NovelToon NovelToon
LOLIPOP MANIS

LOLIPOP MANIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:679
Nilai: 5
Nama Author: nila edrina

PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?

Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.

MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?

NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29

BAB 29 PENJAGA PULAU ARKAN

Langit masih diselimuti awan kelabu.

Hujan rintik-rintik membasahi halaman sebuah rumah tua yang berdiri jauh dari pusat kota.

Rumah itu tampak sederhana dari luar.

Namun di balik dinding kayunya, puluhan anggota keamanan berpakaian hitam berjaga di setiap sudut.

Mahendra sengaja membawa Eiri ke tempat persembunyian itu.

"Tidak ada yang boleh masuk tanpa izinku," ucap Ergan kepada anak buahnya.

"Perketat penjagaan."

"Ya, Tuan."

Pintu rumah ditutup rapat.

Begitu masuk, Eiri langsung duduk di sofa ruang tamu.

Wajahnya masih pucat.

Bayangan laboratorium, ledakan, hingga kematian Bram terus terlintas di pikirannya.

Ia menggenggam erat liontin perak peninggalan ayahnya.

Tanpa sadar, air matanya kembali jatuh.

Mahendra yang baru selesai membersihkan luka di bahunya menghampiri.

Ia duduk di samping Eiri.

"Kamu masih memikirkan semuanya?"

Eiri mengangguk pelan.

"Semuanya terjadi terlalu cepat."

"Aku baru tahu kalau ingatanku dihapus."

"Ayah ternyata menyembunyikan banyak rahasia."

"Dan sekarang..."

"Aku bahkan tidak tahu siapa diriku sebenarnya."

Mahendra menatapnya beberapa saat.

Lalu perlahan menggenggam tangan gadis itu.

"Kamu tetap Eiri."

"Tidak peduli masa lalumu seperti apa."

"Kamu adalah orang yang sekarang berada di hadapanku."

Eiri menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya sejak kehilangan ingatan, Eiri merasakan kehangatan yang sulit dijelaskan.

Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu...

Tok... tok... tok...

Pintu ruang kerja diketuk.

"Masuk."

Ergan masuk membawa sebuah laptop.

"Tuan."

"Aku berhasil membaca isi kartu memori."

Mahendra langsung berdiri.

"Apa isinya?"

Ergan meletakkan laptop di atas meja.

"Lihat sendiri."

Semua orang berkumpul mengelilingi layar.

Di dalam kartu memori hanya terdapat satu folder.

ARK-01

Mahendra membukanya.

Di dalam folder itu terdapat puluhan foto.

Foto-foto bangunan tua.

Terowongan bawah tanah.

Mercusuar yang berdiri di tepi tebing.

Dan sebuah peta pulau.

Di bagian atas peta tertulis jelas.

PULAU ARKAN

Eiri memperhatikan peta itu dengan saksama.

Anehnya...

Ia merasa sangat mengenal bentuk pulau tersebut.

Jarinya perlahan menunjuk sebuah titik di sisi utara.

"Di sini..."

Mahendra menoleh.

"Apa?"

"Aku..."

"Aku merasa pernah ke tempat ini."

Semua orang terdiam.

Ergan memperbesar gambar.

Di titik yang ditunjuk Eiri terdapat tulisan kecil yang hampir tidak terbaca.

Gerbang Utara

Mahendra mengernyit.

"Kenapa kamu menunjuk tempat itu?"

Eiri memejamkan mata.

Beberapa potongan ingatan kembali muncul.

Kabut.

Suara ombak.

Seorang pria menggendong dirinya.

Lalu sebuah gerbang batu yang sangat besar.

"Aku tidak tahu..."

"Tapi rasanya..."

"Ayah pernah membawaku ke sana."

Mahendra dan Ergan saling berpandangan.

Belum sempat mereka membahas lebih jauh, laptop itu tiba-tiba mengeluarkan suara notifikasi.

Satu file baru berhasil dipulihkan.

Ergan segera mengkliknya.

File itu ternyata berupa rekaman suara.

Suara seorang pria tua terdengar pelan.

> "Jika kau mendengar rekaman ini..."

> "...berarti Eiri masih hidup."

Mata Eiri membelalak.

"Itu..."

"Itu suara Ayah."

Rekaman berlanjut.

> "Eiri."

> "Kalau kau ingin mengetahui siapa dirimu sebenarnya..."

> "Datanglah ke Pulau Arkan."

> "Jangan datang melalui pelabuhan utama."

> "Masuklah melalui Gerbang Utara."

> "Dan ingat..."

Suara dalam rekaman tiba-tiba berhenti.

Layar laptop mendadak berkedip.

Kemudian berubah hitam.

"Listrik mati?"

gumam Ergan.

Namun saat ia melihat keluar jendela...

Wajahnya langsung berubah.

"Tuan Mahendra..."

"Ada tamu."

Mahendra berjalan mendekati jendela.

Di luar pagar rumah...

Belasan mobil hitam berhenti bersamaan.

Puluhan orang berpakaian serba hitam turun dengan langkah teratur.

Di mobil paling depan...

Seorang wanita tua berambut putih keluar sambil membawa tongkat kayu.

Tatapannya lurus ke arah rumah.

Lalu ia berkata dengan suara yang cukup keras untuk terdengar hingga ke dalam.

> "Serahkan Eiri."

> "Atau kami akan mengambilnya."

Mahendra menarik tirai jendela.

Tatapannya berubah tajam.

"Tidak ada yang akan membawa Eiri pergi."

Di luar rumah...

Wanita tua itu tersenyum tipis.

"Kalau begitu..."

"Jangan salahkan kami."

Ia mengangkat tongkatnya.

Dan pada saat yang sama...

Puluhan orang di belakangnya serentak melangkah maju menuju rumah persembunyian.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!