Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Makan Malam
Menjadi sekretaris pribadi Renald, bagi Kinara tidak seindah bayangan karyawan. Duduk di kursi empuk, berada di ruangan megah, atau mengenakan pakaian formal setiap hari, tidak membuat Kinara merasa istimewa. Justru ia merasa hal ini sangat membosankan.
Hari itu sejak pagi hingga siang, ia hanya duduk di meja kecil yang terletak tepat tak jauh dari meja kerja besar milik Renald. Di depannya ada komputer, beberapa map, dan telepon kantor, tapi tak satu pun dari benda itu benar-benar ia sentuh.
Tidak ada pekerjaan yang diberikan padanya, tidak ada laporan yang harus ia ketik, bahkan Renald tidak memberinya instruksi apa pun.
Kinara mendesah pelan. "Aku benar-benar bosan… untuk apa dia mempekerjakanku sebagai sekretarisnya? Dan sebenarnya apa fungsiku di sini?" gumamnya dalam hati.
Karena tak tahu harus melakukan apa, ia mengambil ponsel dari dalam tas. Sebuah game sederhana yang baru beberapa hari ia unduh berhasil menarik perhatiannya. Permainan itu hanya tentang mendekorasi kamar, memilih warna cat, menata perabot, dan memasang hiasan.
Tapi entah mengapa, baginya permainan itu terasa menyenangkan. Ia larut begitu saja, bahkan sesekali tersenyum puas saat kamar digital yang ia susun tampak indah.
Renald yang sejak tadi sibuk melihat laporan di map yang ia sentuh, menoleh ketika mendengar tawa kecil dari arah Kinara. Pandangannya tertuju pada perempuan itu yang asyik dengan ponsel.
“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya tiba-tiba.
Kinara sedikit terlonjak. Ia buru-buru menoleh, wajahnya agak merah karena ketahuan tidak serius. “Ah… oh, aku sedang memainkan game.”
Renald mengangkat alisnya. “G-game? Game apa yang kau mainkan?”
“Membangun kamar yang indah,” jawab Kinara sekenanya, matanya masih menatap layar ponsel.
Renald bersandar di kursinya, menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Game apa itu? Apa menariknya menata kamar di layar kecil?”
Kinara menghela napas, mulai merasa jengah. 'Kenapa dia jadi banyak tanya begini?' pikirnya.
“Apa pentingnya kau tahu game yang kumainkan?” katanya ketus, tanpa menatapnya.
Renald hanya tersenyum samar, tidak merasa tersinggung. Namun bagi Kinara, pertanyaan demi pertanyaan itu cukup membuatnya kehilangan mood. Ia akhirnya mematikan permainan dan meletakkan ponselnya di meja.
“Baiklah, Tuan Renald,” katanya, kali ini dengan nada sedikit serius. Ia bangkit dari kursinya dan melangkah mendekat. “Sebenarnya apa yang harus kulakukan di sini? Aku benar-benar bosan duduk tanpa melakukan apa pun.”
Renald menatap ke arah Kinara dengan ekspresi percaya diri khas dirinya. “Bukankah menyenangkan bila tidak mengerjakan apa pun? Kalau kau bosan, kau cukup lihat bos mu yang tampan ini sedang bekerja. Saat itu juga, bosanmu pasti hilang!”
Kalimat itu terdengar begitu sombong, sampai-sampai Kinara terdiam beberapa detik. Dari mana datangnya rasa percaya diri seperti itu? batinnya kesal.
Namun ia memilih tidak membalas. Ia hanya kembali duduk di kursinya, menunduk, lalu meletakkan kepala di atas meja. Matanya perlahan terpejam.
Renald menoleh lagi. Ia melihat Kinara tertidur dengan napas teratur. Alih-alih membangunkannya, ia justru tersenyum tipis.
Dari lemari kecil di ruang kerjanya, ia mengambil selimut tipis, lalu menyampirkannya di bahu Kinara. Setelah itu, ia meninggalkan ruangan untuk menghadiri urusan penting di luar.
Hari ini adalah hari besar bagi perusahaan Merta Dirga. Sebuah konferensi pers digelar untuk mengumumkan daftar perusahaan yang akan diajak bekerja sama dalam proyek pembangunan nasional.
Proyek itu bernilai triliunan rupiah dan menjadi rebutan banyak perusahaan besar.
Di layar televisi rumah keluarga Bayu, tampak wajah tenang Renald yang memimpin jalannya konferensi pers. Bayu bersama keluarganya menyaksikan dengan penuh harap, menunggu nama perusahaan mereka disebut sebagai salah satu yang akan bekerja sama dengan Renald.
Mereka yakin perusahaan Minoto Corp.—milik keluarga mereka—akan disebut sebagai salah satu mitra. Selama ini, Minoto Corp. dikenal sebagai perusahaan yang cukup dikenal dan masuk ke dalam perusahaan terbaik, dengan reputasi bersih dan portofolio yang kuat.
Namun setelah pengumuman itu dibacakan, harapan mereka runtuh seketika.
Renald mengumumkan lima perusahaan yang terpilih. Namun nama Minoto Corp. tidak termasuk di dalamnya.
Papa Bayu terdiam beberapa saat, sulit mempercayai telinganya. Wajahnya memerah menahan emosi. “Tidak mungkin…” desisnya pelan.
Ia menoleh pada putranya, Bayu, yang duduk di sebelahnya. Emosinya meledak. Gelas yang sedang ia pegang dilemparkannya tepat ke arah kepala Bayu.
“Semua ini karena kau!!” teriaknya keras. “Seandainya malam itu kau tidak menghina wanita itu—wanitanya Renald—pasti sekarang perusahaan kita sudah masuk dalam daftar!!”
Bayu terhuyung ke samping, darah menetes dari pelipisnya. Mama Bayu menjerit panik, memanggil sopir untuk membawa putranya ke rumah sakit.
Namun Bayu justru bangkit, mencoba membela diri. “Tapi, Pa… aku punya alasan! Aku hanya—”
“Diam!!” bentak Papanya. “Apa pun alasanmu, tetap saja semua ini salahmu! Aku benar-benar menyesal telah mempercayakan urusan penting ini padamu. Kau hanya membawa kehancuran!”
Kata-kata itu menusuk hati Bayu lebih dalam daripada luka di kepalanya. Sejak kecil, ia selalu dibanding-bandingkan dengan kakaknya. Apa pun yang ia lakukan tidak pernah cukup. Kini, ia kembali dipermalukan di depan keluarganya sendiri.
Tanpa mendengarkan teriakan mamanya, Bayu memilih pergi, meninggalkan rumah dengan dada penuh amarah. Dalam hatinya, ia mulai menumbuhkan kebencian. Kebencian yang ditujukan pada Kinara.
"Semua ini gara-gara dia… kalau bukan karena Kinara juga ada disana malam itu, aku tidak akan dihina seperti ini! Kalau bukan karena di memiliki hubungan dengan Renald, pasti proyek ini bisa ku dapatkan!" Gumamnya penuh emosi dan menyalahkan Kinara
Sementara itu di kantor, Kinara masih tertidur pulas dengan selimut yang disampirkan Renald sebelum pergi. Saat itu juga ponselnya tiba-tiba bergetar. Suara dering memecah keheningan. Dengan malas, ia meraih ponsel tanpa melihat siapa peneleponnya.
“Halo…” suaranya serak karena baru bangun.
“Kinara sayang, kamu di mana sekarang, Nak?” terdengar suara lembut seorang wanita.
Mendengar suara yang tak asing di telinganya, tubuh Kinara menegang. Ia jelas mengenali suara itu. Suara Rani—istri ayahnya, mama tiri yang paling ia benci.
Ia merasa muak mendengar panggilan sayang yang dilontarkan wanita itu. Baginya, semua kelembutan Rani hanyalah topeng. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya dingin, tanpa basa-basi.
“Aduh, kenapa kamu bicara begitu sayang dengan mamamu? Apa kamu nggak rindu makan malam bersama keluarga?” suara Rani dibuat-buat seolah penuh kasih.
“Kau bukan mamaku,” potong Kinara cepat. “Jangan sebut dirimu begitu. Katakan saja, apa maumu?”
Rani tersenyum tipis di seberang sana. Ia sudah menduga sikap dingin Kinara. “Mama rindu dengan keluarga kita yang dulu. Mama mau kita makan malam bersama. Papa, Mama, Diana, Bayu… dan tentu saja kamu, Kinara. Oh, dan… bisakah kamu mengajak Renald juga? Pasti suasana akan lebih menyenangkan kalau pria itu bisa hadir.”
Kalimat Rani membuat Kinara tertawa. "Rindu keluarga yang dulu? Keluarga yang mana? Memangnya kalian pernah menganggapku sebagai bagian dari keluarga?" Sindirnya terang-terangan.
Jawaban Kinara membuat tangan Rani mengepal. Saat itu juga sebelum ia menjawab, Kinara yang mengerti arah pembicaraan itu langsung mendengus sinis. “Jadi tujuanmu menelfonku hanya untuk ini? Apa kau mau mendekatkan Papa dengan Renald melalui aku? Jangan harap!”
Ia menutup matanya sebentar, berusaha menahan emosi. Bagaimana bisa Rani melupakan begitu saja segala perbuatan buruknya di masa lalu, lalu sekarang dengan enteng memintanya hal seperti ini?
Namun Rani tidak mau menyerah begitu saja, ucapan tajam Kinara tak ia gubris. “Kinara, ayolah… Papa juga rindu kamu. Pulanglah malam ini. Makan malam bersama kami. Mama mohon.” Ucapnya dengan memelas.
Kali ini nada suaranya terdengar lebih lembut, seakan benar-benar tulus. Rani tahu kelemahan Kinara: kerinduannya pada Papanya, sendiri. Sejak kecil ia selalu mendambakan kasih sayang Papanya, meski sering merasa diabaikan.
Mendengar nama Papanya terus disebut, hati Kinara bergetar. "Apakah benar Papa merindukanku?" Pertanyaan itu membuatnya bimbang, meski sebenarnya ia cukup tahu jawabannya.
“Jika Renald tidak mau… bagaimana?” tanyanya kemudian.
“Cobalah dulu, Nak. Mama yakin dia akan mau.”
Kinara terdiam lama."Iya, nanti ku coba.”
“Bagus, sayang. Mama menunggumu nanti malam,” ucap Rani puas sebelum menutup telepon.
Senyum licik merekah di bibirnya. Rencana berjalan mulus. Semua ini memang bagian dari janji Rani pada suaminya, Arbian. Jika Kinara berhasil membawa Renald datang, maka posisi keluarga mereka di mata bisnis akan semakin kuat.
Sementara di sisi lain, Kinara menggenggam ponselnya erat. Meski dirinya tahu hubungannya dengan Papanya memang tak pernah baik, namun ia memilih mengiyakan. Entahlah, ia hanya ingin melihat sebenarnya apa yang ingin keluarganya lakukan pada acara makan malam mereka.