Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 . Obsesif
Aiden tersenyum lembut, lalu mendekap kepala Alesha perlahan ke dadanya, membiarkan gadis manis nya itu mendengar detak jantungnya yang tenang dan teratur. Ia mengusap punggung Alesha berulang kali serta mengelus rambut panjang Alesha sesekali mencium nya,Aiden begitu nyaman dengan wangi rambut gadis manis nya seperti bau rambut bayi,nya walaupun Alesha masih kanak kanak sih hehe , suaranya terdengar begitu menenangkan di telinga Alesha, seolah menjadi satu-satunya kebenaran yang ada di dunia saat ini.
“Jangan takut, sayang. Karena saat hari itu tiba… kau tidak akan kehilangan dirimu. Kau justru akan menemukan versi dirimu yang paling sempurna. Versi Alesha, gadis kecil ku yang bahagia, tenang, dan tidak pernah merasa kesepian. Karena kau akan selalu bersamaku. Setiap napas mu akan selaras dengan nafasku. Setiap keinginanmu akan menjadi keinginanku. Dan percayalah… tidak ada rasa yang lebih indah daripada hidup hanya untuk satu orang yang juga hidup hanya untukmu. Bukankah itu yang kau inginkan sejak awal? Seseorang yang tidak akan pernah melepaskan mu? Seseorang yang mencintaimu begitu dalam hingga tak ada batasnya?”
Alesha terbungkam dalam pelukan itu. Ia ingin mendorongnya menjauh. Ia ingin berteriak bahwa cinta seharusnya tidak terasa seperti penjara yang semakin sempit. Namun suara detak jantung Aiden yang teratur, kenyamanan pelukannya bikin Alesha teringat akan pelukan Dedy nya, dan sisa rasa nyeri yang perlahan lenyap membuat tubuhnya terasa berat dan tak berdaya. Setiap alasan yang ingin ia kemukakan seolah tertelan oleh kelembutan yang menyelimutinya — lembut yang mematikan, lembut yang perlahan meluruhkan pertahanannya satu per satu.
“Sudah jangan menangis lagi sayang ku,” bisik Aiden sambil mengecup puncak kepala Alesha pelan. “Mulai hari ini, tidak ada lagi yang perlu kau takutkan. Tidak ada lagi rasa sakit kalau kau tetap bersamaku. Kita akan habiskan waktu berdua saja. Kau akan belajar mempercayaiku sepenuhnya, perlahan-lahan. Dan aku berjanji… aku akan menjagamu lebih dari siapa pun. Sampai kau sadar, bahwa menyerahkan dirimu padaku adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidupmu.”
Aiden sedikit melepaskan pelukannya, lalu menatap wajah Alesha kembali dengan pandangan yang begitu dalam dan penuh keyakinan.
“Jadi, mulai sekarang, jangan pernah berpikir untuk menjauh lagi, ya? Jangan pernah mencoba melawan lagi. Karena setiap kali kau melakukannya, kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan menyakiti hatiku. Dan kita tidak ingin hal itu terjadi lagi, bukan?”
Alesha menatapnya, napasnya tersendat di tenggorokan. Di satu sisi, hatinya berteriak menolak. Namun di sisi lain, tubuhnya yang baru saja terlepas dari penderitaan itu seakan memberi jawaban lain — bahwa menurut berarti aman, menurut berarti nyaman, menurut berarti dicintai dengan cara yang tak pernah ia kenal sebelumnya. Dan di tengah kebingungan yang melanda jiwanya, tanpa sadar kepalanya perlahan mengangguk pelan. Sebuah anggukan yang kecil, penuh keraguan, namun tetap saja sebuah persetujuan.
Melihat itu, senyum Aiden melebar ,senyum yang memancarkan kebahagiaan tulus sekaligus kepuasan yang tak terlukiskan. Ia kembali menarik Alesha ke dalam pelukannya, erat dan penuh rasa memiliki, seolah ingin menyatukan kedua tubuh mereka menjadi satu.
“Bagus gadis manis ku,yang cantik dan penurut,” bisiknya penuh kasih sayang. “Dari detik ini, kau adalah milikku seutuhnya. Dan aku adalah milikmu. Tidak ada lagi ragu, tidak ada lagi melawan. Kita akan hidup berdua selamanya. Kau lihat saja nanti… kau akan berterima kasih padaku suatu hari nanti. Karena akulah yang menyelamatkanmu dari dunia yang kejam itu. Dan akulah yang akan membuatmu bahagia, selamanya.”
Alesha memejamkan matanya rapat-rapat di dalam pelukan itu, membiarkan air matanya kering dengan sendirinya. Ia tahu, ia baru saja melangkah masuk lebih dalam lagi ke dalam jaring yang perlahan-lahan menyelimutinya. Dan entah sejak kapan, ia mulai merasa tak lagi memiliki kekuatan untuk menarik diri keluar.
Sore pun berganti menjadi malam. Aiden tidak pergi begitu saja. Ia tetap duduk di tepi tempat tidur, menemani Alesha beristirahat, sesekali menyisir rambut gadis itu dengan jemarinya, bercerita tentang hal-hal kecil — tentang bunga mawar di taman yang akan mekar sempurna esok hari, tentang langit yang cerah dan udara segar yang akan mereka hirup bersama, tentang masa depan yang ia bangun sendiri untuk mereka berdua. Setiap kata yang terucap adalah benang-benang halus yang perlahan melilit pikiran Alesha, menyusun keyakinan baru bahwa memang, hanya dengan menyerahkannya segalanya kepada Aiden, hidupnya akan menjadi sempurna.
Dan Alesha hanya mendengarkan dalam diam, menatap wajah pria di hadapannya yang tampak begitu tulus mencintainya sekaligus begitu pasti memilikinya. Di dalam hatinya, pertarungan itu masih berlangsung — namun ia mulai menyadari satu hal yang paling menakutkan: pertarungan itu kini perlahan-lahan mulai kehilangan maknanya. Karena setiap kali ia berniat melawan, tubuhnya teringat rasa sakit. Dan setiap kali ia memilih diam, hatinya merasakan kehangatan.
Dan itulah yang paling ditakuti Alesha, bahwa suatu hari nanti, rasa hangat itu akan mengalahkan segalanya. Bahwa ia akan lupa bagaimana rasanya berdiri sendiri. Bahwa ia akan akhirnya percaya sepenuhnya pada kata-kata Aiden, hingga tak ada lagi ruang tersisa untuk pendapatnya sendiri.
Sementara itu, Aiden menatap wajah Alesha yang mulai terlelap perlahan karena kelelahan dan obat yang bekerja. Di matanya, tak ada sedikit pun keraguan. Ia tahu ia sedang memenangkan pertempuran yang paling penting dalam hidupnya. Batu fondasi itu sudah terpasang kokoh. Dan dinding-dinding penjara yang ia bangun dengan nama cinta itu, kini mulai menutup rapat, menyisakan hanya satu jalan keluar , yaitu mencintainya kembali, dengan segenap jiwa dan raga, selamanya.
Beberapa Hari Kemudian
Sinar matahari pagi menembus tirai jendela yang sedikit terbuka, menyinari lantai kamar yang senyap. Alesha duduk di kursi roda di depan kaca jendela kamar yang terlihat ke luar,dengan baju kaus pink dan rok setengah paha berwarna hitam ber lipit ,dengan rambut yang di kepang menjadi dua,terlihat begitu mengemaskan, itu semua Aiden yang lakukan mulai dari memakai kan pakaian dan mengepang rambut,seperti nya Aiden begitu sangat belajar cara merawat gadis kecil ke sayang nya itu.
Alesha menatap keluar ke arah halaman luas yang terlihat dari kaca namun ia tahu, di balik setiap sudut pagar tinggi itu, di dekat setiap pohon, bahkan di koridor di luar pintunya, selalu ada pasang mata yang tak pernah berhenti mengawasi.
Sudah tiga hari sejak ia mengangguk pelan di pelukan Aiden. Dan selama itu pula, tak ada satu pun kesempatan baginya untuk bergerak sendirian. Setiap kali ia ingin turun dari tempat tidur, dua pengawal berbadan tegap akan segera muncul di ambang pintu, dengan sikap sopan namun tak bisa dibantah, menyarankan agar ia tetap beristirahat karena kakinya belum pulih. Bahkan saat ia hanya ingin mengambil air minum di meja samping tempat tidur, salah satu pengawal itu akan maju duluan, menuangkannya dengan hati-hati dan menyodorkan gelas ke tangannya.
Dulu hal ini pasti akan membuatnya marah, berteriak, atau mencoba mencari celah untuk lari. Tapi sekarang? Ia hanya diam. Rasa sakit yang dulu ia rasakan saat mencoba melawan masih terbayang jelas di ingatannya, ditambah kelelahan jiwa yang tak kunjung usai. Perlahan, rasa ingin berjuang itu menguap—digantikan kepasrahan yang dingin, seolah tubuh dan pikirannya sudah terbiasa diatur tanpa perlu ia memutuskan apa pun lagi.
Pintu kamar terbuka perlahan, dan Aiden masuk. Ia sudah mengenakan setelan jas kerja yang rapi, dasi yang terpasang sempurna, dan aroma wangi khas tubuhnya yang selalu sama.langkah kakinya berhenti tepat di depan Alesha ,Aiden pun membungkuk kan tubuh nya mensejajarkan posisi duduk gadis kecil nya,yang sangat gemas di mata Aiden,ingin sekali ini menggigit kedua pipi bulat Alesha.
“Bagaimana perasaanmu pagi ini, sayang hmm?” tanyanya lembut,Tangannya terulur menyentuh kening Alesha, memastikan suhu tubuhnya normal, sebelum beralih memeriksa perban di kakinya yang masih terpasang rapi. “Apakah ada rasa nyeri lagi?”
“Tidak, tidak terlalu sakit kak Aiden,” jawab Alesha pelan, suaranya datar tanpa emosi berlebih. Ia tidak lagi menatapnya dengan tatapan menantang atau penuh ketakutan seperti dulu kini matanya hanya tampak tenang, namun tenang yang terasa hampa.
Aiden tersenyum puas melihat perubahan itu. Ia mengusap pergelangan kaki Alesha dengan hati-hati, seolah takut menyakiti, namun matanya memancarkan keyakinan bahwa apa yang ia lakukan adalah benar.
“Bagus. Dokter bilang saraf kakimu butuh waktu lama untuk pulih sepenuhnya. Jadi jangan pernah mencoba memaksakan diri berdiri atau berjalan sendiri, ya? Kalau kau jatuh dan terluka lagi… aku tidak akan segan segan mematahkan kaki orang orang yang menjagamu di mansion ini hmm,” Ia mendekatkan wajahnya sedikit, menatap mata Alesha lekat-lekat. “Pengawal di luar akan menuruti semua kebutuhanmu. Makanan, obat-obatan,katakan saja, semuanya akan ada di sini dalam hitungan menit. Tapi jangan meminta untuk keluar dari kamar ini dulu, dan jangan mencoba berbicara dengan orang lain tanpa sepengetahuanku. Semuanya demi keselamatanmu.”
Alesha hanya mengangguk pelan. Ia tahu, bahkan jika ia memohon atau membantah, jawabannya akan tetap sama. Dan pengawal itu—mereka tidak hanya menjaganya dari bahaya luar, tapi juga memastikan ia tak pernah bisa melangkah keluar dari batas yang sudah ditetapkan Aiden.
“Ya, Alesha mengerti,” jawabnya singkat Alesha yang menatap Aiden dengan mata bulat nya, yang selalu membuat Aiden kalah
Melihat kepatuhan itu, senyum Aiden melebar. Ia mengecup punggung tangan Alesha sekilas, penuh rasa memiliki.
“Aku harus ke kantor sekarang. Ada beberapa urusan perusahaan yang harus aku selesaikan. Tapi jangan khawatir aku akan menghubungimu setiap jam lewat telepon kamar. Dan aku akan pulang lebih awal hari ini untuk menemani makan siangmu. Tidak ada yang boleh membuatmu kesusahan saat aku tidak ada di sini, Aiden pun mencium kening Alesha lembut setalah itu.
Ia berdiri, lalu menoleh sebentar sebelum melangkah keluar pintu. Tatapannya berubah menjadi tajam saat menatap dua pengawal yang berdiri tegak di koridor.
“Jaga dia dengan baik. Jangan biarkan dia kelelahan, jangan biarkan dia kesepian, dan pastikan dia tidak berusaha melakukan hal yang berbahaya pada kakinya. Jika ada sesuatu yang berubah ,sedikit pun segera hubungi aku. Aku tidak peduli seberapa sibuknya aku.”
“Siap, Tuan Aiden!” jawab mereka serempak dengan suara tegas.
Pintu tertutup rapat, meninggalkan Alesha sendirian di dalam kamar yang luas itu.
Bersambung
thank you yang sudah baca cerita oyen😊