NovelToon NovelToon
Menjadi Pengantin Pengganti

Menjadi Pengantin Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Pengantin Pengganti
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sia Masya

Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24

Joshua tersenyum tipis, lalu perlahan mendekatkan wajahnya. “Bukan sekadar rangkaian kata, Dian. Segala hal itu adalah kebenaran yang ada di dalam hatiku.”

Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu—cukup dekat hingga Dian bisa merasakan hangatnya hembusan napas Joshua menyentuh lembut kulit wajahnya.

“Bolehkah aku menciummu?” tanyanya pelan, nadanya begitu lembut seolah takut akan mengejutkannya, memberi ruang sepenuhnya bagi Dian untuk menolak jika ia belum siap.

Dian sempat terkejut sejenak, pipinya memerah merona, namun perlahan ia hanya mengangguk pelan, lalu memejamkan mata indahnya. Dengan penuh kelembutan dan rasa hormat yang mendalam, bibir Joshua menyentuh keningnya sebentar—satu sentuhan yang terasa begitu tulus, lembut, seolah menyimpan janji perlindungan abadi di dalamnya.

Saat menjauh sedikit, ia kembali menatap wajah Dian sambil tersenyum lebih lebar; manik matanya berkilau berbinar di bawah cahaya remang langit malam yang bertabur bintang.

“Bersediakah kamu menikah denganku, Dian?”

Dian tertegun sejenak, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia menatap lekat ke dalam mata pria itu, berusaha mencari kebenaran di sana, namun sedikit keraguan masih sempat menyelinap di tatapannya. “Aku…” suaranya berbisik pelan, seakan berat diucapkan.

Joshua sedikit mengernyitkan dahi, namun genggamannya tetap lembut dan kokoh di atas jemari gadis itu. “Masih ada keraguan di hatimu?”

Dian menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa keberaniannya yang tersembunyi. Ia menatap lurus ke arahnya, penuh rasa ingin tahu dan sedikit cemas. “Apakah… lamaran ini masih berhubungan dengan perjanjian antara ayahku dan kamu? Aku belum tahu isi persisnya, namun rasanya… semuanya bermula dari hal itu, bukan?”

Keheningan sejenak menyelimuti mereka, hanya suara angin malam yang berdesir pelan di sekitar. Joshua perlahan mengangguk pelan, namun sorot tatapannya tak pernah berubah—tetap lembut dan menenangkan. Ia mengusap lembut punggung tangan Dian berulang kali dengan ujung jarinya.

“Semulanya memang begitu,” akunya perlahan dan jujur. “Dulu aku setuju atas permintaan ayahmu demi membantu keluargamu keluar dari kesulitan besar. Namun percayalah, Dian… apa yang kini tumbuh di hatiku sama sekali tak ada hubungannya lagi dengan selembar kertas perjanjian itu. Aku tak lagi menginginkan ikatan ini karena kewajiban semata. Aku menginginkanmu—seluruh dirimu—karena aku sungguh mencintaimu. Kontrak itu bisa kucabut dan kubuang kapan saja jika kau mau.”

Ayahmu mengira aku orang yang bisa ia kendalikan lewat perjanjian itu… ia sama sekali tidak tahu bahwa dialah musuh terbesarku, dan dia baru saja mengundang bahaya terbesar ke dalam rumahnya sendiri, batinnya dingin.

Dian mengerti di dalam hatinya, perjanjian itu tetap harus dijalankan. Ia sendiri juga punya alasan mendesak yang tak bisa ia ceritakan pada siapa pun, demi keselamatan adik kandungnya yang hidup jauh di luar negeri, meskipun ia belum tahu dimana negara nya. Namun kini ada sesuatu yang berubah di dalam dadanya—ia merasa tak lagi berjuang sendirian memikul beban berat itu. Keraguannya pun hilang sepenuhnya berganti rasa tenang. Suatu saat nanti, mungkin ia akan menceritakan semua nya pada Joshua.

“Hanya saja… perjanjian itu tetap harus berjalan dulu. Tapi bolehkah aku mengajukan satu syarat?” tanyanya pelan sambil menunduk malu‑malu.

Joshua mengangguk santai sambil tersenyum ramah. “Tentu saja, apa pun itu, akan aku dengarkan.”

“Aku ingin masa berlakunya hanya satu tahun saja,” ucap Dian berani sambil kembali menatap wajah tampan di hadapannya.

Alis Joshua terangkat sedikit, tampak sedikit heran namun tetap lembut. “Satu tahun? Mengapa begitu keinginanmu?”

Wajah Dian makin memerah merona saat ia menjawab pelan namun tegas, seolah mengungkapkan harapan terindah di hatinya. “Karena setelah waktu itu habis… aku ingin kau datang melamarku kembali, dan menikahiku sepenuhnya—tanpa ada lagi kertas perjanjian, tanpa ada paksaan apa pun. Hanya semata‑mata karena kau menginginkanku dan mencintaiku selamanya.”

Joshua terdiam sesaat, menatap polosnya gadis itu lekat‑lekat, lalu senyum halus terukir indah di bibirnya. “Jadi begitu keinginanmu… Baiklah, aku setuju sepenuhnya. Akan aku penuhi permintaan itu.”

“Terima kasih, Joshua,” ucapnya lega sambil tersenyum bahagia, mata indahnya berbinar penuh rasa syukur.

“Tidak perlu berterima kasih. Segala hal yang kau minta, akan aku turuti,” jawabnya lembut sambil mengusap rambutnya dengan penuh kasih sayang pura‑pura.

Segalanya kini terasa jauh lebih mudah bagiku. Dia benar‑benar percaya pada setiap kata yang kukatakan, pikir Joshua dalam hati dengan nada dingin.

Di balik senyum manisnya yang tampak tulus itu, Joshua justru menyunggingkan senyum tipis yang penuh kelicikan dan kepuasan batin, lalu mengusap lembut puncak kepala Dian seolah sedang menenangkan anak kecil yang polos dan mudah ditipu.

Mereka pun duduk berdampingan dalam keheningan yang damai, saling berpegangan tangan erat, menikmati keindahan malam—tanpa sadar bahwa janji indah yang baru saja diucapkan itu hanyalah awal dari perangkap yang sudah disiapkan dengan sangat rapi sejak lama.

 .........

"Joshua, diamlah di sini! Jaga adikmu baik‑baik!"

Seorang wanita berusia sekitar 30-an tahun itu menggendong bayi di dalam keranjang, lalu menarik tangan Joshua kecil masuk ke dalam tempat persembunyian rahasia di balik dinding dapur.

"Mama… Mama mau ke mana?"

Air mata wanita itu mengalir deras mendengar pertanyaan polos anaknya.

"Kenapa Mama menangis? Di mana Papa?"

"Sayang, dengarkan Mama. Kamu harus diam dan tenang, tidak boleh bersuara sedikit pun. Adikmu baru saja tertidur, jadi Mama mohon—jangan sampai ia menangis. Jaga adikmu dengan baik."

"Aku berjanji akan menjaganya. Tapi… apakah Mama akan kembali menjemput kami?"

"Tentu saja. Ingat kan, lorong ini tembus ke luar rumah? Tapi jangan pernah keluar dulu sebelum Mama panggil, nanti kamu tertangkap."

"Iya, Ma. Mama tidak akan lama kan?"

"Iya. Anggap saja kita sedang bermain petak umpet. Jika kamu keluar saat ada orang lewat, berarti kamu kalah. Tapi kalau kamu diam dan tidak keluar meski mendengar apa pun, berarti kamu menang."

"Baiklah, Ma. Aku akan diam dengan tenang. Tenang saja… kali ini aku pasti akan menang."

"Anak Mama memang paling pintar dan berani."

Wanita tersebut mencium kening kedua anaknya dengan lembut—sebuah sentuhan yang terasa seperti perpisahan selamanya. Perlahan ia menutup rapat pintu lubang rahasia itu, desainnya sangat rahasia, tidak terjangkau oleh CCTV, dan hanya anggota keluarga yang tahu cara membukanya.

Saat itu Joshua baru berusia delapan tahun, sedangkan adiknya—Cindy—baru lahir beberapa hari. Sekarang sudah berlalu sembilan belas tahun lebih, hari kematian kedua orang tuanya.

Waktu berlalu begitu lambat di dalam sana. Ia mulai gelisah, mengapa kali ini permainan terasa begitu panjang? Ia menatap adiknya yang masih tertidur pulas.

"Dek, tunggu di sini sebentar ya. Kakak mau lihat Mama dan Papa sebentar. Jangan menangis," bisiknya pelan mencium adiknya yang masih sangat nyaman dalam tidurnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!