Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Potongan peta
Arga memungut potongan kertas itu dengan kedua tangan yang masih gemetar.
Kertasnya sangat rapuh.
Warnanya telah berubah menjadi kuning kecokelatan. Beberapa bagian pinggirnya bahkan mulai hancur ketika tersentuh ujung jari. Ia menahan napas, takut sobekan tua itu semakin rusak. Di bawah cahaya lampu minyak, gambar di atas kertas perlahan terlihat semakin jelas.
Bukan peta lengkap.
Hanya sebagian.
Ada garis-garis tipis menyerupai aliran sungai. Beberapa titik diberi tanda bulatan kecil. Di salah satu sudut terdapat gambar sederhana seperti rumah panggung.
Dan di bagian bawah...
Sebuah tanda silang merah.
Di sampingnya tertulis dengan tinta yang mulai pudar.
Rawa Belakang Rumah.
Arga merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Belakang rumah..."
Ia bergumam pelan.
Kalimat itu sama persis dengan potongan catatan yang tadi dibacanya.
"Jangan..."
"Belakang..."
"Bau..."
"Lari..."
Seolah-olah semua petunjuk itu mulai saling terhubung. Ia segera membuka kembali buku tua tersebut. Halaman demi halaman diperiksanya dengan hati-hati. Barangkali masih ada lembar lain yang tersembunyi.
Namun tidak ada.
Hanya potongan peta itu.
Arga lalu membalik kertas tersebut.
Di sisi belakang tampak sebuah tulisan pensil yang jauh lebih samar daripada tulisan sebelumnya.
Ia mendekatkan kertas ke lampu.
"...jalur lama..."
"...ditutup..."
"...jangan percaya..."
Sisanya hilang. Arga mengernyit.
"Jalur lama?"
Jalur apa?
Siapa yang menutupnya?
Dan mengapa tidak boleh percaya?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalanya hingga ia hampir lupa pada rasa mual yang sejak tadi masih mengganggu.
Pagi harinya, setelah salat Subuh, Arga segera menemui Pak Rahman. Pak Rahman sedang menyapu halaman ketika melihat Arga datang tergesa-gesa.
"Pagi sekali."
"Ada apa?"
Arga mengeluarkan potongan peta itu dari dalam map plastik yang sengaja dibuatnya semalam.
"Ini jatuh dari dalam buku."
Pak Rahman menghentikan sapunya.
"Waktu semalam tidak ada."
"Saya juga baru menemukannya."
Pak Rahman menerima peta itu dengan hati-hati. Beberapa saat beliau hanya memandanginya.
Lalu wajahnya berubah.
"Ini..."
"Kenapa, Pak?"
Beliau menunjuk gambar kecil menyerupai rumah.
"Kalau aku tidak salah..."
"...ini rumah Mang Jaya."
Arga langsung menoleh.
"Rumah Mang Jaya?"
Pak Rahman mengangguk pelan.
"Lihat posisi rawa di belakangnya."
"Persis."
Arga kembali memandangi peta itu. Dadanya mulai berdebar.
Berarti...
Sejak puluhan tahun lalu...
Rumah Mang Jaya memang sudah ada.
Dan seseorang pernah membuat peta menuju rawa di belakang rumah itu. Tak lama kemudian mereka berdua mendatangi rumah Mang Jaya.
Pria tua itu tampak sedang memperbaiki pagar bambu.
"Mang."
Mang Jaya menoleh.
"Lho, pagi-pagi begini."
"Ada yang penting."
Pak Rahman menyerahkan potongan peta tersebut. Mang Jaya terdiam cukup lama. Keriput di wajahnya semakin jelas ketika matanya mengikuti setiap garis pada kertas tua itu.
"Astaghfirullah..."
Beliau berbisik lirih.
"Aku ingat."
"Ingat apa, Mang?"
"Dulu..."
"Waktu masih kecil..."
"...ayahku pernah melarang siapa pun masuk ke rawa lewat jalur belakang rumah."
Arga dan Pak Rahman saling berpandangan.
"Kenapa?"
Mang Jaya menggeleng.
"Ayah tidak pernah menjelaskan."
"Beliau cuma bilang..."
"'Kalau masih sayang nyawa, jangan pernah buka jalur itu lagi.'"
Arga menelan ludah.
"Berarti memang pernah ada jalur?"
Mang Jaya mengangguk pelan.
"Ada."
"Dulu..."
"Sebelum aku lahir."
"Tapi kemudian ditutup."
"Katanya tanahnya ambles."
Pak Rahman terlihat berpikir keras.
"Aneh..."
"Selama ini kita mengira rawa itu memang selalu tertutup hutan."
Mang Jaya menghela napas.
"Mungkin kita yang lupa."
Siang harinya, ketiganya kembali berkumpul di balai kampung. Peta tua, peluit, lencana Mapala Cakrabuana, kompas, dan buku catatan kini tersusun di atas meja bambu.
Arga memperhatikan semuanya.
Rasanya seperti sedang menyusun kepingan-kepingan teka-teki yang telah tercerai-berai selama puluhan tahun.
Namun masih ada satu bagian yang hilang.
Siapa sebenarnya pemilik semua benda itu?
Dan apa yang sebenarnya terjadi di rawa tersebut?
Pak Darma, sesepuh kampung, datang menghampiri mereka. Beliau terdiam cukup lama ketika melihat potongan peta.
Lalu perlahan duduk.
"Ternyata..."
"...masih ada juga."
Semua langsung menoleh.
"Pak Darma mengenal peta ini?" tanya Arga.
Beliau mengangguk pelan.
"Waktu aku masih remaja..."
"...aku pernah melihat gambar seperti ini."
"Di mana?"
Pak Darma memandang ke arah luar balai.
Ke arah hutan yang tampak hijau dari kejauhan.
"Dibawa oleh seorang lelaki."
"Pendaki?"
"Bukan."
"Lalu siapa?"
Pak Darma menarik napas panjang.
"Dia mengaku..."
"...sedang mencari adiknya."
Suasana mendadak hening.
"Katanya..."
"...adiknya hilang di Gunung Ciremai."
Arga merasakan jantungnya berdetak semakin cepat.
"Lalu?"
Pak Darma menundukkan kepala.
"Ia datang hanya sekali."
"Membawa peta."
"Bertanya tentang rawa."
"Setelah itu..."
"...aku tidak pernah melihatnya lagi."
Keheningan kembali memenuhi balai kampung.
Kini teka-teki itu semakin rumit. Ternyata, bertahun-tahun setelah seorang pendaki menghilang, pernah ada seseorang yang datang mencarinya. Namun pencarian itu juga berakhir tanpa jawaban. Arga menggenggam erat potongan peta di tangannya. Ia sadar, semua petunjuk yang ditemukan selama beberapa hari terakhir tidak lagi mengarah pada sebuah kecelakaan biasa.
Melainkan pada sebuah rahasia yang selama puluhan tahun sengaja dikubur bersama sunyinya rawa di belakang rumah Mang Jaya.
Dan entah mengapa...
Semakin dekat ia pada jawaban, tubuhnya justru semakin sering memberi peringatan.
Seolah ada sesuatu yang tidak menginginkannya melangkah lebih jauh.
"Itu berarti..."
"...orang yang membuat peta ini memang pernah berada di kampung ini."
Ia kembali membandingkan peta itu dengan ingatannya selama beberapa hari tinggal di Kampung Ciburial. Rumah Pak Rahman berada di sisi timur kampung. Sementara rawa berada tepat di belakang deretan rumah terakhir.
Kalau peta itu benar...
Tanda silang itu berada di sisi utara rawa.
Namun...
Bukankah di sana hanya hutan rapat?
"Tapi..."
"...kalau memang pendaki itu sempat membuat peta..."
"...berarti dia masih hidup cukup lama setelah tersesat."
Kalimat itu membuat Arga berpikir.
Benar juga. Seseorang yang masih sempat menggambar peta berarti belum langsung meninggal ketika memasuki kawasan rawa.
Berarti...
Ia sempat berjalan.
Sempat mengamati.
Dan mungkin...
Sempat menemukan sesuatu.
---
Setelah matahari mulai naik, Arga meminta izin.
"Pak..."
"Boleh saya melihat sisi utara rawa?"
Pak Rahman langsung menggeleng.
"Tidak sekarang."
"Kenapa?"
"Kabutnya masih terlalu tebal."
Mang Jaya ikut menimpali.
"Di sana tanahnya licin."
"Salah melangkah sedikit saja..."
"...bisa masuk lumpur."
Arga menghela napas. Ia tahu mereka benar. Namun rasa penasarannya semakin sulit dibendung.
Siang harinya, beberapa warga datang ke rumah Pak Rahman membawa hasil kebun. Di sela-sela obrolan, seorang bapak tua bernama Mang Usup tiba-tiba berkata,
"Waktu kecil..."
"...orang tua kami sering melarang bermain di utara rawa."
Semua langsung menoleh.
"Kenapa?" tanya Arga.
Mang Usup mengusap janggut putihnya.
"Dulu katanya..."
"...ada jalan lama."
"Jalan?"
"Iya."
"Jalan setapak menuju lereng Gunung Ciremai."
Arga langsung duduk lebih tegak.
"Masih ada?"
Mang Usup menggeleng.
"Sudah hilang."
"Hutan menutup semuanya."
"Terakhir dipakai mungkin empat puluh tahun lalu."
Pak Rahman tampak berpikir.
"Aku pernah dengar cerita itu."
"Tapi belum pernah melihat jalannya."
Mang Jaya menambahkan,
"Kalau memang benar ada jalan lama..."
"...bisa jadi pendaki itu tidak sengaja menemukannya."
Arga memandangi kembali peta tua di tangannya.
Mungkin...
Tanda silang merah itu bukan menunjukkan lokasi seseorang meninggal.
Melainkan...
Sesuatu yang ingin ditunjukkan.
---
Menjelang sore, hujan turun perlahan.bKabut kembali menyelimuti Kampung Ciburial. Arga duduk di dekat jendela sambil memperhatikan tetesan air di halaman. Tanpa sadar ia kembali membuka buku catatan tua itu. Ia mencoba membaca tulisan yang sebelumnya tidak terlihat. Beberapa halaman mulai mengering karena semalaman ia angin-anginkan. Di salah satu sudut halaman yang nyaris kosong, tampak sebuah kalimat yang sebelumnya tertutup bekas lipatan. Arga mendekatkan buku itu ke arah lampu.
Tulisan itu sangat samar.
Namun perlahan bisa terbaca.
"...kami bukan tersesat..."
Arga menahan napas.
Kalimat berikutnya lebih sulit dibaca. Ia memiringkan buku itu.
Huruf demi huruf mulai muncul.
"...kami seperti diputar kembali..."
Bulu kuduk Arga langsung berdiri.
Diputar kembali?
Apa maksudnya?
Ia membalik halaman berikutnya.
Di bagian bawah terdapat satu kalimat lagi yang hampir hilang.
"...jalan yang kami lewati selalu kembali ke rawa..."
Arga merasakan tengkuknya dingin. Kalimat itu terdengar mustahil.
Tetapi...
Bukankah beberapa hari lalu ia sendiri berkali-kali merasa hutan di sekitar kampung seperti tidak biasa?
Ia teringat saat pertama kali tersesat.
Kompasnya berputar.
Arah matahari terasa membingungkan.
Dan kini...
Pendaki puluhan tahun lalu menulis pengalaman yang hampir sama.
Arga perlahan menutup buku itu.
Di luar, suara hujan semakin deras.
Sementara jauh dari arah belakang rumah...
Entah karena angin...
Atau hanya perasaannya saja..
Ia kembali mendengar bunyi peluit yang sangat lirih.
Piiit...
Arga menoleh cepat ke arah jendela.
Tidak ada siapa pun.
Hanya hamparan kabut putih yang perlahan menelan rawa di belakang kampung.