NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033

Ko Vincent

Senyumnya menghilang.

Seraphina masih memegang ponsel ketika ia berbalik. Reynard berdiri di dekat pintu ruang privat, satu tangan di saku celana, wajahnya kembali tenang dengan cara yang terlalu rapi. Semakin tenang ia terlihat, semakin jelas bagi Seraphina bahwa ada sesuatu yang bergerak di balik matanya.

"Adrian?" tanyanya.

"Ko Adrian," jawab Seraphina.

"Tentang Vincent."

Seraphina menatapnya beberapa detik, lalu menahan senyum. "Kau mendengar."

"Pintu terbuka."

"Ko Vincent teman lama dari Surabaya. Dia sahabat Ko Adrian. Dulu sering datang ke rumah Papa Budiman."

"Ko Vincent," ulang Reynard.

Nada itu datar, tetapi Seraphina hampir bisa merasakan udara di sekitar mereka berubah. Ia tahu seharusnya ia menjelaskan dengan serius. Namun setelah melihat Reynard menahan cemburu karena Daniel Zheng, setelah melihatnya bertahan sepanjang malam menghadapi Yolanda tanpa kehilangan kendali, bagian kecil dalam dirinya ingin menguji sedikit.

"Ya. Ko Vincent."

Mata Reynard turun ke wajahnya. "Kau terdengar senang."

"Aku memang senang. Sudah lama tidak bertemu."

"Seberapa lama?"

"Beberapa tahun."

"Dan dia langsung ingin bertemu besok."

"Dia datang ke Jakarta. Wajar."

Reynard diam.

Seraphina melangkah lebih dekat. "Rey."

"Aku tidak melarang."

"Aku tahu."

"Aku hanya sedang mencatat."

"Mencatat apa?"

"Bahwa daftar laki-laki yang membuatmu tersenyum bertambah."

Seraphina hampir tertawa, tetapi ia melihat rahang Reynard yang mengeras dan memilih menahan diri. "Ko Vincent itu bagian dari masa Surabayaku. Dia baik pada keluargaku."

"Pada keluargamu atau padamu?"

Pertanyaan itu tajam, tetapi bukan tuduhan. Lebih seperti luka kecil yang tidak mau ia akui.

Seraphina menyimpan ponsel. "Besok aku bertemu dia di tempat publik. Kau boleh tahu lokasi dan waktunya. Tapi jangan mengirim Stanley untuk menyelidiki seperti kasus Daniel."

"Aku tidak mengirim Stanley kemarin."

"Karena kutahan."

"Benar."

"Maka kali ini tahan dirimu sejak awal."

Reynard menatapnya lama. "Aku akan mencoba."

Seraphina mengangkat alis. "Mencoba?"

"Aku sedang jujur."

Itu membuatnya tidak bisa marah. Seraphina akhirnya menyentuh ujung lengan jasnya sebentar, gerakan kecil yang tersembunyi dari ruang privat. "Terima kasih."

Keesokan sorenya, Seraphina memilih bertemu Vincent di sebuah restoran tenang dekat kawasan bisnis, tempat yang cukup formal untuk menjaga batas, cukup akrab untuk menerima tamu lama. Ia datang langsung dari kantor, masih memakai blazer krem dan rambut yang diikat rendah.

Vincent Lianto berdiri ketika ia masuk.

Ia lebih tinggi daripada yang diingat Seraphina, dengan kemeja putih, jam sederhana, dan senyum yang membawa udara Surabaya ke tengah Jakarta. Tidak seperti pria Jakarta yang kadang memakai kepercayaan diri seperti armor, Vincent terlihat tenang tanpa perlu menguasai ruangan.

"Sera," panggilnya.

Suara itu langsung membuka pintu lama di kepala Seraphina: halaman rumah Tjiandra saat sore, Adrian yang pulang dengan wajah serius, Kartika yang memarahi dua anak laki-laki karena bermain basket sampai pot bunga pecah, dan Vincent muda yang selalu membawa martabak kalau datang.

"Ko Vincent."

Vincent tertawa pelan. "Masih panggil begitu?"

"Kau mau kupanggil Pak Vincent?"

"Jangan. Aku langsung merasa tua."

Mereka berjabat tangan, tetapi Vincent menarik sedikit lebih lama, bukan dengan cara memaksa, melainkan seperti orang yang benar-benar senang bertemu lagi. Ia lalu melepaskan lebih dulu.

"Kau berubah," katanya.

"Semua orang berubah."

"Tidak semua jadi pendiri perusahaan AI yang membuat Jakarta bicara."

"Ko Adrian melebih-lebihkan."

"Adrian tidak tahu cara melebih-lebihkan. Kalau dia bilang kau hebat, artinya dia sudah mengurangi pujian supaya terdengar rasional."

Seraphina tertawa. Tawa itu ringan, keluar tanpa perlu dijaga.

Di lobi restoran, seorang pria yang baru turun dari mobil hitam berhenti.

Reynard.

Ia datang bukan untuk makan. Setidaknya itu yang ia katakan pada dirinya sendiri. Ada meeting di gedung seberang. Ada dokumen yang perlu ditandatangani. Ada puluhan alasan legal untuk berada di kawasan yang sama.

Tidak ada satu pun alasan legal untuk berdiri di lobi restoran dan melihat Seraphina tertawa pada Vincent Lianto.

Dari tempatnya, Reynard melihat bagaimana Vincent menarik kursi untuk Seraphina. Melihat bagaimana laki-laki itu memanggilnya Sera tanpa ragu. Melihat bagaimana Seraphina tidak menegang, tidak memasang dinding, tidak menggunakan suara dingin yang biasa ia pakai pada pria yang tidak ia percaya.

Ia percaya pada Vincent.

Itu yang membuat cemburu terasa berbeda.

Daniel Zheng hanya mengganggu.

Vincent Lianto masuk dari pintu masa lalu Seraphina yang tidak pernah Reynard lihat.

Di meja, Seraphina sedang mendengar cerita Vincent tentang Adrian yang dulu hampir memukul senior kampus karena seseorang menghina anak perempuan keluarga Tjiandra.

"Ko Adrian selalu seperti itu," kata Seraphina, senyumnya lembut. "Diam, tapi kalau marah semua orang baru sadar dia berbahaya."

"Kau juga begitu."

"Aku?"

"Kau diam waktu kecil, tapi matamu selalu seperti sudah menyusun strategi."

Seraphina menggeleng. "Aku tidak separah itu."

"Sera, kau pernah membuat tiga anak kompleks minta maaf pada pembantu rumah tetangga karena mereka mengejek logatnya. Umurmu waktu itu berapa? Dua belas?"

Seraphina terdiam, lalu tertawa. "Aku lupa."

"Tentu kau lupa. Korbanmu tidak."

Vincent menatapnya dengan hangat. Ada sesuatu di sana, tipis, tidak terang-terangan, tetapi cukup untuk dilihat orang yang sedang cemburu dari kejauhan.

Ponsel Seraphina bergetar.

Rey:

Aku di luar.

Jari Seraphina berhenti di atas layar.

Ia mengangkat mata ke lobi dan langsung menemukannya.

Reynard berdiri di sana, dingin, tampan, dan jelas sekali tidak sedang kebetulan.

Seraphina menghela napas pelan.

Vincent mengikuti arah pandangnya. "Hartono?"

"Reynard," kata Seraphina.

"Kalian dekat?"

Pertanyaan itu wajar. Terlalu wajar. Seraphina memilih jawaban yang aman, tetapi tidak berbohong sepenuhnya. "Kami bekerja sama."

Vincent menatapnya sesaat lebih lama, lalu tersenyum kecil. "Begitu."

Seraphina tidak suka nada itu. "Apa?"

"Tidak apa-apa. Hanya saja Adrian pernah bilang, kalau kau berbohong, kau tidak menunduk. Kau justru menatap terlalu lurus."

Seraphina terdiam.

Vincent mengangkat kedua tangan. "Rahasia aman. Aku tidak datang untuk menginterogasi."

Sebelum Seraphina sempat menjawab, Reynard sudah berjalan mendekat. Setiap langkahnya terkendali. Tidak cepat, tidak kasar. Namun orang-orang di sekitarnya otomatis memberi jalan.

"Bu Sera," sapanya.

Formal.

Bahaya.

Seraphina berdiri. "Pak Rey."

Vincent juga berdiri. "Vincent Lianto."

"Reynard Hartono."

Mereka berjabat tangan.

Terlalu singkat untuk disebut akrab, terlalu kuat untuk disebut sopan biasa.

"Saya pernah mendengar nama Lianto," kata Reynard.

"Semoga tidak dari hal buruk."

"Belum."

Seraphina menatap Reynard. "Pak Rey ada meeting di sekitar sini?"

"Selesai lebih cepat."

"Dan kebetulan mampir?"

Reynard menatapnya. "Tidak. Aku datang karena cemburu."

Vincent mengangkat alis.

Seraphina hampir kehilangan napas. "Rey."

Reynard baru sadar ia memakai nama panggilan di depan orang lain, tetapi sudah terlambat. Ia tidak menariknya kembali.

Vincent melihat Seraphina, lalu Reynard, lalu tersenyum dengan cara pria yang sudah terlalu banyak memahami situasi. "Aku rasa aku tidak perlu menebak lagi."

Seraphina menahan wajahnya tetap tenang. "Ko Vincent."

"Tenang. Aku bukan orang Jakarta yang hidup dari gosip." Vincent mengambil ponselnya. "Aku juga harus bertemu Adrian sebentar lagi. Sera, nanti kalau kau punya waktu, sampaikan salamku untuk Tante Kartika."

"Aku akan sampaikan."

Vincent menatap Reynard. "Jaga dia baik-baik."

Reynard menjawab tanpa jeda. "Aku tahu."

"Tahu belum tentu cukup."

Udara di antara mereka menegang.

Seraphina menyela sebelum dua laki-laki dewasa itu mengubah restoran menjadi ruang duel. "Ko Vincent, terima kasih sudah datang."

Vincent tersenyum padanya, hangat seperti tadi. "Selalu, Sera."

Selalu.

Satu kata itu jatuh ke telinga Reynard seperti bara.

Perjalanan turun ke basement parkir berlangsung dalam diam. Seraphina masuk ke mobil Reynard bukan karena diperintah, melainkan karena ia sendiri yang membuka pintu penumpang setelah mengirim pesan ke supir kantornya bahwa ia pulang dengan partner proyek. Begitu pintu tertutup, ruang mobil terasa sempit oleh sesuatu yang tidak terucap.

Reynard menyalakan mesin, tetapi tidak langsung jalan.

"Katakan," kata Seraphina.

"Aku tidak suka dia."

"Kau baru bertemu lima menit."

"Cukup."

"Dia teman keluargaku."

"Aku tahu."

"Dia bukan Daniel Zheng."

"Itu masalahnya."

Seraphina menoleh. Wajah Reynard diterangi lampu basement, garis rahangnya keras, tangan di setir terlalu tenang.

"Apa maksudmu?"

"Daniel tidak punya tempat di hidupmu. Vincent punya."

Kejujuran itu membuat Seraphina diam. Ia bisa saja menertawakan cemburunya, tetapi kali ini berbeda. Reynard bukan hanya takut ada laki-laki mendekat. Ia takut ada ruang dalam hidup Seraphina yang sudah dihuni orang lain sebelum ia datang.

"Rey," katanya lebih lembut, "masa laluku tidak menghapusmu."

"Aku tahu."

"Kau yakin?"

"Tidak malam ini."

Seraphina melepas sabuk pengaman. Reynard langsung menoleh, seperti takut ia akan pergi.

"Aku tidak turun," katanya.

Ia bergerak mendekat di ruang sempit mobil. "Kalau kau cemburu, bilang. Jangan menghukum dirimu sendiri dengan diam."

Reynard menatap bibirnya, lalu memejamkan mata sebentar. "Aku ingin menciummu. Sangat."

Dada Seraphina berdenyut keras.

"Karena cemburu?"

"Karena aku cemburu. Karena kau tersenyum padanya. Karena aku benci aku tidak ada di semua tahun saat kau tumbuh di Surabaya. Karena aku tahu itu bukan salahmu, tapi aku tetap ingin menarikmu ke sini dan memastikan kau memilihku sekarang."

Kata-kata itu nyaris kasar oleh kejujuran, tetapi bukan perintah. Reynard tetap duduk di tempatnya, menunggu.

Seraphina menatapnya lama. Lalu ia mengangkat tangan, menarik kerah jasnya, dan mendekat.

"Aku memilihmu sekarang," bisiknya. "Cium aku."

Reynard bergerak seperti tali yang putus.

Ciuman itu tidak lembut seperti di atap Teluk Mutiara. Tidak setenang ciuman sebelum tidur. Ini seperti hujan deras menghantam kaca mobil, seperti semua kata yang ia tahan di restoran akhirnya menemukan jalan. Tangannya naik ke sisi wajah Seraphina, menahan dengan hati-hati meski napasnya sudah kacau. Seraphina membalas, bukan untuk menenangkan saja, tetapi untuk menjawab. Ia menariknya lebih dekat, merasakan tubuh Reynard gemetar tipis ketika ia menyebut namanya di sela napas.

"Rey."

Ia berhenti segera.

Terlalu cepat.

Matanya mencari wajah Seraphina. "Sakit?"

Seraphina menggeleng. Napasnya belum kembali. "Aku hanya memanggilmu."

Reynard menundukkan dahi ke dahinya. Untuk beberapa detik, hanya suara napas mereka dan dengung mesin mobil yang memenuhi ruang.

"Aku masih tidak suka kau memanggilnya Ko Vincent," katanya.

Seraphina hampir tertawa, tetapi bibirnya masih terasa panas. "Itu panggilan lama."

"Aku tahu."

"Kau tidak boleh menyuruhku berhenti memanggilnya begitu."

"Aku tahu."

"Tapi kau boleh cemberut?"

Reynard membuka mata. "Aku tidak cemberut."

"Kau sangat cemberut."

Ia tidak membantah. Itu lebih lucu daripada bantahan apa pun.

Seraphina menyentuh pipinya. "Besok aku akan membuatmu berhenti cemberut."

"Bagaimana?"

Ia belum tahu. Namun melihat laki-laki sedingin Reynard Hartono berubah seperti ini hanya karena satu nama, Seraphina tiba-tiba merasa sedikit nakal.

"Rahasia," katanya.

Reynard menatapnya lama, masih gelap, masih cemburu, tetapi kini ada api lain di sana.

"Kalau begitu," katanya pelan, "besok aku tunggu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!