NovelToon NovelToon
Setelah 9 Tahun Bersama

Setelah 9 Tahun Bersama

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Selingkuh
Popularitas:65.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.

Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.

Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.

Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.

Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.

Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.

Jena datang dengan penuh harapan.

Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Rumah

Jena mengusap pelan air mata yang masih tersisa di pipinya. Dadanya memang masih terasa berat, luka di hatinya belum serta-merta hilang hanya karena ia menangis dan mencurahkan semuanya di hadapan nisan kedua orang tuanya.

Namun setidaknya, untuk beberapa saat, ia merasa sedikit lebih lega.

Jena menarik napas panjang. Kemudian ia menengadahkan kedua tangannya di depan dada, memejamkan mata sambil melantunkan doa untuk Ayah dan Bundanya.

"Ayah, Bunda ... semoga di sana kalian bahagia. Maaf karena Jena selalu datang dengan membawa kesedihan. Jena cuma benar-benar merindukan kalian." Air mata kembali jatuh, tetapi kali ini lebih tenang.

Setelah selesai berdoa, Jena mengusap batu nisan kedua orang tuanya dengan penuh kasih sayang. "Jena pulang dulu ya, Yah, Bun. Sampai jumpa lagi nanti. Jena janji akan sering datang ke sini." Ia memberikan senyum kecil yang begitu rapuh, lalu berdiri perlahan. Kakinya terasa sedikit lemas setelah terlalu lama berjongkok, tetapi ia tetap memaksa dirinya untuk berjalan.

Beberapa langkah ia meninggalkan makam itu, namun Jena berhenti sejenak dan menoleh ke belakang. Tatapannya jatuh pada dua pusara yang selama ini menjadi tempatnya kembali ketika dunia terasa terlalu kejam.

Dulu, saat masih kecil, setiap kali ia terluka, ia selalu bisa berlari ke pelukan Ayah dan Bundanya.

Ayah akan mengusap kepalanya sambil berkata bahwa Jena adalah putri terkuat mereka.

Bunda akan memeluknya dan menyuruhnya berhenti menangis karena tidak ada kesedihan yang berlangsung selamanya.

Namun sekarang, tidak ada lagi pelukan itu. Yang tersisa hanya kenangan dan doa.

Jena menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan tangis yang hampir kembali pecah. "Aku akan baik-baik saja, Ayah, Bunda," bisiknya lirih. Meski ia sendiri tidak yakin dengan ucapannya.

Akhirnya Jena kembali melangkah melewati deretan makam yang berjajar sunyi. Matahari siang masih menyinari area pemakaman, tetapi langkahnya terasa jauh lebih lambat dibanding saat ia datang.

Saat sampai di gerbang TPU, ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Matanya secara refleks melihat layar.

Tetap kosong.

Tidak ada pesan dari Jovian.

Tidak ada panggilan tak terjawab.

Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, "Sudah sampai apart?"

Bibir Jena kembali tersenyum pahit.

Dulu, sebelum ia sampai di apartemen, Jovian sudah menelepon berkali-kali memastikan dirinya aman.

Namun sekarang, bahkan kabar keberadaannya pun seolah tidak lagi penting.

Jena menatap langit sesaat. Mungkin ini adalah jawaban yang selama ini ia hindari. Bahwa cinta seseorang bisa berubah. Dan mungkin, perlahan, ia juga harus belajar menerima kenyataan itu.

Dengan hati yang masih penuh luka, Jena melangkah keluar dari TPU dan memesan ojek online. Namun tujuan yang ia masukkan bukanlah apartemen tempatnya tinggal sekarang. Jari Jena bergerak pelan di layar ponselnya, mengetik sebuah alamat yang sudah sangat ia hafal di luar kepala.

Rumah lamanya.

Rumah tempat ia tumbuh besar bersama Ayah dan Bundanya. Rumah yang menjadi saksi masa remaja Jena sebelum semuanya berubah pada saat ia duduk di bangku kelas dua SMA.

Perjalanan terasa begitu sunyi. Jena duduk di jok belakang sambil memeluk tasnya erat. Pandangannya kosong menatap jalanan yang berlalu. Beberapa waktu kemudian, ia sampai di depan rumah yang dulu selalu dipenuhi suara tawa keluarganya.

Rumah itu masih berdiri kokoh. Halaman depan bersih. Tanaman-tanaman kesayangan bundanya masih tumbuh rapi. Tidak ada rumput liar yang memenuhi halaman.

Jena memang membayar seseorang untuk datang secara rutin merawat rumah itu. Ia tidak tega membiarkan satu-satunya peninggalan kedua orang tuanya menjadi rumah yang terlupakan.

Jena turun dari motor dan melepas helm lalu membayar ongkos. Ia berdiri beberapa saat di depan pintu.

Dulu, setiap pulang sekolah, ia akan membuka pintu sambil berteriak mencari Bundanya. "Bundaaa, Jena pulang!"

Dan beberapa detik kemudian, wanita itu akan muncul dari dapur dengan celemeknya sambil tersenyum. "Hari ini sekolahnya bagaimana?"

Atau Ayah yang baru pulang kerja akan mengacak rambutnya sambil bertanya tentang nilai ulangan dan kegiatan sekolahnya.

Kenangan itu datang begitu jelas, seakan baru terjadi kemarin. Padahal bertahun-tahun sudah berlalu.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Jena mengeluarkan kunci dari dalam tas.

Pintu rumah terbuka. Aroma rumah yang familiar langsung menyambutnya. Jena melangkah masuk perlahan.

Semua masih sama. Sofa tempat mereka menonton acara televisi bersama masih berada di posisi yang sama. Rak buku Ayahnya masih tersusun rapi. Piano kesayangan Bundanya masih berada di sudut ruangan. Dan di dinding ruang keluarga, foto-foto mereka masih terpajang dengan sempurna.

Ada foto Jena saat mengenakan seragam SMA dengan kedua orang tuanya berdiri di sampingnya, bangga melihat putri semata wayang mereka.

Ada foto ulang tahun Jena yang ke-16, beberapa bulan sebelum takdir merenggut Ayah dan Bundanya.

Ada juga foto keluarga mereka saat liburan terakhir bersama.

Jena melangkah mendekat. Jarinya menyentuh bingkai foto itu pelan. Senyum dalam foto tersebut terasa begitu hangat. Begitu hidup. Begitu berbeda dengan kenyataan yang harus ia hadapi sekarang.

"Rumah ini masih sama, Ayah ... Bunda ..." bisiknya lirih. "Tapi keadaanku berubah sejak kalian pergi." Air mata kembali mengalir di pipinya. "Waktu Ayah dan Bunda meninggal, Jena baru kelas dua SMA. Jena masih remaja labil. Jena bahkan belum tahu bagaimana caranya menjalani hidup tanpa kalian."

Suaranya mulai bergetar. "Beruntung waktu itu ada keluarga Ardhana. Ada Tante Sifa, Om Bimo, Jihan, dan terutama Jovian yang selalu menjaga Jena." Senyum kecil muncul di wajahnya, tetapi penuh kepedihan. "Jovian yang dulu selalu memastikan Jena makan, menjemput Jena sekolah, mengantar les, menemani Jena di sekolah dan marah kalau Jena tidur terlalu malam. Jena pikir ... semua itu akan tetap sama selamanya." Ia menunduk, menggenggam bingkai foto lebih erat. "Tapi ternyata Jena salah." Air matanya jatuh satu per satu. "Orang yang dulu menjadi tempat Jena bersandar, sekarang perlahan menjauh. Dan yang paling menyakitkan adalah ... Jena tidak tahu kapan semuanya mulai berubah."

Rumah itu kembali sunyi. Hanya ada seorang perempuan yang berdiri di antara kenangan masa lalunya, mencoba menerima kenyataan bahwa untuk kedua kalinya dalam hidupnya, ia kembali kehilangan tempat untuk pulang.

Jena pun berkeliling ke setiap penjuru rumah, termasuk ke kamarnya. Bayangan saat Jovian dan dirinya belajar bersama di kamar berdatangan. Indah dan sangat romantis. Tanpa sadar, senyumnya menguar di tengah rasa sakit yang ia rasakan.

Jena melangkah masuk, menjatuhkan tubuhnya di kasur berseprai awan dan bintang. Lalu merebahkan tubuhnya perlahan. "Seandainya waktu bisa kuputar kembali, aku ingin kembali ke masa di mana Ayah dan Bunda masih ada."

Jovian yang sejak tadi sibuk mengobrol dengan Michelle akhirnya ingat pada Jena. Ia mengambil ponselnya, berniat menanyakan apakah kekasihnya itu sudah sampai apartemen atau belum. Namun belum sempat jarinya berselancar, sang ibu keburu berseru. "Jo, Michelle ... ayo kita makan siang dulu. Mbok Yati dan Bi Yuli sudah masak banyak banget. Mumpung masih hangat."

Michelle tersenyum dan menepuk lengan Jovian.

Lelaki itu membalas senyuman Michelle. Menaruh kembali ponselnya ke atas meja. "Ayo!" katanya dan Michelle berdiri mengikuti Jovian dan Sifa ke ruang makan.

***

Setelah setengah hari menghabiskan waktu di rumah lamanya, Jena kini sudah kembali ke apartemen.

Jena membereskan piring bekas makan malamnya. Lalu kembali ke kamarnya, duduk di tepi ranjang. Jena melirik ponselnya yang tergeletak di nakas. Sejak tadi siang, tak ada satu pun pesan atau panggilan dari Jovian. Ia juga tak berniat menghubungi lelaki itu.

Jena kini sadar, mungkin dirinya tidak lagi menjadi prioritas bagi lelaki itu. "Mulai detik ini, aku tidak boleh terlalu menggantungkan hidupku pada Jovian." Matanya terpejam, kilas balik masa lalu bermunculan lagi.

Di hari kecelakaan kereta yang merenggut nyawa ayah dan bundanya, ia menangis sendirian di ruang jenazah.

Tidak ada saudara dekat yang menemani, karena kedua orang tuanya memang anak tunggal. Kakek neneknya sudah tak ada. Dan Jovian lah yang menemaninya.

Lelaki itu yang menemaninya mengurus pemakaman. Lelaki itu yang diam-diam membayar biaya sekolahnya saat Jena hampir putus sekolah. Lelaki itu yang terus berkata, "Kamu nggak sendiri. Masih ada aku."

Dan sejak saat itu, Jena menjadikan Jovian sebagai rumahnya. Satu-satunya tempat ia bersandar. Bahkan keluarga Ardhana perlahan menjadi bagian hidup yang sangat penting baginya.

Sifa sering memeluknya seperti anak sendiri. Bimo membantu biaya kuliahnya meski tidak pernah terang-terangan mengatakannya.

Dan Jihan kecil selalu mengikuti Jena ke mana-mana sambil memanggilnya "Kakak."

Mereka adalah keluarga yang Jena miliki setelah kedua orang tuanya pergi.

Karena itu, saat tadi siang semua terasa mulai berubah, rasa sakitnya terasa berkali-kali lipat lebih besar. Karena yang hilang bukan hanya seorang kekasih. Tapi juga tempat pulang.

Air mata Jena kembali jatuh pelan. Ia bangkit dari tepi ranjang, lalu berjalan menuju lemari kecil di sudut kamarnya.

Dari sana, ia mengambil sebuah kotak putih yang sudah mulai usang.

Kotak kenangan.

Tangannya gemetar saat membuka tutupnya. Di dalamnya tersimpan begitu banyak hal kecil. Tiket bioskop pertama bersama Jovian. Foto-foto saat SMA. Surat-surat kecil tulisan tangan Jovian. Dan sebuah gantungan kunci berbentuk bulan sabit.

Jena tersenyum tipis di tengah air matanya. Itu hadiah dari Jovian saat mereka masih SMA.

Waktu itu Jovian berkata, "Kalau aku nggak bisa jagain kamu terus, lihat ini aja. Anggap aku selalu ada."

Dulu kalimat itu membuat Jena merasa aman. Namun sekarang, kenapa justru terasa begitu menyakitkan?

Jena mengambil salah satu foto lama mereka.

Foto saat ulang tahun ke delapan hubungan mereka tahun lalu.

Di foto itu Jovian memeluknya dari belakang sambil tersenyum hangat ke kamera. Tatapan lelaki itu penuh cinta.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Jena buru-buru menghapus air mata lalu melihat layar.

Nama Jovian muncul.

Dadanya langsung berdebar. Cepat sekali. Seolah semua rasa sakit tadi langsung kalah hanya karena satu panggilan darinya. Dan itu membuat Jena semakin membenci dirinya sendiri. Karena bahkan setelah terluka seperti ini, ia masih berharap. "Halo ..."

"Jena, kamu belum tidur?" Suara Jovian terdengar rendah dan tenang seperti biasa.

"Belum."

"Kenapa?"

Jena menatap foto di tangannya. "Aku lagi beresin barang."

"Hm." Beberapa detik hening. Biasanya Jovian akan terus mengajaknya bicara. Namun sekarang lelaki itu justru terdengar seperti kehabisan topik.

Jena menggigit bibir pelan. "Mas lagi apa?"

"Lagi di ruang kerja."

"Michelle tadi pulang jam berapa?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Jena. Dan setelah mengucapkannya, Jena langsung menyesal.

Hening cukup lama. Sampai akhirnya Jovian menjawab pelan, "Barusan."

Dada Jena langsung terasa nyeri lagi. Suaranya mendadak menghilang.

"Aku nggak suka nada suara kamu," ujar Jovian tiba-tiba.

Jena tersentak. "Maksud, Mas?" Ia bertanya dengan terbata.

"Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu, Jena." Suara Jovian mendadak tajam. "Aku tahu kamu cemburu sama Michelle. Dan aku udah bilang ke kamu berkali-kali ... tolong jangan mikir yang aneh-aneh. Aku dan Michelle hanya rekan kerja. Nggak lebih. Jadi stop untuk cemburu. Dewasa lah, Jena. Kita udah bersama sembilan tahun, dan kamu tahu aku seperti apa," cerocos Jovian tanpa jeda dan membuat hati Jena bak ditusuk ribuan jarum.

"Ya, Maaf." Setelah mengucapkan hal itu, entah dapat keberanian dari mana, Jena mematikan panggilan. Sungguh ia tak sanggup mendengar nada suara Jovian yang berubah tajam.

Tak sampai satu menit, ponselnya kembali berdering. Jovian kembali meneleponnya. Namun kali ini, Jena mengabaikannya.

1
Oma Gavin
tuh obi calon tunangan yg mau dijodohkan sama kamu jihan oragan merendahkan orang gimana kira" kamu masih minat ngga kenalan 😂
Ama Apr: hahaha
total 1 replies
Dartihuti
Akirannya kedok asli sifat mereka 1 demi 1 terlihat tanpa di sadari keluarga yg merasa junjung tinggi aklak martabat,tunggu tar kl lo Jihan ketemu si toto gk tahunya org yg ingin klrg'm incar🙈😄
Ama Apr: wkwkwk
total 1 replies
EmakKece
nah, udah komplit kaaan .. ketemu emak sok kaya sudah, anak laki plenger sudah, anak cewek sombong sdh.. tinggal entar ketemu ramean .. kan seru tuh 😂
Ama Apr: wkwkwk🤣
total 1 replies
Nining Sariningsih
waaaahhhh seru nih kalo entar si Jihan ketemu Toto di acara tunangan si micin ma si Jo,ternyata si Toto anak nya pak Trisno gak malu apa doa ma kelakuannya yang sok begitu langsung entar tolak didepan semua orang aja kalo keluarga si Jihan minta perjodohan bakal malu plus karma buat mereka biar merasakan bagaimana perasaan jena dahulu,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
partini
ahhh ketemu Kunti bogel Jihan,,
Ama Apr: heuheuu
total 1 replies
Kota Tegalan
update LG donggg
Ama Apr: aku usahakan kk🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Jovian itu tipe laki2 pecundang, tidak tahu malu, tidak berprinsip dan tidak memiliki ketegasan.
laki2 seperti itu bila memimpin perusahaan baru satu tahun bangun besok nya udah bangkrut, apabila jadi suami baru pernikahan nya pasti hanya seumur jagung.
aku lebih suka Jena dg Mas Toto atau Obi sedangkan pasangan serasi Jovian hanya Michelle
Ama Apr: iya kk, jodoh cerminan diri
total 1 replies
EmakKece
kalau Obi alias Toto dateng apa gak syok tuh emaknya Jovian + Jovian .. scr pernah ngehina Obi Rebus scr lgsg
Yeni Astriani: apalagi ditambah Jihan juga merendahkan dan menghina Obi yg lagi nyamar jadi orang miskin, pasti kalau ketemu malu tuuuh muka
total 3 replies
Dartihuti
Aaah...yg udah terasa ada kupu" di hati...dapat sinyal pelangi semua nih si Jena mesti blm tahu masing masing🥰
Ama Apr: wkwkwk cinta bersemi di bulan agustus🫰
total 1 replies
partini
jadi ga usah bayar orang dong biar tau anaknya pak Tris,,di suruh datang ke pesta secara oto ketemu kalau Obi mau datang
Ama Apr: hooh, tp nggk yakin obi mau datang. Apalagi udah tahu mau dipertrmukan dg Jihan🤣
total 1 replies
Nining Sariningsih
PD sekali anda tak tahu saja orang nya sudah pernah ketemu dan tahu kelakuan anda sekeluarga tak malu apa,,,,halunya tingkat dewa awas pas nanti jatuh pasti sakit banget,,,,,semangat thoorrrrrr 💪💪💪
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
Dartihuti
Diiih org maruk srakah...😄😄😄
Obisaking senengnya sampai preeeit...gk nyadar😄🤭mas toto🙈
Ama Apr: kyknya sih kk, sekarang msh pusing dikit🤭
total 3 replies
partini
punya detektif handal ini nyonya,,Obi semoga lebih peka kan di lapangan sekarang jadi tau banyak hal
Ama Apr: hihi iya
total 1 replies
partini
ortumu mah Very good 👍
Ama Apr: belum tahu dia😂
total 1 replies
Asphia fia
lanjut thor update LBH byk lg💪
Ama Apr: Insya Allah kk
total 1 replies
Nining Sariningsih
wah orang tua yang bijak,,,,,gak kayak keluarga si Jovan yang tonik,cocok thoorrrrrr kalau jena dapat keluarga kayak keluarga pak Trisno ma bunda Laila aku doa in mudah2an jodohnya jena,,,,,semangat thooorrr💪💪💪
Ama Apr: Aamiin, makasih kk🫰
total 1 replies
Marlina
✨always love you ✨
namanya unik loh...Obi alias mas Toto 😅
Ama Apr: hihi iya
total 5 replies
Dartihuti
masya'allah betul ortu yg bijak ...kebahagian yg hakiki lbh utama dr pd gelimangan harta tp hati terasa hampa...harta bisa di cari bersama kebahagian gk akan mampu di beli dng semua yg harta punya aaa...betul " 👍pak Trisnoudah maruk dqn nafsu harta apapun susah tuk menyadarkan kl org dah egois bin srakah
Ama Apr: kan, masih ada orkay yg bijak🫰
total 1 replies
Yeni Astriani
Bimo belum tahu saja kalau Mas Toto itu Obi laki2 yg direndahkan derajat nya oleh anak istrimu kalau ketemu pasti menolak 100%, sebab kelakuan anak istrinya, dan untuk Jihan belum tentu dia masih perawan siapa tau udah jebol duluan melihat pergaulan nya saja begitu sama kaya Michelle
Ama Apr: hihi, kena mental mereka🤣
total 1 replies
partini
wah ternyata ga mulus ya pak Bimo mua main curang Tah jangan" Bimo kepikiran menjebak biar tangung jawab macam obat perangsang mungkin setalah tau siapa anak pak Tris tentu nya
pak Tris ortu yg 👍
Ama Apr: hehe, iya kk
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!