NovelToon NovelToon
Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Pantaskah Aku Mencintai Seorang Polisi?

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Kriminal dan Bidadari
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

"Aku membiarkan diriku ditangkap oleh hukum, hanya agar aku bisa tetap berada di dalam duniamu."

....

Herry adalah kapten tim elit kepolisian Seoul yang dingin, kaku, dan menganggap dunia hanya sebatas hitam dan putih. Baginya, Marysa ratu mafia termuda yang kejam hanyalah target besar yang harus dia seret ke balik jeruji besi.

Namun, di balik borgol dan dinding penjara yang dingin, sebuah rahasia berdarah lima tahun lalu di Pelabuhan Incheon terkunci rapat. Marysa mengingat semuanya termasuk bagaimana dia mengorbankan segalanya demi menyelamatkan nyawa Herry. Sementara Herry? Amnesia pascatrauma menghapus seluruh eksistensi Marysa dari kepalanya, menyisakan tatapan asing yang penuh kebencian.

Di saat Marysa rela menerima semua siksaan penjara asalkan bisa berada di bawah langit yang sama dengan Herry, sebuah kabar menghantamnya tanpa ampun, Herry akan bertunangan dengan wanita lain.

...

apa yang difikirkan Marysa? Kabur? atau memilih dieksekusi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Pasar Malam

...

Kemenang untuk Rangga. Tania tanpa berfikir mengiyakan ajakannya. dan sekarang ini ia bersana Tania berada di pasar malam.

Gemerlap lampu hias beraneka warna berkedip-kedip kontran di atas tanah lapang yang becek dan berbau tanah basah. Suara musik dangdut koplo berdentum keras dari pelantang suara yang pecah, bersahut-sahutan dengan lengkingan mesin komidi putar dan teriakan riuh anak-anak yang menaiki kora-kora. Aroma arum manis yang pekat, minyak gorengan yang dipanaskan berulang kali, dan asap pekat dari pembakaran jagung memenuhi udara malam yang gerah.

Pasar malam di pinggiran Jakarta Utara selalu menjadi hiburan paling murah sekaligus paling hidup bagi masyarakat kelas bawah.

"Neng, ayo coba yang ini! Kalo bisa ngejatuhin semua kaleng pakai bola tenis ini, nanti dapet boneka beruang gede, loh!" Rangga berseru bersemangat, suaranya yang medok harus bersaing dengan kebisingan sekitar.

Tania Sae Ning berdiri kaku di samping Rangga. Malam ini, dia tidak memakai arang di wajahnya, membuat kulit porselennya yang bersih terpapar langsung di bawah temaram lampu pasar malam. Dia mengenakan kaos oblong putih longgar dan celana jins pudar yang dia beli dari pasar loak dekat kontrakannya. Rambut cokelat pendek sebahunya dibiarkan terurai ditiup angin malam yang membawa aroma laut gurih.

Tania hanya menatap tumpukan kaleng susu bekas itu dengan pandangan datar, tanpa minat. Di dunia lamanya, tangannya biasa memegang revolver kaliber 38 atau belati taktis buatan Jerman dengan presisi yang mematikan. Melempar bola tenis ke arah kaleng terasa seperti lelucon anak TK yang hambar. Namun, dia tidak menolak saat Rangga menyodorkan tiga butir bola tenis ke tangannya.

Plak! Plak! Plak!

Hanya dalam tiga gerakan cepat yang efisien tanpa ancang-ancang yang berlebihan ketiga bola itu melesat lurus dan menghantam tepat di titik tumpu terbawah kaleng. Semua kaleng jatuh berserakan dalam sekejap. Penjual stan mainan itu sampai melongo, sementara Rangga langsung bersorak heboh sambil menepuk tangannya sendiri.

Namun, di sela-sela tawa dan seruannya, ada sesuatu yang mengganjal di dalam dada Rangga.

Pria jangkung itu sesekali mencuri pandang ke arah Tania dengan dahi yang mengerut bingung. Sepanjang malam ini, dia mengajak Tania menaiki bianglala, berjalan melewati deretan penjual baju bekas, hingga makan gulali bersama. Semua itu dia lakukan demi satu tujuan, memastikan keanehan yang terjadi pada hatinya sejak siang tadi.

Rangga adalah seorang penakluk wanita, seorang playboy ulung yang tahu persis bagaimana cara membuat hati seorang gadis berdesir tanpa perlu mengorbankan perasaannya sendiri. Cinta, baginya, adalah dongeng sebelum tidur yang tidak nyata. Dia hanya suka bersenang-senang, berpindah dari satu hati ke hati lain tanpa pernah merasa terikat.

Tapi kenapa sekarang rasanya aneh bener, toh? batin Rangga, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Dia menatap profil samping wajah Tania yang bernuansa Asia Timur yang kental. Matanya yang sipit dan kelam, garis rahangnya yang tegas namun feminin, serta pembawaannya yang dingin. Masa iya secepat ini aku jatuh cinta? Apa cuma karena dia cantik dan sipit aja? Ah, nggak mungkin. Perempuan secantik apa pun biasanya baper kalau tak gombalin, tapi si Eneng ini malah datar-datar aja. Ini aneh... bener-bener aneh.

Lamunan Rangga buyar seketika ketika sebuah hentakan kaki yang kasar terdengar mendekat ke arah meja plastik tempat mereka berdiri.

"Oh! Jadi bener ya desas-desus orang pos! Kamu sekarang keluyuran sama perempuan kusam ini, Ngga?!"

Sebuah suara melengking dengan nada tinggi yang sarat akan amarah memecah kebersamaan mereka. Tania dan Rangga menoleh serempak. Di hadapan mereka, berdiri seorang wanita muda dengan rambut yang dicat pirang terang yang tampak rusak di bagian ujungnya. Pakaiannya sangat ketat tank top merah menyala dengan celana jin pendek yang mengekspos sebagian besar kulitnya, ditambah riasan wajah yang terlalu tebal dengan aroma parfum menyengat yang menusuk hidung. Penampilannya tipikal wanita malam kelas teri yang biasa mangkal.

Wanita pirang itu menunjuk wajah Tania dengan telunjuknya yang berkuku panjang. "Heh, perempuan gatel! Kamu gak tahu ya kalau Rangga ini pacarku?! Berani-beraninya kamu jalan bareng dia ke pasar malam!"

Rangga menghela napas panjang, memutar bola matanya malas. Ekspresi jenakanya langsung lenyap, digantikan oleh wajah acuh tak acuh yang dingin. Dia melangkah maju, menghalangi pandangan wanita pirang itu dari Tania.

"Halah, Sisca... kamu ini ngomong apa, toh?" ujar Rangga, suaranya terdengar sangat santai, bahkan terkesan meremehkan. "Pacar dari mana? Kita kan cuma jalan bareng dua kali minggu lalu, makan bakso, terus udah. Gak ada tembak-tembakan, gak ada jadian. Wong aku ini cuma pemain kok, gak ada cinta-cintaan di antara kita. Seharusnya kamu dan semua perempuan disini udah tahu kalau aku ini playboy. Jangan dibawa baper, Sis!"

Ucapan jujur yang kejam dari Rangga membuat wanita bernama Sisca itu meradang. Wajahnya yang tebal oleh bedak memerah padam karena malu dan marah, terutama karena beberapa pengunjung pasar malam mulai memperhatikan mereka.

"Kamu keterlaluan ya, Ngga!" Sisca berteriak, lalu tatapan matanya kembali menghujam Tania dengan kebencian yang mendalam. "Dan kamu, perempuan sialan! Mau-maunya diajak jalan sama cowok modal seragam oranye begini! Palingan kamu juga cuma lonte pelarian aja?!"

Sejak awal makian itu dilontarkan, Tania hanya berdiri diam di posisinya. Sepasang mata kelamnya menatap Sisca dengan pandangan kosong yang sangat dingin, jenis tatapan yang biasa dia berikan pada pengkhianat klan sebelum mereka dieksekusi. Dia tidak merasa terhina oleh kata-kata kasar wanita itu, karena baginya, keberadaan Sisca tidak lebih penting dari sebutir debu di bawah sandal jepitnya.

Namun, entah mengapa, karena merasa malam ini suasananya cukup asyik dan dia sudah lama tidak terlibat dalam konfrontasi verbal yang menghibur, Tania memutuskan untuk angkat bicara. Angkat bicara bukan karena dia marah, melainkan karena dia ingin melihat bagaimana reaksi manusia-manusia di sekitarnya jika dia sedikit membalikkan keadaan.

Tania melangkah maju, melewati bahu Rangga. Dia menatap Sisca lurus-lurus, melipat kedua tangannya di depan dada dengan keangkuhan alami seorang ratu mafia yang tak bisa disembunyikan oleh pakaian loak.

"Jika benar saya pacaran dengan Rangga, lalu kenapa?" Tania berbicara dalam bahasa Indonesia yang kaku namun terdengar sangat tenang dan berwibawa. "Dan satu hal lagi... kenyataannya, saya memang jauh lebih cantik daripada kamu."

Deg.

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir tipis Tania, dingin, menusuk, dan mutlak tanpa keraguan.

Rangga yang berdiri di sampingnya seketika membeku di tempat. Matanya membelalak lebar, mulutnya sedikit terbuka menatap Tania dengan ekspresi tidak percaya. He? Si Eneng... barusan ngaku jadi pacarku? Dan dia... narsis banget tapi emang beneran cantik? Jantung Rangga kembali berdegup gila-gilaan, kali ini dengan rasa hangat yang menjalar hingga ke ujung telinganya. Seneng banget!!

Sisca tersedak oleh kata-katanya sendiri. Dia menatap Tania dengan tatapan syok, tidak menyangka bahwa wanita asing yang semula diam itu akan melancarkan serangan balik yang begitu telak menghancurkan harga dirinya. Dengan napas yang memburu karena malu yang luar biasa, Sisca akhirnya menghentakkan kakinya kasar.

"Awas kamu, ya!" Sisca mendesis, lalu berbalik pergi sambil menyenggol bahu kanan Tania dengan keras hingga tubuh ramping Tania sedikit bergeser.

Tania hanya menatap kepergian wanita itu dengan pandangan datar. Dia kemudian menoleh ke arah Rangga yang masih mematung seperti patung lilin di tempatnya berdiri. Melihat ekspresi syok pria jangkung itu, Tania berdehem pelan. Aura keangkuhannya menghilang, kembali digantikan oleh ketakutan-ketakutan kecil seorang buronan yang kaku dalam bersosialisasi.

"Itu... saya hanya bercanda," kata Tania, suaranya kembali datar dan kaku, matanya beralih menatap ke arah stan martabak di kejauhan untuk menghindari kontak mata dengan Rangga. "Saya tidak suka dihina oleh orang seperti dia. Jadi saya hanya membalasnya. Jangan dianggap serius."

Rangga menepuk jidatnya sendiri, mengembuskan napas panjang sambil mencoba menenangkan debaran jantungnya yang belum juga mereda. "Aduh, Neng Tania... bercandamu itu hampir bikin jantungku copot dari tempatnya, tahu gak? Tapi... makasih ya, udah bikin si Sisca pergi. Baru kali ini ada cewek yang bisa bikin aku mati kutu begini."

Tania tidak menjawab, dia hanya berjalan mendahului Rangga, menyusuri jalanan pasar malam yang mulai sepi. Dari jarak tiga puluh meter di belakang mereka, di balik keremangan tenda penjual pakaian, sesosok pria berjaket hitam dengan mata sipit yang tajam terus mengawasi. Anak buah setia Tania memastikan tidak ada bahaya nyata yang timbul dari konfrontasi kecil tadi, membiarkan sang ratu mafia terus melanjutkan hidup barunya yang lambat dan penuh teka-teki di tanah selatan ini.

...

Sementara itu, di belahan bumi bagian utara yang membeku, malam hari di Seoul tidak memberikan ketenangan sedikit pun bagi Kapten Herry.

Setelah seharian menghabiskan waktu senggangnya secara diam-diam untuk mengemudi menuju kawasan industri tua di Pelabuhan Incheon, Herry kembali ke apartemennya dengan tangan hampa. Tempat kejadian perkara lima tahun lalu itu kini telah berubah menjadi kompleks pergudangan modern yang ramai, menghapus seluruh jejak fisik masa lalu yang ingin dia cari. Tidak ada bercak darah, tidak ada sisa palet kayu tua, tidak ada apa-apa yang bisa memicu memorinya secara instan.

Herry duduk di kursi kulit ruang tamunya yang gelap, menopang kepalanya yang terasa pening dengan kedua tangan. Kelelahan mental dan stres akibat penyangkalan yang terus-menerus dia lakukan mulai menggerogoti pertahanan dirinya.

Dia teringat bagaimana siang tadi, saat dia berdiri di dermaga Incheon yang dingin, dia mencoba memejamkan mata dan memanggil kembali bayangan wajah Marysa yang menyelamatkannya. Namun, semakin dia memaksa otaknya bekerja, semakin besar pula rasa sakit yang menusuk pelipisnya, menyisakan kekosongan yang pekat di dalam dadanya.

Siapa kamu sebenarnya di hidupku, Marysa? batin Herry, matanya yang sedingin es menatap lurus ke arah kegelapan malam di luar jendela apartemennya.

Di atas meja di hadapannya, ponselnya terus bergetar, menampilkan nama "Jessica Hwang Won" di layarnya sebuah pengingat kaku akan realitas masa depan yang harus dia jalani sebagai calon menantu Wakil Komisaris Jenderal. Namun, Herry membiarkan ponsel itu terus bergetar hingga mati sendiri. Jiwanya telah melangkah terlalu jauh ke dalam labirin kegelapan yang ditinggalkan oleh sang ratu mafia, dan dia tahu, tidak ada jalan kembali sebelum dia berhasil menemukan kebenaran yang sesungguhnya, ke mana pun jejak Marysa akan membawanya pergi.

...

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like nya 😇

1
falea sezi
sebel liat kapten sok ganteng gk tau diri😒
falea sezi
moga aja ma rangga aja
falea sezi
gantengnya mas rangga🤣 ma rangga aja lahh biar miskin bukan tunangan orang yg gk tau Terima kasih😒
falea sezi
lanjut donk bkin si neng di taksir cogan 😒 sebel liat polisi sok cakep uda nikah aja ma anak komandan mu itu🤣 abis itu ingatan balik nyesel lu pria g tau diri🤭
falea sezi
nikah aja sana 😒 biar si neng ma cogan di Indonesia aja🤭
falea sezi
😕 nyesek amat sih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!