NovelToon NovelToon
Masih Ada Esok?

Masih Ada Esok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Duda / Penyelamat
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Tabina Lutfi

Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.

Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.

Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluarga

Setelah membalas pesan Kino, Lily langsung membuka chat dengan Ell.

📱 ADEKK 🦕📱

^^^Dek -^^^

- Iya, Kak?

^^^Kamu yang kasih nomor Kakak ke Kino ya? -^^^

- Iya, Kak

- Tadi dia bilang mau minta nomor Kak Lily

- Ya udah Ell kasih aja

Lily menghela napas pelan.

^^^Kenapa nggak izin dulu sama Kakak? -^^^

Beberapa detik kemudian...

- Maaf, Kak

Melihat balasan itu, rasa kesal Lily langsung menghilang.

^^^Iya, Kakak maafin -^^^

Tapi besok-besok kalau ada orang yang minta nomor Kakak, Ell harus izin dulu ya

^^^Kalau Kakak udah ngizinin, baru boleh dikasih^^^

- Maafin Ell ya, Kak

- Kakak nggak marah, kan?

Lily tersenyum tipis.

^^^Enggak, adek manis -^^^

^^^Udah malam, tidur gih -^^^

- Iya, Kak.

- Selamat tidur, Kak Lily. 🤗

^^^🩷🩷 -^^^

📱 Kino temennya adek📱

- Kakak lagi ngapain?

^^^Lagi ngerjain tugas -^^^

- Kak...

- Besok kita jalan-jalan yuk, Mumpung libur

- Tadi aku ngajak Ell, terus Ell mau

- Tapi kata Ell nggak boleh jalan-jalan sendiri. Katanya harus ada kakak yang nemenin.

^^^Pagi atau sore? -^^^

- Sore aja nggak apa-apa, Kak

Lily terdiam sesaat. Ia teringat besok sore sudah berjanji menemani Owen ke perpustakaan.

^^^Maaf ya, Kakak nggak bisa -^^^

^^^Besok sore Kakak pergi sama Kak Owen -^^^

- Yahhh....

- Kalau gitu besok pagi aja, Kak

- Tapi kalau aku sama Ell belum bangun, besok pagi dibangunin ya

^^^Iya -^^^

- Selamat malam, Kak Lily

^^^Malam Kino -^^^

Lily menaruh ponselnya di atas nakas. Belum sempat memejamkan mata, sebuah notifikasi grup keluarga kembali berbunyi.

📱 Keluarga sayang mami 📱

ADEKK 🦕: Besok kita jalan-jalan yuk, Kak Lily

^^^Iya, Dek : Lily^^^

Bang Rafa : Ikut dong

ADEKK 🦕: Asyik! Bang Rafa ikut!

ADEKK 🦕: Ayo semuanya ikut

Ade tiri : Ogah ah, males gue

Ade tiri : Besok temen-temen gue mau main ke sini

kak owen 🌱🌺 : Temenmu ke sini pagi?

Ade tiri : Agak siangan sih

^^^Lily :^^^

^^^Kalau gitu lo harus ikut jalan-jalan juga, Wapa^^^

Ade tiri : Nama gue W-a-f-a

Ade tiri : Bukan Wapa

Bang Rafa : Sama aja kali

Ade tiri : Beda, Rapa

Ade tiri : Rapa kalau ditambah huruf T jadi apa?

Ade tiri : Jadi Rapat

Ade tiri : Awokawok

Bang Rafa : Kurang ajar lu

kak Owen 🌱🌺: Weee 🤣

kak Owen 🌱🌺: Dijaga ketikannya

Papi 💸: Wafa, gue potong uang saku lu

Bang Rafa : Syukurin

Ade tiri : Yah, Pih....

Ade tiri : Bercanda doang

Grup kembali ramai oleh balasan emoji tertawa. Tak lama kemudian, Jaya kembali mengirim pesan.

Papi 💸 : Udah, udah

Papi 💸 : Rame banget sih

Papi 💸 : Besok pagi Papi harus pergi ke luar kota, pulangnya sore

^^^Ih, Pih : Lily^^^

^^^Papikan dititipin Kino : Lily^^^

^^^Kenapa malah Papi yang pergi? : Lily^^^

Ade tiri : Iya tuh.

Ade tiri : gimana sih tua

Papi 💸: Maaf ya, anak-anak

Papi 💸: Papi juga baru dapat jadwal mendadak

kak Owen 🌱🌺: Iya, Pih.

kak Owen 🌱🌺: Nggak apa-apa, tenang aja ada Kakak kok

Papi 💸: Papi titip adik-adik ya, Kak

Papi 💸: Cuma Kakak yang bisa Papi percaya

Melihat pesan itu, Lily langsung mengerucutkan bibir.

^^^Oh... : Lily^^^

^^^Cuma Kak Owen ya, Pih? : Lily^^^

^^^Jadi Lily nggak bisa dipercaya, nih? : Lily^^^

Papi 💸: Ihh... Dia ngambek

Papi 💸: Lily sayang, Papi titip Adek Ell ke kamu ya

Ade tiri : Gitu doang baper elah,,

Lily hanya membalas pesan Wafa dengan emoji menjulurkan lidah.

Papi 💸: Udah malam, pada tidur gih.

^^^Iya, Pih : Lily^^^

^^^Kayaknya Ell udah tidur : Lily^^^

^^^Selamat istirahat semuanya : Lily^^^

Kak Owen 🌱 🌺: Mimpi indah semuanya.

Lily meletakkan ponselnya di samping bantal. "Besok pasti seru," gumamnya pelan sebelum akhirnya memejamkan mata.

 

Keesokan Harinya pukul enam pagi, suasana di rumah tengah masih diselimuti udara dingin. Cahaya matahari mulai menyelinap masuk melalui celah-celah jendela, menerangi ruang keluarga yang perlahan mulai dipenuhi aktivitas.

Jaya telah bersiap dengan pakaian kerjanya. Setelah memastikan semua keperluannya lengkap, ia menghampiri Owen dan Lily yang sedang duduk di ruang makan.

"Papi berangkat ya, jagain adik-adiknya" pesan Jaya kepada Owen sambil menepuk pelan bahunya. "Kalau pergi, jangan lupa pintu rumah dikunci."

"Iya, Pih," jawab Owen mengangguk.

Jaya kemudian beralih menatap Lily. Senyum hangat terukir di wajahnya sebelum ia mengecup lembut puncak kepala gadis itu.

"Kalau begitu, Papi berangkat."

"Hati-hati, Pih!" seru Lily sambil melambaikan tangan.

Jaya membalas lambaian itu dengan senyum tipis sebelum melangkah keluar rumah. Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar menjauh, menandakan ia benar-benar telah berangkat.

Owen mengembuskan napas pelan, lalu menoleh kepada Lily. "Dek, tolong bangunin anak-anak, ya. Kakak mau bikin sarapan dulu."

"Siap, Kak," jawab Lily semangat.

Tanpa membuang waktu, Lily segera menaiki tangga menuju lantai dua. Lorong rumah masih sunyi. Ia berjalan ke kamar pertama yang berada di dekat tangga.

Kamar Wafa.

Lily sudah tahu, membangunkan Wafa adalah misi paling sulit setiap pagi.

Ia membuka pintu perlahan, lalu menghampiri ranjang tempat Wafa masih meringkuk di balik selimut.

"Wafa... bangun!" ucap Lily sambil menggoyang pelan bahu Wafa.

"Hmm... lima menit lagi..." gumam Wafa dengan mata yang masih terpejam rapat.

Lily menghela napas panjang. "Buruan bangun. Habis itu sarapan. Kita mau jalan-jalan, loh."

Namun, Wafa sama sekali tidak bergeming. Bahkan napasnya kembali terdengar teratur, seolah sudah tertidur lagi.

Lily memutar bola matanya kesal.

"Oke... jangan salahin gue", Tanpa ragu, ia menjepit kedua lubang hidung Wafa.

Beberapa detik kemudian...

"Hah—!"

Wafa langsung tersentak bangun sambil menarik napas panjang.

"Mau bunuh gue, lu?!" bentaknya dengan wajah kesal.

Lily malah terkekeh pelan. "Lagian, lo susah banget dibangunin. Buruan turun, sarapan udah mau siap."

Selesai berkata begitu, Lily langsung keluar dari kamar sebelum Wafa sempat membalas omelannya.

Ia berjalan menuju kamar berikutnya yang berada tepat di sebelah kamar Wafa.

Tok... tok... tok...

"Dek, bangun. Udah jam enam."

Tak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam. Ternyata yang membukanya adalah Kino, yang sudah rapi meski rambutnya masih sedikit berantakan.

"Kita udah bangun, Kak. Ell lagi di kamar mandi, cuci muka," jelas Kino.

"Oke. Kalau Ell udah selesai, langsung turun buat sarapan, ya."

"Iya, Kak."

Lily mengangguk, lalu kembali melangkah menyusuri lorong menuju kamar terakhir di ujung lantai dua. Kamar dengan pintu berwarna hitam yang selalu tertutup rapat.

Baru beberapa langkah berjalan, suara Kino kembali memanggilnya.

"Bentar, Kak."

Lily menghentikan langkahnya dan menoleh. "Kenapa, Dek?", tanya Lily.

Kino tampak menggaruk tengkuknya, sedikit ragu untuk bertanya.

"Kakak... punya pacar?"

Pertanyaan itu membuat Lily mengedip beberapa kali. Ia menatap Kino dengan wajah heran, lalu tersenyum tipis.

"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

Suasana pagi yang tadinya tenang mendadak terasa sedikit canggung. Kino hanya tersenyum kecil, seolah memang sudah lama ingin menanyakan hal itu.

Belum sempat Lily menjawab pertanyaan Kino, tiba-tiba sebuah suara menyela dari belakang.

"Pakai nanya? Ya jelas enggak lah, No. Mana ada cowok yang bakal suka sama Lily."

Wafa muncul dengan rambut masih acak-acakan. Ia menyeringai lebar sebelum tertawa keras, seolah baru saja melontarkan lelucon paling lucu pagi itu.

"Hahaha!"

Kino langsung mengernyit tidak setuju. "Pasti ada lah, Bang. Kak Lily itu baik, perhatian... terus cantik juga."

Ucapan itu membuat pipi Kino perlahan memerah hingga semerah tomat. Ia bahkan menghindari tatapan Lily karena malu dengan perkataannya sendiri.

Sementara itu, Lily hanya terdiam. Ia sama sekali tidak menyangka Kino akan mengatakan hal seperti itu. Suasana yang tadinya sudah canggung bertambah semakin canggung lagi.

Di sisi lain, Wafa masih tertawa tanpa henti.

"Hahaha... No, No... selera lo unik juga."

"Udahlah, kalian turun sana," ucap Lily sambil mendorong pelan tubuh Wafa menuju tangga.

Belum sempat Wafa membalas, terdengar suara kecil dari dalam kamar.

"Kak Lily... Ell laper...", Ell keluar dari kamar sambil mengusap matanya yang masih mengantuk. Kedua tangannya memegangi perut yang terasa kosong.

Lily tersenyum lembut.

"Ade bayi lapar, ya? Sana turun. Kak Owen udah masak sarapan."

"Oke, Kak," jawab Ell ceria.

Tak lama kemudian, Wafa, Kino, dan Ell berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.

Lorong lantai dua kembali sunyi. Kini hanya Lily seorang diri yang masih berdiri di sana. Pandangannya beralih ke pintu kamar paling ujung.

Kamar Rafa.

Langkahnya terasa berat. Entah mengapa, setiap kali berada di depan kamar itu, dadanya selalu dipenuhi rasa gugup. Lily menarik napas panjang sebelum akhirnya mengetuk pintu perlahan.

Tok... tok... tok...

"Bang Rafa..."

Panggilannya terdengar pelan dari balik pintu. Namun, tidak ada jawaban. Lily kembali mengetuk.

"Bang..."

Tetap hening.

Ia menundukkan kepala sambil mengembuskan napas pelan.

"Kok gue jadi takut gini, ya? Huh... tenang, Lily. Kemarin kan kita udah saling minta maaf..."

Pikiran Lily perlahan kembali pada kejadian waktu itu.

 

Flashback

Malam hari, pukul 20.00 WIB

"Wafa! Balikin, nggak!", Lily berteriak sambil mengejar Wafa yang berlari mengelilingi ruang tamu.

Di tangan Wafa terdapat sebuah kamera tua peninggalan mami yang sengaja ia ambil untuk menggoda Lily.

"Wafa! Kamu ini suka banget cari gara-gara sama kakak cewekmu, ya?", tegur Jaya dari sofa.

Wafa hanya menoleh sambil tertawa jahil. "Ayo kejar gue, Ly! Lo lambat banget!"

"Liat aja nanti!", Lily terus mengejar tanpa memedulikan keadaan sekitar.

Tiba-tiba...

Wafa berhenti mendadak. Dan karena terlalu fokus mengejarnya, Lily tidak sempat mengerem langkah.

Brukk!

Tubuh Lily menabrak punggung Wafa. Membuat keduanya langsung terjatuh ke lantai.

Bruuuk!

Gruduk!

Suara benda keras ikut terjatuh.

"Aduh... bokong gue...", Wafa meringis sambil berusaha bangkit.

Lily juga mengusap kepalanya yang sedikit terbentur.

Namun, sebelum keduanya sempat berdiri, sebuah suara dingin terdengar. "Kalian bisa nggak sih, jangan bercanda mulu?"

Rafa berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya tajam mengarah kepada Lily dan Wafa.

"Nggak", Jawaban santai Wafa justru membuat wajah Rafa semakin gelap.

"Wafa...", Rafa mengusap wajahnya kasar, berusaha menahan emosi. "Helm gue jadi rusak... dan ini gara-gara kalian berdua."

Barulah Lily menyadari. Helm milik Rafa terjatuh dari atas meja dan kini tergeletak di lantai dengan bagian kaca pelindung yang retak.

"Maaf, Kak... kita nggak sengaja," ucap Lily penuh penyesalan.

"Sengaja atau nggak, tetap aja helm gue rusak!" bentak Rafa.

Wafa malah mengangkat bahu. "Halah... helm doang."

"HELM DOANG, KAMU BILANG?!", Suara Rafa menggema memenuhi ruang tamu.

Semua orang langsung terdiam.

"Udah, Bang. Jangan marahin adik-adiknya. Nanti Papi beliin yang baru," ucap Jaya berusaha menenangkan.

Rafa menoleh perlahan ke arah ayahnya. Senyumnya tipis, tetapi penuh kepahitan.

"Ganti yang baru?"

Ia tertawa pelan.

"Uang satu miliar pun nggak bakal bisa ganti helm ini, Pih."

Tak ada lagi yang mampu berkata-kata. Dengan rahang mengeras menahan amarah dan kesedihan, Rafa langsung berbalik menuju kamarnya.

Brak!

Pintu kamar dibanting keras hingga membuat seluruh rumah kembali sunyi. Owen kemudian memanggil kedua adiknya. "Wafa, Lily. Sini."

Keduanya berjalan mendekat dengan wajah tertunduk.

Jaya yang masih bingung ikut bertanya. "Emangnya kenapa? Nggak biasanya Rafa semarah itu."

Owen menghela napas panjang. "Helm itu...", Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

"Dulu Rafa beli bareng mami."

Ucapan itu membuat Lily membeku. "Apa...?",

Matanya membesar.

Perlahan, air mata mulai menggenang sebelum akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak tahu kalau helm itu memiliki kenangan sedalam itu.

Wafa yang masih merasa kesal justru menunjuk Lily. "Ini gara-gara lo, sih. Gue kan tadi udah berhenti. Kenapa lo nggak ikut berhenti?"

Lily hanya menggigit bibir, tak sanggup membalas.

"Udah," potong Owen tegas. "Jangan saling nyalahin. Ini salah kalian berdua."

Wafa langsung terdiam.

"Mending sekarang kalian ke kamar Bang Rafa. Minta maaf baik-baik," lanjut Jaya.

Lily dan Wafa saling berpandangan, lalu mengangguk pelan. Keduanya berjalan menuju lantai dua. Sesampainya di depan kamar Rafa, Lily mengetuk pintu perlahan.

"Bang... maafin kita."

Tak ada jawaban.

Wafa ikut mengetuk.

"Bang, buka dulu. Kita mau minta maaf."

Tetap sunyi.

Mereka mencoba beberapa kali lagi. Namun Rafa tetap memilih diam. Tak sekali pun pintu kamarnya terbuka.

 

Lamunan Lily buyar. Kenangan malam itu perlahan menghilang dari benaknya. Ia mengembuskan napas pelan, lalu memutar gagang pintu kamar Rafa.

Ceklek,

Pintu ternyata tidak dikunci. Lily mengintip ke dalam. Kamar itu masih sedikit redup karena tirai belum dibuka. Di atas ranjang, Rafa masih terlelap dengan posisi terlentang, selimut hanya menutupi setengah tubuhnya.

Lily berjalan mendekat.

"Bang... bangun", Ia menggoyang pelan bahu Rafa agar tidak membuat kakaknya itu terkejut.

Rafa mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya membuka matanya perlahan.

"Hmm..."

"Bang, bangun. Abang jadi ikut jalan-jalan, kan?" tanya Lily memastikan.

"Iya, Dek."

Rafa bangkit dan duduk di tepi ranjang. Tangannya mengusap wajah, lalu menggaruk tengkuknya pelan. Wajahnya masih terlihat mengantuk, seolah jiwanya belum sepenuhnya kembali.

"Semua udah nunggu di bawah buat sarapan," ujar Lily. Rafa hanya mengangguk pelan.

"Iya."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Lily keluar dari kamar, memberi Rafa waktu untuk bersiap.

Di Dapur

Aroma nasi goreng memenuhi seluruh ruangan. Semua sudah berkumpul di meja makan, menikmati sarapan buatan Owen.

"Emm... enak banget," puji Kino setelah menyuapkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.

Ia menoleh ke arah Owen sambil tersenyum. "Bener kata Ell. Kak Owen jago masak", Owen terkekeh pelan sambil menuangkan susu hangat ke beberapa gelas.

"Oh ya? Memangnya apalagi yang sering Ell ceritain ke kamu, Dek?"

Kino berpikir sejenak.

"Ell sering cerita tentang Kak Lily."

"Pasti Ell cerita kalau Lily itu cerewet, cengeng, sama sok cantik, kan, No?", ujar Wafa percaya diri.

"Lah, emang gue cantik", saut Lily dari arah tangga.

Wafa mendecak. "Ih, najis. Cuma gara-gara lo satu-satunya cewek di rumah ini, jadi ngerasa paling cantik."

"Kak Lily memang cantik kok, Bang," sela Ell polos. Lily langsung tersenyum lebar.

"Makasih, adekku sayang", Ia mencubit pelan pipi gembul Ell, lalu mengecupnya dengan gemas.

"Ih... najis," gumam Wafa sambil memalingkan wajah.

Lily melirik jahil.

"Bilang aja lo iri, kan? Lo caper ke gue, tapi orang yang paling gue sayang tetap Ell."

"Diam lo lampir!"

"Lo manggil gue apa tadi?"

Wafa menyeringai puas.

Owen hanya bisa menggeleng sambil menghela napas. "Heran deh sama kalian berdua. Tiap hari pasti ada aja yang diributin."

Baru saat itu Rafa memasuki ruang makan. Ia mengusap pelan pelipisnya yang masih sedikit pusing.

"Kalian lagi?", Tatapannya bergantian mengarah ke Lily dan Wafa. "Ini masih pagi, udah berisik aja."

Nada suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat keduanya langsung diam.

"Maaf, Bang," ucap Lily sambil kembali duduk.

"Udah. Makan!"

Mereka pun kembali menikmati sarapan dalam suasana yang jauh lebih tenang.

 

Beberapa menit kemudian, semua sudah selesai makan.

Owen bersama Rafa mulai membereskan piring kotor. Lily ikut membantu mencuci dan mengeringkannya. Sementara anak-anak yang lain duduk santai di ruang makan.

"Kalian mau jalan-jalan ke mana, emangnya?" tanya Owen.

Kino mengangkat tangan lebih dulu. "Gimana kalau ke taman?"

"Aku setuju!" seru Ell antusias. Karena Ell sudah setuju, yang lain pun ikut menganggukkan kepala.

"Yaudah, ke taman aja," ujar Rafa.

Tak lama kemudian mereka pun bersiap dan berjalan kaki menuju taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah.

Sepanjang perjalanan, suasana dipenuhi obrolan ringan.

Kino berjalan di samping Wafa. "Bang Wafa", panggil Kino.

"Hm?"

"Abang satu sekolah SMA sama Kak Lily, ya?"

Wafa mengangguk malas. "Iya", Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Sebenarnya gue ogah satu sekolah sama dia. Tapi Papi yang maksa. Mau gimana lagi."

"Nggak ada yang nanya alasan, Bang," sahut Ell yang berjalan paling depan.

Semua langsung menoleh ke arah Ell.

Sedetik kemudian...

"Hahaha..."

Tawa pun pecah. Wajah Wafa langsung berubah kesal. "Awas aja lo, Ell!"

Ell malah menjulurkan lidah sambil tertawa kecil. Rafa yang berjalan paling belakang akhirnya bersuara.

"Udah. Jangan ribut di jalan."

"Iya, Bang," jawab mereka hampir bersamaan.

Tak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di taman kota.

Hamparan rumput hijau membentang luas, sementara berbagai jenis bunga bermekaran dengan indah. Udara pagi yang sejuk membuat suasana terasa semakin nyaman.

Mata Ell langsung berbinar.

"Eh, lihat deh! Bunga tulipnya cantik banget", Ia menunjuk hamparan bunga tulip berwarna-warni yang tersusun rapi di salah satu sudut taman.

Kino ikut menoleh ke arah bunga-bunga itu. "Iya...", Tatapannya kemudian beralih diam-diam ke arah Lily yang sedang tersenyum menikmati pemandangan.

"Secantik Kak Lily"

1
Putry Chan
sedikit saran ya deskripsi paragraf pertama pengenalan anak trlalu panjang
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat
Tabina Lutfi: terimakasih atas sarannya kk
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!