NovelToon NovelToon
Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Suami Kontrakku Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Cinta setelah menikah / Pernikahan Kilat / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Menikahi tentara
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Gala Amal Bagian 1, Ini Istriku

Eve berdiri di depan cermin ruang ganti Vila Kemang Hills dan untuk pertama kalinya merasa sebuah gaun juga bisa seperti medan perang.

Gaun champagne pilihan Yuliana jatuh lembut di bahunya. Potongannya terbuka sedikit di bagian bahu, tetapi tidak berlebihan. Rambutnya disanggul rendah, riasannya halus, dan di lehernya ada kalung kecil yang Edric pilih tanpa banyak komentar.

"Kamu bernapas?" tanya Yuliana dari belakang.

Eve menarik napas cepat. "Sedang mencoba."

"Bagus. Jangan lupa, kamu bukan datang untuk dinilai. Kamu datang karena tempatmu memang di sana."

Kalimat itu membantu, meski tidak sepenuhnya menghilangkan gemetar di perut Eve.

Di lantai bawah, Edric menunggu di ruang tamu. Ia memakai setelan hitam dan dasi biru gelap pemberian Eve. Simpulnya sedikit tidak sempurna karena ia menolak membiarkan penata pakaian memperbaikinya.

"Biarkan," katanya tadi. "Istri saya yang mengikat."

Ketika Eve turun dari tangga, tangan Edric yang memegang kunci mobil berhenti.

Ia menatap terlalu lama.

Eve memegang pegangan tangga. "Aneh?"

"Kita terlambat."

Itu saja.

Namun saat ia membukakan pintu mobil, tangannya di pinggang Eve berhenti dua detik lebih lama daripada perlu. Eve menunduk menyembunyikan senyum.

Gala Amal Kho Group diadakan di ballroom hotel bintang lima yang seluruh lantainya malam itu dijaga ketat. Karpet merah, lampu kamera, deretan nama keluarga besar, dan para tamu yang tersenyum dengan ukuran kekayaan masing-masing.

Eve menggenggam tangan Edric lebih erat saat mereka mendekati pintu.

"Kalau aku tersandung?"

"Saya tangkap."

"Kalau aku salah menyapa orang?"

"Saya koreksi dengan senyum."

"Kalau aku ingin kabur?"

"Saya ikut."

Eve menoleh.

Edric tampak serius. "Saya tidak meninggalkanmu sendirian di ruangan mana pun."

Pintu ballroom terbuka.

Percakapan di dalam tidak langsung berhenti, tetapi melambat seperti gelombang yang tertahan. Orang-orang menoleh. Kamera bergerak. Beberapa wajah yang biasa tenang menunjukkan kejutan yang tidak sempat disembunyikan.

Edric Kho masuk sambil menggenggam tangan seorang perempuan.

Di panggung kecil dekat pintu, pembawa acara menyerahkan mikrofon. Edric menerimanya tanpa melepas tangan Eve.

"Selamat malam," katanya. Suaranya tenang, memenuhi ruangan. "Terima kasih sudah hadir di Gala Amal Kho Group tahun ini. Sebelum acara dimulai, saya ingin memperkenalkan seseorang."

Eve merasakan semua tatapan jatuh ke tubuhnya.

Edric menoleh padanya.

"Ini istriku, Evelina Lim."

Ballroom meledak dalam bisik.

Untuk beberapa detik, Eve merasa namanya bukan lagi miliknya sendiri. Nama itu meluncur melewati meja-meja, ditangkap kamera, disimpan di ponsel, dibisikkan oleh orang-orang yang baru pertama kali melihat wajahnya. Ada yang mencari cincin di jarinya. Ada yang menilai gaunnya. Ada yang jelas mencoba mengingat apakah pernah mendengar keluarga Lim dalam daftar keluarga besar Jakarta.

Eve berdiri tegak.

Ia mengingat janji kelingking di rumah sakit. Jujur. Tidak lari. Tidak membiarkan orang lain menentukan nilainya sebelum ia bicara.

Lampu kamera menyala. Beberapa tamu saling menatap. Ada yang terkejut, ada yang cepat menyusun senyum, ada yang jelas menghitung hubungan baru yang harus mereka hormati mulai malam ini.

Edric menggenggam tangan Eve lebih kuat.

Ia tidak terburu-buru membawa Eve turun dari sorotan. Justru ia menunggu, memberi seluruh ruangan waktu untuk melihat cincin di tangan Eve dan tangan mereka yang saling menggenggam. Itu bukan sekadar pengumuman. Itu peringatan halus: siapa pun yang menyentuh nama Evelina Lim setelah malam ini akan berhadapan dengannya.

Beberapa orang langsung menurunkan suara, seolah baru sadar gosip pun punya harga. Dan malam ini, harganya sangat mahal. Semua benar-benar merasakannya.

Di salah satu meja samping, Jesslyn Lim hampir menjatuhkan gelas.

Ia datang mengenakan gaun merah ketat, menggandeng Santoso Prawiro, pengusaha tua yang reputasinya sama mahal dan sama kotor. Jess tadinya merasa menang karena bisa masuk ke acara setinggi ini. Lalu ia melihat Edric di panggung.

Pria yang dulu ia sebut suami tentara miskin Eve.

CEO Kho Group.

Wajah Jess berubah pucat.

Di meja berbeda, Nyonya Prawiro melihat suaminya berdiri terlalu dekat dengan Jess. Matanya menyipit. Jess belum melihat bahaya itu, terlalu sibuk menatap Eve dengan iri yang nyaris membakar.

Jess pernah membayangkan banyak cara Eve mempermalukannya, tetapi tidak pernah yang seperti ini. Bukan teriakan, bukan balas dendam murahan, bukan unggahan media sosial. Eve hanya berdiri di samping Edric Kho, dan seluruh kebohongan Jess tentang "suami miskin" runtuh di depan ratusan orang kaya yang pendapatnya menentukan hidup sosial Jakarta.

Santoso Prawiro berbisik, "Kamu kenal dia?"

Jess memaksa tertawa. "Kerabat jauh."

Nyonya Prawiro mendengar. Senyumnya menjadi lebih dingin.

Valen Kho masuk beberapa menit kemudian bersama Calista.

Calista memakai gaun ivory dari Butik Lecard. Gaun itu memang indah, tetapi setiap langkahnya mengingatkan pada harga tiga kali lipat yang membuatnya sakit hati. Valen membungkuk dekat telinganya.

"Lihat. Sampah bisa terlihat mahal kalau dibungkus dengan benar."

Brandon Ho yang kebetulan lewat mendengar kalimat itu. Ia berhenti, menatap Valen dari atas ke bawah, lalu tersenyum malas.

"Benar. Karena itu tempat sampah biasanya paling ramai di dekat orang yang bicara sembarangan."

Valen menatapnya dingin.

Brandon mengangkat gelas. "Nikmati malamnya, Sepupu Cadangan."

Feli di sisi lain ruangan hampir tersedak minuman karena menahan tawa.

Valen membenci julukan itu. Dalam keluarga Kho, ia selalu cukup dekat dengan pusat kekuasaan untuk mencium aromanya, tetapi tidak pernah cukup dekat untuk memegangnya. Edric lahir sebagai pewaris utama, sementara Valen harus tersenyum di pinggir panggung. Malam ini, Edric tidak hanya memperkenalkan istri tanpa konsultasi keluarga besar. Ia melakukannya seolah seluruh ruangan memang wajib menerima.

"Dia sedang menikmati sorotan," gumam Valen.

Calista menjawab tanpa mengalihkan mata dari Eve. "Kalau sorotan itu dipadamkan, orang akan melihat wajah aslinya."

Valen tersenyum tipis. "Itu baru terdengar seperti rencana."

Calista tidak tertawa. Matanya terpaku pada Eve yang berdiri di samping Edric, disalami satu per satu oleh tamu penting. Bukan sebagai penerjemah, bukan sebagai pegawai vendor, melainkan sebagai Nyonya Kho.

Lalu Henri Beaumont datang.

Pria Prancis itu adalah pemilik rumah perhiasan Beaumont, mitra donasi utama untuk lelang malam ini. Rambutnya putih rapi, senyumnya hangat, dan bahasa Inggrisnya beraksen tebal.

Calista melihat kesempatan.

Ia melangkah lebih dulu, senyum sosialita terpasang sempurna.

"Monsieur Beaumont," katanya dalam bahasa Prancis yang fasih. "Saya Calista. Kekasih Edric."

Henri tampak bingung.

Edric, yang berdiri cukup dekat untuk mendengar, menoleh. Wajahnya tidak berubah, tetapi suhu di sekitar mereka terasa turun.

Dalam bahasa Prancis yang jernih, ia berkata, "Dia bukan kekasih saya. Istri saya ada di sini."

Calista memucat.

Beberapa tamu yang memahami bahasa Prancis langsung saling pandang.

Calista mencoba menyelamatkan diri. "Saya hanya bercanda."

Eve melangkah maju.

"Enchantée, Monsieur Beaumont," katanya dengan pelafalan halus. "Saya Evelina, istri Edric. Saya sangat mengagumi koleksi Lumiere d'Asie milik Anda, terutama cara Anda memakai motif batik pesisir tanpa membuatnya terasa seperti hiasan kosong."

Henri terkejut, lalu wajahnya menyala.

"Madame Kho, Anda berbicara bahasa Prancis dengan sangat baik."

"Saya pernah menerjemahkan beberapa katalog seni," jawab Eve. "Koleksi Anda sulit dilupakan."

Henri tertawa senang. Mereka berbicara tentang batu safir, desain Asia Tenggara, dan etika pengambilan batu mulia. Eve tidak mengangkat suara. Tidak menatap Calista dengan kemenangan. Ia hanya berdiri tenang, menjawab dengan elegan, dan membiarkan kemampuan melakukan sisanya.

Itu jauh lebih menghancurkan.

Calista berdiri di samping Valen dengan wajah panas. Bahasa Prancis adalah salah satu kebanggaannya. Ia membayangkan Eve tidak akan paham, akan berdiri bodoh di samping Edric sementara dirinya tampak lebih cocok dengan dunia internasional ini.

Ternyata Eve tidak hanya paham.

Ia bersinar.

Bisik-bisik baru bergerak di antara tamu.

"Nyonya Kho ternyata penerjemah."

"Cantik dan pintar."

"Tidak heran Pak Edric memilih dia."

Henri bahkan memanggil asistennya untuk mencatat nama Eve.

"Saya sedang mencari konsultan budaya untuk proyek Asia Tenggara berikutnya," katanya. "Mungkin kita bisa bicara lagi setelah lelang."

"Dengan senang hati," jawab Eve.

Ia tahu Calista mendengar. Ia tidak perlu menoleh. Kadang pukulan paling bersih adalah tidak melihat lawan jatuh.

Di sudut ruangan, Dan Tjioe mengangkat ibu jari diam-diam pada Eve. Feli melakukan hal yang sama dengan ekspresi jauh lebih terang-terangan. Oma Liana duduk di meja keluarga sambil menyeruput teh, wajahnya puas seperti baru memenangkan pertandingan panjang tanpa perlu berdiri.

Edric menatap Eve.

Kebanggaan di matanya begitu jelas sampai Eve hampir kehilangan konsentrasi.

"Jangan lihat aku begitu," bisiknya saat Henri berbicara dengan tamu lain.

"Bagaimana?"

"Seperti kamu ingin mengumumkan ulang."

"Saya memang ingin."

"Edric."

"Baik. Nanti saja."

Eve menahan senyum.

Di sisi lain, Jess akhirnya melihat Nyonya Prawiro menatapnya. Senyum Jess kaku. Santoso Prawiro cepat melepaskan lengannya, tetapi terlambat. Malam itu, banyak orang datang untuk melihat amal. Beberapa akan pulang membawa skandal.

Pembawa acara naik ke panggung.

"Bapak dan Ibu sekalian, acara lelang amal akan segera dimulai. Malam ini, daftar donatur kehormatan kami memiliki satu nama baru."

Layar besar di belakang panggung menyala.

Daftar item lelang muncul satu per satu.

Pada baris terakhir, tertulis:

Evelina Lim.

Eve menatap namanya di layar.

Senyum Calista perlahan kembali, kali ini lebih gelap.

1
aku
🌹 lgi biar semangat 😁
aku
next tor 🌹
aku
kok malah ingat masha yg dihukum berdiri di pojokan sama bear?? 🤣🤣
aku
lagi mewek ini, malah dikasih istilah kocak 😭😭
aku
OMG eevveeeee 😭😭 sabar
aku
msh ada rahasia besar lg ed 😭
aku
wow!! 😃🤣
aku
haih jgn smpe ya eve mati rasa ed.
aku
minta bonus jer 😁
aku
mewakili jerry 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
aku
eveee 😭😭😭
aku
halal disantet gunawan ini 🤬🤬
aku
fix kamu dieleminasi otomatis calista 😃
aku
gpp ed, meriah jd nya 😂
aku
mamvu* 😃 puass kali duo sampah kena malu 🤣
aku
cocok pasangan sm ed, killer 😭😭
aku
ada satu yg tegasnya ngalahin guru killer ya fel 🤣
aku
nah kan syokk semua 😃
aku
klo masih ngomel brti msh strong ya ed 🤣🤣
aku
jemput bahagyamu eve 😭😭 bawang oey bawang 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!