NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 3

****

Hening sejenak mencekam teras Rumah Adat. Tatapan mata Rangga Wira yang sehitam malam beradu tajam dengan mata jernih Melani. Di bawah mereka, Seno masih meraung pasrah, meratapi nasib istrinya yang di ambang maut.

"Baik," keluar kata itu dari bibir Rangga Wira, berat dan penuh risiko. "Saya izinkan kamu masuk ke rumah Seno, Bidan Melani. Tapi dengarkan saya baik-baik."

Rangga menunjuk tepat ke dada Melani dengan telunjuknya, melangkah selangkah lebih dekat hingga Melani bisa mencium aroma kayu cendana dan hutan basah yang menguar dari tubuh pria itu.

"Hukum adat kami tidak mengenal kata 'coba-coba'. Jika kamu menyentuh Nyai Sunti dan wanita itu beserta bayinya meninggal di tanganmu... kamu akan menanggung sanksi adat tertinggi Hulu Rawa. Kamu tidak akan bisa keluar dari desa ini. Apakah kamu masih berani?"

Mbah Baya terperanjat. "Ki Rangga! Bagaimana mungkin kita menyerahkan nyawa warga kita pada orang luar—"

"Cukup, Mbah!" potong Rangga Wira tanpa memalingkan pandangannya dari Melani. "Bi Naya sudah menyerah. Tidak ada opsi lain."

Jantung Melani berdegup kencang. Sanksi adat? Ia tahu risiko hukum adat di desa terisolasi seperti ini bisa berarti diasingkan selamanya atau hukuman fisik yang berat. Namun, membayangkan seorang ibu dan bayinya tewas sia-sia membuat naluri kemanusiaannya mengalahkan rasa takut.

"Saya terima syarat itu," jawab Melani lugas, tanpa berkedip. "Sekarang, tunjukkan jalannya!"

Rumah panggung Seno berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah adat. Bau amis darah melayang pekat di udara malam yang mulai merayap dingin begitu Melani menerobos masuk menaiki tangga kayu. Di dalam ruangan bermandikan cahaya remang dari dua buah pelita minyak tanah, suasana nampak kacau balau.

Di atas tikar pandan, seorang wanita muda—Nyai Sunti—terbaring pucat bagai mayat. Pakaian bagian bawahnya telah bersimbah darah segar yang terus mengalir, membasahi kain dan celah-celah papan lantai kayu. Di sampingnya, seorang wanita tua dengan wajah keriput dan pupur beras basah di dahinya—Bi Naya, sang dukun desa—duduk terpaku. Tangannya yang memegang mangkuk tanah berisi ramuan dedaunan gemetar hebat. Bi Naya membeku, matanya menyiratkan ketakutan luar biasa.

"Sunti! Sunti!" Seno yang berlari di belakang Melani langsung menjatuhkan diri di samping istrinya. Namun, menyaksikan banyaknya darah dan wajah istrinya yang tak lagi merespons, kesadaran pria muda itu tak sanggup bertahan. Tubuhnya lunglai dan Seno pingsan seketika, ambruk di samping Nyai Sunti.

"Seno!" teriak beberapa warga di luar pintu, namun tak ada yang berani mendekat.

"Jangan sentuh dia! Dia diserang roh jahat!" pekik Bi Naya histeris saat melihat Melani berlutut di sebelah Nyai Sunti. "Perempuan asing, pergi dari sini! Kamu akan membawa kutukan!"

"Buka matamu, Bi Naya! Ini bukan roh jahat, ini pendarahan melahirkan!" bentak Melani nyaring, menyapu bersih keraguan di ruangan itu.

Melani dengan sigap memeriksa denyut nadi di leher Nyai Sunti. Sangat lemah dan cepat. Syok hipovolemik. Ia membuka tas medis kulitnya, mengeluarkan sarung tangan steril, kasa, cairan infus, selang, dan set peralatan persalinan darurat.

" Pak Rangga! Bantu saya!" panggil Melani tegas.

Rangga Wira yang berdiri di ambang pintu terpaku sejenak. Sepanjang sejarah Desa Hulu Rawa, tidak pernah ada satu orang pun—bahkan tetua paling senior sekalipun—yang berani memerintah seorang Ketua Adat dengan nada sekeras itu. Apalagi seorang perempuan muda dari luar desa.

"Bantu apa?" suara Rangga memecah kekagetannya, melangkah mendekat.

"Singkirkan pria ini dari sini agar saya punya ruang bergerak! Lalu ambil cahaya itu, pegang di atas saya supaya terangnya pas! Cepat!" perintah Melani tanpa menoleh, jemarinya sibuk memasang sarung tangan lateks.

Rangga Wira menahan napas. Rasa harga dirinya bergejolak, namun melihat jemari Melani yang bekerja begitu cekatan dan mata gadis itu yang memancarkan fokus luar biasa, Rangga menekan gengsi pimpinannya. Dengan sigap, ia menggeser tubuh Seno yang pingsan ke sudut ruangan, lalu meraih sentir minyak tanah dan berlutut tepat di samping Melani, memegang sumber cahaya itu sejajar dengan area tindakan.

"Bi Naya, minta warga di luar rebus air panas sekarang! Saya butuh kain bersih dan air hangat!" seru Melani pada dukun tua yang masih membatu.

"S-saya... ramuan saya—"

"Lakukan apa yang dia katakan, Bi Naya!" potong Rangga Wira dengan suara baritonnya yang menggelegar, membuat Bi Naya tersentak dan langsung terbirit-birit keluar kamar.

Kini, di dalam kamar berukuran kecil itu, hanya ada Nyai Sunti yang tak sadarkan diri, Melani, dan Rangga Wira. Jarak mereka begitu dekat hingga Rangga bisa melihat butiran keringat dingin merembes di pelipis halus Melani, serta mendengar napas gadis itu yang teratur namun penuh tekanan.

"Apa yang terjadi dengannya?" tanya Rangga pelan, matanya memperhatikan jemari Melani yang meraba perut Nyai Sunti dengan lembut namun mantap.

"Plasentanya belum keluar sempurna, ada sisa jaringan yang tertinggal sehingga rahimnya tidak bisa berkontraksi untuk menghentikan pendarahan," jelas Melani cepat sambil menyiapkan jarum infus. "Saya harus memasang jalur infus untuk mengganti cairannya, lalu melakukan eksplorasi rahim secara manual. Ini akan sangat menyakitkan jika dia sadar, tapi sekarang dia pingsan karena kehabisan darah."

Melani menatap mata Rangga Wira. "Pak Rangga, saya butuh bantuanmu lagi. Pegang bahu dan tahan posisinya. Jangan biarkan dia bergerak jika dia tiba-tiba tersadar karena rasa sakit."

Rangga Wira menatap wajah ayu Melani. Di bawah pendar kuning pelita, kilau kecantikan Melani tidak memudar sedikit pun meski tertutup noda lumpur dan peluh. Ada keteguhan yang begitu murni di sana—sebuah dedikasi tanpa pamrih yang belum pernah Rangga lihat dari orang-orang kota yang pernah mengunjungi desanya.

"Baik," bisik Rangga. Ia meletakkan pelita di tatakan kayu yang aman, lalu berlutut di kepala Nyai Sunti, memegang kedua bahu warga desanya itu dengan kokoh. Tangannya yang kekar dan berurat kontras dengan jemari lentik Melani yang mulai bekerja.

"Bertahanlah, Nyai Sunti..." gumam Melani lembut, menyeka kening pasiennya sebelum memulai tindakan medis.

Dengan keahlian yang teruji, Melani memasang infus di vena lengan Nyai Sunti. Bidan muda itu kemudian melakukan manuver kompresi bimanual dan pembersihan sisa plasenta. Momen itu begitu tegang. Darah menyembur merembas sarung tangan Melani, membasahi lengan kemeja putihnya.

Nyai Sunti mendelik dan merintih kesakitan di tengah ketidaksadarannya. Tubuh wanita itu kejang kecil.

"Tahan, Pak Rangga! Jangan lepas!" seru Melani.

"Saya tahan! Lakukan tugasmu!" balas Rangga, mempererat cengkeramannya di bahu Nyai Sunti, matanya terus berpindah antara wajah Nyai Sunti dan paras tegang Melani.

Dalam hening yang hanya diisi suara gesekan kain dan napas berburu, Melani bekerja tanpa henti selama hampir empat puluh menit. Ia memijat fundus uteri Nyai Sunti dengan teknik yang benar, menyuntikkan uterotonika yang ia bawa di tas medisnya untuk merangsang kontraksi rahim.

Perlahan namun pasti, pendarahan yang semula mengalir deras mulai merembes pelan, lalu akhirnya... berhenti. Perut Nyai Sunti yang semula lembek kini terasa mengeras—tanda rahimnya telah berkontraksi kembali.

Melani menghela napas panjang, sebuah desahan lega yang terdengar begitu manis di telinga Rangga Wira.

"Pendarahannya berhenti..." bisik Melani. Suaranya terdengar sangat lelah, namun sepasang matanya berbinar bahagia. Ia menatap Rangga Wira, menyunggingkan senyum tipis—senyum pertama yang ia tunjukkan pada Ketua Adat itu. "Nadinya mulai stabil. Dia selamat, Pak Rangga."

Rangga Wira terpaku. Tatapannya terkunci pada senyum manis di wajah lelah Melani. Dada pria tegap itu berdesir hebat oleh sebuah perasaan asing yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Pria yang ditakuti dan dihormati oleh seluruh pelosok desa itu mendadak kehilangan kata-kata.

Tepat saat itu, Bi Naya dan beberapa ibu-ibu masuk membawa baskom berisi air hangat. Mbah Baya dan warga yang mengintip dari pintu melongo tak percaya melihat pendarahan Nyai Sunti telah usai, dan napas wanita itu kini kembali teratur.

Melani melepas sarung tangannya yang berdarah, lalu terduduk lemas di lantai kayu. Rasa lelah luar biasa akibat berjalan menyusuri hutan berjam-jam dan tekanan mental dalam tindakan medis darurat ini akhirnya merobohkan pertahanannya. Pandangannya mendadak mengabur.

"Bidan Melani!"

Sebelum tubuh halus Melani menyentuh lantai kayu yang kotor, sepasang lengan kekar Rangga Wira dengan sigap menangkap tubuhnya.

Melani terkulai di dada tegap Rangga Wira. Aroma asap kayu dan maskulinitas hangat menyergap indramu yang mulai memudar. Dalam samar kesadarannya, Melani merasakan jemari kasar Rangga merapikan helai rambut hitam yang menempel di pipinya dengan sangat lembut—sebuah sentuhan yang berbanding terbalik dari sikap dingin sang Ketua Adat beberapa jam lalu.

"Kamu sudah bertaruh nyawa untuk warga saya..." suara berat Rangga Wira terdengar begitu dekat di telinga Melani, getar kekhawatiran yang amat sangat membedah keheningan malam. "Istirahatlah. Tidak ada seorang pun yang boleh mengusirmu dari desa ini."

Melani tersenyum kecil sebelum akhirnya memejamkan mata, membiarkan kegelapan merenggut kesadarannya dalam dekapan hangat sang Ketua Adat.

Bersambung..

1
Apis
knp g di jelasin jg kejahatan pramono lainya thor kaya ke Melani dendamnya karna Melani menolak di nikah sirih jd istri ke 2 biar tambah malu sekalian jd tambah seru biar di rujak sama istrinya 😄
neng ade
akhirnya di tindak tegas juga itu pak Pramono..
Nurul Boed
ceritanya beda dgn novel yang lain,, bagus kak,,, semangat up ya kak 😍😍
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
neng ade
up yang banyak dong thor 🙏
Apis
dramanya jngn berat" ya thor tipis" aj kalo manis"nya baru boleh bnyk 😄
nunik rahyuni
klo menikah aoa cuma di drsa hulu rawa sj...g ke kampung melani dlu baru di boyong je desa suami...masa melani di tinggal di hulu rawa
neng ade
menunggu acara upacara pelaminan adat Hulu Rawa
Kusii Yaati
pejabat Pramono harus di tindak lanjuti itu, laporkan saja biar di pecat 😡
neng ade
selamat untuk Rangga dan Melani karena udah dapat restu dari ayahnya Melani
neng ade
Sutan harus dihukum bersama orang yang menyuruh nya
dika edsel
keren ceritanya...,bintang lima untukmu thor🌟
Kusii Yaati
semangat pak ketua,raih restu keluarga calon Bu ketua suku...ku doa' kan lancar...💪😘
pasti lancar ya Thor 🤭
neng ade
Rangga dan Melani semoga keduanya mendapatkan restu dari kedua orang tua Melani ❤️
Kusii Yaati
dua duanya tapi yang paling berat akan berpisah dengan pak ketua suku 🤭
neng ade
Melani takut karena harus berpisah dengan mu Rangga 😊
Apis
duh pak rangga udah mulai ter ter Melaniku nich 🤣🤣🤣🤣
neng ade
manis dan romantis yang indah dan syahdu ❤️
neng ade
setelah itu akan ada pernikahan adat antara Rangga dan Melani
neng ade
Alhamdulillah.. ..🤲
neng ade
Rangga dan Melani berjodoh .. mereka berdua akhirnya bisa menangkap basah Sutan dengan barang bukti yang ada di tangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!