NovelToon NovelToon
Takdir Di Ujung Janji

Takdir Di Ujung Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: NonaAns

Aira dan Baskara sama-sama tidak menginginkan perjodohan kedua orang tua mereka, tapi mereka memiliki kesamaan, yaitu enggan mengecewakan kedua orang tua yang sangat mereka hormati.

***

Janji masa lalu Hendra dan Gunawan untuk menjodohkan anak-anak mereka menjadi awal baru yang tak terduga bagi Aira dan Baskara.
Awalnya, Aira dan Baskara berpikir bahwa pernikahan adalah hal sederhana dan mudah. Namun, ternyata semua tidak sesederhana yang dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaAns, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 : Bulan Madu Tipis-Tipis

"Kamu mau apa?"

Baskara terdiam.

Lidahnya kelu.

Tubuhnya pun mendadak kaku saat Aira tiba-tiba membuka matanya. Ia cepat-cepat melepaskan tangan dari tubuh Aira dan berdiri tegap di samping sofabed.

"Siap salah! Ehem ... maksud aku ... aku nggak ...."

Baskara mengerjap beberapa kali. Ia melirik ke arah Aira sesekali. Gadis itu tampak menatapnya, tapi tak lama bangkit dan duduk di kursi makan.

"Aku udah nungguin kamu dari tadi. Aku beli nasi kebuli. Makan sama-sama yuk."

Baskara berdehem. Berusaha menetralkan degup jantung dan rasa gugupnya. Ia berjalan ragu-ragu mendekati Aira, lalu duduk.

"Kamu ... nungguin aku, Ai?"

Aira mengambilkan sepiring nasi kebuli yang baru saja ia ambil dari magic com, sepotong ayam, dan sambal.

"Aku sengaja. Mau makan sama-sama. Ini nasi kebuli paling enak di rumah sakit. Cobain deh."

Baskara mengangguk. Ia menyantap lahap nasi kebuli pemberian Aira. Sementara itu, Aira tersenyum lebar seraya memperhatikan Baskara yang tampak lahap makan.

"Oh, iya, Bas. Ngomong-ngomong aku udah bilang ke Dokter Genta soal pengajuan cutiku."

Aira menghentikan ucapannya. Ia menunggu Baskara memperhatikannya. "Sayangnya cuma dikasih izin 2 hari. Gimana?" Lanjutnya.

Baskara mengangguk. "Nggak apa-apa. Aku juga nggak bisa lama-lama cuti. Yang penting kita jalan-jalan aja, Ai. Berdua. Anggap ... bulan madu tipis-tipis."

Wajah Aira memerah. Ia kembali menyantap makan malamnya malu-malu.

"Memang udah ada rencana kita mau kemana?"

Baskara meneguk air mineralnya usai menghabiskan makan malamnya. Ia menatap Aira, lalu menjawab, "Awalnya, sih, belum. Tapi, sudah dapat sponsor dari Bunda."

"Hah? Sponsor gimana?"

"Ya, ayah sama bunda tahu waktu setelah menikah, kamu kutinggal tugas. Jadi, ayah sama bunda kasih sponsor tiket pesawat pulang-pergi, hotel, dan semua fasilitas di sana."

Aira mengerutkan dahi. "Memangnya mau kemana, Bas?"

"Paradise Island."

Mata Aira membulat. Paradise Island bukan sekedar pulau dengan pemandangan pantai dan biota laut yang indah, tapi juga lokasinya yang jauh dari hingar bingar kota.

Untuk mencapai ke lokasi saja harus mengendarai shuttle bus khusus dan kapal khusus. Di sana hanya ada satu hotel dengan semua fasilitas wisata airnya. Termasuk salah satu wishing list liburan Aira.

"Kamu yakin mau ajak aku ke Paradise Island?"

Baskara mengangguk. "Suka nggak?"

"Suka banget! Itu salah satu wishing listku. Nggak nyangka pergi ke sana sama kamu."

"Siap-siap aja. Bawa banyak baju karena kayaknya berenang di sana seru, Ai."

***

Hari yang dinanti-nantikan Aira pun tiba. Ia sudah tidak sabar ingin menginjakkan kaki di Paradise Island. Sudah sejak subuh tadi ia bangun dan bersiap-siap. Baskara sengaja mengambil penerbangan pagi agar bisa menikmati pulau menawan itu lebih lama.

Pesawat baling-baling sudah siap terbang. Penerbangan akan memakan waktu satu jam empat puluh menit. Dalam perjalanannya Aira tampak gembira. Ia tampil cantik dengan dress putih dan kacamata hitamnya. Senyumnya tidak pernah pudar apalagi saat ia menginjakkan kaki pertama kalinya di Paradise Island.

"Welcome to Paradise Island."

Aira dan Baskara mendapat minuman selamat datang. Jus passion fruit yang segar. Cuaca dan langit Paradise Island sangat cerah hari ini dan Aira memanfaatkannya untuk berfoto bersama Baskara.

"Kok sepi? Nggak ada yang lain yang menginap di sini, Bas?" tanya Aira saat ia mendapati hotel tempatnya menginap terlihat sepi.

"Mungkin karena bukan hari libur, Ai. Justru aku lebih suka begini. Tenang."

Aira tersenyum. Ia pun berjalan mengikuti petugas yang mengantarkannya menuju kamar hotelnya. Sebuah kamar president suit dengan satu ranjang besar, ruang tamu, dan pemandangan balkon yang langsung mengarah ke pantai.

Aira dan Baskara terdiam saat melihat hiasan mawar dan handuk berbentuk angsa menghiasi ranjang. Mereka saling menatap satu dengan yang lainnya.

"Kayak dejavu," gumam Aira.

Baskara meringis. Ia pasti dapat menduga jika ide menghias ranjang ini pasti datang dari sang bunda. Baskara kembali membuka almari, mengambil tas laundry dan mulai membersihkan bunga-bunga itu dari atas ranjang. Sementara itu, Aira mengerutkan dahi manakala ponsel pribadinya berdering.

"Halo, Bunda ...."

Baskara menoleh saat ia mendengar Aira berbincang dengan Sita. Aira pun mengeraskan volume teleponnya agar Baskara juga dapat mendengar suara Sita.

"Sudah sampai, Nak?"

"Sudah, Bunda. Barusan. Bagus sekali hotelnya, Bunda. Terima kasih," ucap Aira dengan senyum manisnya.

"Ah, manis sekali. Semoga suka ya, Aira."

"Suka banget, Bunda."

"Syukurlah. Have fun ya, Sayang! Baskara mana?"

"Ya, Bunda ...."

"Kamu semangat ya, Nak! Semoga setelah ini bisa gol kasih kami cucu."

Baskara dan Aira saling menatap. Seketika wajah mereka memerah. Mereka pun segera memalingkan wajah dan fokus ke arah lain.

"Bunda, jangan bilang gitu. Aira dengar!" ucap Baskara sedikit kesal.

"Eh? Oh ...." Sita tertawa puas seolah sengaja membahas perihal cucu pada anak dan menantunya.

"Ya, nggak apa-apa kalau Aira dengar. Kan, biar Aira juga tahu harapan ayah sama bunda. Lagipula, apa, sih, yang kalian tunggu. Kalian sudah sama-sama dewasa, sudah sama-sama bisa mempertanggungjawabkan diri kalian masing-masing. Kerjaan sudah mapan, penghasilan ada, apa lagi? Sudah waktunya membuka diri untuk tanggungjawab yang baru. Janganlah ditunda lagi. Ya, Nak."

Baskara dan Aira saling menatap. Mereka sama-sama serba salah untuk menjawab.

"Kok nggak dijawab?"

Baskara membuang napas pelan. "Iya, Bunda. Doakan saja. Ya udah, teleponnya Baskara tutup dulu ya. Kami mau istirahat."

"Mau bikin cucu?"

"Ih! Bunda!"

Sita kembali tertawa puas sebelum akhirnya menutup teleponnya.

Baskara mengembuskan napas panjang. Ia menatap Aira yang juga sejak tadi sudah menahan tawanya.

"Nggak usah didenger ya omongan bunda."

Aira tersenyum.

"Nggak masalah. Lagipula itu harapan orang tua. Kan, kita nggak bisa melarang juga, Mas."

Baskara mengerjap saat Aira kembali memanggilnya dengan sebutan 'mas'.

"Ha?"

Aira menggigit bibirnya. "Ha apa, Mas?"

"Kamu bilang apa tadi?"

Aira menahan senyumnya. Ia keluar ke balkon dan menatap hamparan pantai yang indah tidak menggubris pertanyaan Baskara.

"Mau kebawah nggak, Mas?"

Baskara terdiam. Sudut bibirnya sedikit naik sebelum akhirnya mengangguk. Ia berjalan mengikuti Aira yang berlari cepat menuju ke lantai bawah.

"Mau naik sepeda, Ai?"

Aira melihat sebuah sepeda di depan lobi hotel yang memang diperuntukkan untuk pengunjung. Aira mengangguk dan membonceng di belakang Baskara. Tangannya melingkar di perut Baskara dan sempat membuat Baskara mengulum senyumnya.

Mereka pun memutari jalanan di sekitaran pantai dengan sepeda. Lalu, tak lama Baskara berhenti saat menemukan sebuah kursi di basah rimbunnya pohon cemara laut.

"Istirahat di sini dulu, Ai," ucap Baskara seraya mempersilakan Aira duduk di kursi itu bersebelahan dengannya.

Aira menghirup napas dalam-dalam. Udara di Paradise Island masih sangat bersih dan segar. Pemandangan lautnya juga indah.

"Seneng nggak, Ai?"

Aira mengangguk. "Banget. Aku nggak nyangka bisa ke sini sama Mas."

Baskara menatap Aira dengan sorot penuh tanya.

"Kenapa?"

"Nggak."

"Aku boleh,kan, panggil kamu pake Mas?"

Baskara menatap Aira sepintas, lalu mengangguk.

Aira tersenyum. Ia kembali melemparkan pandangan ke depan, menatap indahnya pemandangan pantai dengan pasir putih dan ombak laut yang menggulung-gulung. Aira pun menyandarkan kepalanya dibahu Baskara.

Sesaat membuat Baskara terkejut, tapi juga menyediakan bahunya untuk Aira bersandar. Baskara memberanikan diri menggenggam tangan Aira meski sedikit ragu akan ditolak, tapi melihat Aira tidak melawan, Baskara pun menautkan jemarinya pada Aira.

Baskara dan Aira terdiam sejenak, menikmati angin dan pemandangan indah yang mungkin akan jarang mereka temui jika sudah mulai kembali berkegiatan. Setelah merasa cukup beristirahat, Baskara kembali mengayuh sepedanya menyusuri jalanan menuju sebuah pasar kerajinan tangan dan oleh-oleh.

Seperti kebanyakan perempuan pada umumnya, Aira segera berjalan cepat seraya menatap beberapa barang kerajinan dan makananan di sana. Sementara itu Baskara mengekori langkah Aira lebih santai.

Aira berhenti saat melihat sebuah gelang yang menarik perhatiannya.

"Mari, Kakak gelangnya. Untuk sendiri atau pasangan? Ada juga gelang pasangan."

Penjual itu mengeluarkan dagangannya. Satu yang menarik Aira. Sebuah gelang pasangan dengan anyaman tali dengan ukiran ombak pada pelat kuningnya sebagai hiasan. Warnanya pun kontras. Satu berwarna hitam dengan hiasan batu lava hitam yang maskulin, yang satu lahi berwarna lebih terang dengan manik kayu kelapa kuning yang eksotis.

Aira tersenyum. Ia mengambil gelang itu.

"Mau diukir nama pasangannya sekalian, Kak?"

Aira diam sejenak. Ia pun menggeleng.

"Ukir saja kata pulang."

Pengrajin itu mengerutkan dahi. "Pulang?"

Aira mengangguk mantap. Merasa yang ia inginkan sudah didapat, Aira pun berjalan menghampiri Baskara.

"Udah, Bas?"

"Iya. Kamu udah?"

Aira mengangguk. Ia membeli banyak oleh-oleh untuk mama dan mertuanya serta rekan-rekannya di rumah sakit. Aira juga membelikan beberapa bungkus makanan untul anggota Baskara, Kapten Aga, wakil komandan, dan komandan batalyonnya.

"Aku sengaja bilang ke penjualnya biar dikirim ke hotel. Kita naik sepeda kayaknya nggak bakal bisa bawa oleh-oleh sebanyak itu.

Baskara mengangguk. Ia kembali mengayuh sepedanya dan membonceng Aira di belakangnya. Baskara mengayuh sepeds menuju sebuah restoran seafood khas Paradise Island yang letaknya di tepi pantai. Baskara memilih tempat duduk mereka usai memesan beberapa menu yang mereka sukai, tidak ketinggalan menu kepiting saos padang favorit Aira.

"Indah banget ya," ucap Aira saat melihat matahari yang perlahan mulai terbenam.

"Ini jadi makan malam romantis pertama kita kayaknya," lanjut Aira yang seketika membuat Baskara tersenyum.

Aira beranjak dari tempatnya, ia meminta pada salah seorang pramusaji untuk mengabadikan momennya bersama Baskara dengan ponsel pintarnya. Aira tersenyum manakala menatap hasil foto pramusaji itu.

"Oh iya, aku beli hadiah kecil buat kamu, Mas."

Baskara mengerutkan dahi saat Aira menyodorkan sebuah kotak kardus sederhana di atas meja.

"Apa ini?"

Baskara membuka kotak itu dan menemukan dua buah gelang dengan warna yang kontras berbeda, tapi memiliki ukiran yang sama.

"Aku sengaja beli gelang pasangan ini. Aku rasa yang hitam cocok buat kamu. Kata penjualnya ada manik batu lava hitam yang jadi hiasannya. Bagus buat cowok karena memberi kesan maskulin."

Aira mengambil gelang berwarna hitam itu dan menarik tangan kiri Baskara. Ia memasangkan gelang itu di tangan kiri Baskara, lalu tersenyum melihatnya karena ternyata memang cocok dipakai oleh suaminya itu.

Baskara mengambil gelang lain dan memasangkannya di pergelangan tangan kiri Aira. Usai sama-sama mengenakan gelang itu, Aira pun menyandingkan tangannya dan Baskara, lalu mengambil foto gelang pasangan itu.

"Ada ukiran ombaknya. Sederhana, tapi bagus. Suka nggak?" tanya Aira dengan mata yang berbinar.

Baskara mengangguk. Ia kembali menikmati malam dengan santap malam istimewa di tempat yang istimewa, bersama dengan orang yang istimewa pula.

"Makasih gelangnya, Ai."

Aira tersenyum senang.

Matahari sudah terbenam. Senja sudah berganti dengan malam. Lilin-lilin kecil dan lampu-lampu kecil menghiasi rumah makan itu membuat suasana menjadi lebih romantis. Ditambah lagi ada live musik musisi lokal yang membawakan lagu-lagu hits.

Dalam perjalanan pulang kembali ke hotel, Aira tersenyum manakala menatap gelang yang ada dipergelangan tangannya. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Baskara yang seketika membuat Baskara melengkungkan senyumnya.

"Aku mandi dulu ya, Mas," ucap Aira sesampainya di hotel.

Baskara mengangguk. Ia menunggu sembari duduk di balkon hotel seraya menatap laut lepas. Ia mengerutkan dahi manakala ponselnya tiba-tiba berdering.

"Siap!"

Baskara menegakkan posisi duduknya saat menerima panggilan telepon itu.

"Siap, laksanakan!"

Baskara menutup panggilan teleponnya. Ia pun membuang napas kasar seraya beranjak dari tempatnya. Ia terperanjat saat melihat Aira berdiri di ambang pintu entah sejak kapan.

"Kamu dari kapan berdiri di situ, Ai?"

"Siapa yang telepon?" tanya Aira sengaja tidak menjawab pertanyaan Baskara.

Baskara diam. Ia berjalan masuk menghindari Aira.

"Mas ...."

Baskara berhenti. Ia menunduk seraya membuang napas berat.

"Komandanku."

Aira mengernyit.

"Kolonel Haryo?"

"Hmm...."

"Kamu disuruh balik ke asrama, Mas?"

Baskara membalikkan tubuhnya. Ia menatap Aira yang sejak tadi sudah menatapnya dengan sorot penuh tanya. Baskara membuang napas kasar.

"Aku ada tugas ...."

Aira mengernyit. "Tugas?"

Baskara mengangguk seraya memejamkan kedua matanya. Satu kenyataan yang nantinya akan dihadapi Baskara dan Aira. Berjauhan karena tugas negara.

"Iya. Namaku ada dalam daftar satuan tugas ke Pegunungan Maros."

Deg!

_______________________

1
Ema Soleha
ceritanya bagus,tapi iklanya MasyaAllah....bikin nyebut,iklanya udah ngelebihi apliksi novel berbayar
Ana Dww
/Sob/maaf bas, wanita punya prinsip sedia payung sebelum hujan walau itu kemarau
NonaAns: 🤣 iya lagi wkwkwkwk
total 1 replies
Nasyya
👍🏻👍🏻
Nasyya
wadidauw 🤣
Ana Dww
waittt!
Ana Dww
kalau nggak, paling parah jelita hamil anak orang😶
Ana Dww
ya emang jelita bohong!
Ana Dww
/Determined/
Ana Dww
😭😭😭😭 Istri lo abis ngamukkk
Ana Dww
tetap negatif thinking jelita bohong karena suka ibasss
Ana Dww
😭😭😭
Agustinus Wisnugroho
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!