Dulu ia dipanggil Ratu Pembunuh. Kini ia hanya Laras, wanita biasa yang bersembunyi di desa terpencil.
Ia berjanji takkan pernah mengangkat senjata lagi. Namun kedatangan Dika, laki-laki yang membawa rahasia serupa, mengubah segalanya. Di antara hamparan hijau dan sungai jernih, benih cinta tumbuh di tanah yang dulu subur oleh dendam. Antara melupakan masa lalu atau kembali menjadi sosok yang ditakuti—Laras harus memilih: bertahan hidup, atau berani mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joice 758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Malam di Bawah Bulan Penuh
Sinar matahari pertama menyelinap malu-malu melalui celah jendela kayu, menyentuh permukaan lantai yang dingin dan perlahan menghangatkan ruangan yang masih terasa berembun. Laras terbangun bukan karena suara bising atau rasa cemas seperti biasanya, melainkan karena rasa hangat yang menyelimuti seluruh tubuhnya—lengan kekar yang melingkar erat di pinggangnya, dan detak jantung yang tenang berdetak berirama tepat di belakang telinganya.
Ia bergerak pelan, tak ingin mengganggu tidur pria itu, namun Dika justru mengeratkan pelukannya sedikit, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka mata. Tatapannya masih sedikit kabur, namun begitu ia melihat wajah Laras, senyum lembut yang selalu mampu menenangkan hatinya kembali terukir di bibir.
"Kau sudah bangun?" bisiknya, suaranya serak khas orang baru bangun tidur. Ia mengusap rambut Laras yang berantakan dengan lembut, seolah tak percaya bahwa momen damai ini benar-benar nyata.
Laras mengangguk, lalu menoleh ke arah jendela. "Matahari sudah tinggi. Kita harus segera bersiap. Semakin cepat kita berangkat, semakin baik."
Meski ucapannya tegas, ada raut keberatan yang samar di matanya. Dika menyadarinya, lalu menarik tubuhnya sedikit hingga mereka berdua duduk bersandar pada dinding tempat tidur. Ia meraih tangan Laras, menggenggamnya erat, seolah ingin mengalirkan seluruh kekuatannya lewat sentuhan itu.
"Kau boleh sedih, boleh berat hati meninggalkan tempat ini," ujar Dika pelan namun tegas. "Tempat ini bukan sekadar tanah dan rumah kayu bagimu. Di sini kau menemukan kembali arti menjadi manusia biasa, bukan senjata yang tajam dan dingin. Wajar jika kau berat melangkah pergi."
Kata-kata itu menembus tepat ke dalam hatinya. Laras menunduk, menatap genggaman tangan mereka yang saling bertaut. Selama dua tahun di desa ini, ia belajar menanam, memasak, menenun, dan tertawa tanpa harus takut pedang menancap di punggungnya setiap saat. Ia menemukan rasa aman yang dulu pernah ia pikir sudah hilang selamanya.
"Tapi aku tahu," lanjutnya lagi, "jika aku tetap bersembunyi di sini selamanya, ketenangan ini hanyalah pinjaman. Suatu hari nanti masa lalu itu akan datang menjemput dengan cara yang jauh lebih kejam, dan aku takut kali ini ia akan melukai orang-orang yang kucintai."
Laras mengangkat wajahnya, mata cokelatnya kini berbinar penuh tekad yang membara. "Kau benar. Aku tidak bisa membiarkan mereka menanggung akibat dari dosa yang bukan buatan mereka sendiri. Aku harus pergi, menuntaskan semuanya sampai ke akar-akarnya, agar suatu hari nanti kita benar-benar bisa pulang ke sini tanpa rasa takut sedikit pun."
Mereka bangkit dan bersiap dengan tenang. Tidak ada percakapan yang berlebihan, namun setiap gerakan mereka selaras, seolah sudah saling mengenal selama puluhan tahun. Laras memasukkan peta tua, surat, dan belati peninggalan itu ke dalam kantong kain yang diikat rapat di pinggangnya. Ia juga menyelipkan sebilah belati kecil di balik lengan bajunya—bukan untuk membunuh tanpa alasan seperti dulu, tapi untuk melindungi apa yang berharga.
Saat mereka melangkah keluar rumah, udara pagi yang segar menyambut mereka. Namun keduanya tertegun sejenak—di depan pagar kayu, sudah berdiri Kepala Desa, beberapa pemuda, dan Ibu yang dulu pernah menghiburnya. Wajah mereka tidak sedih atau penuh kekhawatiran, melainkan penuh harap dan kepercayaan.
"Kami tidak mengantar sampai jauh," ujar Kepala Desa sambil menyerahkan sebilah tongkat kayu yang ujungnya diperkuat besi, dan dua bungkusan bekal makanan. "Tapi kami ingin kalian tahu: pintu desa ini tidak pernah tertutup. Kapan pun kalian selesai dengan urusan kalian, pulanglah. Rumahmu di sini masih menunggu."
Laras merasakan mata kembali berkaca-kaca. Ia menelan ludah, berusaha menahan getaran di suaranya. "Terima kasih. Aku... aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan kalian semua."
"Balasanmu cukup sederhana," potong salah satu pemuda sambil tersenyum. "Pulanglah sebagai Laras yang sama—yang ramah, yang peduli, dan yang membawa kebaikan. Itu sudah lebih dari cukup bagi kami."
Dika mengangguk hormat pada mereka semua, lalu melingkarkan lengannya ke bahu Laras, memberi kekuatan. "Kami berjanji akan kembali."
Mereka pun berjalan perlahan meninggalkan desa. Langkah Laras sempat terhenti sesaat di puncak bukit kecil yang menjadi batas desa, menatap rumah kayu dan kebun bunganya yang mulai tampak mengecil di kejauhan. Ada rasa perih di dadanya, namun di sampingnya berdiri Dika, dan di belakangnya ada doa dan dukungan orang-orang yang menerimanya apa adanya. Itu sudah cukup untuk membuatnya berani melangkah jauh.
Perjalanan hari pertama tidaklah mudah. Jalan setapak berubah menjadi lereng terjal yang licin setelah hujan semalam, dan pepohonan semakin lebat hingga sinar matahari nyaris tak bisa menembusnya. Namun Laras berjalan dengan tenang—keahliannya melintasi hutan dan membaca jejak yang dulu ia pelajari untuk keperluan perang, kini ia gunakan untuk melindungi perjalanan mereka. Ia tahu mana tanaman yang bisa dimakan, mana sungai yang airnya aman, dan di mana tempat persembunyian yang paling baik jika bahaya datang.
Menjelang senja, mereka tiba di sebuah gua kecil di tebing batu yang cukup tinggi. Dika segera mengumpulkan ranting kering untuk membuat api unggun, sementara Laras mengamati sekeliling dengan teliti, memastikan tidak ada jejak hewan buas atau orang asing yang baru saja lewat.
Saat api mulai menyala dan memancarkan cahaya hangat di tengah dinginnya malam hutan, mereka duduk berdampingan menatap nyala api.
"Kau ingat arah di peta itu?" tanya Dika pelan, memecah keheningan.
Laras mengangguk sambil menatap bayangannya sendiri di dalam api. "Pertama kita harus menyeberangi Sungai Berputar, lalu melewati Padang Rumput Tak Berujung. Di balik gunung yang menjulang di sana, ada reruntuhan benteng tua—tempat di mana semuanya bermula. Di sanalah aku yakin akan menemukan sisa-sisa bukti, atau setidaknya jejak ke mana pengkhianat itu membawa semua orang yang setia padaku."
Ia berhenti sejenak, lalu menunduk menatap telapak tangannya—tangan yang dulu pernah terbiasa berlumur darah, kini terlihat tenang di bawah cahaya api.
"Dulu aku berpikir kekuatan adalah segalanya," lanjutnya lirih. "Aku berpikir dengan pedang tajam dan kecepatan yang tak tertandingi, aku bisa melindungi semua orang yang aku sayangi. Tapi aku salah besar. Kekuatan tanpa kepercayaan, tanpa kehangatan, dan tanpa orang yang berjalan di sampingmu... itu hanya kesepian yang mematikan."
Dika merangkul bahunya, menariknya hingga bersandar di dada pria itu. "Kau tidak sendirian lagi. Mulai hari ini, bahu kita berdua yang akan menahan beban itu. Jika kau jatuh, aku yang akan menopangmu. Jika kau lelah, aku yang akan membawamu melangkah."
Malam itu, di tengah gua yang dingin dan hutan yang sunyi, Laras merasa lebih berani daripada saat ia memimpin ribuan pasukan di masa kejayaannya dulu. Ia tahu jalan di depannya masih panjang, penuh jebakan, kebohongan, dan pertarungan yang belum tentu ia menangkan. Namun ia juga tahu satu hal yang pasti: kali ini ia tidak akan berjuang sendirian. Dan itu adalah keunggulan terbesar yang tak pernah dimiliki oleh musuhnya sekalipun.
Besok mereka akan menyeberangi sungai yang berbahaya itu. Namun untuk saat ini, cukup mereka berdua menikmati kehangatan api dan janji setia yang saling mereka ucapkan di bawah langit malam yang gelap namun penuh harapan.
bersambung...