Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*15
Di sisi lain, Irza pulang dengan wajah yang sangat cerah. Bibir indah yang sedikit tertarik, manik mata hitam bercahaya. Kedua orang tuanya yang sedang menunggu dengan cepat, langsung beranjak menuju pintu dengan cepat saat suara mobil anak mereka terdengar.
"Putra kita sudah pulang, Pa."
"Iya, Ma. Syukurlah. Anak itu akhirnya pulang juga."
"Iya. Lama banget dia pergi. Gak tau apa yang terjadi. Pergi sendirian lagi."
Terdengar omelan ringan dari mama Irza sambil berjalan menuju pintu. Saat anak mereka turun, yang pertama dilihat adalah kebahagiaan. Jauh dari apa yang sudah mereka pikir dan mereka bayangkan di rumah sebelumnya.
"Zha .... "
"Mama ... papa .... Kalian, belum tidur?"
"Gimana bisa tidur? Kamu belum pulang."
Belum sempat Irza menjawab apa yang baru saja mamanya katakan, papanya malah angkat bicara duluan. "Gimana, Za? Apa semua baik-baik saja? Apa yang terjadi di kediaman Asha? Semua ... baik-baik saja bukan?" Orang tua yang cemas, maklum. Bertanya saja berulang kali dengan kata yang sama.
Kekhawatiran kedua orang Irza terlihat dengan sangat jelas. Irza langsung menggenggam kedua tangan orang tuanya dengan lembut.
"Mah, Pah. Masuk dulu yuk. Aku akan ceritakan apa yang terjadi di kediaman Asha di dalam rumah biar gak kedinginan dan nyaman untuk bicara. Bagaimana?"
"Ee' kamu ini bikin mama penasaran terlalu lama, Za."
"Iya. Tapi apa yang kamu katakan juga benar. Ayo masuk."
"Yuk."
Irza menggandeng mama dan papanya masuk ke dalam. Sampai di ruang keluarga, mereka duduk di sofa dengan posisi Irza di tengah-tengah. Anak kesayangan keluarga Rahardi. Satu-satunya penerus yang bisa orang tuanya lahir kan.
Sebenarnya, ia dilahirkan dengan kondisi normal. Dari kecil juga ia bertingkah layaknya anak-anak pada umumnya. Hingga umur empat tahun, fisik Irza tiba-tiba melemah. Ia jadi lebih sering sakit-sakitan. Hingga pada suatu malam, Irza kecil mengalami serangan panas yang sangat tinggi, yang membuat panik kedua orang tuanya.
Dia di larikan ke rumah sakit. Namun, semuanya tidak cepat membaik. Irza butuh waktu berminggu-minggu untuk pulih. Saat setelah pulih, perbedaan itu terlihat walau tidak terlalu nyata. Faktor yang mengubah Irza jadi kemayu atau gemulai saat itu adalah kondisi fisiknya yang lemah. Entah bagaimana caranya, pria itu tumbuh dengan kondisi gemulai hingga saat ini.
Tidak bisa diubah walau orang tuanya telah mendidik ia dengan cara yang benar. Mungkin, ada beberapa hal yang memang hanya berjalan sesuai yang diinginkan, tidak bisa dipaksakan. Meskipun begitu, orang tua Irza masih sangat bahagia. Karena setelah melewati semua itu, anak mereka masih diberikan waktu untuk bersama dengan mereka hingga menginjak usia dewasa. Itu adalah anugerah yang Tuhan berikan buat mereka.
Kedua orang tuanya sangat menyayangi Irza. Tidak perduli dengan fisik, tidak menuntut untuk jadi seperti yang mereka inginkan. Hanya selalu berharap agar anak mereka bisa hidup dengan tenang dan selalu bahagia. Mendapatkan apa yang ia inginkan, menikmati hidup dengan baik. Hanya itu saja.
"Za. Katakan pada mama sekarang juga, apa yang sudah terjadi di kediaman keluarga Rahman sampai kamu pulang dengan ... iya, dengan wajah yang bahagia. Itu cukup membuat mama merasa semakin cemas, Za."
"Lho, kok makin cemas sih, Ma?"
"Ya iyalah. Gimana gak cemas, Irza? Mama takut kamu tiba-tiba .... "
"Jangan mikir yang enggak-enggak, Mama ....
Anak mama bahagia, harusnya mama juga bahagia kan?"
"Tentu saja mama bahagia. Hanya saja, mama gak mau kalo ternyata, sebenarnya kamu gak bahagia. Hanya terlalu terpukul sampai berubah ekspresi. Terlalu sedih, jadinya terlihat bahagia. Jangan sampai tertukar begitu, tolonglah, mama udah gak kuat buat mikir."
Irza langsung tersenyum saat mendengar ocehan sang mama. Sejujurnya, ia cukup bingung dengan apa yang baru saja mamanya bicarakan. Walau begitu, ia cukup mengerti akan satu hal, mamanya sedang khawatir. Itu saja.
"Ma, Pa. Saat ini, aku memang bahagia. Atau mungkin bisa di bilang, sangat-sangat bahagia."
Sang mama menatap Irza dengan tatapan bingung. Sedangkan papanya, menunggu penjelasan dengan sabar.
"Maksudnya ... kamu bahagia?"
"Iya."
"Tungguin dia menjelaskan dulu, Ma. Sabar sebentar. Kalo kamu terus bertanya, kita gak akan tahu apa yang terjadi dengan anak kita di kediaman keluarga Rahman."
"Iya. Tapi mama udah gak sabar lagi lho, Pah. Penasaran banget apa yang sudah Irza lalui di sana. Huh ... kalo aja mama bisa ikut tadi, pasti mama bisa lihat semuanya. Apa yang sudah anak mama lalui, mama bisa tahu segalanya."
Irza tersenyum lebar. "Jika mama pergi, mungkin akhirnya gak akan seperti ini, Ma. Akhirnya mungkin akan berbanding terbalik dengan apa yang aku alami malam ini."
"Zha ... katakan sekarang, apa yang terjadi. Mama ingin tahu semuanya."
Irza lagi-lagi tersenyum.
"Malam ini, aku tidak membatalkan perjodohan antara aku dan Asha. Melainkan, aku telah berteman dengannya."
Sontak, kedua orang tua Irza saling bertukar tatapan bingung. Penjelasan Irza cukup untuk membuat pikiran kedua orang tuanya bekerja dengan sangat keras.
"Apa ... maksudnya? Kamu gak membatalkan perjodohan, tapi kamu malah berteman."
"Iya, Za. Gimana ceritanya ini? Kami gak ngerti sedikitpun."
Lagi, anak itu tersenyum. Senyum yang sebelumnya adalah hal yang sangat langka. Tapi sekarang, malahan sangat mudah dilihat. Itu adalah hal yang cukup aneh sebenarnya.
"Ma, Pa. Gini lho maksudnya .... "
Irza menjelaskan dengan lembut secara perlahan apa saja yang telah ia lalui sebelumnya di rumah Asha. Perlahan, bersama penjelasan yang masuk ke telinga, ekspresi kedua orang tua Irza juga berubah. Ekspresi bingung yang awalnya mereka perlihatkan, kini berubah menjadi lega dan bahagia.
"Jadi, Asha terima kamu untuk jadi suaminya walau secara tidak langsung?"
"Papa ngomong apa sih? Secara tidak langsung apanya? Itu sudah jelas-jelas di terima. Mana ada secara tidak langsung," ucap si mama agak kesal tapi bahagia.
"Mungkin belum diterima sebagai suami, Ma, Pa. Tapi setidaknya, perjodohan ini tidak dibatalkan. Sha meminta perjodohan dilanjutkan walau dengan alasan yang tidak cukup memuaskan hati ku. Tapi setidaknya, ini adalah kabar yang sangat membahagiakan buat aku."
"Pertemuan malam ini, adalah hal yang paling indah yang bisa aku dapatkan. Asha siap berteman dengan ku walau masih terlihat agak berat hati."
"Iya, aku tahu. Dia memang butuh waktu untuk terima pria seperti aku hadir dalam hidupnya. Semua memang gak akan mudah. Tapi aku yakin, aku bisa yakini Asha, kalau aku punya rasa yang tulus buat dia. Aku juga bisa bikin dia nyaman walau aku punya banyak kekurangan."
Sang mama langsung memeluk anaknya.
"Kamu memang luar biasa, Za. Kamu anak yang sangat tangguh. Mama bangga sama kamu, nak."
"Papa juga. Teruslah berusaha. Perlihatkan pada dunia, kalau kamu pria yang luar biasa, Za. Kamu bisa. Kamu mampu, Nak."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi