Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.
Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu
Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ponsel dari Kian
TOK TOK
Wanda yang sedang tiduran di ranjangnya segera bangkit terburu buru dan berjalan menuju pintu. Dia mengira Tante Emily yang ingin menemuinya hingga tidak ingin membuatnya menunggu.
Mungkin karena jiwa dan darah pembantu yang sudah lama mengalir dalam dirinya membuatnya jadi begini. Dia takut mengecewakan Mami Kian yang sekarang sudah jadi majikannya.
Wanda mematung ketika yang berdiri di depannya Kian dengan senyum yang selalu mendebarkan jantungnya lebih cepat.
"Mau tidur, ya?"
Wanda menggelengkan, wajahnya merona. Kalo tau Kian yang datang, dia tentu agak merapikan rambut dan memastikannya layak dilihat Kian.
"Ini nomor nenekmu." Kian menyerahkan sebuah ponsel dengan layarnya yang sedang aktif.
Agak ragu Wanda menerimanya.
"Kamu bisa menghubungi nenekmu kalo mengkhawatirkannya. Aku jiga sudah menyimpan momorku di sana."
Debaran di jantung Wanda makin menjadi.
Kian membelikannya ponsel?
Dia tidak memilikinya. Tugas tugas atau pemberitahuan lainnya selalu dia ketahui dari ponsel Aditama. Karena ponsel cowo itu dia yang pegang. Anak majikannya itu hanya tau beres saja.
Wanda menatap Kian bingung.
Dia asistennya atau bukan? Batinnya bertanya lagi.
"Kenapa? Kamu kurang suka ponselnya? Kita bisa ganti ke merek atau warna ponsel yang kami suka," tanya Kian ketika belum ada respon dari Wanda
Wanda hampir tertawa miris mendengarnya. Mana mungkin dia ngga suka. Ponsel ini sangat mahal. Mirip punya Aditama, hanya saja berbeda warna.
Wanda menggelengkan kepala dengan cepat sambil tersenyum.
"Aku suka, kok. Terimakasih."
"Syukurlah." Kian tersenyum lega.
"Kamu istirahatlah. Nanti malam, ada acara di rumah Dira dan Vira." Setelah mengatakannya, Kian melangkah pergi meninggalkan Wanda yang masih bergeming.
Wanda masih terus menatap cowo yang selalu membelanya dengan gemuruh di dalam rongga dadanya.
Sekarang mereka sudah tidak berjarak lagi. Seperti mimpi, dirinya dibawa tinggal di rumah Kian. Wanda juga mendapatkan perhatian dati keluarganya, seperti yang dulu pernah dia dapatkan dari mamanya.
Memang tidak semewah ini, mereka dulu tinggal di kontrakan sempit yang tetangganya berdekatan. Tapi kebahagiaan yang dia dapatkan sangat luas dan lapang dari pada di rumah Aditama yang selalu membawa penderitaan untuknya.
Wanda cepat memundurkan langkahnya hingga masuk lebih dalam ke kamarnya ketika melihat Kian akan menoleh.
Gemuruh di dadanya makin menjadi saat dia menyandarkan punggungnya di dinding kamarnya.
*
*
*
Agak ragu Wanda menelpon neneknya. Setelah berulang kali membatalkan pesan yang akan dia kirimkan pada neneknya.
Wanda tau, di sore begini, neneknya pasti sedang beristirahat di kamarnya.
Perasaannya yang biasa datar terhadap neneknya kini berubah khawatir ketika mendengar suara neneknya.
"Halo, ini siapa?"
Sedetik berlalu Wanda mengabaikannya.
Tiga detik, akhirnya Wanda sudah menguatkan dirinya untuk berbicara dengan neneknya.
"Salah sambung, ya? Kalo begitu saya pu--."
"Nek. Ini aku Wanda," potong Wanda cepat sebelum neneknya belum memutuskan sambungan komunikasi mereka.
Hening.
Neneknya belum menyahut.
Wanda ngga tau, apakah neneknya terkejut dan sekarang beliau merasa canggung?
Sama. Wanda juga merasa canggung. Baru kali ini dia yang memulai berbicara dengan neneknya.
"Kamu sudah beli ponsel?"
"Kian yang belikan."
Hening.
"Kamu .... baik baik, kan, di sana?"
"Aku .... baik nek. Keluarga Kian sangat baik." Wanda menangkap getaran di suara neneknya. Seperti ada isak yang sedang ditahan. Hati Wanda langsung mengharu biru.
"Syukurlah. Nenek senang mendengarnya."
Kata nenek yang diucapkan neneknya terasa asing tapi menimbulkan sedikit getaran juga di dalam hatinya.
Selama di rumah Aditama, beliau tidak pernah membahasakannya begitu. Tidak pernah sekali pun.
Hening melewati lima detik.
"Apa mereka marah dengan nenek?" Wanda merasa lidahnya masih kaku ketika menyebut kata nenek, walaupun di hatinya dia mulai suka.
"Tidak. Mereka semuaya tetap baik."
"Syukurlah."
Hening lagi hingga beberapa detik berlalu.
"Emm .... kalo nenek ke kamar mandi .... hati hati, ya." Wanda mengungkapkan kekhawatirannya atas ancaman Aditama.
"Tentu. Di sini juga banyak yang menjaga nenek."
Wanda menganggukkan kepalanya, lupa kalo neneknya tidak bisa melihatnya. Dia tau, art art di sana baik baik. Mereka selalu menatapnya kasian saat dikasari Nyonya Mirelin. Dan menghiburnya saat semua penyiksaan itu berakhir.
Tidak ada yang bisa membantunya lepas dari siksaan Aditama dan mamanya. Hanya Kian yang bisa.
*
*
*
BRAKK!
Aditama menggebrak meja restoran dengan cukup keras hingga beberapa orang yang ada di sana memperhatikan wajah marah remaja berseragam SMA itu.
"Sabarlah," bujuk Mahesa. Dia bahkan sampai menahan gelasnya yang turut bergetar akibat gebrakan itu.
Aditama meminta Mahesa ikut dengannya ke restoran pulang sekolah tadi.
"Bagaimana aku bisa sabar! Kenapa dia menginginkan milikku! Apa aku harus mengambil miliknya juga?" geram Aditama.
Kening Mahesa berkerut. Tapi dia tau maksud ucapan temannya.
"Dira, Vira atau Keyra?"
"Ketiganya kalo perlu!"
Mahesa meneguk minuman dinginnya untuk menyembunyikan senyum miring yang tercipta begitu saja du bibirnya.
Tapi Aditama bisa menangkapnya.
"Kenapa? Kamu pikir aku ngga bisa?" Aditama memelototi teman dekatnya.
"Lebih gampang Azula ," komen Mahesa santai.
BRAKK!
Aditama menggebrak keras lagi meja di depannya. Marah karena Mahesa menyangsikan keinginannya.
"Ya, sudah. Di coba saja. Kian memang perlu dibalas, kan." Mahesa mencoba menurunkan tensi kemarahan temannya.
Aditama menghembuskan nafas panjang. Kemarahannya sedikit mengendor. Mahesa ngga salah. Azula memang lebih gampang. Tanpa dia melakukan apa pun, cewe itu sudah menawarkan segalanya untuknya.
Aditama kemudian melanjutkan makan steaknya. Bahkan dia menancapkan ujung pisau dengan geram ke arah irisan steaknya. Seolah olah irisan itu adalah Kian.
Papanya belum pulang sejak kemarin. Begitu juga mamanya. Dia pun jadi ngga betah berada di rumah.
Walaupun begitu papanya mengirimkan seorang asisten yang mengurus keperluannya, yang biasanya ditangani Wanda. Tapi asisten itu tidak bisa dia bawa ke sekolah.
"Aku akan menteror si kembar dan Keyra, agar Wanda tau aku ngga akan tinggal diam. Bahkan Kian." Tangannya mengepal kuat dan nada suaranya berubah jadi geraman ketika menyebut nama rivalnya.
Dia belum dijinkan mengendarai motornya, mungkin dua atau tiga hari lagi.
Mahesa mengangguk.
"Aku dan yang lainnya pasti akan membantumu."
Aditama menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih." Setelah dia diperbolehkan mengendarai motornya, maka pembalasannya akan di mulai.
*
*
*
Awalnya Mirelin terkejut ketika ada tangan yang menggelung pinggangnya.
Tapi setelah tau siapa yang melakukannya, senyumnya merekah manis.
"Wajahmu kenapa masam begitu. Bahkan kamu ngga sadar aku datang."
Laki laki yang lebih muda dua tahun darinya makin mengeratkan gelungannya. Dagunya dia letakkan di atas bahu Mirelin.
Oliver, rekan bisnis yang sejak dua bulan lalu mendekatinya dan dia sudah menyerah.
Oliver mengantarnya pulang saat mabuk. Mereka berci-uman. Mirelin mengijinkan hatinya untuk membalas perbuatan suaminya bertahun tahun lalu.