Aurelia hanyalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi keluarga penyihir terpandang. Dibesarkan bersama tiga putra berbakat, ia tumbuh ditengah kasih sayang sekaligus harapan untuk menjadi bagian dari keluarga itu selamanya.
Namun takdir berkata lain.
Dibalik senyumnya, Aurelia menyimpan kekuatan langka yang mampu mengubah dunia. Saat masa lalunya perlahan terungkap, ia dipertemukan kembali dengan sosok yang pernah menyelamatkannya di masa kecil—seseorang yang tak pernah berhenti mencarinya, sementara ia telah melupakannya.
Di antara takdir, sihir, dan perasaan yang tak pernah terduga, siapa yang akan dipilih oleh hati seorang penyihir terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Mereka yang Mulai Bergerak
Langit yang sejak siang dipenuhi cahaya, kini berubah menjadi jingga keemasan, sebelum perlahan matahari yang mulai tenggelam di balik pegunungan Arcanis yang menjulang tinggi di kejauhan. Namun di seluruh penjuru akademi, tak seorang pun benar-benar menikmati keindahan sore itu, karena semua murid masih membicarakan satu hal yang sama.
Gedung Astralis telah terbuka.
Sebuah bangunan yang selama puluhan tahun hanya menjadi legenda, kini kembali menunjukkan keberadaannya, dan penyebabnya adalah seorang gadis bernama Aurelia Evandria.
Lorong asrama perempuan mulai ramai ketika Aurelia kembali. Begitu pintu terbuka, puluhan pasang mata langsung menoleh ke arahnya, bisikkan-bisikkan kecil mereka pun terdengar hingga telinga Aurelia.
“Itu dia, gadis yang berhasil membuka Astralis.” Bisik salah satu murid disana.
“Aku dengar dia pewaris sihir kuno.” Bisik yang lainnya.
“Tidak mungkin, dia hanya murid baru.” Timpal yang lain.
Mendengar semua bisikan itu membuat Aurelia menunduk, ia juga lekas mempercepat langkahnya agar cepat tiba di kamarnya. Sorot mata orang-orang disana membuatnya tidak nyaman, padahal ia sendiri masih belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
Pintu kamar tertutup, Aurelia menghembuskan napas panjang, tubuhnya pun perlahan bersandar pada pintu. “Kenapa semuanya jadi begini?” Tanyanya seraya memperhatikan kedua telapak tangannya.
Tongkat sihir perak itu masih bersamanya. Kristal yang berbentuk bintang yang di ujungnya memancarkan cahaya yang sangat lembut. Aurelia menatapnya lama, kemudian perasaan hangat kembali ia rasakan, seolah tongkat itu mengenalnya jauh lebih baik dari pada dirinya sendiri.
Di tempat lain, tepatnya di ruang rapat para professor, suasana disana justru terasa begitu sangat tegang. Kepala Akademi berdiri menghadap jendela besar, tatapannya tertuju pada Gedung Astralis yang kini kembali tertutup dan Profesor Cedric mencoba untuk memecah keheningan.
“Kita tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama.” Ucap Profesor Cedric dan professor lainnya pun mengangguk setuju.
“Berita ini pasti sudah menyebar keluar akademi, dan sekarang bukan hanya kita yang tahu.” Pria tua berjanggut putih yang duduk di ujung meja pun ikut membuka suara.
“Jika benar gadis itu adalah pewaris Astralis, maka mereka juga akan datang.” Profesor lain pun ikut menyahut dan ruangan mendadak menjadi sunyi.
Tidak ada seorang pun yang berani menyebut nama kelompok itu. Kelompok yang telah menghilang bertahun-tahun lalu, dan selalu muncul ketika kekuatan kuno mulai bangkit. Kalimat terakhir yang di ucapkan oleh professor itu akhirnya membuat Kepala Akademi berbalik.
“Perkuat perlindungan akademi.” Perintah Kepala Akademi. “Tidak seorang pun boleh mengetahui identitas sebenarnya Aurelia. Setidaknya… belum untuk saat ini.” Kepala Akademi menambahkan.
Jauh di luar wilayah Aetherion, tepatnya di sebuah kastel tua yang tersembunyi di balik hutan hutan hitam terdapat api unggun yang menyala di tengah aula. Beberapa orang berjubah hitam berdiri mengelilinginya, wajah mereka tertutup topeng dan suasana disana sangat mencekam.
Seorang pria tua duduk di singgasana batu, di tangannya terdapat bola kristal hitam yang permukaannya perlahan memperlihatkan bayangan Gedung Astralis, lalu bayangan itu berubah menjadi bayangan Aurelia dan pria itu tersenyum tipis.
“Akhirnya pewaris terakhir telah bangun.”
“Perlukah kami bergerak sekarang?” Salah seorang bawahannya menunduk hormat, namun pria itu segera menggeleng.
“Belum. Biarkan dia tumbuh menjadi semakin kuat, karena seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, semakin kuat kekuatannya, semakin mudah juga untuk kita mengambilnya.” Suara tawanya kini menggema memenuhi ruangan tersebut.
Di belakang singgasana pria itu, terdapat simbol bintang berujung tujuh yang retak terpahat di dinding batu. Sebuah lambang yang telah lama hilang dari sejarah dunia sihir.
---
Malam itu di asrama akademi Aetherion, Lyra yang merasa bosan itu pun mencoba untuk mendatangi ruangan teman pertamanya dengan membawa dua cangkir coklat hangat ditangannya. Setibanya di kamar Aurelia, Aurelia tersenyum menyambut kedatangannya dan mempersilakan Lyra untuk masuk.
“Kamu pasti belum makan.” Ucap Lyra dengan meletakkan dua cangkir coklat hangat yang ia bawa sebelumnya di atas meja.
“Aku memang tidak terlalu lapar.” Aurelia menjawab seraya tertawa kecil. Lyra duduk disampingnya, dan tatapannya penuh dengan rasa ingin tahu.
“Jadi…” Lyra menggantungkan ucapannya sebentar. “Bagaimana isi Gedung Astralis?” Sambung Lyra dengan penuh penasaran dan membuat Aurelia diam seketika, kemudian ia memandangi cangkir coklat yang kini berada ditangannya.
“Aneh, seperti mimpi. Aku melihat banyak hal yang tidak kupahami dan rasanya seperti aku pernah berada di sana.”
“Padahal kau baru pertama kali masuk?” Lyra memiringkan kepalanya dihadapan wajah Aurelia dan pertanyaan itu membuat Aurelia mengangguk.
“Itulah yang membuatku takut.” Lalu keheningan pun menyelimuti mereka. Beberapa saat kemudian Lyra menggenggam tangan sahabatnya dengan begitu lembut.
“Kalau kau merasa bingung, kau tidak perlu menghadapinya sendirian.” Ucapan Lyra itu membuat hati Aurelia terasa hangat, karena sudah lama sekali tidak ada yang mengatakan hal seperti itu padanya.
Di balkon menara timur, Orion kembali berdiri sendirian disana. Angin malam meniup jubah hitamnya, dan ia tampak tengah memandangi asrama perempuan. Di balik salah satu jendela, cahaya kamar Aurelia masih menyala, Orion mengeluarkan pita biru lusuh dari sakunya dan mengusapnya perlahan.
“Empat belas tahun.” Gumamnya lirih. “Aku menepati janjiku, tapi kau sudah melupakanku.” Matanya perlahan terpejam sehingga kenangan lama kembali memenuhi pikirannya.
Kenangan lama yang dimana saat itu sedang hujan deras, terdapat api yang membakar desa hingga tangisan seorang gadis kecil dan tangan mungil yang menggenggam bajunya dengan begitu erat.
“Jangan tinggalkan aku.”
Mengingat kalimat itu membuat Orion mengepalkan tangannya, ia masih mengingat semuanya dengan sangat jelas, namun ia memilih diam, karena menurutnya memang belum waktunya. Menurutnya, jika Aurelia mengetahui masa lalunya sekarang, ia hanya akan semakin terluka.
Sementara itu di kamar Aurelia, ia sendiri pun tidak bisa tidur. Aurelia sudah mencoba berulang kali untuk memejamkan kedua matanya, namun setiap kali hampir terlelap, bayangan wanita berjubah putih itu kembali muncul.
Wanita itu tersenyum dengan lembut kepadanya, namun senyumannya membuat hatinya merasa sangat sesak. Aurelia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Langit malam tampak begitu indah, terdapat ribuan rasi bintang yang berkilauan dan tanpa sadar ia menggenggam liontin di lehernya.
Tidak lama kemudian, liontin itu memancarkan cahaya, cahayanya tidak seterang sebelumnya, namun cukup untuk menerangi kamarnya. Aurelia membelalakkan kedua matanya, cahaya itu kini perlahan membentuk lingkaran kecil di udara.
Di tengah lingkaran itu pun kini muncul bayangan seorang anak laki-laki yang sedang tersenyum dengan tangannya yang sedang mengulurkan sebuah pita berwarna biru.
“Untukmu.” Suara itu terdengar sangat jauh dan samar, namun cukup jelas dan Aurelia spontan mengulurkan tangannya. Bayangan itu menghilang, lingkaran cahaya pecah menjadi ribuan partikel kecil dan membuat ruangan kembali gelap. Aurelia berdiri mematung, jantungnya berdegup sangat cepat.
“Siapa kau?” Tidak ada jawaban yang ia terima, kini hanya desiran angin malam yang masuk melalui jendela.
Di waktu yang bersamaan, di ruang bawah tanah Gedung Astralis, sebuah pintu batu perlahan bergetar, retakan kecil muncul dipermukaannya. Dari balik pintu itu terdengar suara rantai yang bergesekan dan sebuah cahaya merah redup menyelinap keluar dari celah sempit. Kemudian terdengar suara berat yang telah lama terkubur oleh waktu.
“Pewaris telah kembali.” Suara itu menggema pelan. Namun cukup untuk membangunkan sesuatu yang telah tertidur selama ratusan tahun.
Retakan di pintu itu semakin melebar, debu-debu yang ada disana mulai berjatuhan akibat getaran yang terjadi, dan lambang rasi bintang yang terukir di permukaan batu mulai kehilangan cahayanya satu per satu.
Di tempat yang jauh, pria berjubah hitam di kastel tua perlahan membuka kedua matanya, senyumannya yang terlukis di bibirnya pun semakin lebar. “Akhirnya, segel itu mulai melemah.” Sahutnya di iringi dengan tawa yang menggema diruangannya.
Sementara itu, Aurelia yang tidak mengetahui apapun hanya menatap langit malam dari balik jendelanya. Ia tidak tahu bahwa sejak pintu Astralis terbuka, roda takdir mulai berputar, dan dibalik bayangan yang semakin pekat, seseorang tengah menunggu waktu yang tepat untuk merebut kekuatan yang tersembunyi di dalam dirinya.