NovelToon NovelToon
Unseen Friend

Unseen Friend

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Horor / Misteri
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: CRZ CREW

Sejak kecil, Josh memiliki teman yang tak bisa dilihat siapa pun. Tiga belas tahun kemudian, teman itu kembali. Bersama Veron, Brandon, dan Gibran, ia mengungkap misteri yang telah terkubur selama puluhan tahun. Namun semakin dekat pada kebenaran, semakin dekat pula mereka pada kematian. Karena... tidak semua teman yang tak terlihat datang dengan niat baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CRZ CREW, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 — Untung Cuma Mimpi ( LAST PART)

"Bangun... nanti terlambat sekolah."

Suara itu terdengar begitu jauh pada awalnya, seperti dipanggil dari ujung terowongan panjang yang gelap, sebelum perlahan menjadi semakin jelas dan dekat, menariknya kembali dari kedalaman tidur yang begitu pekat.

Suara lembut itu menyusup perlahan ke dalam kesadaran Josh, membangunkannya dari tidur yang terasa begitu panjang dan berat. Ia membuka mata perlahan, mendapati sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah gorden kamarnya yang sedikit terbuka. Ibunya berdiri di ambang pintu, tersenyum hangat seperti biasa.

"Ayo, cepat mandi. Nanti kesiangan lagi kayak minggu lalu."

Josh duduk perlahan di tempat tidurnya, menatap kosong ke arah jendela selama beberapa saat, pikirannya masih dipenuhi bayangan-bayangan samar sosok berjas hitam bernama Raka, jam yang berhenti di angka yang sama, Veron dan Brandon yang berjuang bersamanya menghadapi teror yang terasa begitu nyata, bayangan tanpa bentuk yang mencoba merasuki mereka bertiga.

Ia menoleh ke arah jam meja di sampingnya. Pukul enam pagi, waktu yang biasa untuknya bangun setiap hari sekolah.

Josh menatap sekeliling kamarnya semuanya tampak normal, tidak ada bekas memar aneh di pergelangan tangannya, tidak ada catatan-catatan yang pernah ia tulis tentang kejadian misterius yang menghantuinya selama berminggu-minggu. Semuanya terasa begitu utuh, begitu biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Ia mengangkat tangannya, memutar pergelangan tangan itu perlahan, memastikan tidak ada bekas luka atau tanda apa pun di sana. Bersih. Tidak ada apa pun.

Ia duduk termenung sejenak di tepi ranjang, menatap sudut kamarnya yang biasa tempat sosok berjas hitam itu dulu selalu muncul dalam mimpinya.

Sudut itu kini hanya berisi lemari pakaian tua dan tumpukan buku pelajaran yang belum sempat ia rapikan, tampak sepenuhnya biasa, tidak menyimpan ancaman apa pun. Namun entah kenapa, ia tetap merasa perlu menatapnya sedikit lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya berpaling.

Josh terdiam sejenak, mencoba mencerna semua yang baru saja ia alami dalam mimpinya yang terasa begitu panjang dan mendetail, jauh melebihi mimpi-mimpi biasa yang pernah ia alami sebelumnya lengkap dengan nama-nama, wajah-wajah, bahkan sensasi fisik yang begitu nyata.

Lalu, perlahan, sebuah senyum kecil terukir di wajahnya.

"Untung cuma mimpi," gumamnya pelan kepada diri sendiri. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap seperti pagi-pagi biasanya.

Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya, Josh turun ke ruang makan, mendapati ibunya telah menyiapkan sarapan sederhana di meja seperti biasa.

"Tidurmu nyenyak?"

tanya ibunya sambil menuangkan teh hangat ke dalam gelas. Josh terdiam sejenak sebelum menjawab.

"Iya, Bu. Nyenyak banget malah."

Ia tersenyum tipis, duduk di kursi biasanya, menyantap sarapan yang telah disiapkan dengan tenang, seolah pagi itu adalah pagi yang sama seperti pagi-pagi sebelumnya, tanpa ada yang berbeda maupun istimewa.

Setelah selesai sarapan, Josh berpamitan kepada ibunya dan berjalan keluar rumah, menyusuri jalan yang sama menuju sekolah seperti hari-hari biasanya. Ia melirik jam tangannya sekilas pukul tujuh kurang lima belas menit, waktu yang cukup untuk berjalan santai tanpa perlu terburu-buru. Angin pagi berhembus lembut, membawa aroma khas pagi hari yang menenangkan.

Josh menatap langit yang cerah tanpa awan, menghirup udara dalam-dalam, merasakan ketenangan yang sederhana namun begitu berharga. Ia melangkah menuju gerbang sekolah, bergabung dengan teman-teman sekelasnya yang tampak seperti biasa Gibran yang sudah menunggu di depan gerbang sambil melempar bola kertas, Brandon yang tertawa lepas mendengar candaan teman-temannya, dan Veron yang berjalan tenang sambil membaca buku di tangannya.

Josh tersenyum kecil melihat mereka, melangkah mendekat untuk bergabung dalam obrolan pagi yang riang, membiarkan hari itu dimulai seperti hari-hari biasa lainnya. Namun jauh di dalam hatinya, ada bagian kecil dari dirinya yang tidak sepenuhnya yakin, bahwa semua yang ia alami benar-benar hanya sekadar mimpi belaka terutama ketika, sesaat sebelum ia mengucapkan salam kepada Veron dan Brandon, keduanya menatapnya dengan tatapan yang sama persis, seolah mereka berdua juga baru saja mengalami mimpi yang sama persis semalam.

Josh membuka mulutnya, hendak bertanya, namun bel masuk sekolah berbunyi nyaring tepat di saat itu, memaksa mereka semua bergegas menuju kelas masing-masing seperti rutinitas biasa. Ia menoleh sekali lagi ke arah Veron dan Brandon sebelum masuk ke dalam kelas, mendapati keduanya tersenyum kecil ke arahnya senyum yang entah kenapa terasa seperti sebuah janji tak terucap, bahwa apa pun yang baru saja mereka alami bersama, nyata atau tidak, mereka bertiga akan selalu saling menjaga.

Malam itu, jauh setelah semua rutinitas hari itu selesai, Josh duduk sendirian di kamarnya, menatap sudut gelap kamarnya yang biasa. Ibunya pernah bercerita, bertahun-tahun lalu, tentang "teman" yang katanya sempat menemaninya mengobrol semalam ketika ia baru berusia tiga tahun, sebelum menghilang begitu saja tanpa jejak.

Josh sendiri tidak pernah mengingat kejadian itu, hanya mendengarnya sebagai anekdot keluarga yang lucu sekaligus sedikit aneh. Ia juga tidak pernah benar-benar tahu apa yang selama beberapa bulan terakhir kerap berlari melintas di ujung penglihatannya, jauh sebelum semua teror bersama Veron dan Brandon ini dimulai.

Josh mungkin tidak akan pernah tahu pasti apakah "teman" masa balitanya, bayangan hitam yang sering berlari di dekatnya, sosok berjas hitam yang menghantuinya, dan mimpi panjang yang baru saja ia alami adalah satu kesatuan yang sama, atau sekadar rangkaian kebetulan yang saling bersinggungan dalam hidupnya.

Yang ia tahu pasti, jauh di lubuk hatinya, adalah bahwa sesuatu entah apa namanya sudah mengenalnya sejak sangat lama, jauh sebelum ia cukup besar untuk memahaminya, dan mungkin belum sepenuhnya selesai dengannya.

TAMAT

Jika Kalian Suka Ceritanya

KOMEN UNTUK VERSI 2 NYA

LEBIH SERU JUGA 🥳🥳

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!