NovelToon NovelToon
DiBuang Suami Di Pungut Om

DiBuang Suami Di Pungut Om

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: AmeeraKa94

Namaku Kimira Janetha Usia 32 tahun. aku seorang Aktris sekaligus seorang ibu. dari Seorang putri yang bernama Quensha Almahira yang biasa kami panggil Queen..

selama lima tahun aku percaya pada satu hal. yaitu Tentang kesetiaan. setia pada Keenan Jeremi. Suamiku. pernikahan yang ku bangun dari nol ternyata kesetiaan itu hanya milikku sendiri.

malam itu harusnya jadi malam kepulangan yang indah bagiku. aku pulang lebih cepat dari lokasi syuting sambil membawa kue ulang tahun pernikahan kami yang ke-5 tahun. namun yang ku temukan bukan pelukan atau senyuman. dua tubuh telanjang bulat diatas ranjangku. ya mereka adalah Keenan Jeremi suamiku, dan Clara Adellia Sahabatku.

seketika darahku langsung mendidih. tanpa pikir panjang aku langsung jambak rambut panjang Clara. hingga dia terjungkal.

plak
plak
plak

"Dasar pelacur murahan! beraninya Kamu mengotori ranjangku! " teriaku murka, marah.

pisau lancip dari sakuku langsung melayang. dan menggores pipi Clara.

Cring

Zzzzzrrkkk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AmeeraKa94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 Luka Yang Sama

"Dulu... Omma selalu berpikir betapa jahatnya Omma. Menjadi wanita yang merampas kebahagiaan dari wanita lain dan juga seorang anak kecil dari sosok suami sekaligus ayah," Omma Rita mulai bercerita. Suaranya pelan, matanya menerawang. "Omma sangat merasa bersalah dan menyesal..."

Netha duduk di sampingnya. Jadi pendengar yang baik. Tangannya digenggam erat oleh Rita.

Ya setelah dari taman sama Arsen, Netha balik pulang ke rumah oma Rita.

"Istri pertama Oppa kamu meninggal dunia selang beberapa hari setelah dia datang ke acara pernikahan kedua Oppa dan Omma," lanjut Rita. Ia narik napas panjang. "Beliau datang di acara pernikahan kami. Menyaksikan langsung pernikahan kami sambil menggendong gadis kecil yang masih pakai seragam TK. Gadis kecil itu... Adalah...mama mertua kamu."

Jedar.

Netha langsung menoleh. Kaget.

"Dan itu sebabnya sampai detik ini mama mertua kamu sangat membenci Omma," kata Rita lirih. "Karena dia nganggap Omma lah yang jadi penghancur kebahagiaan keluarga kecil mereka."

Dada Omma Rita sesak. Air matanya jatuh tanpa suara. Netha juga ikut sesak. Nyeri di dada.

Selama ini dia kira Anggit benci dia tanpa alasan. Ternyata wanita itu nyimpen luka sedalam itu sejak kecil. Dan anehnya, Netha malah makin penasaran. Makin yakin kalau Omma Rita ini wanita baik. Buktinya, dia nyesel sama perbuatannya.

"Jujur dulu Omma shock banget liat istri pertama Oppa datang sama mama mertua kamu yang masih kecil," kata Rita. "Omma marah. Kecewa sama Oppa kamu. Hampir aja langsung minta cerai. Kalau aja istri pertama Oppa nggak mencegahnya..."

"Maksud Omma?" tanya Netha penasaran.

Rita menoleh ke Netha. Tatapannya berat. Susah diartikan.

---

*Flashback on*

Rumah sakit. Bau obat. Suara alat medis.

"Tetaplah bersama suamiku, Rita," Widya, istri pertama, genggam tangan Rita lemah. Napasnya tersengal. "Jangan minta pisah darinya. Karena akulah yang minta dia cari pengganti. Aku yang sengaja nyuruh dia nikah lagi sama wanita pilihannya. Yaitu kamu. Wanita yang dari dulu dia cintai sebelum nikah sama aku."

"Maksud kamu apa, Wid? Kenapa ngomong kayak gitu?" Rita genggam tangan Widya makin erat. Matanya banjir.

"Ku kira dia nikah sama aku karena cinta," Widya senyum tipis. Sakit. "Ternyata dia nikahin aku cuma buat pelarian. Setelah kamu ninggalin dia buat kuliah ke luar negeri. Dia nggak pernah cinta aku, Rita. Selama hidup sama aku, dia nggak berhenti muji kamu dalam diam. Meski udah ada Anggit, putri kecilku. Dia laki-laki baik. Tanggung jawab sebagai ayah. Tapi sebagai suami... dia nggak pernah cinta aku."

Uhuk uhuk

Widya batuk pelan. "Sampai akhirnya aku tahu...dan hidupku nggak akan lama lagi."

Rita makin histeris. "Kamu ngomong apa sih, Wid? Jangan nglantur. Kamu harus tetap hidup. Harus kuat demi Anggit. Aku yakin kamu bisa."

Di belakang mereka, Yudi berdiri. Tegap. Gagah. Gendong Anggit kecil. Matanya sendu liatin dua wanita yang sekarang jadi istrinya.

"Aku nitip Anggit dan Mas Yudi ya, Rita," bisik Widya. Tangannya genggam tangan Rita. "Aku sangat mencintai mereka. Dan aku yakin kamu wanita yang tepat buat gantiin aku. Wanita yang sampai kapanpun jadi pemilik hati suamiku, Mas Yudi. Karena Aku cuma persinggahan sementara buatnya."

"Jangan ngomong kayak gitu, Wid," Rita jerit. "Jangan bikin aku makin bersalah seumur hidup. Sumpah aku nggak tahu kalau Mas Yudi udah nikah dan punya anak sama kamu. Aku minta maaf. Aku janji bakal gugat cerai di pengadilan agama. Tapi kamu harus janji tetap bertahan demi Anggit."

Yudi di belakang menggeleng tegas. Matanya tajam ke Widya.

"Aku udah ikhlas dan merestui pernikahan kalian, Rita," kata Widya lirih. "Aku cuma minta tolong. Titip Mas Yudi dan Anggit. Jadilah istri yang baik. Ibu yang baik buat putri semata wayangku. Anggap dia kayak anak kandung kamu sendiri."

"Tidak, Wid... jangan ngomong gitu---" Rita terisak.

"Berjanjilah padaku, Rita. Kumohon..." suara Widya makin melemah.

"Tapi, Wid..."

"Kumohon berjanjilah dan penuhi permintaan terakhirku, Rita..." napas Widya tersengal-sengal.

"I... iya... aku janji," Rita terpaksa iya. Suaranya pecah.

"Terima kasih, Rita. Sekarang aku bisa pergi dengan tenang."

Layar monitor ICU langsung garis lurus. Dett... dett... dett...

"Tidak! Widya jangan pergi! Tidak!" Rita menjerit histeris. Yudi langsung manggil dokter dan suster. Tapi Widya udah pergi. Selamanya.

---

*Flashback off*

"Itulah sebabnya Omma sangat sayang sama Anggit kayak anak kandung sendiri," kata Rita. Air matanya udah kering tapi matanya merah. "Omma rela nunda program hamil. Fokus curahin kasih sayang ke mama mertua kamu. Waktu itu dia masih sering nolak Omma. Sampai usia pernikahan Omma dan Oppa ke-10, baru Omma lahirin Om-nya Keenan.dan Selisihnya cuma 7 tahun sama Keenan."

Netha mengernyit. "Oh gitu... pantesan.tapi Kok Om Arsen sama Keenan selisih 7 tahun? Emangnya mama anggit nikah muda ya oma? jiwa keponya langsung mencuat

"Mama mertua kamu lahirin suami kamu di usia muda," lanjut Rita. "Kalau nggak salah, baru lulus SMA."

"Ohh... pantesan," Netha senyum kaku.

"Mama mertua kamu nikah sama almarhum Papa mertua kamu karena kecelakaan," kata Rita pelan.

"Hah? Gimana maksudnya, Omma?" Mata Netha langsung melot.

Rita senyum gemas. "Iya, sayang. Mamanya Keenan kena kenakalan remaja waktu itu. Kami terpaksa nikahin mereka berdua. Padahal Anggit nolak mentah-mentah. Dia mau lanjut kuliah. Nggak mau ada status istri orang."

"Tapi mama mertua kamu nggak pernah bersyukur punya suami kayak Papa mertua kamu," lanjut Rita. "Pria itu cintanya ke Anggit tulus. Ngotot sekalu nikahin Anggit meski ditolak berkali-kali. Sampai akhirnya Anggit nyerah. Nerima pinangan Papa mertua kamu yang tanggung jawab. Di situ kami sebagai orang tua liat kegigihan Papa mertua kamu buat luluhin hati mama mertuamu Anggit. Tapi justru itu malah bikin Anggit makin benci Omma. Karena Omma jadi peran penting di pernikahan mereka."

"Bahkan Anggit dulu sempet benci cucu Omma, yaitu Keenan," kata Rita lagi. "Dia nggak mau ngurus Keenan dari bayi. Jadi Omma yang rawat suami kamu dari bayi. Beruntungnya, Om kamu, si Arsen yang dingin itu, anaknya baik. Dia ngerti. Mau berbagi kasih sayang keponakan kecilnya. Dia anggap Keenan kayak adik kandung sendiri. Jadi figur kakak yang baik buat Keenan. Karena dari kecil dia nggak pernah dapet perhatian dari figur kakak. Yaitu mama mertua kamu sendiri."

Netha dengerin cerita itu sambil senyum. Tersentuh banget. Ia langsung peluk Omma Rita.

"Sekarang Netha makin percaya kalau Omma itu sosok ibu dan istri yang baik," bisik Netha. "Meski Omma pernah salah di masa lalu yang nggak sengaja, tapi Omma udah nyesel. Udah nebus kesalahan Omma. Jadi ibu sambung yang baik buat Mama Anggit. Meski pengorbanan Omma nggak pernah dihargai. Menurut Netha, Mama Anggit lah yang kurang bersyukur punya ibu sambung sesempurna Omma."

Rita melepas pelukan. Natap Netha lekat. "Dan Omma juga beruntung punya cucu mantu kayak kamu, sayang. Seharusnya cucu Omma yang lebih beruntung punya istri sebaik kamu. Omma pastiin bakal bikin cucu kesayangan Omma yang nakal itu nyesel. Karena udah berani ngelukain dan nyia-nyiain cucu mantu Omma kayak kamu."

"Duuhh... so sweet Omma," Netha ketawa kecil. Langsung nyosor peluk Rita lagi. "Makasih, Omma. Netha sayang banget sama Omma."

"Sama, sayang. Omma juga sayang banget sama cucu mantu Omma yang manis ini," Rita bales peluk erat.

"Ehemmm... udah belum acara pelukan Teletubbiesnya?" suara berat nyela dari pintu.

Mereka berdua noleh bareng. Arsen udah berdiri di ambang pintu. Gendong Queen yang merengek.

"Ini dari tadi anaknya udah merengek minta pulang lho," kata Arsen datar. Tapi matanya nggak galak.

Netha langsung lepas dari pelukan Rita. Muka merah. Malu ketauan.

"Sini, Queen," panggil Netha. Ia ambil Queen dari Arsen. "Mama di sini ya, sayang."

Queen langsung diem. Nyender di bahu Mamanya.

Arsen masuk. Duduk di kursi depan mereka. "Jadi... udah selesai curhat-curhat sedihnya?"

Omma Rita lirik anaknya. "Kamu nggak mau denger, Ar? Biar kamu tahu, Mama juga pernah salah."

Arsen garuk kepalanya. "Nggak usah, Ma. Aku udah tahu ceritanya dari Papa. Intinya... aku cuma nggak mau Netha kejebak di masa lalu orang lain."

Netha diem. Kata-kata Arsen ngena.

"Omma," kata Netha pelan. "Makasih udah cerita. Netha jadi ngerti kenapa Mama Anggit benci Omma. Tapi Netha juga ngerti... Omma korban keadaan juga."

Rita senyum. "Iya, sayang. Hidup itu nggak ada yang sempurna. Tapi kita bisa pilih buat jadi lebih baik."

Arsen berdiri. "Udah, Ma. Netha capek. Queen juga udah ngantuk. Kita balik ke kamar tamu dulu ya."

"Ya udah," angguk Rita. "Istirahat. Besok kita ngobrol lagi."

Netha pamit. Jalan keluar bareng Arsen. Queen udah ketidur di bahunya.

Di lorong, Arsen tiba-tiba ngomong. "Tadi... Dengar cerita Mama aku... Apa bikin kamu kepikiran?"

Netha angguk. "Iya. Aku jadi mikir... ternyata luka orang beda-beda. Tapi sakitnya sama."

Arsen lirik Netha sekilas. "Kamu kuat, Tha. Lebih kuat dari yang kamu kira."

Netha senyum tipis. "Karena ada yang jagain."

Arsen diem. Nggak jawab. Tapi telinganya merah.

Sampai di kamar tamu, Netha rebahin Queen pelan. Selimutin.

Arsen berdiri di pintu. "Kalau Butuh apa-apa, panggil aku. Aku di kamar sebelah."

Netha angguk kepala. "Makasih, Om."

Arsen mau keluar. Tapi berhenti. "Tha..."

"Hmm?"Netha langsung noleh dan kini tatapa mereka beradu kembali

"Kamu nggak harus bales perbuatan Keenan dengan cara yang sama," kata Arsen serius. "Karenq Kamu lebih berharga dari itu."

Netha kaget. Tapi hatinya anget. "Iya, Om. Netha ngerti."

Arsen keluar. Nutup pintu pelan.

Netha rebahan di samping Queen. Mikirin cerita Omma Rita. Mikirin hidup Anggit. Mikirin hidupnya sendiri.

Ternyata semua orang punya luka. Bedanya, ada yang milih buat nyembuhin. Ada yang milih buat nyebar luka itu ke orang lain.

Dan Netha... dia milih buat nyembuhin.

---

Pagi harinya.

Netha bangun lebih awal. Bikin sarapan sama Bibi Sumi. Omma Rita turun pas meja udah penuh.

"Wah, rajin banget cucu mantu Omma," kata Rita sambil duduk.

"Iseng, Omma," jawab Netha malu. "Daripada diem."

Arsen juga turun. Liat meja makan suda penuh makanan. "Wah, ini sih bukan iseng. Ini mau ngerebut hati Mama aku."

Netha langsung nyubit lengan Arsen dari bawah meja.

"Aduh!" Arsen pura-pura kesakitan. Tapi ketawa.

Omma Rita ketawa liatin mereka. "kalian ini Udah kayak anak kecil saja."

Netha dan Arsen saling natap lalu sama sama meringis. Rasa canggung langsung meliputi keduanya.

Sarapan jalan rame. Ngobrol ngalor-ngidul. Untuk pertama kalinya sejak kejadian beberapa waktu lali, Kini Netha bisa ketawa tulus.

Selesai sarapan, pengacara datang. Bawa map coklat.

"Bu Netha, ini update berkas gugatan cerai Ibu," kata pengacara. "Pihak lawan sudah menerima suratnya. Proses selanjutnya kita tunggu jadwal sidang dari pengadilan."

Netha nerima map itu. Tangannya gemetar tapi kuat. "Oke, Pak. Terima kasih."

Pengacara pamit. Arsen liat Netha dari jauh. Nggak ngomong apa-apa. Cuma angguk kecil, kayak ngasih kode: "Aku di sini."

Siangnya, Netha nemenin Queen main di taman belakang. Omma Rita duduk di kursi rotan sambil minum teh hangat.

"Omma," panggil Netha pelan.

"Hmm?"

"Kalau... seandainya Mama Anggit nggak pernah maafin Omma sampai sekarang, Omma nyesel nggak?" tanya Netha hati-hati.

Rita narik napas. "Nyesel, sayang. Tapi nyeselnya bukan karena nikah sama Oppa kamu. Nyeselnya karena Omma nggak bisa jelasin ke Anggit kalau Omma juga korban. Omma juga disakitin keadaan."

Lalu Rita senyum. "Tapi sekarang Omma nggak nyesel lagi. Karena Omma punya kamu. Punya Queen. Punya keluarga baru yang mau nerima Omma apa adanya."

Netha ikut senyum. Air matanya netes. Tapi kali ini karena bahagia.

"uhhh sayang oma. " Netha peluk Oma rita Erat. Oma rita balas peluk erat juga

____

Malamnya, setelah Queen tidur, Netha duduk di teras. Sendiri.

Arsen keluar bawa selimut. "Anginnya terlalu dingin, Tha."

Ia selimutin bahu Netha pelan. Lalu duduk di samping, jaga jarak.

"Hening banget ya," kata Netha.

"Iya," jawab Arsen. "Tapi enak. Karena akhirnya kamu bisa tenang."

Netha noleh. "Om... kenapa bantuin aku terus? Aku kan bukan siapa-siapa Om."

Arsen natap langit. "Karena aku nggak tega liat orang baik dihancurin. Dan karena..." suaranya pelan banget, "aku ngerasa tenang kalau ada kamu di rumah ini."

Deg

Netha diem. Jantungnya deg-degan. Tapi ia nggak jawab. Takut salah paham.

"Udah sana, masuk. Tidur," kata Arsen tiba-tiba. Ia berdiri. "Besok kita urus lagi soal berkas."

Netha mengangguk. Lalu Ikut masuk.

Sebelum masuk kamar, ia bisik pelan. "Makasih, Om. Udah jadi rumah buat Netha."

Arsen berhenti jalan. Nggak noleh. Tapi pundaknya naik-turun. Kayak nahan napas.

Pintu kamar tertutup.

Hari ini, Netha nggak ketemu Keenan. Nggak ada drama pengadilan. Cuma ada Netha, luka yang pelan-pelan sembuh, dan dua orang yang mulai jadi tempat pulangnya.

TBC

Gimana Gaess udah baperr belum atau mau dibikin baper?

Kalian Tim mana?????

1
Anwar Ghazi
bagus cerita nya
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!