Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekpektasi Yang Runtuh
Althaf merasa bersalah melihat perubahan sikap Diantha setelah ia melontarkan kalimatnya tadi..
Sedangkan Sari dan Rian hanya bisa saling melempar tatap tanpa tau harus berkata apa untuk memperbaiki situasi yang kian terasa kaku..
"Aku pulang duluan ya, kalian lanjut aja" ucap Diantha sembari berpura-pura baik baik saja, ia memasang senyum yang di paksakan..
"Mau aku antar nggak ?" tanya Rian setelah melihat Althaf yang diam saja tak berinisiatif untuk mengantar Diantha pulang seperti biasanya..
Ya.. Selama ini Althaf lah yang selalu mengantar Diantha pulang setelah mereka nongkrong dirumah Sari, Pak Alfian dan Ibu Alisa juga sudah mengenal Althaf dan mereka senang karena melihat Althaf sebagai teman anaknya yang cukup bertanggung jawab selalu memastikan Diantha pulang kerumah dengan selamat..
Sepanjang jalan pulang, kata-kata "Kamu coba aja dulu, Tha..." terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyiksa.
Dadanya sesak luar biasa. Diantha merasa bodoh. Sangat bodoh.. Ternyata selama ini ia terlalu percaya diri. Perhatian-perhatian kecil Althaf mulai dari es cokelat dengan es yang sedikit, porsi mi yang selalu dilebihkan, hingga tatapan hangat yang selalu menenangkannya, ternyata tidak berarti apa-apa..
Bahkan caranya bertanggung jawab mengantarnya pulang setelah mereka nongkrong, hanyalah perhatian biasa layaknya sahabat..
Aku yang kepedean, batinnya miris...
Ternyata dia cuma anggap aku sahabat..
Dia nggak pernah punya rasa yang sama..
Diantha melangkah masuk ke rumah dengan tubuh lemas dan langkah gontai. Tas sekolah yang mengikat di bahunya terasa seribu kali lebih berat dari biasanya..
Di ruang tengah, Alif, adiknya yang sudah berada dirumah lebih dulu sedang asyik menonton kartun sambil memakan camilan..
Sementara Ibu Alisa, Mamahnya, baru saja keluar dari arah dapur membawa segelas air..
Melihat ekspresi putrinya yang sangat tak bergairah, muka ditekuk, dan tatapan mata yang kosong, langkah Ibu Alisa terhenti..
"Nak? Baru pulang?.." panggil Ibu Alisa heran..
"Kok mukanya lesu banget? Capek ya?"..
"Kak Diantha kenapa, Mah? Lucu banget jalannya kayak zombie," celetuk Alif polos sambil menoleh dari layar TV.
Diantha bahkan tidak memiliki energi untuk membalas celetukan adiknya atau tersenyum pada Mamahnya..
"Capek, Mah. Diantha mau langsung istirahat," sahut Diantha singkat, suaranya terdengar sangat serak dan pelan.
Tanpa menunggu balasan lagi, Diantha berjalan menuju kamar..
Klik..
Ia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, memotong seluruh akses dari dunia luar.
Ia melempar tasnya sembarangan ke lantai, lalu menjatuhkan tubuhnya di atas kasur empuk. Diantha berbaring terlentang, menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang putih polos..
Di dalam keheningan kamar yang sepi, benteng pertahanannya akhirnya pecah. Air mata yang sejak di teras rumah Sari ia tahan mati-matian, kini menetes perlahan menelusuri pelipisnya, membasahi bantal..
Bayangan saat Althaf menyuruhnya memberi kesempatan pada Reyhan kembali terngiang.
"Kalau kamu emang nggak nyaman, setidaknya kamu udah kasih kesempatan..."
Diantha memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan dadanya bergemuruh oleh kombinasi rasa sakit, kecewa, dan marah..
Ia kecewa pada Althaf yang begitu mudah merelakannya pada cowok lain.
Tapi yang paling menyakitkan dari segalanya adalah kenyataan bahwa ia mungkin akan pura-pura membuka hati untuk Reyhan... hanya demi membuktikan pada Althaf bahwa perkataannya benar-benar membedah lukanya sendiri..
"Baiklah, aku akan menerima Kak Reyhan, kita akan lihat, siapa yang akan lebih sakit".. Ucap Diantha berusaha meyakinkan diri untuk melakukan seperti yang Sari dan Althaf inginkan darinya..