Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.
Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.
Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.
Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.
Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
"Engkong sebentar lagi mau meninggal."
Kabin Rolls-Royce mendadak sunyi.
Hanya wiper di kaca depan yang masih bergerak, menggesek hujan ke kiri dan kanan dengan ritme dingin. Pak Chen, yang baru saja duduk kembali di kursi sopir, menoleh begitu cepat hingga bahunya menghantam sandaran kursi.
"Apa kamu bilang?"
Keira menekan syal di bahunya. Jari-jarinya masih kaku, tetapi suara dari dada Engkong Tedjo terdengar makin jelas, seperti seseorang yang mengomel dari balik pintu kayu tua.
"Capek... capek banget. Kontrak kerja seumur hidup itu siapa yang tanda tangan? Aku mau cuti. Mau mogok kerja. Mau pensiun dini..."
Keira memejamkan mata sesaat.
Kalau ia menyampaikan ini apa adanya, ia akan terdengar gila. Sayangnya, tidak ada cara yang terdengar waras untuk menjelaskan bahwa jantung seorang konglomerat sedang mengajukan pensiun.
"Jantung Engkong," kata Keira pelan. "Dia bilang capek. Mau mogok kerja. Mau pensiun dini."
Pak Chen langsung membuka pintu mobil dari dalam. Udara hujan menyusup masuk, menggigit kulit Keira yang belum sempat menghangat.
"Pak, saya turunkan dia sekarang."
"Chen."
"Ini kelewatan, Pak!" Suara Pak Chen pecah oleh marah yang ditahan. "Kita baru menolong dia dari jalan. Sekarang dia mengutuk Bapak? Ini modus. Bisa saja dia sengaja pura-pura sekarat supaya masuk mobil Bapak."
Keira tidak membantah. Ia memang tampak seperti masalah yang baru dipungut dari aspal, basah, pucat, berpiyama kelinci, tanpa tas, tanpa HP, tanpa identitas. Kalau ia berada di posisi Pak Chen, mungkin ia juga akan curiga.
Engkong Tedjo menatapnya lama.
Mata lelaki tua itu tidak lembut, tetapi juga tidak menghukum. Ada sesuatu yang tajam dan sabar di sana, seperti orang yang sudah terlalu sering melihat kebohongan hingga tahu kapan harus mendengar kemungkinan yang mustahil.
"Keira," katanya. "Kenapa kamu mengatakan itu?"
Keira mengangkat wajah. Kepalanya pusing, pandangan di tepi matanya masih berbintik putih.
"Karena kalau saya diam dan Engkong benar-benar meninggal, saya akan menyesal."
Pak Chen tertawa pendek, pahit. "Jawaban bagus. Penipu juga biasanya pintar bicara."
Keira menoleh ke arahnya. "Pak Chen, kalau saya penipu, saya akan minta uang. Saya tidak minta apa pun. Saya minta Engkong pergi ke rumah sakit."
"Kamu tahu nama saya dari mana?"
"Engkong memanggil Anda begitu tadi."
Pak Chen tertahan. Ia menatap Engkong Tedjo, lalu kembali menatap Keira dengan curiga yang belum berkurang.
Jantung di dada Engkong kembali bergumam, makin pelan.
"Mogok... mogok... aku mau tidur panjang..."
Keira meremas ujung syal.
"Hidup cuma satu, Engkong. Kalau saya bohong, Engkong rugi waktu dua puluh menit. Mungkin sedikit biaya pemeriksaan. Tapi kalau saya benar dan Engkong tidak pergi ke RS, ruginya seumur hidup."
Kalimat itu membuat tangan Pak Chen yang memegang gagang pintu berhenti.
Engkong Tedjo tiba-tiba tertawa kecil.
Suaranya pendek, serak, tetapi bukan tawa orang yang merasa dihina. Ia malah tampak agak terhibur.
"Logikamu bagus juga."
"Pak," Pak Chen hampir memohon. "Jangan percaya gadis asing begini."
"Aku tidak bilang percaya." Engkong Tedjo menyandarkan tubuhnya, wajahnya masih pucat di bawah lampu kabin. "Aku bilang logikanya bagus. Chen, ke RS Ananda."
"Pak..."
"Sekarang."
Pak Chen menutup pintu dengan gerakan keras. Mesin Rolls-Royce meraung halus, lalu mobil melesat menembus hujan.
Di luar, Lampu Jalan yang semakin jauh terdengar berteriak penuh kebanggaan.
"Nah gitu dong! Hidup dulu, dramanya belakangan! Jangan lupa kalau sukses, bilang sama semua orang Lampu Jalan berjasa, ya!"
Keira tidak sanggup menahan sudut bibirnya yang bergerak sedikit.
Engkong Tedjo menangkap perubahan kecil itu. "Ada yang lucu?"
"Lampu jalan tadi minta disebut berjasa."
Pak Chen dari depan mengerem sedikit lebih kasar daripada perlu. "Pak, dengar sendiri, kan?"
"Dengar apa?"
"Dia bicara dengan lampu jalan."
"Aku juga kadang bicara dengan tanaman bonsai kalau pasar saham turun," jawab Engkong Tedjo tenang. "Bedanya, bonsaiku tidak pernah menjawab."
Keira nyaris tersedak napasnya sendiri.
Pak Chen tampak ingin membantah, tetapi memilih memacu mobil lebih cepat. Jalanan malam itu hampir kosong. Hujan membuat lampu toko kabur menjadi garis panjang. Sesekali ban melewati genangan, air memukul bagian bawah mobil dengan suara berat.
Keira bersandar pada jok. Kehangatan kabin tidak cukup cepat mengusir dingin dari tulangnya. Syal Engkong berbau samar minyak angin dan teh tua. Bau itu anehnya membuatnya ingin tidur.
Tapi jantung Engkong tidak berhenti mengomel.
"Kenapa dibawa ngebut begini? Aku kan mau pensiun, bukan ikut balapan. Pelan-pelan dong. Aduh, ritme kacau. Siapa yang nyuruh minum kopi dua gelas tadi sore?"
Keira membuka mata.
"Engkong minum kopi dua gelas sore ini?"
Engkong Tedjo, yang sejak tadi masih cukup santai, akhirnya mengangkat alis.
Pak Chen membeku di kursi sopir.
"Bapak memang minum kopi," kata Pak Chen pelan. "Tapi hanya saya yang tahu. Dokter sudah melarang, jadi Bapak minta saya jangan bilang siapa-siapa."
Keira tidak merasa menang. Yang ia rasakan justru rasa dingin lain merambat ke punggungnya.
"Tolong lebih cepat, Pak Chen."
Kali ini Pak Chen tidak menjawab. Rolls-Royce melesat semakin cepat.
Lima belas menit kemudian, gerbang RS Ananda muncul di balik hujan. Bangunan kaca dan beton itu menyala terang seperti kapal besar di tengah malam. Petugas keamanan langsung bergerak saat melihat mobil Engkong Tedjo. Payung dibuka, pintu IGD VIP disiapkan, kursi roda didorong keluar.
Keira turun dengan bantuan seorang perawat. Begitu kakinya menyentuh lantai lobi, lututnya hampir menyerah. Perawat itu menahan lengannya.
"Nona juga pasien?"
"Dia ditemukan di jalan," kata Engkong dari kursi roda, lebih cepat daripada Pak Chen. "Periksa dia juga. Hipotermia, luka ringan, mungkin dehidrasi."
Pak Chen menahan napas kesal. "Pak, kondisi Bapak dulu."
"Aku masih bisa memerintah, berarti belum mati."
"Engkong," Keira memanggil pelan.
Lelaki tua itu menoleh. "Apa?"
Jantungnya berbisik, hampir malas.
"Aku mau tidur..."
"Jangan tunggu lama."
Sebelum Pak Chen bisa memarahi Keira lagi, langkah cepat terdengar dari lorong putih. Seorang pria berjas dokter berjalan mendekat, jas putihnya berkibar sedikit, rambut hitamnya rapi, wajahnya dingin seperti alat bedah yang baru disterilkan.
"Engkong."
Nada suaranya tenang, tetapi matanya bergerak cepat dari wajah Engkong ke kulit pucat, napas, posisi tangan, lalu monitor portabel yang mulai dipasang perawat.
Pak Chen seperti mendapat sandaran. "Dokter Jason, akhirnya."
Dokter Jason menoleh sekilas. "Kronologi."
"Kami menemukan gadis ini di jalan," Pak Chen langsung menunjuk Keira. "Setelah masuk mobil, dia bilang Engkong akan meninggal. Dia juga mengaku mendengar jantung Bapak bicara."
Tatapan Dokter Jason berhenti pada Keira.
Tidak ada amarah di sana. Justru lebih buruk, ada penilaian klinis yang dingin, seolah Keira adalah gejala aneh yang harus diklasifikasi.
"Nama?"
"Keira."
"Usia?"
"Dua puluh."
"Riwayat penyakit jiwa?"
Pak Chen tampak puas. Keira menahan napas. Pertanyaan itu seharusnya menyakitkan, tetapi tubuhnya terlalu lelah untuk bereaksi besar.
"Tidak ada diagnosis resmi," jawab Keira. "Tapi malam ini bukan tentang saya."
Alis Dokter Jason bergerak sangat tipis.
Engkong Tedjo tiba-tiba tertawa kecil lagi. "Jas, periksa aku dulu. Setelah itu kamu boleh menginterogasi cucu orang ini."
"Dia bukan cucu siapa-siapa di sini," gumam Pak Chen.
"Kalau begitu jangan kasar pada cucu orang lain."
Dokter Jason tidak ikut bercanda. Ia mendorong kursi roda Engkong sendiri menuju ruang pemeriksaan. Keira dibawa ke ruang sebelah untuk diperiksa suhu tubuh, tetapi pintu dibiarkan terbuka. Mungkin karena Engkong yang meminta. Mungkin karena semua orang masih menganggapnya bagian dari masalah.
Termometer digital berbunyi. Perawat mengerutkan kening.
"Suhu rendah. Nona harus ganti baju dan pakai selimut hangat."
"Nanti," kata Keira. Matanya tetap pada ruang pemeriksaan Engkong.
Di sana, EKG sudah terpasang. Monitor menunjukkan garis yang tampak terlalu rapi. Tekanan darah disebutkan normal. Saturasi normal. Enzim jantung belum keluar, tetapi pemeriksaan awal tidak mengkhawatirkan.
Dokter Jason melepas stetoskop dari telinganya.
"Secara pemeriksaan awal, Engkong stabil."
Pak Chen menatap Keira seolah kalimat itu adalah vonis. "Dengar? Stabil."
Keira tidak menjawab.
Karena jantung Engkong tidak terdengar stabil.
"Hore, alatnya ketipu. Aku istirahat dulu, ya. Capek akting sehat..."
Bulu kuduk Keira berdiri.
"Dokter Jason," panggilnya.
Jason menatapnya dari ambang pintu. "Apa lagi?"
"Jangan lepas monitor."
Pak Chen meledak. "Cukup! Pemeriksaan sudah jelas. Kamu pikir kamu lebih pintar dari Dokter Jason?"
"Tidak."
"Lalu kenapa masih bicara?"
Keira menatap monitor. Angka-angka hijau itu bergerak tenang, terlalu tenang untuk rasa takut yang mengeras di perutnya.
"Karena kalau saya diam, Engkong mati."
Ruangan menjadi sunyi. Beberapa perawat saling pandang. Pak Chen wajahnya merah oleh marah dan malu. Dokter Jason memandang Keira lebih lama, kali ini bukan hanya seperti melihat gejala, tetapi seperti melihat risiko.
Engkong Tedjo menghela napas. "Jas, biarkan monitornya tetap terpasang."
"Engkong, secara prosedur memang bisa observasi tiga puluh menit."
"Bagus. Observasi."
Pak Chen menutup mulutnya rapat-rapat.
Keira duduk di kursi lorong dengan selimut darurat di bahu. Tubuhnya menggigil lebih keras setelah masuk ruangan ber-AC. Perawat memaksa menaruh kompres hangat di tangannya. Di seberang kaca, Engkong Tedjo berbincang pelan dengan Dokter Jason. Lelaki tua itu masih sempat menertawakan sesuatu, sementara cucunya mencatat dengan wajah datar.
Empat menit setelah Dokter Jason menyatakan pemeriksaan awal stabil, suara dari dada Engkong berubah.
Tidak lagi mengomel.
Tidak lagi lucu.
Hanya bisikan yang tipis, jauh, dan menyerah.
"Bye-bye semuanya... aku pamit..."
Keira berdiri begitu cepat hingga selimut jatuh dari bahunya.
Pada detik yang sama, monitor jantung memekik panjang.
Garis hijau yang tadi bergerak rapi berubah kacau, lalu jatuh mengerikan. Tubuh Engkong Tedjo tersentak di ranjang pemeriksaan. Matanya terpejam. Tangannya jatuh lemas dari sisi ranjang.
Pak Chen menjerit, "Pak!"
Wajah Dokter Jason berubah untuk pertama kalinya.
"Code Blue!" suaranya membelah lorong. "Siapkan defibrilator! Panggil tim resusitasi, sekarang!"
semangat thor💪