Takdir tak selalu buruk untuk kita. Jadikan masa lalu menjadi pelajaran untuk lebih baik di masa depan.
Seperti yang di alami seorang guru cantik bernama Aretha Zayba Almira. Ia sempat terpuruk dengan masa lalu kelam dan trauma mendalam yang di ciptakan mantan kekasihnya. Harus kehilangan kehormatan yang ia jaga hingga hampir mati bunuh diri. Tapi ia bisa bangkit dan merubah hidupnya menjadi lebih baik. Sempat menutup hati pada beberapa pria yang datang padanya, hingga takdir menemukannya dengan seorang pria yang mau menerima semua masa lalu dan memperlakukan Amira seperti seorang ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh bebuyutan
Arif dan Amira tiba di sebuah restoran besar dengan tempat parkir luas yang telah di penuhi banyak kendaraan.
Mereka berdua memasuki restoran dan menuju tempat yang sudah di reservasi oleh Arif sebelumnya.
Yang berada di tempat agak sudut.
Restoran ini memiliki konsep outdoor dan indoor. Arif memilih ruangan indoor. Padahal Amira sangat suka berada di outdoor. Apalagi restoran ini menghadap langsung ke laut. Yang Menambah keindahan malam.
Amira hanya mengikuti Arif dari belakang. Terlihat Lidia yang sudah duduk manis sambil bermain ponsel di meja yang sudah mereka reservasi.
" Assalamualaikum Lid, udah lama ya?" sapa Amira menghampiri Lidia.
Lidia segera menoleh ke sumber suara. Ia segera berdiri dan meletakkan ponsel nya di meja yang ada di depannya.
" Waalaikumsalam Ra. Kamu baru sampai?" tanya Lidia dengan senyum mengembang. Ia pun segera memeluk sahabat karib nya itu. Sedangkan Arif langsung duduk.
" iya. maaf ya kamu nunggu lama." ujar Amira dengan nada menyesal.
" Ah tidak apa-apa. Aku belum lama jugo kok" jelas Lidia.
Mereka pun duduk di kursi masing-masing. Lidia mengamati Arif yang kebetulan duduk bersebrangan dengan nya. Ia agak memicingkan mata nya.
" Ra. Apa ini tunangan kamu?" Tanya Lidia penasaran.
Amira tersenyum.
" iya Lid. Ini calon suami ku. "
" Rasa nya pernah ketemu. " Lidia mengetuk dagu nya.
" Emang pernah ketemu " sahut Amira cepat.
" Benarkah? dimana?" Lidia melotot ke arah Amira dan Arif bergantian.
" Di mall. Saat aku bertemu dengan Amira lalu aku mengantar kan nya pulang." kali ini Arif yang menyahut.
" oh iya. Aku ingat sekarang. " ujar Lidia.
" sudah. sekarang pesan saja makanan yang ingin kita makan. " Kata Arif.
" Baiklah. " jawab Amira dan Lidia bersamaan.
Mereka pun memesan apertizer dan menikmati makan malam dengan di selingi obrolan.
" Aku mau ke toilet sebentar ya." ujar Lidia
" aku juga mau ke toilet. Bareng ya. " Amira segera berdiri menyusul Lidia. Mereka pun ke toilet bersama meninggalkan Arif sendiri.
" Kompak banget. Ke toilet aja barengan " decak Arif.
Sembari menunggu Amira dan Lidia kembali dari toilet, Arif memainkan gawai nya menghilangkan bosan. Sesekali ia menikmati minuman nya yang tinggal separuh.
Tiba-tiba ada seorang perempuan yang mendekati nya dan menempel di lengan Arif. Pria itu pun kaget dengan sentuhan yang ia rasakan. Secepat kilat Arif berdiri dan melihat seorang wanita sedang tersenyum lebar menatap nya. Seorang wanita seksi dengan gaun minim dan memperlihatkan dada nya yang montok.
"Siska " desis Arif . Ia terkesiap melihat wanita yang ada di hadapannya.
" Sayang. Kamu ngapain disini? Kenapa nomor aku kamu blok ?" tanya wanita itu beruntun. Dengan suara manja yang menggelitik geli telinga siapa saja yang mendengar nya.
" Aku yang seharusnya nanya. Kenapa kamu bisa disini" Arif mencengkram lengan wanita itu dengan agak kasar.
Wanita itu pun meringis karena perlakuan kasar Arif.
" ini kan tempat umum. Jadi suka-suka aku dong mau kemana. Kamu itu yang ngapain ada disini. Kamu kenapa jadi kasar banget sih sama aku" ketus nya sambil berusaha melepaskan cengkraman Arif.
" Eh tunggu dulu. Kamu disini nggak sendirian rupanya. " wanita itu menelisik meja dengan wajah yang semakin penasaran.
Dia kembali menatap Arif yang sedang kebingungan. Dan ia pun terlepas dari cengkeraman Arif yang mulai melemah.
" Jawab aku. Kamu sama siapa?" tanya wanita itu dengan emosi.
" A-aku..." Arif tergagap.
" Ini bukan urusanmu. Lagian kita sudah putus" kilah Arif.
" Apa ? apa kamu bilang? putus? kapan kita putus?" bentak wanita yang bernama Siska itu dengan setengah berteriak. Nafas nya mulai memburu menahan gejolak emosi yang terasa meluap.
" Aku sudah bertunangan. Dan sekarang aku sedang makan malam bersama tunangan ku. Jadi aku harap kamu pergi dari sini. Jangan sampai dia melihat mu" ucap Arif dengan senyum di ujung sudut bibirnya.
Siska yang tak terima langsung saja meluapkan emosi nya yang tertahan sedari tadi.
" Dasar bre**sek . Setelah apa yang kita lalui seenaknya kamu mau nikah sama orang lain. Setelah lama kita bersama. Kamu bilang apa? tunangan dengan orang lain? Bre**sek kamu rif. benar-benar bre**sek" amuk Siska sembari memukul tubuh Arif.
Sontak saja semua orang yang sedang berada di restoran itu langsung menoleh kearah suara keributan yang diciptakan oleh Siska.
" Meskipun aku pria bre**sek, tapi setidaknya aku mencari wanita baik-baik untuk jadi istri. Bukan kayak kamu yang dengan mudah nya tidur dengan banyak pria." ujar Arif enteng.
" bre**sek kamu rif. Bre**sek". Maki Siska.
Bertepatan dengan itu, Amira dan Lidia kembali dari toilet. Mereka mendengar keributan dan ramai orang yang menonton membuat mereka berdua penasaran.
Mereka pun saling melemparkan pandangan bertanya satu sama lain. Dan dengan segera mereka menuju kearah keributan dan mendapati Arif yang sedang berdiri sedang di pukuli oleh seorang wanita. Amira dan Lidia sangat terkejut. Amira pun segera menghampiri Arif dan wanita tersebut.
Sedangkan Lidia hanya bengong dan mematung ditempat nya berdiri. Lidia merasa bingung dengan apa yang ada dihadapannya.
" Amira " Arif melebarkan mata nya.
Siska pun menoleh kebelakang melihat arah pandangan Arif.
" Apakah ini calon istri yang kau katakan ?" tanya Siska dengan air mata yang sudah membanjiri wajah putih nya. Ia berjalan mendekat ke arah Amira yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.
" Ada apa ini mas?" tanya Amira bingung.
plak ..
Siska menampar pipi kanan Amira dengan keras. Sontak saja semua yang ada disitu terkejut. Tidak terkecuali Arif. Amira meringis memegangi pipinya yang terasa panas.
" Apa yang kamu lakukan ?" teriak Arif .
" Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan. Wajar kan aku menampar seorang pelakor." Ucap Siska santai dan mendekap kedua tangan di dada nya.
" Apa kehebatan pelakor ini di banding kan dengan ku. Wanita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan ku." ujar nya sombong.
Lidia yang melihat sahabatnya yang diperlakukan seperti itu pun tak tinggal diam. Lidia berjalan menghampiri Siska. Sedangkan Amira hanya tegak mematung sambil memegang pipi nya yang masih terasa pedas bekas tamparan Siska.
Amira sangat syok dengan kejadian yang sangat tiba-tiba. Semuanya terjadi begitu saja dengan sangat cepat.
" Apa hak kamu mengatakan Sahabat saya pelakor. Kamu yang pelakor. Seenaknya saja datang membuat keributan dan menuduh orang lain sebagai pelakor !" teriak Lidia geram.
Siska menoleh dan terasa sangat familiar dengan suara teriakan tersebut.
" Kau.!" Siska melebarkan mata nya semakin geram.
" Kau. Siska !!" teriak Lidia.
Amira yang awalnya hanya diam menunduk, mengangkat kepalanya.
Ia pun mengenal wanita itu jika benar Siska yang dihadapan nya ini Siska yang dulu merupakan musuh bebuyutan mereka berdua sewaktu SMA.
" Apa kau Lidia. Dan pelakor ini adalah Aretha?" ujar Siska berapi-api.
" jaga mulut kotor mu !!" teriak Lidia.
" Sudah Lid." Amira menarik lengan Lidia. Ia tidak ingin Lidia bertengkar dengan Siska lagi.
" Tapi Ra. "
Amira menggelengkan kepala nya menatap Lidia.
" Hai musuh bebuyutan. Kita bertemu lagi. Dan permasalahan nya tetap sama. Sejak dulu kamu tidak pernah berubah. Selalu suka jadi PELAKOR !!" Siska menekankan kata Pelakor kepada Amira.
Emosi tetaplah emosi
Kesal dan sakit hati, jelaslah
Betapa tidak 🙄🙄
manakala sesuatu yang menyakitkan terpampang didepan mata