Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menahan rasa malu
Waktu terus berlalu. Tak terasa, mentari pagi kembali menampakkan cahayanya, menggantikan gelap yang menemani malam panjang Felisyah.
Di atas bangku panjang rumah sakit, Felisyah perlahan membuka kedua matanya. Semalaman ia tertidur di tempat itu dengan tubuh yang masih terasa pegal. Pakaian yang kemarin basah karena hujan kini telah mengering di badannya, rambutnya kusut tak terurus, sementara perutnya terus berbunyi meminta untuk diisi.
Namun rasa lapar itu harus ia telan dalam diam. Tidak ada sepotong roti, tidak ada seteguk susu, bahkan tidak ada uang yang bisa ia gunakan untuk membeli makanan.
Dengan tubuh yang lemah, Felisyah bangkit. Tujuannya hanya satu—melihat keadaan ayahnya.
Kakinya melangkah pelan menyusuri lorong rumah sakit yang dingin.
"Kenapa pria itu tidak datang menemuiku? Apakah dia hanya mempermainkanku?" gumamnya pelan.
Kebingungan memenuhi pikirannya. Bukankah ia sudah menerima tawaran pria itu? Lalu mengapa sampai saat ini tidak ada kabar dan tidak ada bantuan sedikit pun untuk pengobatan ayahnya?
Sesampainya di ruang perawatan, Felisyah kembali harus menelan ludahnya. Aroma makanan dari para pengunjung yang sedang menikmati sarapan menusuk indra penciumannya.
Matanya tanpa sadar tertuju pada nasi hangat, lauk, dan minuman yang tersaji di atas meja para pasien.
Perutnya semakin meronta.
"Mbak, mau makan juga?" tanya seorang ibu yang melihat tatapan kosong Felisyah pada makanan tersebut.
Felisyah tersentak. Ia segera mengalihkan pandangan dan tersenyum kecil meski terasa begitu dipaksakan.
"E-eh tidak, Bu. Saya mau menemui ayah saya dulu," jawabnya pelan.
Ia segera berjalan menuju ranjang tempat ayahnya terbaring.
Tatapannya jatuh pada wajah pria tua yang selama ini menjadi tempatnya bersandar. Wajah yang dulu selalu dipenuhi senyuman dan semangat kini tampak pucat tak berdaya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh tanpa izin.
"Ayah... Felisyah bingung sekarang. Felisyah tidak tahu harus bagaimana mendapatkan uang sebanyak itu," bisiknya dengan suara bergetar.
"Harapan Felisyah kepada Ibu sudah hilang. Ibu sama sekali tidak peduli pada kita. Kalau Felisyah bekerja, mungkin butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak itu, sedangkan Ayah tidak bisa menunggu selama itu."
Tangannya menggenggam tangan ayahnya yang dingin dan lemah, lalu menciumnya dengan penuh kasih.
"Apakah ini takdir Felisyah, Yah? Kenapa Tuhan begitu percaya memberikan ujian sebesar ini kepada Felisyah? Padahal Felisyah tidak sekuat itu. Felisyah takut kehilangan Ayah..."
Tangisnya pecah.
Namun suara perut yang kembali berbunyi membuatnya sadar bahwa ia juga harus bertahan.
Brrrtt...
Felisyah mengusap air matanya dengan kasar.
Ia tidak bisa terus seperti ini. Bagaimana ia bisa mencari uang untuk menyelamatkan ayahnya jika dirinya sendiri jatuh sakit karena kelaparan?
"Ayah, Felisyah tinggal sebentar, ya. Felisyah harus mencari pekerjaan. Felisyah harus makan agar tetap kuat, setelah itu Felisyah akan mencari cara untuk menyelamatkan Ayah."
Dengan langkah berat, ia meninggalkan ruangan.
Saat melewati ibu-ibu yang tadi menawarinya makan, pandangannya kembali tertuju pada sisa makanan yang masih ada di meja dekat ranjang pasien.
Perutnya terasa semakin perih.
Ia sangat ingin meminta, tetapi harga dirinya menahan langkahnya.
Felisyah memilih berjalan menjauh menyusuri lorong rumah sakit yang menjadi saksi air mata dan kesedihannya sepanjang malam.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat seorang anak kecil membuang sebungkus nasi ke tempat sampah.
Mata Felisyah membulat.
"Ya Tuhan... kenapa nasi itu dibuang? Masih banyak orang yang kelaparan di luar sana... termasuk aku," gumamnya lirih.
Ia terus menatap bungkusan itu sampai anak kecil tersebut pergi bersama keluarganya.
Pertarungan antara rasa malu dan rasa lapar berkecamuk di dalam hatinya.
Air mata kembali memenuhi pelupuk matanya.
"Apa aku harus melakukan ini?" bisiknya.
Namun rasa lapar yang sejak semalam menyiksa akhirnya mengalahkan rasa gengsinya.
Dengan tangan gemetar, Felisyah mendekati tempat sampah itu. Ia mengambil bungkusan nasi yang masih terlihat bersih meski telah dibuang.
Tatapan orang-orang di sekitarnya mulai tertuju kepadanya.
Ada yang merasa iba, ada pula yang memandang jijik.
Tetapi Felisyah tidak peduli.
Harga dirinya sudah hancur ketika keadaan memaksanya mencari makanan dari tempat sampah.
"Apa aku sudah sehina ini, Ayah? Sampai untuk makan saja aku harus mengambil sisa makanan orang lain?" lirihnya sambil menangis.
Ia duduk di bangku panjang dan membuka bungkusan itu perlahan.
Dengan tangan yang masih bergetar, ia memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.
Nasi yang bagi orang lain mungkin hanya sisa dan tidak berharga, bagi Felisyah adalah penyambung hidupnya hari ini.
Meski tidak membuatnya kenyang, setidaknya rasa perih di perutnya sedikit berkurang.
Setelah menghabiskan makanan itu, Felisyah berdiri kembali.
Ia mencoba melangkah untuk melanjutkan perjuangannya.
Namun baru beberapa langkah berjalan, pandangannya mulai berkunang-kunang.
Kepalanya terasa sangat pusing.
Tubuhnya yang sejak semalam menahan lapar, dingin, dan kelelahan akhirnya mulai kehilangan tenaga.
"Ah..."
Tubuh Felisyah oleng, lalu ambruk ke bawah.
Bruuuk
kepalanya terbentur di kursi panjang, dan dunia di sekelilingnya perlahan berubah gelap.
***
Waktu terus berjalan hingga akhirnya Felisyah perlahan membuka matanya kembali.
Kelopak matanya terasa begitu berat, seolah ada beban yang menahannya untuk terbuka. Pandangannya masih samar, tetapi perlahan ia dapat melihat langit-langit putih di atasnya. Aroma obat yang khas memenuhi indra penciumannya.
Tubuhnya masih terasa lemah, bahkan untuk menggerakkan jari-jarinya saja membutuhkan tenaga yang besar. Namun, ia bisa merasakan bahwa dirinya berada di tempat yang berbeda.
Ingatan terakhirnya masih begitu jelas.
Lorong rumah sakit yang panjang dan dingin... rasa pusing yang menyerang tiba-tiba... lalu kegelapan yang menelan kesadarannya.
"Di mana aku?" batinnya panik.
Felisyah mencoba bangkit, tetapi tubuhnya belum mampu diajak bekerja sama. Tatapannya berkeliling mencari tahu keberadaannya.
Saat itulah—
"Sudah bangun, Sayang?"
Sebuah suara pria terdengar lembut di dekatnya.
Seketika tubuh Felisyah membeku.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan hanya karena suara itu terdengar begitu dekat, tetapi juga karena satu kata yang keluar dari bibir pria tersebut.
Sayang.
Panggilan yang begitu asing di telinganya.
Selama ini tidak ada seorang pun yang memanggilnya dengan sebutan itu.
Dengan perlahan, Felisyah menoleh ke arah sumber suara. Napasnya tertahan.
Suara itu...
Suara yang beberapa hari terakhir terus menghantui pikirannya.
Suara pria yang datang menawarkan sebuah kesepakatan yang mengubah jalan hidupnya.
Mungkinkah...
Pria itu?
"Siapa kamu? Kenapa aku ada di sini?" tanya Felisyah dengan suara bergetar, meskipun dalam hatinya ia sudah mulai menebak jawabannya.
Rasa takut, bingung, dan penasaran bercampur menjadi satu.
Jika benar pria itu yang berada di hadapannya, lalu apa yang sebenarnya telah terjadi selama ia tidak sadarkan diri?
semangat✍️😉