"Elian sengaja menciptakan neraka, hanya agar ia bisa menjadi satu-satunya surga tempat Lyra bersandar."
Menyembunyikan kecantikan di balik sikap tertutup adalah cara Lyra Anya Cassandra bertahan hidup di SMA Elit Gava. Statusnya sebagai siswi yatim piatu penerima beasiswa menuntutnya untuk tidak terlihat.
Namun, sebuah kotak bekal siang yang sederhana menghancurkan seluruh pertahanannya.
Lyra mendadak menjadi target perundungan yang kejam. Di tengah keputusasaan itu, hanya Elian cowok paling berpengaruh di sekolah yang bersedia menjadi pelindungnya.
Lyra mengira itu keberuntungan, tanpa tahu bahwa Elian sendiri yang menyalakan api neraka demi memaksanya datang kepelukan elian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK BENANG YANG MULAI RETAK
Keesokan sore paska-insiden gudang tua, distrik komersial barat diselimuti oleh langit jingga keunguan yang tampak muram. Di dalam Toko Kue Tradisional Nenek, suasana terasa sangat sepi dan canggung. Lonceng kuningan kecil di atas pintu ruko berdenting malas saat pintu kaca itu didorong terbuka dari luar.
Tring!
Lyra Anya Cassandra melangkah masuk ke dalam toko dengan langkah kaki yang teramat letih. Celemek kain putih bermotif bunga-bunga kecil miliknya langsung ia pakai dengan gerakan yang mekanis, seolah pikirannya sedang tidak berada di tempat itu. Kacamata bulatnya membingkai sepasang mata cokelat jernih yang tampak sayu dan kurang tidur, dengan distorsi memori yang sesekali membuat fokusnya terganggu saat mengingat aroma amberwood milik Elian yang menyelamatkannya semalam.
Nenek yang sedang mengelap meja kasir langsung menoleh, wajah keriputnya dihiasi senyuman ramah yang dipenuhi rasa khawatir. "Eh, Lyra sudah pulang, Nak? Kok mukanya pucat sekali? Kemarin malam pulang jam berapa? Nenek sampai ketiduran nungguin kamu, untung ada pesan singkat dari Nak Elian yang bilang kamu kerja kelompok di rumahnya."
Jemari Lyra yang sedang menata kue sus di balik etalase kaca mendadak terhenti kaku. Kepalanya mendongak cepat dengan kening berkerut dalam. "Pesan singkat dari Elian, Nek? Dia... dia kirim pesan ke nomor Nenek?"
"Iya, katanya ponselmu mati karena kehabisan baterai, jadi Nak Elian yang sopan itu langsung kabari Nenek lewat nomor telepon toko agar Nenek tidak cemas," jawab Nenek dengan suara yang lembut dan tulus, sepenuhnya mengira Elian adalah pemuda green flag yang sangat terdidik dan peduli pada keselamatan cucunya.
Lyra menelan sliva nya dengan susah payah, merasakan dadanya mendadak bergemuruh aneh. Logikanya yang polos mulai menangkap ada tali jerat tak kasat mata yang bergerak terlalu cepat di sekeliling hidupnya. Elian tidak hanya muncul di sekolah sebagai pahlawan, tetapi pemuda elite itu kini sudah mulai merambah masuk ke dalam lingkaran keluarganya yang paling sakral yaitu Neneknya sendiri.
Tepat saat Lyra tenggelam dalam kebingungannya, sebuah deru mesin motor matik yang tersendat-sengat berhenti di depan ruko, diikuti oleh langkah kaki yang diseret secara paksa.
Tring!
Pintu kaca terbuka kembali, namun kali ini aroma sabun mint segar yang membumi tidak merangsek masuk dengan kuat seperti biasanya. Wangi itu terasa hambar, tertutup oleh aroma obat merah dan perban medis yang menyengat.
"Sore, Nenek sayang... Lyra..." sapa Ryzan Jonarland dengan nada suara yang berusaha dibuat ceria, namun intonasinya terdengar sangat serak dan menahan rasa sakit yang luar biasa.
Pemuda jangkung itu melangkah masuk dengan kaki kanan yang dibalut perban elastis tebal, membuatnya harus berjalan pincang sambil bersandar pada pilar pintu. Kemeja flanel merah-hitam andalannya tampak kusut, dan kaus polos putih di dalamnya tidak lagi rapi. Rambut cokelat gelap berpotongan undercut-nya berantakan karena angin jalanan, membingkai wajah tampannya yang kini tampak sangat tirus, dengan sudut bibir yang memar keunguan akibat jatuh dari pagar kawat berduri asrama Taruna semalam.
"Ryzan?! Ya Tuhan, kaki kamu kenapa?!" teriak Lyra kaget setengah mati, langsung menjatuhkan jepitan kue dari tangannya dan berlari mendekati teman masa kecilnya itu dengan ekspresi wajah yang membelalak sempurna penuh kepanikan. Tangannya yang kurus refleks menopang lengan kekar Ryzan agar pemuda itu tidak jatuh.
"Hehehe, gak apa-apa, Ly. Cuma habis atraksi gagal pas latihan bela diri di SMA Taruna kemarin," jawab Ryzan sambil mengulas senyuman lebar yang memamerkan lesung pipit di kedua pipinya, berusaha keras menyembunyikan penderitaan fisiknya agar gadis yang disayanginya itu tidak cemas berlebihan. Namun, matanya yang biasa hangat dan protektif kini menatap Lyra dengan tatapan penuh selidik dan kerinduan yang mendalam setelah berhari-hari diisolasi sistem sekolah.
"Jangan bercanda, Ryz! Ini memar-memar sampai biru gini, kamu pasti habis dihukum keras, kan?" tanya Lyra dengan suara yang mulai bergetar pelan karena cemas, jemarinya meremas pelan kain flanel Ryzan dengan gerakan yang teramat protektif.
"Gak apa-apa, Lyra Anya Cassandra. Selagi gue masih bisa napas dan ngeliat senyum lo, hukuman sekeras apa pun di Taruna gak bakal bisa bikin gue tumbang," jawab Ryzan dengan nada suara yang mendadak melembut penuh kasih sayang, tangannya yang hangat terangkat perlahan untuk mengacak-acak rambut kuncir kuda Lyra dengan gemas seperti biasanya.
Namun, tepat saat tangan Ryzan menyentuh helai rambut hitam Lyra, gerakan gadis itu mendadak membeku secara naluriah. Di dalam otaknya yang sudah terdistorsi oleh taktik Conditioning semalam, wangi sabun mint dan aroma obat dari tubuh Ryzan mendadak terasa "asing" jika dibandingkan dengan kehangatan absolut dari parfum amberwood milik Elian yang semalam mendekapnya di dalam gudang tua yang gelap.
Lyra tanpa sadar sedikit menarik tubuhnya ke belakang, menjauhkan kepalanya dari sentuhan tangan Ryzan dengan gerakan canggung yang sangat halus. "Kamu... kamu mending duduk dulu deh, Ryz. Biar aku ambilin teh melati hangat di belakang."
Ryzan menurunkan tangannya yang menggantung kosong di udara. Alis tebalnya bertaut rapat, dan sepasang mata cokelat hangatnya langsung meredup sempurna, menangkap adanya perubahan psikologis yang retak pada diri sahabatnya. Ekspresi wajah pemuda Taruna itu berubah menjadi sangat serius dan penuh selidik selama beberapa detik, merasakan ada "kehadiran asing" yang telah mulai mengikis kedekatan mereka dari balik layar tanpa ia ketahui. Perang dingin tak kasat mata antara aroma sabun mint segar melawan dominasi absolut parfum amberwood kini telah resmi dimulai dari sudut ruko tua distrik barat ini.