NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Jeddar

"Nona Aruna, Anda sedang hamil."

Jedarrr!

Kabar yang keluar dari mulut dokter itu bagaikan hantaman ombak raksasa yang seketika membekukan seluruh isi ruangan.

Aruna melotot sempurna. Netranya bergetar hebat saat tangannya refleks bergerak menyentuh perut yang masih rata di balik bajunya. Otaknya langsung berputar cepat, menghitung mundur kalender dan memutar kembali memori tentang satu malam liar penuh kesalahan di club beberapa waktu lalu. Hanya satu malam. Dan benih dari berondong berusia sembilan belas tahun ini ternyata langsung tumbuh, berakar kuat di dalam rahimnya.

Di sisinya, Gavin mematung bak pahatan marmer. Genggaman tangannya pada jemari Aruna sempat melonggar karena saking syoknya, sebelum akhirnya sedetik kemudian ia justru meremas tangan wanita itu kembali dengan sangat erat. Di usianya yang baru sembilan belas tahun, dan di dalam pusaran konflik persenjataan bawah tanah yang mematikan, ia baru saja dihantam kenyataan bahwa ia akan menjadi seorang ayah.

Max yang berdiri di dekat pintu langsung menunduk hormat, menyembunyikan senyum bangga yang langka di wajah kaku seorang tangan kanan mafia.

"Selamat, Bos Kecil. Saya akan segera melaporkan kabar gembira ini kepada Tuan Dominic."

Gavin sama sekali tidak memedulikan ucapan Max. Ia perlahan menoleh, menatap Aruna yang kini tengah memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Kali ini, tangisnya bukan karena takut pada ancaman Kelompok Barat, melainkan karena syok menghadapi lembaran kenyataan baru yang begitu luar biasa.

Melihat ekspresi menggemaskan itu, Gavin mengulas senyum miring andalannya. Namun, kali ini guratan senyum itu terasa jauh lebih tulus, dewasa, dan sarat akan rasa tanggung jawab seutuhnya.

"Gimana, Kak?" bisik Gavin lirih. Ia memajukan tubuh, mendekatkan wajahnya ke telinga Aruna yang masih melongo tak percaya.

"Kayaknya kontrak pacar sewaan kita beneran harus diganti jadi akta nikah resmi secepatnya. Kali ini, Papa sama Mama pasti makin nggak sabar buat bikin pesta pernikahan paling megah di kota ini."

Aruna hanya terdiam, menatap lekat lelaki keras kepala di hadapannya. Lidahnya kelu, ia masih berusaha keras mencerna rentetan peristiwa gila yang terjadi hari ini.

Melihat atmosfer intim tersebut, sang dokter paruh baya tersenyum hangat. Ia mulai mengemasi stetoskop dan alat ultrasonik portabelnya ke dalam tas medis. Dokter itu bangkit berdiri, lalu membungkuk hormat kepada sepasang kekasih yang masih diliputi rasa syok yang membahagiakan itu.

"Saya sudah memberikan suntikan vitamin dosis ringan untuk meredakan mual dan pusing Nona Aruna," ujar sang dokter dengan nada suara yang menenangkan.

 "Tetapi untuk memastikan usia kandungan serta kesehatan janin secara akurat, Nona Aruna harus segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan ultrasonografi dan tes darah lebih lanjut."

"Baik, Dok. Terima kasih banyak," jawab Gavin. Suaranya kini terdengar jauh lebih mantap, mengubur dalam-dalam kepanikan remajanya.Dokter tersebut berbalik, melangkah menuju lift pribadi diikuti oleh Max yang sejak tadi berdiri siaga di dekat pintu keluar.

Begitu pintu lift berdenting tertutup dan membawa mereka turun, Max langsung merogoh saku jas hitamnya. Ia mengeluarkan ponsel dengan enkripsi khusus, lalu menekan satu tombol cepat untuk menghubungi sang penguasa tertinggi keluarga Sterling.

"Halo, Tuan. Jalur basement sudah bersih total," lapor Max dengan nada hormat yang tertahan.

 "Dan ada satu kabar besar dari dokter keluarga. Nona Aruna baru saja pingsan karena syok, dan setelah diperiksa... beliau sedang mengandung anak dari Bos Kecil."Keheningan sempat tercipta selama dua detik di seberang saluran.

Sunyi yang menegangkan, sebelum akhirnya suara tawa rendah, sebuah ekspresi yang sangat langka lolos dari bibir Dominic Sterling.

"Bagus. Alex ternyata bekerja lebih cepat dari dugaanku," sahut Dominic dari seberang telepon, terdengar sangat puas.

"Max, instruksikan Rumah Sakit Pusat Medika milik aliansi kita untuk mengosongkan seluruh lantai VVIP sekarang juga. Pastikan dokter kandungan terbaik sudah bersiap menyambut calon adik iparku."

"Baik, Tuan. Dimengerti."

****

Sementara di dalam ruang kerja lantai 24 yang sunyi, atmosfer canggung sekaligus manis mendadak menyelimuti Gavin dan Aruna yang masih duduk di atas sofa kulit. Aruna menunduk dalam, jemarinya meremas ujung bajunya dengan gelisah. Pikirannya masih berputar liar, membayangkan bagaimana reaksi "Kanjeng Ratu" Inda, ibunya, jika sampai tahu ia hamil sebelum ada janji suci pernikahan. Membayangkan kemarahan ibunya saja sudah sukses membuat Aruna meringis ngeri.

Melihat kecemasan itu, Gavin perlahan turun dari sofa lalu berlutut di lantai, menyamakan tinggi badannya dengan Aruna. Tangan kanannya yang sehat bergerak lembut, meraih dan menggenggam kembali sepasang tangan Aruna yang terasa sedingin es.

"Kak... lihat gue," bisik Gavin lirih, menatap langsung ke dalam manik mata almond Aruna yang sedang bergetar panik.

Aruna bergeming, namun Gavin tetap setia menunggu dengan sabar. "Jangan takut. Ada gue di sini. Gue nggak akan biarkan Kakak menghadapi ini sendirian."

Aruna akhirnya mendongak. Matanya berkaca-kaca menatap wajah tampan berondong di hadapannya yang kini tampak begitu serius.

"Gavin... kita baru kenal sebulan lebih. Kamu baru umur sembilan belas tahun," suara Aruna bergetar, menumpahkan segala logika yang berkecamuk di kepalanya.

"Kuliah kamu, dunia kamu... penuh dengan bahaya bersenjata seperti tadi. Bagaimana kita bisa membesarkan anak dalam kondisi seperti ini?"

Gavin tersenyum miring. Namun, kali ini senyuman asimetris itu tidak memancarkan kejahilan atau kesombongan, melainkan sebuah komitmen mutlak yang teramat tulus. Ia membawa telapak tangan Aruna ke bibirnya, lalu mengecup punggung tangan itu dengan lembut dan lama.

"Dunia gue emang berbahaya, Kak. Tapi justru karena ada anak ini dan Kakak di hidup gue, gue bakal pastikan dunia hitam itu nggak akan pernah bisa menyentuh lingkungan rumah kita seumur hidup," tutur Gavin dengan nada baritonnya yang berat namun sangat menenangkan.

Gavin terkekeh kecil, mencoba mencairkan ketegangan. "Soal kuliah? Sebenernya gue dari umur lima belas tahun udah kuliah, Kak bareng sama bianca, kaka kembar gw. Tapi gue juga sambil iseng sekolah SMA lagi kemarin karena gabut, sedangkan bianca milih males malesan. Lo bisa tanya Evan sama Ethan, mereka tau kartu gue itu. Gw udah lama fokus sama VSDN Dan sekarang, gue bakal buktikan ke Papa Fiki kalau gue siap jadi ayah terbaik."

Mendengar pengakuan tak terduga itu, ketakutan Aruna perlahan mengikis, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dadanya.

Gavin kemudian bangkit berdiri tegak. Ia mengulurkan tangan kanannya yang kokoh untuk membantu Aruna berdiri dari sofa.

"Yuk, kita ke rumah sakit sekarang. Mobil evakuasi medis dari Kak Dominic sudah menunggu di bawah. Kita periksa kondisi jagoan kecil kita dulu," ujar Gavin, tatapannya beralih sekilas ke arah perut rata Aruna dengan binar protektif.

"Setelah itu... kita pulang bersama dan istirahat total tanpa ada bantahan lagi."

Aruna menatap uluran tangan di hadapannya. Perlahan, bibirnya mengulas senyum manis yang sangat cantik sebuah senyuman yang meruntuhkan sisa-sisa dinding es di hatinya. Ia menyambut jemari kokoh pemuda itu dan menggenggamnya erat.

Aruna menyadari, meskipun jalannya ke depan akan penuh dengan riak drama keluarga Erros dan risiko tinggi dari dunia mafia klan Sterling, ia tidak akan pernah mau bertukar tempat dengan siapa pun lagi sore ini.

***

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!