Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Serangan Musuh
Keesokan paginya tepat pukul enam, Arjuna sudah berdiri di dekat gang rumah Laila. Niatnya sederhana: ia ingin mengikutinya diam diam dan hanya ingin memastikan gadis itu berangkat dengan selamat.
Sambil menunggu, ia menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya pelan. Belum sempat menikmati sepenuhnya, suara yang sangat ia rindukan tiba-tiba terdengar dari samping.
“ohh jadi gini kegiatan anak sekolah kalau berangkat pagi ya?” ucap Laila sambil membetulkan posisi duduk di jok motornya. “Ngapain lu di sini?” tanyanya ketus, meski jantungnya berdegup kencang tanpa sadar.
Arjuna kaget setengah mati karena ketahuan. Dengan gugup ia berusaha bersikap santai. “S-suka-suka gue lah mau berangkat jam berapa kek. Lagian kebetulan aja gue lewat sini.”
Laila menyipitkan mata dan menunjuk tepat ke arah Arjuna. “Bohong! kalo lewat ya lewat aja kenapa lu nongkrong pinggir jalan. lu mau nguntit gue kan? Ngaku aja lu!”
“Pede banget sih. Gue ada janjian sama teman, kebetulan rumah teman gue dekat sini juga,” bantahnya lagi.
Laila tersenyum miring. “Kalau mau bohong itu pinteran dikit. Tadi bilang cuma kebetulan lewat, sekarang bilang janjian sama teman. Mana konsistennya?” Setelah berkata begitu, ia menyalakan mesin motor dan hendak masuk kedalam gang.
Anjir, bego banget sih lu Jun… bego… umpatnya dalam hati.
Melihat Laila hendak pergi, Arjuna segera memacu motornya mengejar. “La, tungguin!”
"apaan sih? dah sana... Hus.. Hus.. " usirnya dan tetap mengendarai motornya. tapi Arjuna tetap mengikuti dari belakang, toh dia sudah ketahuan kalo kata pepatah....kalau sudah terlanjur basah ya sekalian nyebur aja, pikir Arjuna.
Sesampainya di depan rumah Laila, Bu Ami baru saja selesai menyapu halaman. “Eh, ada Nak Juna. Mau berangkat bareng lagi ya?”
Arjuna segera memarkirkan motornya, lalu berjalan menghampiri Bu Ami dan mencium tangan wanita itu dengan sopan. “Iya Bu, kebetulan searah sekalian,” jawabnya sambil tersenyum lebar—padahal itu bohong besar.
Laila hanya memutar bola matanya malas. “Bu, aku masuk dulu sebentar ya, pamit sama Ayah,” pamitnya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
“Silakan masuk dulu, Nak,” ajak Bu Ami. Arjuna pun ikut masuk dan duduk menunggu di ruang tamu.
Tak lama kemudian Laila keluar dengan tas punggung sudah tersampir di bahu. “Ayo berangkat sekarang,” katanya singkat sambil berjalan duluan.
Arjuna ikut berdiri dan melangkah keluar, tapi tiba-tiba ia berhenti dan menoleh ke dalam rumah. “Eh, gue belum pamit. mana Bokap lu? Kok dari tadi nggak kelihatan?” tanyanya sambil mengintip ke arah pintu kamar.
Laila menghela napas panjang. “Bokap gue lagi di kamar, badan beliau sedang kurang sehat hari ini.”
“Oalah, semoga cepat sembuh ya,” jawab Arjuna pelan. Tak lama kemudian, mereka pun berangkat menuju sekolah.
Di tengah perjalanan yang jalanya agak sepi, tiba-tiba Arjuna menyadari ada tujuh unit motor yang mengikuti gerak-gerik mereka dari kejauhan. Indera penglihatannya yang tajam langsung mengenali bentuk motor dan gaya berkendara mereka. Itu adalah Geng Elang—musuh bebuyutan Geng Petir.
“Anjing… kenapa harus sekarang sih. nggak pas banget momennya?” gerutunya pelan. Ia segera mempercepat laju motornya hingga berdekatan dengan Laila.
“La! lu bisa ngebut nggak bawa motornya?” serunya agar terdengar meski tak terlalu keras.
“Ngapain ngebut sih? Kalau lu mau duluan ya duluan aja. Lagian ini masih pagi banget buat buru-buru ke sekolah,” balas Laila bingung.
“Bukan gitu maksud gue! Di belakang kita ada yang ngikutin, itu musuh gue—Geng Elang!” terang Arjuna dengan nada serius.
Wajah Laila seketika berubah pucat. “Hah? Serius lu? Terus gimana? lu nggak bisa ngadepin mereka?”
“Bisa aja gue lawan, tapi masalahnya mereka udah liat lu bareng gue. Bisa-bisa lu juga jadi sasaran mereka,” jelas Arjuna cemas.
Mendengar itu, rasa takut Laila makin memuncak. Ia tahu betul reputasi Geng Elang yang suka main kasar dan tidak tahu aturan. “Jun… terus gimana sekarang? gue takut…”
“Tenang, jangan panik. Dengerin instruksi gue baik-baik. lu ngebut sekenceng mungkin tapi tetap hati-hati ya. Nanti di depan ada pertigaan, lu langsung belok kanan. Di sana ada bengkel, lu masuk saja ke dalamnya. Tenang aja, di sana ada anak buah gue yang bakal jagain lu,” perintah Arjuna sambil sesekali melirik spion melihat jarak motor musuh yang makin dekat.
“Terus lu gimana?” tanya Laila cemas.
“Ciee… khawatir ya sama gue?” sempat-sempatnya Arjuna menggoda dengan nada menyebalkan.
“JUNA! GUE SERIUS INI!” bentak Laila kesal.
Arjuna terkekeh pelan. “Gue bakal ngikutin lu di belakang , dan sebisa mungkin gue halau mereka yang ngedeketin lu.”
Setelah itu Laila langsung menancap gas lebih dalam, melesat membelah jalanan pagi. Arjuna tetap berada di belakangnya untuk menjaga.
Geng Elang yang menyadari rencana mereka pun ikut mempercepat laju motor. Dua pengendara dari kelompok itu berhasil menyusul ke samping Arjuna dan berusaha menendang motornya agar tergelincir. Namun dengan kelincahan dan pengalaman Arjuna, ia berhasil mengelak berkali-kali.
Sayangnya saat melewati tikungan menuju pertigaan, salah satu pengendara Geng Elang dengan nekat menabrak sisi kanan motor Arjuna. Tubuh dan motor sport itu oleng, tak sempat dikendalikan lagi hingga akhirnya menabrak batang pohon tua di pinggir jalan dengan keras.
BRUK!