Qin Mu, putra Patriark Keluarga Qin, dianggap sebagai sampah karena gagal membuka meridian meski telah berlatih selama satu tahun. Di tengah hinaan, tekanan keluarga, dan ancaman diusir pada Upacara Uji Spiritual, ia tetap bertahan dengan tekad kuat.
Namun, di balik kegagalannya, tersembunyi misteri besar dalam tubuhnya. Hingga suatu malam, ia akhirnya melihat energi spiritual untuk pertama kalinya, tanda awal kebangkitan yang akan mengubah nasibnya.
Dari kehinaan menuju kekuatan tertinggi, Qin Mu menantang takdir untuk menjadi Penguasa Agung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch 2 — Terkejut
Qin Mu menahan napas. Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar dari dadanya.
Selama satu tahun penuh, dunianya saat bermeditasi mata hanyalah ruang kosong yang hitam dan dingin. Namun sekarang, segalanya berubah total.
Kegelapan setelah cahaya biru barusan itu kini dihiasi oleh bintik-bintik cahaya halus yang melayang di udara, berkilauan seperti kunang-kunang di tengah malam.
Itulah energi spiritual alam yang selama ini ia dengar dalam perkataan ayahnya dan perkataan orang-orang yang telah mencapai tingkatan dimana mereka bisa menyerap energi bumi dan langit atau energi spiritual kedalam jalur meridian mereka, namun tidak pernah bisa ia saksikan secara langsung.
"Inikah yang namanya energi alam... energi spiritual...? aku bisa melihatnya!" batinnya berteriak dengan penuh gejolak emosi.
Qin Mu tersentak. Kelopak matanya terbuka lebar, dan hal pertama yang ia rasakan adalah silau cahaya matahari yang menusuk mata.
Cahaya itu menerobos melalui celah-celah dinding kayu kamarnya, menari-nari di atas lantai yang berdebu.
Ia tertegun, hangat dari sinar ini bukanlah kehangatan matahari pagi. Melainkan matahari siang?
Seingatnya, ia baru saja mulai bermeditasi sesaat setelah matahari terbenam. Itu berarti ia telah duduk dalam posisi yang sama selama lebih dari dua belas jam tanpa ia sadari. Namun, yang lebih mengejutkan bukanlah waktu yang berlalu, melainkan sensasi di dalam tubuhnya.
Biasanya, setelah berlatih fisik seharian, tubuhnya akan terasa berat dan nyeri di pagi hari. Meditasi hanyalah sebuah kegiatan untuk ketenangan dan merilekskan tubuhnya setiap malam hari setelah menyelesaikan latihannya. Tapi sekarang?
Otot-ototnya terasa kenyal, kulitnya tampak lebih bersih, dan rasa lelah yang selama satu tahun ini menggelayuti pundaknya seolah menguap tanpa bekas.
Qin Mu mencoba menggerakkan bahunya, dan...
Krak! Krak!
Suara persendian yang merenggang terdengar begitu memuaskan. Ia kemudian memejamkan mata, mencoba melakukan teknik pemeriksaan internal sederhana yang pernah diajarkan ayahnya.
Mata Qin Mu membelalak. Napasnya tertahan.
"Ini... Tidak mungkin... Kan?"
Di dalam tubuhnya, yang sebelumnya terasa seperti hamparan tanah kering yang retak, kini mengalir aliran hangat yang lembut.
Sembilan jalur utama yang membentang dari pangkal kepala, tangan, dada hingga ujung kaki, yang selama setahun ini membeku layaknya besi dingin, kini telah terbuka sepenuhnya. Tidak ada sumbatan. Tidak ada hambatan.
Dengan terbukanya sembilan meridian utama, ia telah mencapai Tahap Kedua Pembentukan Fondasi : Pembukaan Meridian.
Bukan hanya satu atau dua meridian, tapi sembilan meridian utama sekaligus! Semua jalurnya terbuka?!
"Sembilan meridian... terbuka dalam satu malam?" Qin Mu bergumam tidak percaya. Tangannya gemetar hebat.
Dalam catatan sejarah Keluarga Qin, jenius terbaik sekalipun memerlukan waktu setidaknya satu bulan untuk membuka seluruh sembilan meridian utama setelah mereka berhasil menembus tahap penempaan tubuh. Dan proses itu biasanya diiringi rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah pembuluh darah ditusuk oleh ribuan jarum emas legendaris.
Namun Qin Mu? Ia tidak merasakan sakit sedikit pun. Ia hanya mengingat kilatan cahaya biru misterius semalam yang membawanya melihat cahaya energi spiritual, dan setelah itu, segalanya terasa begitu alami, seolah-olah jalur-jalur itu memang seharusnya terbuka sejak lama.
Qin Mu bangkit dari tempat tidur dan mulai melancarkan beberapa gerakan tinju dasar.
Wush! Wush!
Angin yang dihasilkan oleh pukulannya kini terdengar lebih tajam dan bertenaga. Meskipun ia belum bisa menyerap energi spiritual karena belum memiliki sebuah manual kultivasi: sebuah tata cara agar dapat menyerap energi spiritual.
Kekuatan fisiknya kini telah berlipat ganda karena sirkulasi udara di dalam tubuhnya jauh lebih lancar melalui 9 meridian utama tersebut.
"Kenapa?" pikirnya sambil menatap telapak tangannya.
"Kilatan cahaya biru itu... apa itu semacam warisan yang terbangun? Atau bakat tersembunyi ku? Atau karena semua ramuan yang selama ini aku minum sebenarnya tidak hilang, melainkan tertimbun dan baru meledak semalam?"
Ia teringat bagaimana energi obat selama setahun ini selalu menghilang entah kemana setiap kali ia telan. Mungkinkah perutnya justru bertindak sebagai wadah penyimpanan tersembunyi yang menunggu pemicu yang tepat?
"Tidak mungkin..."
Apapun alasannya, semangat yang sempat padam di dalam diri Qin Mu kini berkobar lebih hebat dari sebelumnya.
"Bulan depan adalah Upacara Uji Spiritual," gumamnya dengan sorot mata yang kini penuh tekad.
"Jika aku hanya membawa kabar 'Qin Mu telah meraih Tahap Kedua Pembentukan Fondasi: Pembukaan Meridian' dan dapat menyerap energi dari alam, dewan tetua mungkin masih akan mencibir dan menganggapnya sebagai keberuntungan semata."
Ia mengepalkan tinjunya erat-erat. "Jika aku ingin benar-benar membungkam mulut orang-orang yang merendahkanku dan mengangkat martabat Ayah, aku tidak boleh berhenti di sini. Aku harus mencapai Tahap Pengumpulan Spiritual, atau bahkan lebih baik... Tahap Pembentukan Dantian!"
Target itu terdengar gila bagi orang biasa layaknya dirinya dahulu. Melompati dua tahap dalam waktu satu bulan adalah hal mustahil kecuali kau seorang jenius, tapi Qin Mu merasa ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya sekarang.
Entah itu suatu kepercayaan diri? atau nafsu karena pertama kali meraih pencapaian yang sulit diartikan!
Ia segera merapikan pakaiannya. Ia harus pergi ke perpustakaan keluarga. Untuk melangkah ke tahap ketiga, ia membutuhkan Manual Dasar Penyerapan Energi Spiritual. Tanpa itu ia tidak akan tahu bagaimana menyerap energi alam dengan baik dan benar.
Selama ia hidup di keluarga ini ia dilarang menyentuhnya karena hanya praktisi yang telah menggapai tahap kedua Pembentukan Fondasi yang di izinkan dan sebelumnya ia juga dilarang dan dianggap sia-sia mempelajari manual sebelum meraih Pembukaan Meridian, tapi sekarang, pintu menuju dunia kultivator yang sebenarnya telah terbuka lebar di hadapannya.
Qin Mu melangkah menuju pintu kamarnya dengan jantung yang masih berdebu karena kegembiraan. Namun, begitu daun pintu kayu itu berderit terbuka, langkahnya terhenti seketika.
Di koridor depan kamarnya, seorang pelayan pria berdiri kaku sambil memegang nampan makanan yang sudah mendingin. Di sampingnya, berdiri sosok yang auranya memenuhi seluruh lorong, seorang pria paruh baya dengan bahu lebar dan tegak. Jubah kebesarannya yang berwarna biru tua dengan sulaman benang perak melambangkan otoritas tinggi. Wajahnya yang tegas dan tampan menunjukkan sisa-sisa kejayaan masa muda, namun ada guratan kelelahan yang tersirat di sudut matanya.
Dia adalah Qin Feiyan, Patriark Keluarga Qin sekaligus ayah kandung Qin Mu.
"Ayah?" Qin Mu segera membungkuk hormat.
"Maafkan aku ayah, aku terlalu larut dalam meditasi hingga tidak menyadari kehadiran Ayah di luar."
Qin Feiyan tidak langsung menjawab.
Meditasi?
Sepasang matanya yang tajam menatap Qin Mu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dahinya berkerut dalam, seolah sedang mencoba memecahkan teka-teki rumit.
Sebagai seorang kultivator tingkat tinggi, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda dari putranya siang ini, semacam kejernihan yang tidak biasa, namun ia menepis pikiran itu, menganggapnya hanya sebagai efek dari istirahat yang cukup.
"Tinggalkan makanannya di sini. Kau boleh pergi," perintah Qin Feiyan kepada pelayan tersebut dengan suara berat yang berwibawa.
Setelah pelayan itu menghilang dari tikungan koridor, Qin Feiyan memberi isyarat kepada Qin Mu untuk kembali masuk ke dalam kamar. Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi sangat berat.
Qin Feiyan berjalan mendekati jendela, membelakangi putranya. "Mu'er... Ayah datang untuk menyampaikan sesuatu yang sulit."