Melihat cara Vincent merendahkan suara ketika bicara dengan Seraphina. Melihat cara Seraphina tidak menutup diri. Melihat nama Lianto, Tjiandra, dan Astoria tiba-tiba membentuk segitiga yang nilainya jauh lebih besar daripada yang ia perkirakan.
Ketika Vincent pergi, Hendrawan memanggil, "Sera."
Seraphina berhenti di dekat pintu.
"Mulai sekarang, kalau ada komunikasi dengan keluarga Lianto, kabari Papa. Ini bisa penting untuk masa depan Lim."
Seraphina menatapnya. "Masa depan Lim bukan tanggung jawab Astoria."
"Kau bagian dari Lim."
"Kalau itu benar, Papa seharusnya mengingatnya sebelum ada Lianto di ruang tamu."
Ia tidak menunggu jawaban. Ia keluar dari rumah itu dengan langkah tenang, tetapi begitu gerbang tertutup di belakangnya, ia baru menyadari telapak tangannya dingin.
Ponselnya bergetar.
Rey:
Satu titik?
Seraphina menatap layar, lalu mengetik:
Tidak. Jemput aku.
Balasan datang segera.
Aku di belokan kiri.
Saat ia masuk ke mobil Reynard, pesan lain muncul dari Jason Halim di grup kecil.
Jason:
Pengumuman resmi. Ulang tahunku akhir pekan ini di yacht, Kepulauan Seribu. Tidak menerima alasan sibuk, sakit ringan, atau trauma sosial.
Natasha:
Kalau ada ular lagi, aku lempar ke laut.
Seraphina menatap pesan itu, lalu menoleh pada Reynard.
Reynard membaca layar sekilas. "Yacht?"
Di dadanya, lelah rumah Lim belum hilang. Namun sesuatu dalam pesan itu terasa seperti pintu ke badai lain.
"Sepertinya," kata Seraphina, "kita tidak pernah diberi jeda terlalu lama."