Axel Alexander adalah pemimpin perusahaan raksasa yang dingin, tegas, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Hidupnya berubah saat Ayranza Geovan terpaksa datang padanya demi menyelamatkan usaha keluarga yang terancam bangkrut. Di mata Axel, Ayranza hanyalah tawaran yang mudah dikendalikan. Sampai pertemuan demi pertemuan membangkitkan perasaan yang tak ia inginkan. Di tengah tekanan bisnis dan ambisi besar, Ayranza harus menjaga adik‑adiknya, Angga dan Arshen Geovan, dari bahaya sekaligus melunakkan hati sang penguasa yang dikenal kejam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Redblue Vixx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman di Ambang Pintu
Dr. Rendra terhuyung‑huyung makin mendekat, wajahnya merah padam, napasnya pendek dan panas, matanya berkaca‑kaca tak terkendali. Setiap langkahnya makin berat tak beraturan seolah ada api yang membakar seluruh tubuhnya. Ayranza, Angga, dan Arshen yang belum paham apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa menatap cemas sekaligus waspada.
“Dokter! Tenanglah!” seru Angga sambil segera melangkah maju memapah lengan Rendra agar tak jatuh terjerembab di tanah. “Ada apa sebenarnya? Sakit di mana?”
Rendra menggeleng lemah, suaranya tercekat dan parau. Ia menelan ludah susah payah, pandangannya sesekali tertuju pada Ayranza dengan sorot mata yang sama sekali tak biasa. Bukan lagi pandangan hormat sahabat, melainkan gejolak nafsu yang tak sanggup ia tahan.
“Panas… tubuhku terbakar… kepala berputar hebat… tadi wanita itu… makanan… minuman…” kata‑katanya keluar terpatah‑patah, sulit disambung menjadi kalimat jelas.
Ayranza menyuruh Arshen segera berlari mengambil ember berisi air sumur yang sangat dingin dan kain lap bersih. Ia sendiri ikut membantu Angga menuntun Rendra duduk di bangku kayu beranda, menjauhkan posisinya sedapat mungkin agar tetap aman.
“Kau bilang wanita pendatang?” tanya Ayranza tegas namun tetap lembut nada bicaranya. “Wanita berpenampilan mewah, tapi siapa?”
“Iya… dia tawarkan minuman… aku tak tau siapa dia dan aku tak curiga…” Rendra mengerang pelan, tangannya mencengkeram pinggiran bangku kuat‑kuat hingga buku jarinya memutih. Obat perangsang yang diminumnya bekerja makin dahsyat seiring waktu, membuat pertahanan akal sehatnya makin menipis.
Tak lama Arshen kembali membawa air dan kain basah. Ayranza segera merendam kain itu lalu menempelkan ke dahi, leher, dan kedua tangan Rendra yang panas membara. Angga berdiri tegak di samping kakaknya, siap menahan seandainya dokter itu bertindak di luar kendali. Suasana menjadi hening dan tegang, hanya terdengar napas berat Rendra dan suara air menetes dari kain lap.
“Bertahanlah, Dokter,” ucap Angga. “Obat itu pasti akan bereaksi sebentar lalu hilang. Kami jaga kau sampai sadar kembali sepenuhnya.”
Namun reaksi obat makin menjadi‑jadi. Sesekali Rendra mencoba bergerak tak terarah, menggumamkan hal‑hal yang tak jelas maknanya, dan sekali waktu hampir saja menyentuh lengan Ayranza tanpa sadar. Angga dengan sigap menahan bahunya pelan namun tegas. Ayranza pun mundur selangkah, hati‑hati menjaga jarak, rasa curiga sekilas sempat muncul namun segera ditepisnya. Ia tahu Rendra tak mungkin berbuat begini dalam keadaan sadar.
Di saat yang sama, Axel dan Leonardo baru saja berjalan menanjak sampai tikungan terakhir sebelum rumah kayu itu terlihat jelas. Kabut pagi makin menipis menyisakan cahaya matahari lembut yang menembus sela dahan. Jantung Axel berdebar hebat, campuran rindu mendalam dan rasa takut menumpuk jadi satu. Ia perlahan melangkah maju, tak sabar ingin segera melihat wajah Ayranza, memeluknya, dan menatap wajah anaknya yang lahir dengan nama yang sama persis dengannya.
Baru beberapa langkah mendekat, pemandangan di depan beranda seketika membuat darahnya mendidih dan berhenti mengalir sejenak.
Dari kejauhan, yang terlihat jelas di matanya hanyalah ini. Dr. Rendra yang tubuhnya panas, wajahnya merah, gerak‑geriknya tak wajar, hampir saja bersandar pada bahu Ayranza sementara wanita itu berdiri sangat dekat, Angga dan Arshen sibuk di sisi mereka seolah sedang mengurus sesuatu yang akrab dan tak terpisahkan. Tak terdengar jelas pembicaraan mereka, tak tampak perjuangan keras menjaga jarak, tak terlihat air dingin maupun kain penyejuk. Di mata Axel, pemandangan itu tampak persis seperti dua orang yang sedang dalam kedekatan tak pantas.
“Tidak mungkin…” gumamnya pelan, napasnya tercekat hebat.
Leonardo di sebelahnya ikut berhenti, wajahnya tegang dan bingung melihat pemandangan serupa. Ia tahu betul kesetiaan tuannya, dan kini melihat hal yang sama persis yang membuat Axel terpaku kaku.
Axel tak sanggup lagi menahan diri. Ia berjalan cepat mendekat dengan langkah panjang lebar, sepatunya menghentak tanah berdebu keras sekali. Suara langkah berat itu seketika memecah ketegangan di beranda. Semua kepala serentak menoleh ke arahnya.
Ayranza yang pertama kali mengenali sosok itu seketika membeku di tempat. Kain basah di tangannya hampir terlepas jatuh. Wajahnya berubah pucat luar biasa, mata terbelalak tak percaya sekaligus bercampur rindu mendalam yang tertahan lama.
“Axel…” serunya pelan, suaranya hilang di tenggorokan.
Angga langsung berdiri tegak menghalangi sedikit tubuh kakaknya, sementara Arshen bersembunyi di balik bahu kakak lelakinya. Dr. Rendra yang meski setengah tak sadar pun ikut menoleh, matanya sayu bingung melihat kedatangan tamu asing yang wajahnya penuh kemarahan meluap‑luap.
Axel berhenti tepat di depan beranda, jaraknya tinggal dua langkah dari Ayranza. Ia menatap tajam berkeliling. Mulai dari wajah istrinya yang gemetar, ke arah dokter yang masih bernapas berat dan tubuhnya belum dingin, hingga ke arah anak kecil yang terbaring tenang di ayunan gantung di sudut beranda.
“Jadi benar kata orang…” ucap Axel akhirnya, nadanya dingin, bergetar amarah dan rasa sakit yang luar biasa. Ia menunjuk Dr. Rendra dengan pandangan menghina. “Di sini ternyata sudah ada orang lain yang lebih pantas mendampingimu, ya, Ayranza?”
“Tidak, Axel! Kau salah paham besar sekali!” seru Ayranza cepat, tangannya terulur hendak menjelaskan namun segera terhenti saat Axel mundur sedikit menjaga jarak.
“Salah paham? Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku!” potongnya keras, suaranya menggelegar menahan emosi yang meluap. “Dia di sini, dalam keadaan begini, kau begitu dekat mengurusnya… dan aku yang datang sejauh ini malah disambut pemandangan seperti ini?”
“Dengarkan kami dulu, Kakak!” seru Angga maju selangkah berani. “Dia sakit mendadak karena makanan wanita yang ikut menyusul kalian. Dia bukan orang yang kalian kira!”
Axel mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Angga, namun kemarahan dan rasa kecewa yang sudah terlanjur meledak menutup sepenuhnya akal sehatnya. Ingatannya langsung teringat ucapan Cindy tempo hari, “Ada dokter muda yang selalu ada di sisinya, merawat dan menemani.” Kini semuanya seolah menjadi bukti nyata.
“Cukup!” bentaknya singkat dan tajam. “Tak butuh penjelasan berbelit‑belit lagi. Semua sudah terlihat jelas.”
Ia menoleh lagi menatap Ayranza tepat ke manik matanya yang berkaca‑kaca menahan air mata. Di detik itu, rindu yang membara selama berbulan‑bulan seketika berubah menjadi kepahitan yang menghancurkan.
“Kau pergi membawa adik‑adikmu dan anak kami jauh‑jauh ke sini karena ingin hidup damai bersamanya, bukan?” katanya getir. “Baiklah kalau begitu. Aku takkan memaksamu pulang sekarang. Tapi ingatlah, Ayranza, aku datang menjemput keluargaku, bukan menambah sakit hati melihat kenyataan pahit begini.”
Leonardo yang sejak tadi diam dan mengamati akhirnya maju sedikit berusaha melerai dengan nada tenang namun tegas.
“Tuan Axel, mungkin sebaiknya kita duduk tenang sebentar dulu dan dengar penjelasan lengkapnya. Keadaan di sini tampak rumit dan tak sepenuhnya seperti yang terlihat sekilas.”
Namun Axel menggeleng keras. Ia tak sanggup lagi bertahan di tempat itu lebih lama. Hatinya terasa seperti diremas kuat‑kuat, bercampur rasa malu, marah, kecewa, dan dikhianati sekaligus. Ia melanggar mundur perlahan tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Ayranza.
“Belum saatnya bicara tenang, Leonardo,” jawabnya pelan namun penuh kepahitan. “Kalau mereka bahagia begini, biarkan saja dulu. Aku pergi sebentar.”
Tanpa menunggu sahutan lagi, Axel berbalik arah dan berjalan menjauh cepat‑cepat menuruni jalan setapak yang baru saja ia daki. Leonardo sempat menatap sekilas ke arah Ayranza yang kini sudah tak kuasa menahan tangisnya pecah, lalu ke arah Dr. Rendra yang mulai tampak makin bingung dan lemas, sebelum akhirnya bergegas menyusul tuannya yang pergi dalam keadaan sangat hancur hati.
Sesaat setelah sosok Axel hilang di balik tikungan jalan, keheningan berat kembali menyelimuti rumah kayu itu. Ayranza jatuh terduduk di bangku kayu, menutup wajah dengan kedua tangan, isaknya tertahan namun terdengar pilu sekali. Angga dan Arshen ikut diam sedih dan marah bercampur aduk. Dr. Rendra yang perlahan mulai sadar sedikit demi sedikit pun paham betul apa yang baru saja terjadi. Rencana jahat Cindy tak hanya menjebaknya sendiri, tapi juga menimbulkan kesalahpahaman besar yang memisahkan mereka tepat di ambang pertemuan.
Di kejauhan, di balik semak‑semak pinggir jalan, Cindy diam‑diam tersenyum puas melihat semuanya berjalan persis seperti yang ia inginkan. Meski tak persis caranya. Kesalahpahaman itu kini menjadi tembok tinggi yang makin sulit diruntuhkan, dan Axel pergi dengan hati yang makin terluka, jauh lebih parah dari sebelumnya.