NovelToon NovelToon
CINCIN PESUGIHAN

CINCIN PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Misteri / Iblis / Kutukan / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
​Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
​Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
​Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 25

Pak Cahyo memejamkan matanya perlahan. Gelas teh hangat yang dipegangnya mulai mendingin, namun kenangan tiga puluh tahun lalu yang tersimpan rapat di kepalanya mendadak berputar kembali dengan sangat jelas. Suasana ruang tamu pagi itu mendadak hening, hanya terdengar suara kicau burung gereja di luar rumah dan deru napas Letnan Tian yang mulai teratur.

​"Neng Siska, Nak Tian..." Pak Cahyo membuka suara, nadanya berat dan sarat akan penyesalan. "Sebelum rumah nomor 14 itu menjadi sarang iblis yang menakutkan seperti sekarang, rumah itu dulu adalah simbol kebahagiaan. Setidaknya, itulah yang Bapak lihat di tahun-tahun pertama keluarga Pak Broto tinggal di gang ini."

​Pak Cahyo membetulkan posisi duduknya, lalu mulai menuntun ingatan Siska dan Tian kembali ke masa tiga puluh tahun yang lalu.

​"Tiga puluh tahun lalu, Pak Broto dan istrinya, Bu Sarah, datang ke kampung ini sebagai warga pendatang. Mereka berdua berasal dari kota yang sangat jauh. Alasan mereka pindah ke sini sangat sederhana,mereka ingin mencari kedamaian dan memulai hidup baru yang lebih tenang," kenang Pak Cahyo.

​Saat pertama kali tiba, Pak Broto bukanlah orang kaya raya yang memiliki mobil mewah .Beliau hanyalah seorang pria biasa, bahkan bisa dibilang hidupnya serba pas-pasan. Pakaian yang dikenakannya selalu sederhana, dan wajahnya selalu dihiasi senyuman ramah setiap kali bertegur sapa dengan warga gang.

​"Waktu pertama kali datang, Pak Broto hanya mampu menyewa sebuah rumah kontrakan kecil yang kondisinya cukup memprihatinkan," kata Pak Cahyo sambil menerawang. "Karena beliau sibuk mencari kerja serabutan dari pagi sampai malam, pekarangan rumah kontrakan yang sempit itu jadi tidak terurus dan dipenuhi ilalang tinggi. Bapak yang waktu itu kasihan melihat Bu Sarah sering kelelahan mencabuti rumput sendirian, akhirnya datang menawarkan diri untuk membantu membersihkan halaman kontrakan mereka."

​Pak Cahyo tersenyum tipis mengenang momen tersebut. "Pak Broto itu sebenarnya sungkan. Beliau bilang jujur kalau tidak punya uang untuk menggaji Bapak sebagai tukang kebun . Beliau hanya bisa memberi upah seadanya—kadang berupa sebungkus rokok, kadang malah hanya semangkuk kolak kiriman Bu Sarah. Bapak tidak keberatan, karena bagi Bapak, mereka adalah tetangga baru yang sangat santun dan baik."

​"Awal mulanya, kehidupan Pak Broto dengan Bu Sarah semuanya baik-baik saja. Benar-benar harmonis, Neng. Bu Sarah itu wanita yang sangat lembut dan taat beribadah. Setiap pagi, sebelum Pak Broto berangkat kerja mencari nafkah serabutan, Bu Sarah selalu menyiapkan sarapan singkong rebus dan kopi hangat di teras depan kontrakan. Mereka sering tertawa bersama, saling menguatkan meskipun hidup dalam keterbatasan ekonomi."

​Bagi Pak Cahyo, melihat kemesraan dan ketulusan cinta sepasang suami istri itu adalah pemandangan yang menyejukkan hati. Namun, di balik tawa mereka, ada satu duka mendalam yang mereka simpan rapat-rapat. Mereka sudah bertahun-tahun menikah, namun belum juga dikaruniai keturunan.

​"Tahun demi tahun berlalu, dan mereka tetap hidup berdua tanpa adanya tangisan bayi di dalam rumah," lanjut Pak Cahyo, suaranya mulai berubah menjadi lirih. "Keadaan ekonomi yang tidak kunjung membaik, ditambah tekanan batin karena tidak memiliki keturunan, perlahan-lahan mulai mengubah sifat Pak Broto. Pikiran sehatnya mulai terkikis oleh rasa putus asa, rasa iri melihat tetangga lain, dan harga diri yang terluka."

​Pak Cahyo bercerita bahwa Pak Broto mulai sering pulang larut malam dengan wajah yang kusut. Beliau mulai terobsesi untuk keluar dari kemiskinan sekaligus mendapatkan anak dengan cara apa pun. Beliau menginginkan harta dan keturunan secara instan, tanpa harus menunggu lebih lama lagi.

​Ketamakan dan rasa frustrasi itulah yang akhirnya menuntun Pak Broto ke jalan kegelapan. Tanpa sepengetahuan Bu Sarah yang polos, Pak Broto diam-diam pergi ke luar kota, mendatangi seorang dukun ilmu hitam yang sangat terkenal di daerah pedalaman. Di sanalah, dia menyerahkan jiwanya dan melakukan perjanjian terlarang demi mendapatkan anak sekaligus kekayaan berlimpah lewat sebuah benda terkutuk: cincin pesugihan

​"Bapak mulai merasakan perubahan aneh di rumah itu semenjak Pak Broto pulang dari luar kota membawa sebuah cincin perak bermata merah darah," kata Pak Cahyo, membuat Siska merinding.

​"Hanya dalam waktu beberapa bulan, keajaiban terjadi. Bu Sarah yang bertahun-tahun mandul tiba-tiba dinyatakan hamil. Di saat yang bersamaan, usaha dagang yang baru dirintis Pak Broto mendadak laku keras tak masuk akal. Uang mengalir seperti air ke rumah mereka. Rumah kontrakan yang tadinya mereka sewa itu langsung dibeli tunai, lalu direnovasi total menjadi rumah yang sangat besar, megah, dan dikelilingi pagar besi yang tinggi. Di situlah Bapak akhirnya baru mulai digaji secara resmi sebagai tukang kebun mereka. Pak Broto menjelma menjadi orang paling kaya di gang ini."

​Namun, kekayaan dan keturunan secara instan itu harus dibayar dengan harga yang teramat sangat mahal. Sifat Pak Broto berubah total menjadi angkuh, pelit, dan serakah. Uang telah membutakan matanya, dan beliau sepenuhnya menjadi budak dari cincin darah itu.

​Puncak dari segala kengerian itu terjadi pada malam persalinan Bu Sarah. Di dalam kamar utama, Bu Sarah melahirkan seorang bayi laki-laki yang diberi nama Dion. Namun, kebahagiaan itu langsung berubah menjadi mimpi buruk, karena iblis pesugihan menagih tumbal pertamanya pada saat anak itu lahir.

1
andhig Rosdiana
terima kasih udah meninggalkan jejak like dan koment .jangan lupa mampir di karya aku berikutnya BISIKAN LUKISAN BERDARAH ,🤗
Musliha yunos
ceritanya ok cuma kayak gantung end nya..
andhig Rosdiana: siap kak .. terimakasih atas dukungan nya 🙏
total 4 replies
Mega Arum
mampir kak
andhig Rosdiana: mksh udah mampir ... terima kasih atas dukungan nya🤗
total 1 replies
andhig Rosdiana
yuk jangan lupa di like dan komentar nya ya suy ...🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!