❣️ Update : 19.00 WIB ❣️
Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30 - I'm Okay But I'm Not
Sinar matahari telah tergantikan oleh cahaya rembulan. Udara yang sejak siang terasa panas kini berubah lebih sejuk.
Aku masih berada di kamar ibu, sementara Ayah berada di ruang tengah sambil menonton televisi dan mengerjakan beberapa pekerjaan sekolah.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah.
"Itu pasti Javier. Cepat buka pintu sana," ujar Ibu.
"Kan ada Ayah, Bu," protesku.
"Ayah lagi ada kerjaan. Lagian kamu kan istrinya." Ibu menatapku. "Istri harus menyambut suami yang baru datang."
Aku menghela napas panjang.
Dengan malas aku keluar dari kamar. Namun saat sampai di ruang tengah, kulihat Ayah sudah berdiri dan hendak menuju pintu.
"Biar aku aja, Yah," ucapku.
Ayah mengangguk lalu kembali duduk.
Aku berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Di depan pintu, Javier berdiri sambil membawa beberapa plastik makanan di tangannya.
Tadi sore aku memang sempat mengirim pesan dan memintanya membawa makanan.
"Ayah dan Ibu mana?" tanyanya.
"Ayah di ruang tengah. Ibu masih di kamar."
Javier mengangguk lalu melangkah masuk.
Aku menutup pintu dan berjalan mengikutinya dari belakang.
"Ayah, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Javier langsung menyalami dan mencium tangan Ayah.
"Kamu bawa apa itu?" tanya Ayah sambil melirik plastik yang dibawa Javier.
"Makanan, Yah."
"Aduh, nggak usah repot-repot."
"Nggak apa-apa. Di rumah makan masih banyak bahan makanan. Sayang kalau nggak dimasak."
Ayah menoleh ke arahku sebentar lalu kembali menatap Javier.
"Ini pasti Naya yang nyuruh kamu bawa makanan, ya?"
Aku langsung menahan napas.
Kenapa Ayah bisa tahu?
"Tidak, Yah. Ini inisiatif saya sendiri."
Aku menoleh ke Javier.
Hah?
Kenapa dia bohong?
Padahal jelas-jelas aku yang memintanya membawa makanan.
"Ya sudah. Makasih ya."
Ayah tersenyum puas.
"Saya ke kamar Ibu dulu, Yah."
"Iya. Habis itu kita makan bersama."
Javier mengangguk.
"Nay, makanan itu tolong dibawa ke meja makan."
"Iya, Yah."
Aku mengambil plastik makanan dari tangan Javier.
Sementara Javier berjalan menuju kamar Ibu, aku menuju ruang makan sambil masih memikirkan jawabannya tadi.
Kenapa dia bilang itu inisiatifnya sendiri?
Padahal aku yang menyuruhnya.
Aku menata makanan yang dibawa Javier ke beberapa piring saji. Setelah semuanya siap dan meja makan tertata rapi, aku kembali ke ruang tengah.
"Yah, ayo makan. Makanannya udah siap."
"Oh, iya." Ayah langsung berdiri dari sofa.
Aku berjalan menuju kamar ibu. Baru saja tanganku hendak membuka pintu, pintu itu sudah terbuka lebih dulu.
Kulihat Javier sedang membantu ibu berjalan keluar kamar.
"Nay..." panggil Ibu.
"Ayo makan malam, Bu."
"Iya. Ini juga Javier ngajakin makan."
Aku hanya mengangguk.
Tak lama kemudian kami semua menuju ruang makan.
Ibu duduk di samping Ayah, sementara aku duduk di sebelah Javier.
Setelah membaca doa, kami mulai makan.
"Enak."
Ayah langsung mengangguk puas setelah suapan pertama.
"Masakan dari rumah makan kamu memang selalu enak."
"Terima kasih, Yah." Javier tersenyum kecil. "Tadi semuanya saya masak sendiri tanpa bantuan karyawan."
"Wah, hebat."
"Iya, benar." Ibu ikut mengangguk. "Ini lebih enak dari masakan Ibu."
"Ah, tidak, Bu." Javier langsung menggeleng. "Masakan Ibu jauh lebih enak."
Aku memilih diam dan fokus pada makananku.
"Kalau di rumah, kamu yang masak?" tanya Ibu.
"Iya, Bu."
Ibu langsung menoleh kepadaku.
"Naya... masa kamu biarin Javier yang masak sih? Kamu kan istrinya."
"Lha kan dia yang pintar masak."
"Itu bukan alasan."
"Kenapa bukan alasan?" protesku. "Kalau ada orang yang lebih jago, ya biar dia aja yang masak."
Ibu memijat pelipisnya.
"Naya..."
"Apa?"
"Kamu itu istrinya."
Aku langsung mendesah pelan.
"Kalau nanti aku yang masak, ujung-ujungnya malah kayak ikut lomba masak."
"Maksudnya?" tanya Ayah.
"Dia komentari masakan aku. Kurang ini lah, kurang itu lah."
"Nggak juga."
Aku langsung menoleh ke Javier.
"Nggak?"
Javier menggeleng.
"Kemarin aku bilang masakan kamu enak, kan?"
Aku terdiam.
"Cuma kayaknya kemarin kamu terburu-buru ngangkat masakannya. Jadi ada beberapa yang kayak kurang matang."
"Nah!"
Aku langsung menunjuk Javier.
"Ibu dengar sendiri, kan?"
"Lho memang kurang matang."
"Tuh kan!"
Aku menatap ibu penuh kemenangan.
"Aku nggak mau dikomentari kayak gitu."
Ibu justru menggeleng.
"Kenapa nggak mau?"
"Soalnya nyebelin."
"Harusnya kamu senang."
"Hah?"
"Kalau Javier kasih masukan, berarti kamu tahu bagian mana yang bisa diperbaiki."
Aku mendecakkan lidah.
"Nggak mau."
"Naya..."
"Lagian..." Aku menyendok nasi lagi. "Kalau suami bisa masak, kenapa aku harus masak?"
Hening sejenak.
Ibu hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawabanku.
"Meskipun suami bisa masak, kamu tetap istrinya." Ayah menatapku. "Tugas istri itu melayani suami."
Melayani?
Entah kenapa bulu kudukku langsung meremang mendengar kata itu.
"싫어. 싫어. 싫어. (Aku nggak mau. Aku nggak mau. Aku nggak mau.)”
Aku langsung menggeleng keras.
"Ya Allah..." Ayah memijat pelipisnya. "Kamu ngomong apa sih, Nay?"
"Aku nggak mau."
Ayah menghela napas panjang.
"Javier, maafkan Naya ya."
"Tidak apa-apa, Yah," jawab Javier santai.
"Oh iya, Javier..."
Ibu yang sejak tadi diam tiba-tiba angkat bicara.
Javier langsung menoleh.
"Ibu sebenarnya nggak mau mencampuri urusan kalian. Tapi sekarang kamu suami Naya, anak ibu. Dan ibu nggak mau Naya terluka."
Aku langsung merasa tidak enak.
Perasaan apa ini?
"Jadi sepertinya ibu harus memastikan sesuatu."
"Memastikan apa, Bu?" tanya Javier.
Ibu menatapnya beberapa saat.
"Kata Naya, kemarin kalian ketemu mantan kamu waktu kondangan."
Aku langsung menghentikan gerakan tanganku.
"Apa kamu masih menyukainya?"
Suasana meja makan langsung berubah hening.
Javier terlihat terkejut.
Bahkan Ayah ikut menoleh ke arahnya.
"Oh..." Javier tersenyum kecil lalu menggeleng. "Tidak, Bu. Tidak."
"Udah deh. Ngomong yang jujur aja."
Semua orang langsung menoleh kepadaku.
"Aku ngomong jujur kok." Javier masih terlihat tenang. "Kan kemarin aku udah bilang. Aku bahagia lihat Ina sekarang."
Entah kenapa saat Javier menyebut nama Devina, dadaku langsung terasa panas.
"Bilang bahagia belum tentu udah nggak suka lagi."
Aku menyendok nasi dengan kesal.
"Siapa tahu itu cuma penghiburan diri. Kamu cuma ikhlas aja, tapi di hati kamu masih ada namanya."
"Nggak gitu."
"Udah deh. Ngomong yang jujur aja kenapa susah banget sih?"
Javier menatapku beberapa detik.
Lalu...
"Kamu kenapa sih?"
Aku mengernyit.
"Maksudnya?"
"Kamu beneran cemburu ya sama Ina?"
Aku langsung tersedak oleh pertanyaannya.
"Hah?"
Ayah dan Ibu langsung menatapku bersamaan.
"Nggak!"
Aku meletakkan sendokku lebih keras dari yang seharusnya.
"Berapa kali aku harus bilang sih? Aku nggak cemburu!"
Seketika meja makan kembali hening.
Ayah diam.
Ibu diam.
Javier juga diam.
Mereka semua hanya menatapku.
"아 진짜... (Ah bener-bener deh...)”
Aku menutup wajah sebentar.
"아무튼... 난 질투 아니야! 절대! (Pokoknya... aku nggak cemburu! Nggak akan pernah!)”
Aku bahkan tidak peduli apakah mereka mengerti bahasa Korea atau tidak.
Yang penting aku sudah mengatakannya.
Aku kembali menyuapkan makanan ke mulutku.
Sementara tiga orang di meja makan itu masih menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah tidak ada satu pun dari mereka yang percaya pada apa yang baru saja kukatakan.
Dan yang paling menyebalkan...
Aku juga mulai tidak yakin apakah aku mempercayainya atau tidak.