Zerrin Atalea Felix seorang gadis mafia yang meninggal dunia lalu berpindah jiwa atau biasa di sebut bertransmigrasi ke tubuh Claudia Ramirez seorang gadis kaya tapi begitu di benci oleh saudara kandung nya sendiri, hanya kedua orang tua nya lah yang menyayangi nya.. Claudia yang selalu di anggap sebagai pembully di sekolah nya, padahal kenyataan nya selama ini dia hanya selalu di jadikan kambing hitam oleh seorang yang iri pada nya. Kesalahan pahaman ini lah yang membuat Claudia akhir nya di benci secara berlebihan oleh kedua abang dan lelaki yang sudah dia cintai sejak lama beserta anggota genk nya yang merupakan anggota most wanted di kampus. Kelompok para cowok-cowok kaya, keren dan populer di kawasan sekolah.
Bagaimana kisah jiwa Zerin yang berada di tubuh Claudia selanjutnya, ikuti terus kisahnya ya 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑁𝑜𝑣𝑖𝑒25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Menanam Keraguan, Meretas Persekutuan
Siang itu, sinar matahari menyinari halaman sekolah dengan terik, namun suasana di dalam gedung terasa lebih dingin karena ketegangan yang perlahan menyebar. Sejak pagi, Claudia sudah datang lebih awal, tidak hanya untuk mempersiapkan pelajaran, tetapi juga untuk mengamati pergerakan orang-orang yang terlibat dalam jaringan kebohongan itu.
Dari posisinya di kelas, ia bisa melihat dengan jelas Sari yang duduk di dekat jendela, sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan cemas yang berusaha disembunyikan. Rian, siswa yang memiliki keahlian komputer dan diduga membantu memodifikasi rekaman CCTV, juga terlihat tidak tenang, jari-jarinya terus mengetuk-ngetuk meja seolah gelisah menunggu sesuatu yang buruk terjadi.
Bagi Claudia, kegelisahan itu adalah tanda terbaik. Orang yang menyembunyikan kesalahan akan selalu hidup dalam rasa takut, dan rasa takut itu adalah celah yang paling mudah dimanfaatkan untuk memecah belah persekutuan mereka.
Dalam dunia tempatku berasal, persekutuan yang dibangun di atas kebohongan dan kepentingan sesaat tidak akan pernah bertahan lama, pikir Claudia sambil membuka buku catatannya. Mereka hanya saling memanfaatkan. Jika salah satu merasa terancam, dia tidak akan ragu mengorbankan yang lain demi menyelamatkan dirinya sendiri. Itulah hukum alam yang tidak pernah berubah.
Langkah yang akan diambilnya bukanlah serangan terbuka yang akan membuat mereka bersatu melawan dia, melainkan taktik diam-diam , menanam benih keraguan, membuat mereka saling mencurigai, hingga akhirnya benteng pertahanan mereka runtuh dengan sendirinya.
Jam istirahat pertama pun tiba. Seperti biasa, sebagian besar siswa bergerak menuju kantin atau halaman. Claudia sengaja berjalan menuju laboratorium komputer, tempat yang menjadi saksi bisu dari perubahan data yang dilakukan dua hari lalu. Sesampainya di depan ruangan itu, ia melihat pintunya terbuka sedikit, dan Rian sedang berdiri di depan salah satu komputer, seolah sedang memeriksa sesuatu dengan tergesa-gesa.
Claudia tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri di ambang pintu, bersandar santai sambil melipat kedua tangannya di dada, lalu berbicara dengan nada tenang namun cukup keras agar didengar di dalam ruangan.
“Ternyata di sini tempatnya. Aku menduga pasti ada jejak yang tertinggal, meskipun sudah dicoba dihapus sebersih mungkin.”
Rian terkejut setengah mati. Tangannya yang memegang mouse berhenti seketika, dan badannya menegang kaku. Ia berbalik dengan wajah pucat pasi, matanya terbelalak menatap Claudia yang berdiri di sana dengan senyum tipis yang tidak menyentuh hatinya.
“K… kau kenapa ada di sini?” tanya Rian dengan suara bergetar, berusaha menutupi rasa paniknya. “Ini ruang pelajaran, tidak ada urusanmu di sini.”
Claudia melangkah masuk perlahan, berjalan melewati deretan komputer sambil menatap sekeliling ruangan seolah sedang mengenali tempat yang sudah ia kenal baik. “Memang tidak ada urusan langsung, tapi tempat ini terhubung dengan apa yang terjadi hari itu. Orang yang cukup cermat akan melihatnya ,ada sedikit perbedaan pada catatan akses, ada selisih waktu yang tidak wajar, dan ada perubahan pada kode data yang hanya bisa dilakukan dari komputer di ruangan ini.”
Setiap kalimat yang diucapkan Claudia terdengar ringan, namun seolah menusuk langsung ke dada Rian. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, dan ia mundur selangkah secara tidak sadar. Bagaimana bisa gadis ini mengetahui hal-hal teknis yang bahkan jarang dipahami oleh guru mereka?
“Aku… aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” jawab Rian dengan nada yang semakin lemah. “Ini hanya omong kosong semata. Jangan menuduh orang sembarangan tanpa bukti!”
Claudia berhenti tepat di hadapannya, menatap mata Rian dengan pandangan tajam yang membuat pria itu merasa seolah seluruh rahasianya terbuka lebar. “Memang, untuk saat ini aku belum memiliki bukti yang bisa diserahkan ke kepala sekolah. Tapi percayalah, jika aku mau menggali lebih dalam, jejak itu pasti akan ditemukan. Dan saat itu terjadi… apa yang menurutmu akan dilakukan Sari? Apakah dia akan berdiri di sampingmu dan mengakui semuanya, atau dia akan mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa dan menyalahkanmu sepenuhnya sebagai pelaku tunggal?”
Pertanyaan itu seperti air dingin yang disiramkan ke kepala Rian. Ia tertegun, pikirannya mulai dipenuhi ketakutan dan keraguan. Memang benar, hubungan mereka hanya didasarkan pada permintaan Sari dan janji imbalan uang yang cukup besar. Tidak ada ikatan persahabatan atau kesetiaan apa pun di antara mereka. Jika masalah ini terbongkar, Sari pasti akan mencari kambing hitam, dan dia adalah orang yang paling mudah untuk disalahkan.
“Kau… kau mencoba memutarbalikkan keadaan,” gumam Rian, namun suaranya sudah tidak lagi meyakinkan.
“Aku hanya mengingatkan kenyataan,” jawab Claudia dengan nada dingin namun tenang. “Pikirkan baik-baik, Rian. Apakah layak mempertaruhkan masa depanmu hanya demi membantu seseorang yang tidak akan ragu mengorbankanmu saat keadaan menjadi sulit? Keputusan ada di tanganmu sendiri. Tapi ingatlah, kesempatan untuk memilih jalan yang lebih baik tidak akan datang dua kali.”
Setelah mengucapkan itu, Claudia berbalik dan berjalan keluar ruangan, meninggalkan Rian yang terduduk lemas di kursi dengan pikiran yang kacau balau. Ia berhasil menanamkan keraguan itu, dan sekarang tinggal menunggu benih itu tumbuh dengan sendirinya.
Sementara itu, di kantin sekolah, Sari sedang duduk bersama Rina dan beberapa teman dekatnya. Namun suasana hatinya sedang tidak tenang. Ia terus melirik ke arah pintu masuk, berharap tidak melihat sosok Claudia muncul. Saat melihat Claudia lewat dengan wajah tenang dan tidak menoleh sedikit pun ke arahnya, rasa cemasnya justru semakin memuncak.
“Kenapa kau terus saja melirik ke sana, Sari?” tanya Rina dengan bingung. “Dia tidak berani berbuat apa-apa, kan? Semua orang masih percaya dia yang bersalah.”
Sari menggeleng pelan, memegang gelas minumannya hingga jarinya memutih. “Aku tidak tahu… tapi ada perasaan tidak enak. Tatapannya kemarin, cara dia bicara… seolah dia tahu segalanya dan hanya menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan kita.”
“Jangan berpikiran negatif dulu,” hibur Rina, meski di dalam hatinya ia juga mulai merasa was-was. “Selama rekamannya hilang dan tidak ada saksi lain, dia tidak akan bisa membuktikan apa pun. Arjuna dan teman-temannya juga masih memihak kita.”
Namun kata-kata itu tidak cukup menenangkan hati Sari. Ia teringat janji yang dibuatnya dengan Rian , jika sampai ada masalah, mereka harus saling melindungi satu sama lain. Tapi saat ia memikirkan Rian, ia teringat bahwa pria itu hanya mau membantu demi uang. Jika rasa takutnya semakin besar, apa jaminan dia tidak akan membocorkan semuanya demi menyelamatkan dirinya sendiri?
Di sisi lain, Claudia melangkah menuju meja tempat Arjuna dan ketiga temannya duduk. Kehadirannya langsung menghentikan percakapan mereka, dan tatapan dingin segera mengarah padanya.
“Kau mau apa lagi, Claudia?” tanya Daffa dengan nada tidak senang. “Jangan mencari masalah di sini.”
Claudia tidak terpancing emosi. Ia berdiri tegak di depan meja mereka, lalu meletakkan selembar kertas kecil yang berisi catatan sederhana di atas meja tanpa menyentuh makanan atau minuman mereka.
“Aku hanya ingin menyampaikan satu hal saja, tanpa bermaksud menuduh atau memaksa kalian percaya,” ujarnya dengan suara cukup jelas didengar keempatnya. “Kemarin aku bertanya pada Pak Joko, dan dia mengatakan bahwa rekaman kamera di lokasi kejadian tidak ada bukan karena rusak, tapi karena aliran datanya terputus sementara. Hal seperti itu tidak bisa terjadi secara kebetulan, dan hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang paham cara kerja sistem komputer sekolah.”
Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam pikiran mereka.
“Jika kalian benar-benar ingin mencari kebenaran dan tidak hanya mendengarkan satu sisi cerita, cobalah perhatikan siapa saja yang memiliki keahlian dan akses untuk melakukan hal itu. Jangan sampai kalian menjadi alat yang digunakan untuk menjatuhkan orang yang tidak bersalah, hanya karena orang lain pandai berpura-pura menjadi korban,” lanjut Claudia dengan nada tenang namun tegas.
Setelah itu, ia tidak menunggu tanggapan apa pun. Ia berbalik dan pergi meninggalkan kantin, meninggalkan keempat pemuda itu saling pandang dengan ekspresi bingung dan mulai mempertanyakan kembali apa yang mereka yakini selama ini.
“Apakah yang dia katakan ada benarnya?” tanya Raka yang selama ini lebih rasional dibanding yang lain. “Memang benar, masalah teknis seperti itu tidak terjadi sembarangan. Jika ada yang sengaja mematikannya, berarti ada rencana yang disusun sebelumnya.”
Arjuna mengerutkan dahi, memandang ke arah pintu tempat Claudia tadi pergi. Pikiran keraguan yang sempat muncul di perpustakaan kini kembali menguat, didukung oleh penjelasan yang lebih masuk akal itu. Ia teringat sikap Sari yang terlihat terlalu takut dan terlalu cepat menyalahkan, serta kenyataan bahwa tidak ada bukti nyata selain kesaksiannya sendiri.
“Kita tidak bisa langsung percaya begitu saja,” jawab Arjuna pelan, namun nadanya sudah tidak sekuat dulu. “Tapi juga tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Mungkin… kita perlu memeriksa sendiri apa yang sebenarnya terjadi, bukan hanya mendengar cerita dari satu pihak.”
Ucapan Arjuna membuat Daffa dan Leo terdiam. Jika pemimpin mereka saja mulai ragu, itu artinya sesuatu yang besar sedang berubah. Benih keraguan yang ditanam Claudia mulai menyebar ke pihak yang paling berkuasa dan paling membenci dirinya.
Sore harinya, setelah jam pelajaran selesai, suasana di sekolah mulai sepi. Rian berjalan tergesa-gesa menuju gerbang keluar, namun ia terhenti saat melihat Sari menunggunya di pinggir jalan dengan wajah cemas.
“Kau sudah bicara dengan Claudia?” tanya Sari segera begitu mendekat. “Dia datang ke laboratorium tadi, kan? Apa yang dia katakan padamu?”
Rian menatap wajah Sari dengan pandangan yang sudah tidak lagi percaya seperti dulu. Ia teringat kata-kata Claudia bahwa dia akan menjadi korban jika masalah ini terbongkar.
“Dia bilang dia tahu ada jejak yang ditinggalkan, dan suatu saat nanti akan ditemukan,” jawab Rian dengan nada dingin. “Dia juga bertanya, apa yang akan kau lakukan jika kita tertangkap? Apakah kau akan mengaku bersama, atau membiarkan aku menanggung semuanya sendirian?”
Wajah Sari berubah pucat mendengar pertanyaan itu. “Kau… kau jangan percaya omong kosongnya! Dia hanya ingin memecah belah kita agar kita saling menyerang!”
“Mungkin saja,” jawab Rian sambil mundur selangkah. “Tapi dia juga mengatakan hal yang masuk akal. Apa untungnya aku terlibat dalam masalah ini? Jika sampai ketahuan, aku bisa dikeluarkan dari sekolah dan masa depanku hancur. Sedangkan kau… kau hanya ingin menjatuhkan Claudia demi mendapatkan perhatian Arjuna. Maaf, Sari, aku tidak mau menjadi kambing hitam untuk ambisimu.”
Setelah mengucapkan itu, Rian berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Sari yang terpaku berdiri dengan perasaan marah sekaligus panik. Ia tidak menyangka bahwa Claudia hanya dengan beberapa kata saja sudah berhasil membuat sekutunya sendiri menjauh.
Di kejauhan, di balik tembok gedung, Claudia melihat semuanya dengan pandangan tenang. Senyum tipis terukir di bibirnya.
Langkah pertama berhasil, batinnya. Mereka sudah mulai saling curiga. Sekarang, persekutuan mereka sudah retak. Yang tersisa hanyalah menunggu hingga retakan itu semakin lebar, lalu aku akan memberikan dorongan terakhir untuk menjatuhkan mereka sepenuhnya.
Malam itu, saat ia kembali ke rumah, Claudia duduk di ruang kerjanya dan menyusun langkah selanjutnya. Ia tahu bahwa saat ini Arjuna dan teman-temannya mulai ragu, namun mereka belum sepenuhnya berpihak padanya. Ia butuh bukti yang lebih kuat, sesuatu yang tidak bisa dibantah lagi.
Selain itu, ia juga harus mulai mengamati lebih dalam lingkungan keluarga Ramirez. Ingatan yang ia dapatkan menunjukkan bahwa bisnis keluarga mereka juga memiliki banyak pesaing yang tidak segan-segan menggunakan cara kotor. Jika ia ingin melindungi posisi dan nama baik keluarga ini , yang kini menjadi tanggung jawabnya ia harus siap menghadapi ancaman dari luar juga.
Permainan ini tidak hanya berlangsung di dalam sekolah, pikir Claudia sambil menatap dokumen laporan perusahaan yang ia baca dengan cermat. Ada jaringan yang lebih luas di luar sana, dan aku harus siap menghadapinya. Karena sebagai penerus keluarga Felix, aku tidak pernah kalah dalam pertarungan apa pun. Dan sekarang, sebagai Claudia Ramirez… aku juga tidak akan pernah membiarkan diriku jatuh ke dalam lubang yang sama dua kali.
Di ruang tengah rumah, Adrian dan Brian sedang membicarakan sesuatu dengan suara pelan. Mereka masih terheran-heran melihat perubahan drastis pada adik mereka, namun tanpa sadar, rasa ingin tahu dan rasa hormat yang perlahan tumbuh mulai menggantikan kebencian yang selama ini ada.
“Apakah kau juga merasakannya?” tanya Brian pada kakaknya. “Sejak dia sadar, dia terlihat berbeda. Lebih tenang, lebih cerdas, dan tidak lagi terlihat lemah seperti dulu.”
Adrian mengangguk perlahan, wajahnya tampak serius. “Aku juga merasakannya. Mungkin selama ini kita terlalu cepat menghakimi dia tanpa melihat kenyataan yang sebenarnya. Mungkin… kita telah salah menilai Claudia selama ini.”
Pernyataan itu adalah awal dari perubahan lain yang tidak disadari oleh siapa pun. Tidak hanya musuh di luar sana yang mulai terguncang, tetapi juga dinding kebencian yang ada di dalam keluarga sendiri perlahan mulai runtuh.
Dan di tengah semua perubahan itu, Claudia tetap berdiri tegak, memegang kendali atas setiap langkah yang diambilnya, siap menghadapi segala rintangan yang akan datang dengan kebijaksanaan dan kekuatan seorang penguasa sejati.
**✿❀ ❀✿** To be continued **✿❀ ❀✿**