Naomi Liem, 26 tahun, dokter spesialis kandungan yang baru pindah ke Jakarta. Hidup mandiri, dibesarkan oleh kakek tercintanya setelah ibunya meninggal dan ayah kandungnya menghilang. Yang dia inginkan sederhana: karier yang stabil, kehidupan yang tenang, dan mungkin — suatu hari nanti — seseorang yang cocok untuk diajak membangun rumah tangga.
Saat kakeknya menyebut "perjodohan dengan keluarga Wijaya," Naomi mengira pasangannya adalah Daniel — adik tiri yang ramah dan sesama dokter.
Yang datang ke rumah kakeknya hari itu bukan Daniel.
Reynard Wijaya. 30 tahun. Wajah dingin, tatapan tajam, dan reputasi sebagai pemimpin termuda Wijaya Group. Pria yang tidak pernah tersenyum di depan publik — tapi entah kenapa, di hadapan Naomi, sudut bibirnya selalu naik.
"Menikah denganku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Seperti sesuatu yang sudah dia putuskan sejak lama.
Naomi menerima. Bukan karena cinta — tapi karena dia merasa aman bersamanya. Karena dia tidak bisa menjelaskan mengapa, setiap kali Reynard mengirim pesan, jantungnya berdegup lebih kencang.
Pernikahan mereka dimulai tanpa drama. Reynard adalah suami yang sempurna: perhatian, sabar, protektif tapi tidak mengekang. Dia mengirim makan siang ke rumah sakit. Menjemput Naomi setelah jaga malam. Memasak sarapan di akhir pekan.
Naomi mulai jatuh cinta. Perlahan. Pasti. Tak terelakkan.
Tapi semakin dalam dia jatuh, semakin banyak hal yang tidak masuk akal:
Mengapa Reynard selalu tahu hal-hal kecil tentangnya?
Mengapa persiapan pernikahan mereka terlalu sempurna untuk sesuatu yang "baru direncanakan"?
Dan mengapa... foto suaminya ada di vihara yang sama, setiap tahun, sejak enam tahun yang lalu?
Sebuah kantong doa tua terjatuh dari laci. Di atasnya tertulis nama Naomi. Tanggalnya: enam tahun yang lalu.
Reynard Wijaya tidak menikahi Naomi karena "kebetulan cocok."
Dia sudah mencintainya. Diam-diam. Selama enam tahun. Tanpa pernah mengatakannya.
Dan pernikahan ini... adalah akhir dari penantiannya yang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 032: Ruang Kerja Kita
Naomi mendadak tidak berani langsung menyentuhnya.
Amplop kecil itu tergeletak di atas meja lounge, sederhana sampai hampir tidak cocok berada di antara dokumen lelang dan map pembayaran yang rapi. Namun tulisan tangan di depannya membuat dada Naomi berdebar pelan.
Untuk pemilik rumah baru lukisan ini.
Reynard tidak mendesak. Ia hanya berdiri di samping Naomi, memberi ruang seperti biasa.
"Kamu buka?" tanyanya.
Naomi mengangguk.
Di dalamnya ada selembar kartu tipis. Tidak panjang. Hanya beberapa baris kalimat dengan tinta hitam.
Semoga karya ini tidak hanya menjadi hiasan dinding, tetapi pengingat bahwa rumah yang baik dibangun oleh hati yang saling menjaga. Semoga pemilik barunya berbahagia.
Naomi membaca kalimat itu dua kali.
Rumah yang baik.
Hati yang saling menjaga.
Kata-kata itu sederhana, tetapi entah kenapa terasa tepat. Sejak pindah ke Bukit Permata Residence, ia masih sering menyebut rumah itu sebagai rumah Reynard di dalam kepala. Barang-barangnya memang sudah ada di sana. Buku, koper, tanaman, bahkan buku harian Mama. Namun ia belum benar-benar mengubah apa pun.
Ia hanya masuk.
Belum tinggal dengan jejaknya sendiri.
Dalam perjalanan pulang, kaligrafi itu belum ikut bersama mereka karena harus dikemas khusus, tetapi kartu kecil dari Bhante berada di pangkuan Naomi. Ia memegangnya seperti memegang sesuatu yang mudah rusak.
Reynard menoleh dari kursi sebelah. "Kamu suka pesannya?"
"Iya." Naomi menatap kartu itu. "Rasanya seperti ditegur halus."
"Ditegur?"
"Aku baru sadar, aku belum berani menganggap rumahmu sebagai rumahku."
Reynard diam sebentar. Lampu jalan melintas di wajahnya, membuat garis rahangnya tampak lebih tegas.
"Itu salahku?"
"Bukan." Naomi cepat menoleh. "Kamu sudah memberi ruang terlalu banyak. Mungkin aku yang masih takut terlalu cepat merasa punya."
Reynard mengulurkan tangan, telapak terbuka di atas jok.
Naomi menaruh tangannya di sana.
"Kalau kamu ingin mengubah sesuatu di rumah, ubah," kata Reynard. "Tidak perlu izin."
"Kalau aku mengganti warna sofa?"
"Ganti."
"Kalau aku memindahkan meja?"
"Pindahkan."
"Kalau aku mengambil ruang kerjamu?"
Kali ini Reynard menoleh penuh. "Ambil."
Naomi tertawa kecil. "Kamu jawab terlalu cepat."
"Karena jawabannya mudah."
Mobil memasuki gerbang Bukit Permata Residence. Dari balik kaca, Naomi melihat jendela lantai dua yang menyala. Di balik salah satu jendela itu ada ruang kerja Reynard, ruangan yang pernah ia lihat sepintas, penuh rak gelap, meja besar, dokumen perusahaan, dan suasana yang membuat orang otomatis bicara pelan.
Esok paginya, setelah kramnya hampir hilang, Naomi berdiri di ambang ruang kerja itu dengan tangan di pinggang.
Reynard baru selesai menerima telepon dari Aldo. Ia melihat Naomi memandangi rak buku seperti dokter memeriksa hasil lab.
"Vonisnya?" tanyanya.
"Terlalu serius."
"Ruang kerja memang serius."
"Bukan begitu." Naomi masuk, menyentuh punggung kursi kulit hitam yang besar. "Ruangan ini seperti hanya boleh dipakai orang yang tidak pernah tidur dan tidak pernah makan camilan."
Reynard bersandar di kusen pintu. "Aku kadang makan camilan."
"Kopi hitam tidak dihitung camilan."
Sudut bibirnya bergerak sedikit.
Naomi membuka salah satu rak kosong di sisi kanan. "Aku mau taruh beberapa buku medis di sini. Lalu meja kecil di dekat jendela. Bukan meja kerja besar, cukup untuk laptop dan catatan pasien yang perlu aku baca di rumah."
"Oke."
"Lampunya diganti lebih hangat. Yang sekarang bikin ruangan seperti ruang interogasi."
"Oke."
"Sofa itu..." Naomi menunjuk sofa abu-abu gelap di sudut. "Boleh diganti yang lebih nyaman? Kalau aku pulang jaga dan kamu masih kerja, aku bisa tidur sebentar di situ."
Reynard tidak langsung menjawab.
Naomi menoleh. "Kenapa?"
"Aku sedang membayangkan kamu tidur di ruang kerja saat aku masih meeting."
"Mengganggu?"
"Berbahaya."
Naomi mengerutkan dahi. "Berbahaya apa?"
"Aku mungkin berhenti meeting."
Wajah Naomi langsung panas. Ia pura-pura sibuk mengamati karpet.
"Kalau begitu sofanya tetap diganti," gumamnya.
"Tentu."
Siang itu, desainer interior yang biasa mengurus properti Reynard datang setelah dihubungi Aldo. Naomi sedikit kaget karena ia hanya mengira akan mencatat ide dulu. Reynard malah sudah menyediakan katalog material, contoh kain, pilihan lampu, dan ukuran ruangan lengkap.
"Kamu selalu secepat ini?" bisik Naomi ketika desainer sedang mengukur dinding.
"Tidak selalu."
"Kapan tidak?"
"Saat menunggu kamu menjawab lamaran."
Naomi menatapnya. Reynard menandatangani satu lembar persetujuan seolah baru saja mengatakan sesuatu yang sangat biasa.
Ia tidak tahu harus kesal atau tersipu.
Desainer menanyakan konsep. Naomi sempat ragu, lalu mulai menjelaskan. Warna kayu lebih terang. Karpet yang tidak terlalu tebal agar mudah dibersihkan. Lampu baca di dua sisi. Rak bawah untuk buku medis. Satu lemari kecil terkunci untuk dokumen penting Reynard. Sudut dekat jendela untuk tanaman kecil dan kaligrafi Bhante.
"Kaligrafi di ruang kerja?" tanya Reynard.
Naomi mengangguk. "Bukan di ruang tamu. Aku ingin kita yang melihatnya setiap hari."
Kata kita keluar begitu saja.
Reynard menatapnya cukup lama sampai Naomi sadar sendiri.
"Apa?"
"Tidak apa-apa."
"Kamu senyum."
"Aku suka kata tadi."
Naomi menunduk, membuka katalog kain sofa. "Kamu jangan membuat semua kata biasa jadi aneh."
"Aku tidak membuatnya aneh. Aku menikmatinya."
Sore menjelang, desain awal selesai. Beberapa perubahan kecil bisa langsung dilakukan hari itu juga. Staf memindahkan beberapa buku, mengganti lampu meja, dan membawa sampel sofa yang akan dipesan. Kaligrafi belum tiba, tetapi Naomi sudah menandai dinding tempatnya akan dipasang.
Jessica mengirim pesan saat Naomi memotret sudut jendela.
Jess:
Lo beneran renov ruang kerja CEO dalam tiga hari menikah?
Naomi:
Dia bilang boleh.
Jess:
Tentu saja dia bilang boleh. Kalau lo minta Gedung Wijaya Group dicat pink, kayaknya dia rapat dulu lima menit lalu setuju.
Naomi tertawa sendiri.
Reynard yang sedang berdiri di dekat rak menoleh. "Jessica?"
"Iya. Dia bilang kamu akan mengecat Gedung Wijaya Group pink kalau aku minta."
"Tidak."
Naomi mengangkat alis.
"Aku akan tanya dulu pink yang mana."
Tawa Naomi kali ini keluar lebih bebas. Staf yang lewat di koridor ikut tersenyum tanpa berani melihat terlalu lama.
Malamnya, ruang kerja belum sepenuhnya berubah, tetapi suasananya sudah berbeda. Lampu baru membuat ruangan lebih hangat. Di rak kanan, buku medis Naomi berdiri berdampingan dengan buku bisnis Reynard. Tanaman kecil dari apartemennya diletakkan di dekat jendela. Di meja samping, kartu dari Bhante diselipkan dalam bingkai sederhana sementara menunggu kaligrafinya datang.
Naomi berdiri di tengah ruangan, memperhatikan semuanya.
"Terlalu cepat?" tanya Reynard dari belakangnya.
Naomi menggeleng. "Tidak. Justru... rasanya akhirnya ada aku di sini."
Reynard berjalan mendekat, berhenti di sisinya. Bahu mereka hampir bersentuhan.
"Dari awal memang seharusnya ada kamu."
Kalimat itu pelan, tetapi jatuh tepat di tempat yang lunak di dada Naomi.
Ia menatap dua meja yang sekarang saling menghadap miring. Satu milik Reynard. Satu akan menjadi miliknya.
"Kalau nanti aku membaca jurnal medis di sini dan kamu meeting, kita jangan saling ganggu," kata Naomi, mencoba membuat suaranya ringan.
"Baik."
"Kalau aku ketiduran di sofa, jangan difoto."
"Aku tidak janji."
"Rey."
Reynard akhirnya tertawa pelan. Suara itu rendah, jarang, dan membuat ruang kerja yang tadinya asing terasa seperti tempat rahasia kecil mereka.
Naomi duduk di kursi barunya, mencoba tinggi meja. Reynard berdiri di seberang, tangannya di sandaran kursi sendiri.
Untuk sesaat, mereka hanya saling melihat di antara rak buku, lampu hangat, dan kartu Bhante yang bertuliskan tentang rumah.
Naomi menyadari sesuatu dengan tenang.
Ia tidak sedang menumpang di hidup Reynard.
Ia sedang mulai menyusun hidup mereka berdua.