seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Alden masih berdiri mematung di dekat mading sekolah, matanya menatap nanar ke arah gerbang yang baru saja dilewati Rara. Dadanya terasa sesak.
"Tuh kan, Den! Apa gue bilang! Mata gue nggak mungkin salah lihat kemarin-kemarin," sebuah tepukan keras di bahu membuyarkan lamunan Alden.
Itu Nisa, sahabat sekaligus tetangga yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari kontrakan Rara. Nisa tersenyum miring, memandangi sisa kepulan asap dari kendaraan pria tegap yang baru saja pergi.
"Lu jangan polos-polos amat jadi cowok, Den. Selama ini lu bantuin keluarganya, eh ternyata Rara di belakang lu malah mainnya sama om-om ," kompor Roy dengan nada menghasut.
"Lihat tuh badannya tegap, gayanya elite. Nggak cocok banget kan sama status Rara yang cuma anak kontrakan tripleks? Lu nggak curiga Rara dijadiin... simpanan."
"Jaga mulut lu, Nis!" Alden mencengkeram kerah seragam Nisa dengan napas memburu. Matanya merah menahan amarah. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena cemburu, tapi karena dia tidak terima gadis sesuci Rara difitnah seperti itu.
Namun di dalam lubuk hatinya, Alden tidak bisa menampik rasa penasarannya. Dia mengenali betul postur tubuh pria di samping mobil tadi. Kenapa postur dan pembawaan pria itu mirip sekali dengan Abangnya, Athur, yang sudah lama tidak pulang ke rumah? Tapi Alden langsung menggelengkan kepala. Tidak mungkin. Abangnya adalah pengusaha sibuk yang dunianya sangat jauh dari lingkungan kumuh ini. Mana mungkin ada di sini, apalagi mengantar Rara.
"Gue cuma ngomong fakta, Den! Lu lihat sendiri tadi Rara sampai cium tangan! Kalau cuma teman atau tukang ojek, nggak bakal se-intim itu!" Nisa membela diri sambil melepaskan cengkeraman Alden.
Sementara itu, Rara yang baru saja masuk ke koridor kelas tampak berjalan terburu-buru dengan napas terengah-engah.
"Rara!" sebuah suara cempreng nan akrab memanggilnya.
Seorang gadis dengan jepitan rambut merah muda berlari menghampirinya, lalu merangkul pundak Rara dengan erat. Dia adalah Tika, sahabat sejati Rara sejak bangku SMP. Berbeda dengan Nisa yang bermulut racun, Tika adalah tipe sahabat yang sangat setia, selalu ada di baris terdepan untuk membela Rara, dan tahu persis betapa beratnya perjuangan hidup Rara menghidupi kedua adiknya.
"Napas dulu, Ra! Lu kayak dikejar hantu pangkalan tahu nggak," canda Tika sambil menyodorkan sebotol air mineral dari tasnya.
"Eh, tapi tunggu deh... kok tumben lu telat? Terus tadi gue kayak lihat lu turun dari kendaraan roda empat di depan gang. Lu berangkat sama siapa? Jangan bilang lu dapet tebengan cowok ganteng?"
Rara langsung tersedak air yang baru diminumnya. Wajahnya seketika pucat pasi. Ketakutan terbesar yang dia renungkan tadi pagi langsung terjadi di depan mata.
"E-eh? Nggak kok, Tik. Itu... itu cuma om-om gojek!" bohong Rara gugup, meremas tali tas ranselnya erat-erat.
Tika menyipitkan mata, menatap Rara penuh selidik. Sebagai sahabat yang sudah bertahun-tahun bersama, Tika tahu betul gerak-gerik Rara kalau sedang menyembunyikan sesuatu. Rara tidak pandai berbohong. Namun, melihat gurat kecemasan dan ketakutan yang mendalam di mata sahabatnya, Tika memilih untuk tidak mendesak. Dia tahu Rara sedang menanggung beban berat yang mungkin belum siap diceritakan.
Tika tersenyum hangat, lalu menggandeng lengan Rara menuju kelas. "Yaudah, kalau lu belum mau cerita sekarang nggak apa-apa. Tapi ingat ya, Ra, gue ini sahabat lu. Mau lu lagi susah, lagi seneng, atau lagi dikejar rentenir kontrakan sekalipun, gue bakal selalu ada di pihak lu. Kita hadapi bareng-bareng, oke?"
Mendengar ketulusan Tika, setitik air mata hampir saja lolos dari sudut mata Rara. Dia merasa sangat bersyukur memiliki Tika, namun di sisi lain, rasa bersalah karena menyembunyikan status pernikahan sirinya membuat dada Rara semakin terasa sesak.
Di sudut koridor lain, Alden masih menatap punggung Rara yang berjalan bersama Tika. Tatapan matanya yang biasa hangat kini meredup, menyisakan luka patah hati remaja yang mengira gadis impiannya telah direbut oleh pria dewasa misterius—yang tanpa dia ketahui, adalah kakak kandungnya sendiri.
Bel istirahat berbunyi nyaring. Rara segera menarik tangan Tika menuju kantin. Pikirannya masih tidak tenang sebelum memastikan kedua adiknya, Fino dan Nina, sudah mengisi perut mereka dengan benar.
Suasana kantin sangat ramai dan bising. Namun, mata Rara langsung menangkap sosok Fino yang sedang tertawa terbahak-bahak di meja pojok. Remaja 15 tahun itu sedang asyik merangkul pundak Alden, sementara Nina duduk di sebelah mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan abang tengilnya. Selama ini, Alden memang sudah dianggap seperti bagian dari keluarga mereka karena saking dekatnya.
"Woy, Bos Rara! Sini bergabung dengan rakyat jelata!" seru Fino tanpa urat malu begitu melihat kakaknya datang.
Rara dan Tika langsung menghampiri meja mereka. Saat Rara duduk di sebelah Nina, pandangannya sempat beradu dengan Alden. Sebenarnya, jantung Alden langsung berdegup kencang. Rasa penasaran dan api cemburu akibat provokasi Roy tadi pagi hampir saja membuat lidahnya gatal untuk langsung menginterogasi Rara soal pria misterius di gerbang sekolah.
Namun, melihat senyum lelah Rara dan bagaimana gadis itu langsung mengusap rambut Nina dengan penuh kasih sayang, Alden mengurungkan niatnya. Dia tidak tega merusak suasana. Alden memilih menelan bulat-bulat rasa penasarannya dan berpura-pura bersikap biasa saja.
"Eh, Den. Tumben lu diem aja? Biasanya lu yang paling semangat kalau Fino mulai ngaco," goda Tika sambil mencomot bakwan di meja.
"Ah, enggak kok, Tik. Cuma lagi agak pusing aja mikirin tugas fisika," bohong Alden sambil memaksakan senyum tipis.
"Halah, sok mikirin tugas! Bilang aja lu terpesona kan lihat pesona ketampanan gue yang makin memancar hari ini?" celetuk Fino dengan tingkat kepercayaan diri yang melampaui batas, memotong pembicaraan dengan wajah tengilnya.
Seketika, tawa Rara, Tika, dan Nina pecah. Bahkan Alden tidak bisa menahan tawa melihat kelakuan Fino yang sengaja dibuat-buat sok keren.
Kebersamaan dan tawa renyah mereka berlima membuat meja pojok itu menjadi pusat perhatian di kantin.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Brakk!
Sebuah gebrakan keras di meja membuat mangkuk bakso dan gelas es teh di sana berdenting nyaring. Tawa mereka langsung terhenti seketika.
Seorang siswi berambut panjang dengan seragam yang sengaja diperketat sudah berdiri di sana dengan berkacak pinggang. Dia adalah tasya teman Nisa di sekolah, cewek populer sekolah yang selama ini dikenal sangat terobsesi dan menyukai Alden secara terang-terangan. Wajahnya merah padam menahan amarah, menatap Rara dengan pandangan menghina.
"Heh, anak kontrakan! Lu bisa nggak sih jauh-jauh dari Alden?!" bentak cewek itu dengan suara melengking, memicu perhatian seluruh penghuni kantin yang mendadak senyap.
Rara tersentak kaget, wajahnya seketika memucat. "M-maksud kamu apa ya?"
"Nggak usah sok polos deh! Lu itu nggak tahu diri banget ya. Udah miskin, numpang hidup, sekarang mau gatel juga deketin Alden? Lu nggak ngaca status lu tuh cuma anak miskin pinggiran?!" teriaknya sengaja mempermalukan Rara di depan umum.
Mendengar kakaknya dihina, Fino yang tadinya tengil langsung berubah drastis. Tatapan matanya menajam, dia langsung berdiri tegak menghalangi posisi Rara. Sifat protektifnya sebagai satu-satunya pria di keluarga langsung keluar.
"Heh, Mak Lampir! Jaga ya mulut lu! Siapa yang gatel? Lu kalau sirik kalah saing sama kecantikan bidadari kontrakan gue, mending beli kaca yang gede!" gertak Fino dengan suara berat yang menekan, tidak ada lagi kesan bercanda di wajahnya.
Tika pun tidak tinggal diam. Sebagai sahabat setia, dia ikut berdiri dan mendorong bahu cewek pembuat keributan itu. "Maksud lu apa datang-datang ngelabrak sahabat gue?! Alden yang mau main sama kita, kenapa lu yang kebakaran jenggot?! Dasar gak punya sopan santun!"
Suasana kantin semakin memanas dan tegang, sementara Alden hanya bisa mematung di tempatnya dengan rahang mengeras, terkejut melihat keributan yang membawa-bawa namanya, di tengah hatinya yang sendiri sebenarnya masih terluka karena masalah tadi pagi.