NovelToon NovelToon
Ustadzah Pengganti Pengantin

Ustadzah Pengganti Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Malam yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Adrian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia mendapat kabar bahwa calon istrinya, Liana, mengalami kecelakaan fatal. Saat tiba di lokasi kejadian, Adrian terkejut menemukan Liana meninggal bersama seorang pria bernama Jamie, yang ternyata adalah kekasih Fatma.
Fatma, seorang ustadzah yang salehah, hancur mengetahui pria yang dicintainya telah berselingkuh dengan wanita yang bahkan tidak dikenalnya. Di tengah duka dan amarah, Adrian melampiaskan kesalahannya kepada Fatma dan menuduhnya tidak mampu menjaga Jamie. Meski Fatma menegaskan bahwa dirinya juga korban pengkhianatan, Adrian yang dipenuhi emosi membuat keputusan nekat: pada malam yang sama ia memaksa Fatma untuk menjadi istrinya.
Dari tragedi yang menyatukan dua hati yang sama-sama terluka, dimulailah kisah penuh konflik, luka, dan takdir yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Rasa nyeri di lengan akibat cubitan Fatma perlahan memudar, namun rasa sesak di dada Adrian justru semakin memuncak.

Ia menatap istrinya—wanita yang seharusnya ia lindungi dengan segenap jiwa, justru kini menjadi guru yang harus berdarah-darah membimbingnya kembali ke jalan yang benar.

Melihat Fatma yang masih berurai air mata, Adrian akhirnya menyadari betapa hancurnya dunia wanita itu karena ulah bejatnya.

"Sekarang ikuti aku, Mas," ujar Fatma dengan suara yang jauh lebih tenang namun tetap tegas. Ia menyeka air matanya dan membenarkan posisi duduknya di atas ranjang.

"Kita berzikir kepada Allah. Kita terus beristigfar"

Fatma memberi jeda, menatap mata suaminya dengan lekat.

"Jangan bilang kamu tidak tahu berzikir dan beristigfar. Kalau kamu tidak tahu, maka malam ini menjadi saksi betapa miskinnya hatimu, dan aku tidak punya alasan lagi untuk mempertahankan pernikahan ini."

Adrian menunduk dalam, merasakan beban berat di pundaknya.

Ia tidak berani menatap sorot mata Fatma yang kini terlihat jauh lebih dewasa dan berwibawa daripada dirinya.

Adrian menarik napas panjang, mencoba menekan segala ego yang selama ini menutupi hatinya.

"Aku, akan mengikuti," ucap Adrian pelan.

Ia kembali bersimpuh dengan sempurna di atas sajadahnya, menaruh tangannya di atas paha dengan posisi yang benar.

Ia menganggukkan kepalanya pelan, sebuah tanda bahwa ia menyerahkan kendali atas jiwanya kepada bimbingan sang istri.

Fatma mulai melafalkan zikir dengan suara yang lembut namun ritmis.

" Astaghfirullahaladzim..."

Adrian mengikuti, " Astaghfirullahaladzim..."

" Astaghfirullahaladzim..."

" Astaghfirullahaladzim..."

Suara mereka berpadu di dalam kamar rawat yang sunyi. Perlahan, Fatma menambah zikir lainnya.

"Subhanallah... Alhamdulillah... Allahu Akbar..."

Awalnya, suara Adrian terdengar ragu dan datar. Namun, seiring dengan repetisi yang diucapkan berulang kali, perlahan-lahan keangkuhan yang selama ini membungkus hatinya seolah mulai retak.

Rasa lelah, rasa sakit di sekujur tubuhnya, dan rasa penyesalan yang memuncak di kepala, semuanya melebur dalam setiap kalimat zikir yang ia ucapkan.

Fatma terus menuntun, memastikan setiap kata terucap dengan benar.

Di sudut ruangan, Bryan yang berdiri mengawasi ikut menundukkan kepalanya, turut mengaminkan zikir-zikir yang keluar dari bibir mantan atasannya tersebut.

Untuk pertama kalinya, kamar rumah sakit itu tidak lagi terasa seperti tempat pesakitan, melainkan tempat di mana sebuah jiwa yang nyaris mati mulai belajar untuk bernapas kembali.

"Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim..."

Suara Fatma masih terdengar mengalun, menuntun kalimat istigfar dengan sabar. Namun pada ketukan yang kesekian puluh, suara Adrian yang awalnya mendatar dan kaku mulai terdengar bergetar hebat.

Kalimat-kalimat zikir itu mendadak tersangkut di tenggorokannya.

Hingga akhirnya, pertahanan terakhir dari keangkuhan seorang Adrian runtuh sepenuhnya.

“Astaghfirullah... Ya Allah...”

Isak tangis pertama lolos dari bibir Adrian. Suaranya terdengar begitu berat, parau, dan sarat akan penderitaan yang teramat dalam.

Bahunya yang tegap seketika terguncang hebat. Pria yang selama ini menganggap air mata sebagai kelemahan terburuk, kini menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan yang gemetar.

Tangisan Adrian yang terdengar begitu pilu memenuhi setiap sudut kamar rawat.

Rasa bersalah yang selama ini terkunci rapat oleh egonya kini menyembur keluar bak air bah.

Ia menangis bukan karena takut dipenjara, bukan juga karena kehilangan hartanya, melainkan karena ia akhirnya melihat dengan jelas betapa menjijikkannya dirinya sendiri di hadapan sang pencipta dan di depan istri yang suci.

Fatma menghentikan zikirnya. Ia menatap punggung suaminya yang bergetar hebat di atas sajadah.

Ada dorongan naluriah untuk mengulurkan tangan, namun trauma di batinnya menahan gerakan itu. Akhirnya, Fatma memilih diam.

Ia membiarkan suaminya yang menangis sejadi-jadinya di hadapan Allah.

Ini adalah bagian dari proses peleburan dosa yang harus dilalui Adrian; membiarkan air mata itu membasahi sajadah sebagai saksi awal tobatnya yang tulus.

Di ambang pintu, Bryan yang melihat pemandangan itu ikut mengembuskan napas panjang dan membuang muka, memberikan privasi bagi mantan bosnya yang tengah mengetuk pintu ampunan tuhan.

Waktu terus bergulir menembus keheningan malam.

Satu jam penuh Adrian habiskan dalam posisi bersujud dan bersimpuh, meratapi setiap kebiadabannya.

Kamar itu hanya diisi oleh suara tangisnya yang perlahan-lahan mulai mereda menjadi sesenggukan kecil yang melelahkan.

Siksaan batin dan bimbingan spiritual yang baru pertama kali ia rasakan menguras seluruh energi fisiknya.

Hingga akhirnya, suasana kamar benar-benar kembali sunyi.

Fatma perlahan memajukan tubuhnya untuk melongok ke bawah ranjang.

Ia melihat Adrian sudah terkulai lemas. Dengan posisi masih mengenakan baju koko putih dan sarung tenunnya, Adrian yang kelelahan menangis akhirnya tertidur pulas di atas sajadah, berbantalkan lengannya sendiri.

Wajahnya yang lebam tampak bengkak karena air mata, namun gurat ketegangan yang biasa menghiasi wajahnya kini telah sirna, digantikan oleh kepasrahan yang total.

Melihat suaminya yang tertidur pulas dalam posisi yang tidak nyaman di atas lantai dingin, Fatma mengembuskan napas panjang.

Rasa benci dan kasihan mendadak bergolak menjadi satu di dalam dadanya.

Bagaimanapun juga, Adrian masih suaminya, dan melihat pria itu meringkuk seperti orang tak punya arah di atas sajadah membuat nurani Fatma terusik.

Fatma menoleh ke arah pintu selasar. "Bryan..." panggilnya setengah berbisik, takut membangunkan Adrian.

Bryan yang sedang bersandar di dekat pintu segera menegakkan tubuhnya dan melangkah mendekat.

"Iya, Nyonya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Apakah kamu bisa memindahkan Mas Adrian ke ranjang samping?" tanya Fatma, menunjuk ke arah ranjang kosong khusus penunggu pasien yang terletak di sebelah kanan tempat tidurnya.

Bryan, yang memiliki postur tubuh tinggi tegap dan berbadan besar karena terbiasa dengan latihan fisik, langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu.

"Bisa, Nyonya. Serahkan pada saya."

Dengan langkah tanpa suara, Bryan mendekati tubuh Adrian yang masih terlelap.

Dengan satu gerakan yang terlatih dan hati-hati, ia membopong tubuh mantan bosnya itu ke atas, memastikan kepala Adrian tidak terkulai kasar.

Adrian yang sudah benar-benar kehabisan energi akibat menangis dan syok spiritual sama sekali tidak terusik dari tidurnya.

Bryan membaringkan tubuh kekar itu dengan perlahan di atas kasur penunggu, lalu menarik selimut rumah sakit hingga sebatas dada Adrian.

"Terima kasih, Bryan," ucap Fatma tulus, menatap mantan anak buah suaminya itu dengan rasa syukur.

"Sama-sama, Nyonya," jawab Bryan sopan sembari membungkukkan badannya sedikit, sebelum akhirnya kembali mundur ke posisinya di dekat pintu untuk berjaga.

Setelah keadaan kembali sunyi, Fatma memiringkan tubuhnya dengan perlahan, menahan ringisan kecil saat luka di punggungnya bergesekan dengan kain pakaian rumah sakit.

Ia menatap lekat wajah Adrian yang tertidur di ranjang sebelah.

Dalam tidurnya yang lelap, gurat keangkuhan Adrian benar-benar sirna.

Yang tersisa hanyalah wajah lebam yang tampak begitu rapuh dan lelah.

Tatapan mata Fatma melembut untuk beberapa detik.

Ada secercah rasa kasihan yang menyelinap di sudut hatinya.

Fatma tahu, semua kebiadaban dan kemarahan buta yang dilakukan Adrian malam itu bukan sepenuhnya berasal dari kebencian murni pria itu kepadanya, melainkan karena Adrian telah dibutakan oleh hasutan dan kebohongan keji yang dirancang oleh Liana.

Suaminya telah dijadikan bidak catur yang bodoh, diadu domba hingga tega menghancurkan rumah tangganya sendiri demi ambisi wanita lain.

"Kamu begitu pintar di dunia bisnis, Mas. Tapi mengapa begitu bodoh dan mudah tertipu oleh Liana?" bisik Fatma sangat lirih dalam hati, menatap nanar wajah suaminya sebelum akhirnya memejamkan mata untuk menjemput sisa malam yang panjang.

1
falea sezi
mau like kasih hadiah yo males
falea sezi
🤣🤣 uda di aniyaya tp di beri kesempatan 🤣🤣 maaf ya thor. pantes like sepi wong goblok
falea sezi
males MC nya oon skip aja😒 emosi q liat cwek bloon lulusan pesantren tp goblok
falea sezi
goblok klo. uda. ketauan belangnya jangan ampe balikan mending crrai😒
falea sezi
🤣 orang gila cari tau dlu calon istri mu yg gatel nyalahin orang😒
Soviani
lanjut up ny
sri hastuti
huuhh goblok banget sih fatma ini, mau mati ya, sdh bongkar aja kejahatan suamimu, bikin jengkel, jd wanita jangan ngalah terus, km gak salah, ayolah thor kelamaan, cepet dibongkar kejahatan Adrian 😡😡😡
sri hastuti
huuh pengen tak bunuh aja adrian thor, bikin jengkel aja, kelamaan thor ,bisa mati itu fàtma, 😡😡😡😡
sri hastuti
pie to ini,sdh gila si adrian,ah jd males aku, orang kok goblok dan kejam spt itu dibiarkan thor , huuhhh bikin 😡😡😡
keynara
si Adrian emang bener bener udah gila nyiksa Fatma tanpa ampun
Himna Mohamad
lanjut kk
keynara
la kasian Fatma nggak tau apa apa jadi sasaran dendam si Adrian duh ujian Fatma berat banget💪
lanjut thor🙏
sri hastuti
konyol ini adrian thor, huuhhh pengen tak pukul aja ,jd laki2 kok spt itu, gak mau trima kenyataan, dasar pengecut , 😡😡😡
bikin jengkel aja thor 😡😡
my name is pho: sabar kak🤭🙏
total 1 replies
sri hastuti
dasar Adrian konyol, yg selingkuh tunangannya kok gak mau trima, dasarr laki2 bego, malah memaksa orang lain, sdh gila dia 😡😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!