Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Percakapan di kafe berakhir tanpa ada yang lagi memaksa Rani mengubah pendiriannya. Beberapa jam kemudian, ketiganya sudah berada di rumah Rico untuk menyiapkan kepulangan Haikal.
Sekar dan Rico masih memperhatikan Rani yang sibuk melipat pakaian Haikal ke dalam sebuah koper kecil. Wanita itu tampak begitu tenang, seolah membawa Haikal kembali ke rumah Roy bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan.
Sekar melirik Rico yang berdiri bersandar di dekat pintu dengan kedua tangan terlipat.
"Ric, kamu benar-benar cuma diam?" tanyanya pelan. "Bukannya ini kesempatanmu? Selama sepuluh tahun kamu selalu menunggunya."
Rico tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak sampai ke matanya.
"Kamu dengar sendiri tadi di kafe." Tatapannya masih tertuju pada Rani. "Dia lebih percaya menyelesaikan semuanya lewat jalur hukum daripada memakai cara-cara yang berisiko. Kalau itu memang keputusannya, aku hanya bisa menghormatinya."
Ucapan Rico membuat Sekar mengingat kembali percakapan mereka beberapa saat yang lalu.
"Kenapa kalian terkejut?" Rani tersenyum tipis. "Ingat, ini negara hukum. Lagi pula, aku tidak perlu melakukan hal semacam itu."
Perkataan Rani justru membuat Rico dan Sekar semakin bingung. Mereka saling berpandangan, berusaha menebak apa yang sebenarnya sedang dipikirkan wanita itu.
"Lalu maumu bagaimana, Ran?" tanya Sekar. "Katanya kamu ingin mengumpulkan bukti supaya Haikal tetap aman bersamamu. Tapi dari tadi aku lihat kamu terlalu santai, bahkan sama sekali tidak terlihat berniat melakukannya."
Rani mengaduk pelan kopinya sebelum mengangkat kepala.
"Aku memang ingin Haikal aman bersamaku. Tapi bukan berarti aku harus melakukan apa saja untuk menjaganya."
"Maksudmu?" tanya Rico.
"Aku memang akan mencari bukti," jawab Rani tenang. "Tapi bukan dengan cara yang suatu hari nanti bisa menjadi senjata untuk menyerangku."
Sekar masih mengernyit. "Aku tetap tidak mengerti."
Rani mengembuskan napas pelan. "Roy punya uang, koneksi, dan kekuasaan. Kalau aku menggunakan cara yang abu-abu, jangan berharap bukti itu akan membantuku. Mereka justru bisa memutarbalikkan keadaan dan membuatku terlihat sebagai pihak yang melanggar hukum."
Rico terdiam cukup lama. Meski awalnya ia tidak setuju, ia harus mengakui jalan yang dipilih Rani memang jauh lebih aman. "Jadi kamu memilih bermain aman."
"Bukan bermain aman," koreksi Rani. "Aku memilih bermain sabar."
Ia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan. "Aku masih ingat Roy berjanji akan memperlihatkan seluruh aset yang menjadi hakku selama pernikahan. Aku yakin dia tidak akan semudah itu menepati janjinya. Orang seperti Roy pasti sudah menyiapkan berbagai cara untuk mengurangi atau bahkan menyembunyikan sebagian asetnya."
Sekar dan Rico mendengarkan dengan saksama.
"Itulah sebabnya aku tidak boleh gegabah. Kalau nanti waktunya tiba, aku ingin setiap prosesnya berada dalam pengawasan hukum. Begitu hakku atas harta bersama benar-benar terlindungi, Roy tidak akan lagi bisa bertindak semaunya. Setidaknya, Haikal akan memiliki perlindungan yang jauh lebih kuat."
Sekar akhirnya mulai memahami. "Jadi targetmu sekarang bukan menyerang mereka, tapi memperkuat posisimu lebih dulu?"
Rani mengangguk mantap. "Kalau aku sudah memiliki pijakan hukum dan finansial yang kuat, mereka akan berpikir berkali-kali sebelum menyentuh Haikal."
Suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian, Rani menoleh ke arah Sekar.
"Itulah kenapa aku butuh bantuanmu."
"Bantuan apa?"
"Pinjam suamimu."
Sekar yang baru saja menyesap kopinya langsung tersedak. "Ran, kamu sudah gila?"
Rico spontan terkekeh pelan. "Tenang. Yang dia pinjam bukan suamimu."
Sekar menatap Rico bergantian dengan Rani.
"Lalu?"
"Profesi suamimu," jawab Rico. "Bukankah suamimu seorang pengacara?"
Rani mengangguk sambil tersenyum tipis. "Aku ingin suamimu mendampingiku saat Roy memperlihatkan seluruh daftar aset itu. Aku butuh seseorang yang memahami hukum keluarga dan pembagian harta bersama. Dengan begitu, kalau Roy mencoba memainkan data atau menyembunyikan sesuatu, aku tidak akan sendirian menghadapinya."
Sekar akhirnya mengembuskan napas lega sambil memukul pelan lengan Rani. "Lain kali ngomong yang lengkap. Jantungku hampir copot."
Kenangan itu perlahan memudar. Suara resleting koper yang ditarik Rani mengembalikan Rico dan Sekar ke situasi saat ini. Koper kecil milik Haikal kini sudah hampir penuh. Rani melipat pakaian terakhir, lalu merapikannya dengan teliti seolah sedang mempersiapkan perjalanan biasa, bukan kembali ke rumah yang penuh intrik.
Sekar mengembuskan napas panjang. "Kalau dipikir-pikir, ternyata dari tadi kamu memang sudah merencanakan semuanya."
Rani tersenyum tipis tanpa menghentikan kegiatannya. "Aku hanya sedang menyiapkan apa yang memang harus disiapkan."
"Nanti aku akan bicara sama suamiku. Kamu jaga Haikal baik-baik dan kamu juga."
""Astaga, kamu ini seperti aku mau masuk medan perang saja. Kamu tahu aku sudah tidak sabar untuk segera sampai rumah itu, dan melihat ekspresi kakak tiri Haikal, saat melihatnya."
"Baiklah, aku antar kamu," jawab Sekar sambil melangkah mendekati Rani. Namun, baru saja ia hendak membantu membawa koper, ponselnya berbunyi menandakan sebuah pesan masuk.
"Yah... Ran, sepertinya aku tidak bisa mengantarmu." Sekar mengangkat ponselnya sambil menunjukkan layar. "Suamiku sudah mengirim pesan. Dia minta aku cepat pulang."
Rani mengangguk pelan. "Tidak apa-apa. Terima kasih sudah menemaniku."
Sekar memeluk Rani singkat sebelum menghampiri Haikal.
"Haikal, nanti dengarkan Mama, ya."
Haikal mengangguk kecil.
Setelah Sekar berpamitan, suasana rumah mendadak menjadi lebih sunyi.
Rani kembali berjongkok di depan Haikal. Ia membetulkan sabuk pengaman di kursi roda putranya, lalu merapikan selimut yang menutupi kedua kaki Haikal.
"Nyaman?"
Haikal kembali mengangguk.
Rani tersenyum lega. Beberapa hari ia merawat Haikal, anak itu sudah mulai menunjukkan respon yang cukup baik. Ia kemudian berdiri dan meraih koper kecil yang berisi pakaian Haikal.
Belum sempat ia mengangkatnya, Rico sudah lebih dulu mengambil koper itu dari tangannya.
"Ric, aku bisa."
"Aku tahu."
"Kalau tahu, kenapa tetap diambil?"
"Karena kamu tidak mungkin mendorong kursi roda Haikal sambil membawa koper. Dan kamu tau kan aku ini pejantan?"
Rani tersenyum kecil mendengar ucapan Rico. Ia tahu Rico ingin membantu lebih banyak, hanya saja ia benar-benar tidak enak hati. Akhirnya ia tidak bisa membantah alasan itu.
"Aku antar kalian."
"Tidak usah. Nanti malah merepotkanmu."
"Rani."
Rani menoleh mendengar namanya dipanggil dengan penekanan.
"Aku tidak sedang menawarkan bantuan karena kasihan."
"Lalu?"
"Aku hanya ingin memastikan kamu dan Haikal sampai dengan selamat."
Nada bicara Rico tetap tenang, tidak memaksa, dan sekali lagi cukup membuat Rani kehilangan alasan untuk menolak. Beberapa detik kemudian, ia mengangguk pelan.
"Baik."
Rico tersenyum tipis, lalu berdiri di belakang kursi roda Haikal.
"Boleh Om yang dorong?"
Haikal menoleh kepada Rani lebih dulu. Setelah melihat ibunya mengangguk, barulah ia menganggukkan kepala pelan.
"A...acihhh," bisiknya lirih.
Rico mengusap pelan kepala Haikal. "Sama-sama, Jagoan."
Rani memperhatikan interaksi keduanya tanpa berkata apa-apa. Entah mengapa, setiap kali melihat Rico bersama Haikal, ada perasaan hangat yang sulit ia jelaskan. Bukan karena ia mengingat sesuatu dari masa lalu, melainkan karena ia merasa pria itu benar-benar tulus membantu mereka tanpa pernah meminta imbalan apa pun.
"Kenapa diam?" tanya Rico.
Rani tersadar dari lamunannya.
"Tidak."
"Kalau begitu, ayo. Semakin sore, jalanan semakin macet."
Rani mengangguk pelan. Ia mengambil tas Haikal, sementara Rico mendorong kursi roda itu keluar rumah dengan langkah perlahan, memastikan setiap jalan yang mereka lewati tetap aman dan nyaman bagi Haikal.
Hingga beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Roy, suara dengan nada kesal menyapa mereka.
"Ka... Kamu benar-benar membawanya?"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏