NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Hati

Reinkarnasi Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sebuah taksi berhenti dengan decitan pelan di depan gang rumah keluarga Alex.

Begitu pintu mobil terbuka, Sisil keluar dengan langkah menghentak-hentak.

Sontak saja, beberapa tetangga yang sedang mengobrol di pos ronda dan ibu-ibu yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.

Mereka berbisik-bisik sambil menahan tawa melihat penampilan Sisil yang sudah seperti badut—rambut lepek, baju basah kuyup, dan maskara hitam yang luntur memenuhi pipinya.

"Ih, hantu siang bolong dari mana itu?" bisik salah satu tetangga yang sengaja dikeras-keraskan, membuat telinga Sisil berdenging panas.

Tanpa memedulikan gunjingan orang, Sisil berlari masuk ke dalam rumah dan membanting pintu utama.

BRAAK!

Sesampainya di dalam rumah, Dimas yang sedang asyik menonton televisi langsung menoleh.

Begitu melihat penampakan kakaknya yang mengenaskan, tawa Dimas seketika pecah.

Ia tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya dan berguling di sofa.

"Hahaha! Kamu kenapa, Mbak?! Habis tercebur ke got atau habis ikut lomba topeng monyet? Muka kamu hancur banget begitu! Hahaha!" ledek Dimas tanpa ampun.

Sisil semakin mengerucutkan bibirnya kesal, matanya berkaca-kaca menahan malu dan amarah yang memuncak.

Ia menghentakkan kakinya ke lantai. "Diam kamu, Dimas! Ini tidak lucu!" pekik Sisil histeris.

"Ini semua gara-gara wanita mandul itu! Dia sekarang menjadi istri Afrain! Mereka sudah menikah!"

"APA?!"

Suara teriakan itu bukan berasal dari Dimas, melainkan dari arah pintu penghubung.

Alex, yang kebetulan baru saja bersiap-siap untuk pulang ke rumah pribadinya, langsung menghentikan langkahnya.

Langkah kakinya mendadak lemas, wajahnya pucat pasi, dan matanya membelalak sempurna karena terkejut mendengar ucapan kakaknya.

"M-Mbak, kamu jangan bercanda! Lani menikah dengan Afrain?!" tanya Alex dengan suara bergetar, mencengkeram lengan sofa untuk menumpu tubuhnya yang mendadak goyah akibat syok yang luar biasa.

"Iya, Lex! Tadi mereka menikah di rumah Afrain!" pekik Sisil dengan suara melengking, meluapkan seluruh emosi yang sedari tadi dipendamnya.

"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Afrain memanggilnya dengan sebutan sayang, dan wanita mandul itu, dia dengan tidak tahu malunya mencium Afrain di depan mukaku! AARGHHHH!! MENYEBALKAN!!"

Sisil menjambak rambutnya sendiri yang masih agak basah karena frustrasi.

Bayangan kemesraan Lani dan Afrain benar-benar merubuhkan harga dirinya yang setinggi langit.

Di sudut ruangan, Alex berdiri mematung. Dadanya mendadak terasa sesak, seolah pasokan udara di sekitarnya habis dalam sekejap.

Alex mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak amarah dan penyesalan yang membakar hatinya.

Di dalam benaknya, Alex masih ingat betul dengan tawarannya tempo hari.

Ia dengan penuh percaya diri meminta Lani untuk rujuk kembali bersamanya, yakin bahwa mantan istrinya itu tidak akan bisa berpaling ke pria lain.

Namun sekarang, kenyataan justru menampar wajahnya dengan keras.

Lani sudah menjadi milik pria lain—dan pria itu adalah Afrain, seorang CEO sukses yang jauh lebih kaya darinya.

Tap!

Tap!

Tap!

Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan, membuyarkan seluruh lamunan dan kemarahan Alex.

Kedatangan Mira yang tiba-tiba langsung merusak keheningan ketegangan di ruangan itu.

Mira berjalan mendekat ke arah Alex dengan wajah cemberut.

Tanpa memedulikan suasana panas di rumah itu, Mira langsung merengek manja sambil menggelayuti lengan Alex.

"Mas Alex, aku lapar. Dari kemarin Mas Alex tidak pulang ke rumah, aku kesepian tahu!" rengek Mira dengan nada suara yang dibuat-buat, menuntut perhatian.

Bukannya luluh, Alex justru merasa muak setengah mati.

Di saat hatinya sedang hancur dan panas mendengar kabar pernikahan Lani, rengekan Mira terdengar seperti duri yang menusuk telinganya.

Ditambah lagi, mengingat Lani yang selalu melayaninya dengan sabar dulu, melihat Mira yang manja dan egois ini membuat penyesalannya kian berlipat ganda.

Alex menghempaskan tangan Mira dengan kasar hingga wanita itu terhuyung ke belakang.

"Salah sendiri tidak mau masak!! Kamu punya tangan dan kaki, kenapa selalu mengandalkan aku?!" bentak Alex dengan urat-urat yang menonjol di lehernya.

Mira tersentak, matanya berkaca-kaca karena terkejut mendapati suaminya yang biasa memanjakannya kini membentaknya dengan begitu kejam.

Tanpa memedulikan tangisan Mira ataupun teriakan Sisil yang masih mengamuk, Alex berbalik badan dengan cepat.

Amarah dan rasa tidak rela telah menguasai akal sehatnya.

Ia melangkah lebar-lebar keluar dari rumah, membanting pintu, dan segera melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Afrain.

Alex harus melihatnya sendiri, ia harus merebut Lani kembali sebelum semuanya terlambat.

Sesampainya di rumah Afrain, Alex tidak lagi memiliki kesabaran.

Ia melangkah terburu-buru menuju pintu utama dan langsung menggedornya dengan keras.

TOK! TOK! TOK!

Lani yang sedang berada di ruang tengah terkejut mendengar gedoran kasar tersebut.

Ia melangkah ke pintu dan membukanya dengan ragu.

"M-Mas Alex? Mau apa kamu di sini, Mas?" tanya Lani dengan nada gemetar.

Tanpa basa-basi, Alex langsung menarik lengan Lani.

"Ikut aku. Ayo kita rujuk sekarang juga!" serunya dengan tatapan penuh obsesi.

"Mas, lepaskan! Sakit!" rintih Lani saat jemari Alex mencengkeram lengannya dengan begitu erat hingga kulitnya memerah.

"Tidak akan! Kamu tidak bisa menikah dengan pria itu!" Alex semakin menarik Lani paksa ke arah mobilnya.

Bugh!

Tepat saat Lani nyaris terseret, sebuah pukulan telak mendarat di rahang Alex, membuatnya terhuyung hingga tersungkur ke lantai teras.

Afrain yang sudah terlepas dari selang infusnya dan berjalan tertatih dengan napas memburu—berdiri di sana dengan tatapan membunuh.

"M-Mas Afrain..." Lani terpekik, segera berlari menghampiri suaminya.

Afrain segera menarik Lani ke dalam pelukannya yang protektif, menyembunyikan istrinya dari pandangan Alex.

Dengan tubuh yang masih sedikit lemah namun auranya tetap dominan, Afrain menatap tajam ke arah pria di depannya.

"Pergi dari sini, Lex. Jangan mempermalukan dirimu sendiri," ujar Afrain dingin, suaranya mengandung otoritas seorang pemimpin yang tak bisa dibantah.

"Lani sekarang sudah sah menjadi istriku. Sekali lagi kamu menyentuhnya, aku tidak akan segan-segan menyeretmu ke jalur hukum."

Alex menyeka sudut bibirnya yang berdarah akibat pukulan Afrain, lalu perlahan bangkit berdiri.

Alih-alih gentar, sebuah tawa kecil yang terdengar sumbang dan penuh keputusasaan lolos dari mulutnya.

"Dia wanita mandul, Frain!!" teriak Alex dengan pandangan mata yang menyalang, menunjuk tepat ke arah Lani yang sedang bersembunyi di balik dada bidang Afrain.

"Dia tidak bisa memberimu keturunan! Hanya aku, yang tahu segala kekurangannya dan hanya aku yang berhak untuk mendapatkannya kembali!"

Mendengar hinaan murahan yang keluar dari mulut mantan suami istrinya itu, Afrain tidak tersulut emosi.

Sebaliknya, Afrain justru menarik sudut bibirnya dan melepaskan tawa kecil yang terdengar sangat meremehkan.

Tatapan matanya lurus menguliti harga diri Alex yang sudah hancur tak bersisa.

"Kamu tertawa?!" bentak Alex, merasa terhina dengan respons tenang dari CEO di hadapannya itu.

Afrain menghentikan tawa kecilnya, lalu mempererat pelukannya di pinggang Lani, seolah ingin menegaskan bahwa Lani adalah harta paling berharga yang ia miliki sekarang.

"Aku tertawa karena melihat betapa bodohnya kamu, Alex," ucap Afrain dengan nada suara yang sangat tenang namun bergema penuh penekanan.

"Kamu membuang berlian demi sebuah batu kerikil, dan sekarang setelah berlian itu di tangan orang lain, kamu mengemis seperti orang gila."

"Lihat saja, aku akan membalasmu!!" ancam Alex dengan napas memburu dan mata merah padam menahan dongkol.

Tanpa menunggu jawaban, Alex berbalik dengan kasar, menyalakan mesin motornya, dan melaju kencang meninggalkan pekarangan rumah Afrain, menyisakan deru mesin yang membelah keheningan sore.

Setelah memastikan pria keras kepala itu benar-benar pergi, Afrain mengembuskan napas panjang.

Ia membalikkan tubuhnya, menatap Lani yang bahunya masih berguncang pelan karena syok dan sisa tangisnya.

Mbok, tolong buatkan teh hangat ya," panggil Afrain setengah berteriak ke arah dalam rumah.

"Iya, Den Afrain. Segera Mbok buatkan," sahut Mbok Mar dari arah dapur.

Afrain menangkup kedua pipi istrinya dengan lembut, memaksa netra Lani yang berkaca-kaca untuk menatap langsung ke dalam matanya.

"Sayang, lihat aku. Sudah, ya, jangan menangis lagi."

Lani menyandarkan dahinya di dada bidang Afrain, meremas pelan kaus suaminya.

"Aku takut dia nekat, Mas..."

"Hei, dengar aku," bisik Afrain lembut namun sarat akan ketegasan, sesekali mengecup puncak kepala Lani untuk menyalurkan rasa aman.

"Tidak akan ada yang bisa merusak hubungan kita. Aku yang akan berdiri paling depan untuk melindungi kamu. Kamu harus percaya itu."

Tak lama kemudian, Mbok Mar datang dengan nampan kayu, menaruh secangkir teh hangat yang baru saja diseduh di atas meja teras.

"Ini teh hangatnya, Non, Den. Diminum dulu supaya hatinya agak adem."

"Terima kasih, Mbok," ucap Afrain tersenyum tipis.

Afrain meraih cangkir tersebut, lalu menuntun tangan Lani untuk memegangnya.

"Ayo, sekarang diminum pelan-pelan, Sayang. Biar badannya lebih hangat."

Lani menganggukkan kepalanya patuh. Sambil menghapus sisa air mata di pipinya menggunakan ujung jari, ia menyesap teh hangat itu perlahan.

Sensasi hangat yang menjalar di tenggorokannya perlahan mulai menenangkan debaran jantungnya yang sempat berpacu liar akibat kedatangan Alex tadi.

1
Dew666
🪭🪭🪭🪭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
💟💟💟
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Dew666
🌹🌹🌹🌹
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Dew666
🔮🔮🔮🔮
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!