Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Namun, alih-alih ikut melontarkan ejekan bersama ibu dan adiknya, William justru menatap Darius dengan raut wajah penuh penasaran.
"Kak Darius... jika Kakak butuh kendaraan, aku bisa meminta sopir pribadi keluarga untuk mengantar Kakak," ujar William dengan tulus.
Darius tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan kepada William, lalu melangkah santai menuju area parkir bagian samping halaman mansion.
Di sana, sebuah sedan Mercedes-Maybach S-Class berwarna hitam mengilap terparkir anggun di bawah sorotan lampu taman. Lapisan bodinya memancarkan pesona kemewahan kelas atas.
Darius mengeluarkan kunci dari sakunya, menekan tombol un-lock, dan seketika lampu LED depan sedan mewah itu menyala dengan gerakan futuristik yang memukau.
Mata Miranti Adhitama seketika terbelalak. Kiara dan Savina sampai melangkah beberapa tindak ke depan dengan mulut sedikit terbuka karena terkejut.
"I-Itu Mercedes-Maybach S-Class keluaran terbaru?" bisik Savina dengan napas tertahan, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tuan Besar Hardiman yang melihat hal tersebut pun menyipitkan matanya. Rasa heran dan curiga mendalam menyelimuti pikirannya.
Dari mana seorang pemuda yang baru kembali dari kota kecil mendapatkan akses ke sedan super mewah yang biasanya hanya dikendarai oleh para taipan kelas atas?
William menatap mobil itu dan Darius bergantian dengan mata berbinar-binar penuh ketakjuban. "Wah... Kak Darius, mobil ini sungguh luar biasa! Kapan Kakak menyiapkannya?"
"Hanya mobil pinjaman dari seorang teman lama, William," jawab Darius seraya menoleh ke arah William yang berdiri tak jauh darinya.
Ketika seluruh anggota keluarga masih tenggelam dalam rasa penasaran, hanya Surya Adhitama yang tampak tenang. Ia sudah mendengar penjelasan Darius sore tadi bahwa mobil itu hanya pinjaman dari seorang teman.
Tuan Besar Hardiman kemudian menghela napas panjang, mencoba menguasai rasa heran dan penasaran di dadanya.
Walau matanya masih terpaku pada mobil Mercedes-Maybach hitam itu, ia buru-buru memalingkan wajah dan menepuk tongkat kayunya.
"Sudah, jangan buang-buang waktu lagi!" tegas Tuan Besar Hardiman dengan suara yang berat. "Kita tidak boleh datang terlambat."
Miranti Adhitama menyilangkan tangan di dada, membuang muka dengan penuh kejengkelan meski matanya masih sempat melirik iri pada mobil yang dikendarai Darius.
"Huh, paling-paling teman jalanannya yang menyewa mobil itu hanya untuk gaya-gayaan," ucapnya penuh prasangka pada kedua putrinya.
Kiara dan Savina mengangguk setuju walau tatapan takjub mereka tak sepenuhnya bisa disembunyikan.
Mereka berdua segera melangkah menyusul sang ibu menuju sedan mewah keluarga yang sudah dibukakan pintunya oleh pengawal.
"Ayo masuk, Kiara, Savina," ajak Miranti Adhitama seraya masuk terlebih dahulu. Kedua putrinya mengikuti dan menutup pintu dengan rapat.
Di sisi lain, Surya Adhitama membukakan pintu mobil untuk Tuan Besar Hardiman. Setelah sang Tuan Besar duduk, ia ikut masuk dan duduk di samping ayahnya.
Sementara itu, William menyunggingkan senyum hangat yang penuh ketulusan kepada Darius. Dia sama sekali tidak menyimpan rasa iri terhadap kakak tirinya.
"Kak Darius hati-hati di jalan ya. Jangan sampai terpisah dari rombongan," ujar William dengan nada ramah penuh perhatian.
Ia lalu menoleh ke arah Violetta yang berdiri dengan tenang di sampingnya. "Ayo, Sayang, kita masuk ke mobil."
Violetta hanya mengangguk pelan, lalu memberikan tatapan sekilas yang sulit diartikan ke arah Darius sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil.
William memutar ke sisi pengemudi, membuka pintu, lalu melambaikan tangan singkat ke arah Darius sebelum menyusul masuk.
Setelah seluruh anggota keluarga masuk ke dalam kendaraan masing-masing, iring-iringan mobil Keluarga Adhitama perlahan bergerak melintasi gerbang utama.
Darius membuka pintu Mercedes-Maybach hitamnya, lalu masuk ke dalam dan mulai menyalakannya. Ia memutar kemudi dan membawa mobilnya itu mengekor di barisan belakang konvoi.
Iring-iringan mobil Keluarga Adhitama membelah jalanan Ibukota menuju The Imperial Hotel. Salah satu hotel bintang lima yang menjadi simbol status kalangan kelas atas.
Dua puluh menit kemudian, konvoi mobil memasuki pelataran The Imperial Hotel. Petugas valet parking berseragam rapi dengan sigap menyambut dan membukakan pintu bagi para tamu.
Saat Darius melangkah keluar dari mobil Maybach hitamnya, aura dingin dan ketenangan yang dipancarkannya seketika menarik perhatian beberapa tamu elit yang berada di area lobby.
"Ayo, tetap bersama rombongan," tegur Miranti Adhitama dengan nada dingin saat melihat Darius berjalan santai di belakang.
Tuan Besar Hardiman melangkah paling depan didampingi Surya Adhitama. William, Violetta, Savina, Kiara, serta Miranti Adhitama berjalan beriringan.
Mereka semua kemudian menuju lift yang membawa mereka langsung ke ruangan VIP di lantai atas.
Tak lama kemudian, pintu lift terbuka, menyajikan ruang perjamuan yang megah. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit, membiaskan cahaya ke atas meja.
Di tengah ruangan, seluruh anggota Keluarga Atmadja sudah hadir dan duduk menanti.
Di posisi paling terhormat duduk Tuan Besar Gandhi Atmadja, kepala keluarga legendaris yang memiliki pengaruh di dunia bisnis dan politik.
Di sampingnya, duduk Argani Atmadja dan Widuri Atmadja, kedua orang tua Adelina. Di sebelah Argani, tampak Rendra Atmadja, kakak laki-laki Adelina yang dikenal kaku dan berdisiplin tinggi.
Di sisi lain meja, hadir paman Adelina, Wisnu Atmadja, bersama istrinya, Hartini Atmadja, serta kedua anak mereka, Shinta dan Yudha Atmadja.
Dan tepat di tengah-tengah mereka, duduk seorang wanita dengan gaun malam berwarna merah marun yang sangat menawan. Dialah Adelina Atmadja.
"Selamat malam, Gandhi," sapa Tuan Besar Hardiman seraya melangkah mendekati meja.
Tuan Besar Gandhi seketika bangkit berdiri dengan menyunggingkan senyum formal yang kaku. "Selamat malam, Hardiman. Silakan duduk."
Suasana di ruangan itu mendadak terasa begitu pekat dan sarat akan ketegangan. Meskipun perjamuan ini digagas untuk menjajaki perjodohan, hubungan di balik layar tidaklah sesederhana itu.
"Jadi..." Argani Atmadja memandang rombongan Keluarga Adhitama, matanya lalu tertuju pada Darius. "...inilah pemuda yang baru kalian bawa kembali dari luar kota itu?"
Wisnu Atmadja, menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan. "Apakah dia mengerti tata krama perjamuan kelas atas seperti ini?"
Shinta dan Yudha Atmadja saling berbisik sambil melirik Darius. Di sisi lain, Rendra menatap Darius dengan wajah datar, mencoba mengukur calon adik iparnya itu.
Miranti Adhitama merasa tersindir oleh ucapan Wisnu Atmadja, namun ia hanya bisa tersenyum kaku. Surya Adhitama hendak angkat bicara, namun Tuan Besar Hardiman buru-buru memotong.
"Darius memang tumbuh di luar Ibukota, tapi dia adalah bagian dari Keluarga Adhitama," tegas Tuan Besar Hardiman berusaha menjaga harga diri keluarganya.
Adelina Atmadja perlahan mengangkat pandangannya. Matanya yang begitu indah menatap Darius secara langsung. Dalam hatinya, ia merasa sangat muak dengan perjodohan ini.
Namun, saat kedua mata Adelina bertabrakan langsung dengan sorot mata Darius, jantungnya mendadak berdesir dengan aneh.
Pria berkemeja putih dan berjas hitam itu sama sekali tidak menunjukkan raut tegang, canggung, atau terintimidasi oleh kemewahan dan tatapan menekan dari seluruh Keluarga Atmadja.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya