kisah seorang dokter internship yang bertemu dengan seorang polisi yang menurutnya sangat menjengkelkan dan terjebak pernikahan dengannya akibat kejadian suatu malam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nad Nanad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Sesuai janjinya kemarin, Dean benar-benar kembali pulang karena khawatir keadaan Anna meski pekerjaan belum benar-benar selesai.
Baru saja Anna keluar dari balik pintu hendak ke rumah sakit meskipun ia sedikit merasa takut dengan Adit karena pertemuannya kemarin, namun ia harus tetap menjalankan tugasnya sebagai tenaga medis.
Anna menghentikan kakinya saat melihat Dean berdiri di depan pagar melipat kedua tangan di depan dadanya sambil tersenyum manis, manis sangat manis bahkan mengalahkan manisnya gula:v
Lalu Dean berjalan ke arah sambil menarik koper di belakangnya bahkan isi koper itu belum tersentuh sama sekali.
"Kak Dean kok udah pulang?". Tanya Anna mengernyitkan dahinya.
"Kan semalam udah bilang kalo hari ini mau pulang". Jawab Dean lalu mengusap pipi Anna,
"Kalo kamu pucat gini sih dek? Kamu sakit?". Tanya Dean yang melihat bibir istrinya yang sedikit pucat.
Anna menggelengkan kepalanya lalu menjawab.
"Cuma gak mau pake lipstik aja, soalnya baunya gak enak Anna gak suka bawaannya pengen muntah".
"Bukannya kamu selalu pake ya? Kok tiba-tiba gak suka?".
"Kenapa? Anna gak cantik ya kalo gini?". Ekspresi wajah Anna seketika berubah menjadi sendu. Dean buru-buru menepis pikiran Anna itu.
"Bagi saya kamu lebih cantik tanpa makeup, saya suka!".
Ucap Dean lalu mengecup singkat bibir Anna, membuat Anna kaget apalagi ini di luar rumah bisa-bisa tetangga mereka melihat dan iri pada keuwuan mereka ini:v
"Ishh main cium-cium aja gak kenal tempat".
"Kalo gitu masuk yuk lanjutin di dalem". Ucap Dean tersenyum nakal.
Anna menggeleng dengan cepat lalu meraih tangan Dean.
"Anna pengen bolos hari ini boleh?". Pinta Anna dengan penuh harap.
"Memang kenapa mau bolos? Kamu beneran sakit?".
"Anna gak sakit cuma pengen jalan-jalan berdua, jalan yuk!".
"Tapi izin dulu".
"Anna kan udah izin langsung ke pusat".
"Izin sama siapa?".
"Sama suaminya Anna lah". Jawab Anna antusias.
"Tapi juga harus izin sama yang di rumah sakit, telpon Pak Hanan sana!".
Anna mengerucutkan bibirnya. "Gak mau, kak Dean aja yang telpon Pak Hanan".
"Kalo saya yang telpon bisa-bisa pak Hanan tau kalo kamu istri saya".
"Emang kenapa kalo pak Hanan tau? Kak Dean malu ngakuin Anna istri? Atau gak mau kalo anak pak Hanan yang tau?". Ujar Anna menyindir Anggi yang pernah mengaku sebagai calon istrinya Dean.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalo pernikahan kita ini jangan go public dulu sampai kamu siap". Jawab Dean mengingatkan Anna pada perjanjian mereka dulu.
"Tapi sekarang Anna udah siap, siap banget malahan". Ucap Anna bergelayut manja di lengan Dean.
"Yaudah saya telponin Pak Hanan" Dean lalu mengambil handphonenya lalu menghubungi Pak Hanan dan tak lama kemudian sambungan telepon tersambung. Dean pun mulai berbicara.
"Assalamualaikum Pak Hanan, maaf menggangu waktunya sebentar".
[Waalaikumsalam, ada perlu apa Pak?]
"Istri saya mau izin satu hari boleh tidak pak?".
[Istri bapak siapa? Dia kerja disini? Sebagai apa? Kok saya gak tau?]. Tanya pak Hanan yang heran mengapa tiba-tiba Dean meminta izin untuk istrinya, sementara Anna hanya senyum-senyum sendiri di tempatnya.
"dr. Anastasya Azalea, dokter internship disana. Boleh kan Pak?". Jawab Dean tanpa ragu-ragu menyebutkan nama Anna.
[Baik Pak tidak masalah, silahkan!]
"Terima kasih Pak Hanan".
[Sama-sama Pak Dean] Sambungan telepon pun terputus.
"Gimana? Diizinin kan?". Tanya Anna cepat.
"Iya dong, ganti baju dulu yuk abis itu jalan". Ajak Dean lalu melingkarkan tangannya di pinggang Anna dan mengajaknya masuk ke rumah, setelah berada di ruang tamu, Anna melepaskan tangan Dean lalu duduk di sofa.
"Kak Dean ganti baju aja dulu, tapi pake seragam".
Ucap Anna yang masih memakai almameter putihnya.
"Kita mau jalan kan? Kenapa pake seragam? Mau jalan ke kantor?". Ujar Dean yang bingung dengan permintaan Anna yang menurutnya aneh.
"Anna maunya kak Dean pake seragam, ya ya ya".Pinta Anna yang memohon seperti anak kecil.
"Kamu aneh". Ucap Dean tepat di telinga Anna.
"Yaudah kalo gak mau, iya Anna tau Anna ini manja kak Dean gak suka itu kan? Kalo kak Dean mau cari yang baru silahkan". Ucap Anna yang tertunduk lalu mengusap air matanya yang sudah jatuh di pelupuk matanya. Ia sendiri juga heran dengan dirinya, mengapa emosinya sering berubah-ubah.
Dean berjongkok di depan Anna lalu mengusap kedua pipi Anna.
"Buat apalah susah, cari kesana kesini sudah di depan mata kamulah takdirku". Dean bersenandung menyanyikan sebuah lagu untuk Anna.
"Kamu mau saya pake seragam apa? Seragam dokter, polisi atau seragam sekolah?". Ucap Dean lagi yang diakhiri dengan kekehan kecil, bagaimana jika Anna menyuruhnya memakai seragam sekolah.
Anna nampak berfikir sejenak,
"Hmm seragam police aja". Jawab Anna setelah lama berfikir, Dean nampak lega karena Anna tak menyuruhnya memakai seragam sekolah.
Dean lalu mengikuti kemauan Anna untuk mengganti pakaiannya dengan seragam polisi sesuai permintaan Anna dan tak lama kemudian Dean datang dengan gagahnya saat memakai seragam kepolisian dengan jaket membalut tubuhnya.
Anna menatap Dean dengan lekat, ia masih tidak menyangka sosok di hadapannya ini adalah suaminya. Ia menyesal pernah menolak dan nyaris menyia-nyiakannya.
"Hey kenapa bengong?". Ujar Dean melambaikannya tangannya di depan Anna.
Anna tersadar dari lamunannya, lalu dengan cepat meraih lengan Dean dan mengajaknya pergi.
"Ayo, pake motor Anna aja"
Dean mengeluarkan motor matic berwarna biru dari garasi dan di luar Anna sudah menunggunya sambil menggunakan helm.
"Ayo naik nyonya Andrean!". Ucap Dean mempersilahkan Anna naik. Anna lalu mengangguk dan segera naik dan melingkarkan tangannya di perut Dean dengan erat,
"Ayo jalan, Kapten".
"Siap Ibu Negara!". Jawab Dean lalu melajukan motornya.
"Kita mau jalan kemana?". Tanya Dean yang merasa sudah cukup jauh berkendara tetapi tak punya tujuan.
"Anna mau makan seafood yang banyak bareng kak Dean". Ucap Anna yang bersandar di punggung tegap Dean.
"Perintah dijalankan Ibu Negara".
"Love you Pak Pol". Ucap Anna dengan pelan.
"Anna bilang apa barusan?". Tanya Dean memperjelas apa yang dikatakan Anna.
"LOVE YOU PAK POL GANTENG!". Ucap Anna setengah berteriak hingga Dean mendengar jelas apa yang dikatakannya.
"LOVE YOU TOO BU DOKTER". Balas Dean yang tak henti-hentinya tersenyum.
Tiba-tiba Dean menghentikan motornya dan menepi.
Nampak wajahnya risau saat melihat 30 meter dari tempatnya terdapat kumpulan polisi yang sedang merazia pengendara motor.
"Kamu bawa STNK dek?".
Anna menggeleng lalu balik bertanya.
"Kak Dean bawa SIM?".
"Kak Dean lupa dek, dompet kak Dean ada di koper".
"Ya terus gimana dong?".
"Mau gimana lagi ayo!". Jawab Dean lalu kembali menjalankan motornya menuju ke arah razia di depannya.
"Kemana? Jangan bilang kalo kak Dean mau nyerahin diri".
"Kita harus jujur dek".
"Tapi bukan berarti harus nyerahin diri juga kak, udah putar balik aja".
"Kamu mau makan seafood kan? Udah itu restorannya udah dekat dari sini".
Anna hanya diam saja karena benar apa yang dikatakan Dean ia saat ini ingin sekali makan seafood ia hanya mengikuti apa yang dilakukan Dean. Dan tak lama kemudian, Dean sudah sampai di depan para polisi yang sedang menjalankan tugasnya.
"Selamat siang pak, saya dan istri saya gak bawa SIM, silahkan tilang kami pak". Ucap Dean jujur pada salah seorang polisi berkacamata hitam serta masker hitam.
"Wah bapak ini bagaimana, kenapa sampai lupa bawa SIM-nya apalagi saya liat bapak ini juga seorang polisi harusnya bisa menjadi contoh bagi yang lain". Ujar polisi itu dengan suara seraknya yang sengaja dibuat-buat.
"Saya juga manusia biasa pak, tempatnya salah dan lupa jadi silahkan bapak tilang saya".
"Yasudah silahkan tanda tangan dan motornya tinggalkan disini serta istrinya pak".
"Lah kok istri saya ditinggal di sini?". Dean menyembunyikan Anna di belakangnya.
Sementara Anna yang mulai curiga sejak awal maju ke depan lalu menarik paksa masker yang dikenakan polisi itu, setelah maskernya terlepas, nampak pria itu cengengesan.
"BANG SATTT!!!". Teriak Anna pada Satya yang ternyata sedang mengerjai keduanya.
"Ampun dek ampun Abang cuma becanda". Ucap Satya yang tak kuat lagi menahan tawanya.
"Mana kunci mobil kamu?" Tanya Dean yang menatap tajam Satya.
"Mau diapain?"
"Motor ini kan harus ditinggal di sini, saya gak mau istri saya kecapean jalan jadi kunci mobil kamu mana? Sini!".
"Terus saya pulang pake apa?"
"Itu urusan kamu bukan urusan saya, Ini perintah!!". Tegas Dean dengan mata melotot pada satya, yang membuat Satya bergidik ngeri dan terpaksa memberikan kunci mobilnya.
"Eh bentar, bentar kak Dean gak bawa SIM kan? Gimana mau nyetir mobil". Ujar Anna mengingatkan Dean.
"Kamu anterin kita ke depan". Ucap Dean pada Satya lagi.
"Lah kok jadi saya yang jadi supir?".
"Ini perintah!". Tegas Dean kembali.
Dengan terpaksa Satya menuruti perintah dari Dean menjadi supir dadakan mereka
***
Tak lama kemudian mereka sampai di tujuan mereka yaitu restoran besar yang menyediakan berbagai macam kuliner baik lokal maupun mancanegara, dan itu adalah salah satu cabang restoran milik Dean.
Saat Dean memasuki restorannya, nampak semua karyawan menunduk hormat padanya. Kemudian manager restoran disana datang menyambut kedatangan Dean dan Anna.
"Keluarkan semua makanan seafood, istri saya mau makan". Ucap Dean dengan wajah datar dan dinginnya.
"Baik pak". Jawab seorang pria paruh baya yang diketahui adalah manager disana lalu memerintahkan kepada semua karyawannya untuk melayani Dean dan Anna.
Setelah semua makanan yang diminta Anna sudah tersaji di depannya, ia sudah tak sabar untuk segera melahapnya. Sementara Satya duduk di belakang keduanya sambil mendengus melihat kemesraan mereka suap-suapan.
Baru beberapa makanan yang dicoba Anna, ia sudah menolaknya lagi.
"Mm, udah kenyang". Ucap Anna menyandarkan badannya dikursi.
"Kamu baru makan sedikit loh dek, masa iya udah kenyang". Ucap Dean sambil terus menyuapi Anna.
Anna menutup mulutnya rapat-rapat lalu menggeleng tanda sudah tak mau makan lagi.
"Satya!". Panggil Dean pada Satya yang berada di belakang.
Lalu Satya menuju ke tempat mereka dan duduk disana.
"Habisin makanan ini!".
"Gak Lo suruh, gue juga bakalan habisin gratis pula". Ucap Satya yang mengubah gaya bahasanya menjadi Lo-gue saat berada seperti ini karena Dean merupakan sahabat sekaligus kakak iparnya berbeda jika saat di kantor atau sedang bertugas Satya menunjukkan rasa hormat padanya meskipun itu terpaksa:v
Anna meraih gelas berisi jus alpukat di depannya, baru sedotannya menempel di bibirnya ia menaruhnya kembali dan memuntahkan kembali makanannya tepat di jaket yang dikenakan Dean.
Sementara Satya tak menghentikan aktivitas makannya ia terus saja mengunyah.
"Maaf". Ucap Anna ketika melihat jaket Dean sudah dipenuhi muntahannya.
"Tuh kan kamu beneran sakit".
"Ngidam tuh". Celetuk Satya yang membuat mereka saling pandang.
Kemarin Bu Darmi juga memiliki pikiran yang sama dengan Satya tapi Anna lupa untuk mengeceknya. Bahkan Dean pun curiga dengan permintaan Anna yang menurutnya aneh.
"Kalian berdua ini dokter, kok pada gak tau ciri-ciri orang ngidam".
"Bang Satya sotoy,". Ucap Anna mencoba menepis pikiran Satya.
"Yang dibilang Satya ada benernya dek, jangan-jangn kamu hamil? Kita bakalan punya debay". Ucap Dean dengan sumringah.
"Kalian ngaco, orang tadi pagi Anna lagi dapet". Ucap Anna berbohong padahal memang ia sedang telat 2 minggu.
Raut wajah Dean seketika berubah ia sedikit kecewa mengetahui hal itu.
"Wah gagal deh dapat ponakan, sabar bro mungkin usahamu belum maksimal". Ujar Satya sambil menepuk pundak Dean lalu terkekeh.
Sementara Anna sedang merencanakan sesuatu, ia berniat mengeceknya sendiri dan jika memang positif ini akan menjadi kejutan untuk Dean.
Anna memperhatikan sekelilingnya, dan tatapannya tertuju pada tiga orang gadis yang sedang memperhatikan Dean. Anna tak suka cara ia menatap Dean.
Sementara Satya juga memperhatikan apa yang sedang dilihat Anna lalu menegur Dean.
"Dean, fans berat Lo itu". Ucap Satya pada Dean yang mendapat tatapan tajam dari Anna.
"Siapa dia?". Tanya Anna memicingkan matanya.
"Aulia, anak dari atasan suami kamu, kayaknya dari dulu dia naksir sama Dean". Jawab Satya spontan yang membuat Anna semakin cemburu.
"Bukannya dia tiap hari ngasih sesuatu, apalagi kalo bukan suka itu".
"Tapi kan ujung-ujungnya kamu yang ambil".
"Tapi kamu terima kan? Gak nolak?". Ucap Satya semakin menyalakan api cemburu pada Anna.
"Tap ... ". Belum sempat Dean melanjutkan perkataannya tiba-tiba Aulia, orang yang dimaksudnya tadi menghampiri Dean lalu duduk di sebelahnya berhadapan dengan Anna yang sedari tadi sudah menunjukkan wajah tak sukanya.
"Hai kak Dean!". Ucap Aulia yang membuat Anna semakin tak suka padanya, ia ingin hanya ia yang memanggil Dean dengan sebutan 'Kak' bukan orang lain. Apalagi orang yang di hadapannya ini.
Dean hanya memasang wajah datarnya tanpa berniat tersenyum untuk Aulia.
"Ngapain kamu kesini?".
"Hari ini hari ulang tahunnya aku, jadi sama temen-temen rayain disini ya meskipun cuma bertiga". Jawab Aulia.
"Oh". Hanya itu yang keluar dari mulut Dean yang membuat Aulia mendengus kesal karena selalu dicuekin Dean.
"Gak ada niatan buat ngasih sesuatu gitu?". Tanya Aulia sambil mengedipkan sebelah matanya pada Dean
"Gak". Jawab Dean tanpa menatap Aulia membuat Anna tersenyum dengan sikap cuek Dean pada Aulia.
Lalu Anna mendekat ke arah Dean lalu mulai mencari celah dengan cara mendekatkan wajahnya ke wajah Dean.
"Mau apa hmm?". Tanya Dean yang sudah tahu bahwa Anna cemburu dan berusaha mengembalikan rasa cemburunya pada Aulia.
'Cup'. Anna mencium pipi Dean sekilas lalu bergelayut manja padanya.
Aulia hanya melongo melihat Anna yang mencium Dean di depannya, sementara Satya masih sibuk mengunyah.
"Wah ngundang duluan ini". Ucap Dean lalu menciumi seluruh wajah Anna. 'Cup cup cup'.
Wajah Aulia merah padam menahan cemburunya pada pasangan di depannya ini.
"Jangan diladenin, mereka berdua memang rada-rada lebay gak kenal tempat kalo mau uwu-uwuan". Ucap Satya pada Aulia.
Kemudian gadis itu pergi meninggalkan tempat itu dan tak lupa menggebrak meja di hadapannya.
Anna ingin sekali tertawa melihat ekspresi wajah Aulia tadi.
To Be Continued ...
thor...
knpa g dilanjutin kisahnya Dean sm Anna
👍🤗